KECUALI PENTING SEKALI

34
P.M. Susbandono, Kontributor, Penulis buku inspiratif

HIDUPKATOLIK.COM – MOHON maaf, kali ini saya membuka tulisan  dengan 2 kisah sedih.  Berita duka datang dari seorang teman melalui WAG.  Seorang teman meninggal kena Covid. Sudah lama kami tak jumpa.  Kaget juga. Kemudian rasa duka menjalar di antara sesama anggota WAG.

Kronologinya cukup sederhana.  Sang teman berulang tahun.  Mereka memutuskan untuk merayakan dengan makan malam bersama terbatas di sebuah restoran.  Terbatas, karena yang ikut hanya ayah-ibu, anak-mantu, plus para cucu.   Tak lebih dari 10 orang.

Protokol kesehatan ditentukan.  Masker tak boleh lepas.  Kalau ada face-shield silakan dipakai.  Pencuci tangan alkohol tersedia beberapa di meja makan.  Jarak tempat duduk dijauhkan.  Aman bukan?.

Sampai di situ kelihatannya baik-baik saja.  Makan malam cukup meriah dengan menu istimewa.  Suasana gembira-ria, penuh canda-tawa.  Pesta usai.   Seperti tak akan terjadi apa-apa.

Dua hari kemudian, sang teman terkena diare ringan.  Kebetulan dia cukup sering terserang perutnya.  Dianggapnya diare biasa.  Obat pun diminum.  Kelihatannya bakal oke juga.

Ternyata dia terserang virus Covid.  Selain makan malam ulang tahun, tak teringat berhubungan dengan orang lain, di tempat lain, di waktu lain.

Setelah dirawat intensif, beberapa hari kemudian, sang teman meningggal dunia.  Sedih kami  mendengarnya.

“Selamat jalan mas bro.  Sampai jumpa lagi.”

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Cerita kedua.  Ini kisah tentang Ketua Satgas Penanganan COVID-19, Doni Monardo.  Sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana,  Doni Monardo meninjau  bencana alam yang  terjadi hampir bersamaan di wilayah-wilayah yang berjauhan.  Pertama ke Sulawesi Barat, Kalimantan Selatan dan kembali ke Sulawesi Barat.  Perjalanan yang melelahkan ditempuh dalam waktu  5 hari.

Padahal, Protokol Kesehatan selalu lengkap dan disiplin dia jalankan.  Asisten bertugas mengingatkan bila kebetulan pemakaian masker kurang tepat.  Tiga M selalu dipatuhinya.  Tetap saja sang ketua terserang juga.

“Jadi saya yakin pada saat melepas masker dan makan itulah saya tertular”.

Begitu perkiraan di mana dan bagaimana dia terkena penyakit itu.  (Detik.com, Minggu, 24 Jan 2021, 11:06)

Hanya berapa persen waktu dia membuka masker dan duduk berdekatan dengan stafnya, dibanding dengan lama perjalanan.  Makan bersama menjadi kuncinya.  Hanya seperempat sampai setengah jam dia membuka masker, bila saat makan tiba.  Tapi si Covid begitu gesit menyelinap dan masuk dalam tubuh kokoh Doni Monardo.  Tak pandang bulu.  Bahkan saat menjalankan tugas negara demi kemanusiaan pun, Covid “tega” menyerbunya.

Ada benang merah antara kedua kisah di atas, yaitu “makan-bersama”.  Saat makan, masker dilepas.    Saat makan bersama, bisa jadi protokol “jaga jarak” secara tak sengaja dilanggar.  Saat makan, makanan yang tersedia mungkin terletak tepat berada di depan teman makan yang kebetulan OTG.  Segala kemungkinan bisa terjadi.  Jangan lengah, virus bisa masuk tubuh melalui kemungkinan yang sangat kecil.

Tidak hanya makan-bersama. Setiap “kegiatan bersama” membuka peluang  kontak dengan penderita yang mungkin OTG.  Satu-satunya cara adalah, ikuti M yang ke 4 dan 5 dari petuah 5M, yaitu “Menjauhi kerumunan” dan “Membatasi mobilisasi dan interaksi”.

Bila “kegiatan bersama”  harus dilakukan, lakukan dengan ketat 3M pertama, kedua dan ketiga, yaitu “Memakai masker”,  “Mencuci tangan” dan “Menjaga jarak”.  Harap dicatat, bila kita berada di kerumunan atau interaksi dengan orang lain maka kemungkinan terjadinya kegagalan  3M menjadi sangat besar.

Kata kunci utama adalah usahakan semaksimal mungkin untuk tidak berada dalam kumpulan orang banyak, kecuali untuk keperluan yang penting sekali.  Silakan berolah-raga, bekerja, beribadah, berbelanja, belajar atau beraktivitas apa saja.  Usahakan jangan kontak dekat dengan pegiat lainnya.

Teorinya, pertemuan  kegiatan  yang jaraknya berjauhan seperti latihan gowes, golf, sepak bola, senam, menari  atau lari bisa mengurangi penularan.  Saat berolah raga relatif aman.  Menjadi (sangat) berbahaya saat sebelum mulai atau setelah acara usai.  Budaya Indonesia yang mudah sungkan, friendly dan tidak lugas, susah menolak pertemuan fisik yang berdekatan saat jumpa kenalan.

Olah raga bisa diusahakan untuk dilakukan sendiri dan di rumah saja.  Urusan pekerjaan, berbelanja dan belajar  diusahakan melalui virtual.  Begitu selanjutnya.

Pesan ini saya tulis, pertama-tama untuk mengingatkan diri saya yang masih sering lupa.  Cara hidup baru belum menjadi kebiasaan masyarakat kita.  Lupa di sana-sini adalah wajar.  Itulah pentingnya “saling mengingatkan”.  Jangan tersinggung bila ada keluarga atau teman yang mengingatkan anda.  Maksudnya pasti baik.

Kedua, bila anda dapat memetik manfaat dari artikel ini, saya mengucapkan Alhamdulillah, Puji Tuhan.  Sekali lagi, bagi saya, dengan menuliskan menjadi lebih mudah mengingat-ingat.

Ketiga, perlu dibuat alternatif kegiatan yang semula dilakukan bersama secara fisik, diganti dengan  online.  Lomba lari, seminar, rapat bahkan pelantikan pejabat sudah  dibuat virtual.  Kegiatan lain tentunya tidak mustahil.

Terakhir, judul di atas, “Kecuali penting sekali”, menjadi patokan yang harus ditaati bersama.  Kegiatan bersama melalui virtual, tidak membuat acara itu berubah menjemukan.  Kesehatan dan keselamatan bagi diri sendiri dan keluarga di rumah jauh lebih penting dibanding semua acara bersama itu.

Salam sehat!

P.M. Susbandono, Kontributor, Penulis buku inspiratif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here