OBROLAN MALAM KEMBANG

138
Cosmas Christanmas, Kontributor
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KEMATIAN adalah keniscayaan setiap makhluk hidup. Banyak orang pergi meninggalkan nama baik, keluarga yang ditinggalkan pun melepasnya dengan ikhlas.

Nguing, nguing, nguing, nguing … terdengar bunyi sirene semakin mendekat. Puluhan orang yang telah menunggu di sebuah rumah duka, bergegas menuju lobi untuk menyambut datangnya mobil pembawa jenazah. Kendaraan itu sebuah mobil mewah berukuran besar.

Rumah duka itu memang serba mewah. Gedungnya bertingkat banyak, dekat pintu jalan tol di Jakarta. Ukuran ruang dukanya pun luas termasuk kamar setara hotel bintang 4 di dalamnya untuk keluarga berduka. Ruangannya bersih, terang benderang sepanjang siang dan malam.

Apa saja yang dibutuhkan keluarga berduka, tersedia di situ. Ada aneka tipe ruang duka dan jenis peti jenazah, siap dipilih sesuai kebutuhan. Harganya jangan dibahas, apalagi ditawar. Pamali kata orang. Meski kematian adalah sebuah peristiwa duka, kehidupan urban kaum berada telah mengubahnya menjadi sebuah peristiwa yang pantas dirayakan, atau dibesar-besarkan.

Kematian adalah keniscayaan alamiah. Orang dapat meninggal karena usia tua, sakit berat, kecelakaan, akibat dari kejahatan, peperangan, usaha sendiri, hukuman, dan sebagainya. Ada kematian yang sudah dapat diprakirakan, ada juga yang mendadak; dengan tempat, waktu, dan cara yang sering tak terduga.

Abraham

Suatu Minggu siang, jenazah Abraham (sebut saja demikian), dibawa langsung dari kediaman pribadi ke rumah duka mewah itu. Beliau meninggal mendadak tanpa keluhan pada usia sekitar 85 tahun. Usia yang sering kali disebut bonus, lebih dari 70 tahun yang disebutkan dalam Mzm 90:10.

Meski tidak berpendidikan formal, Abraham berhasil dalam beberapa bidang usaha. Semuanya berkembang baik, menguntungkan bagi semua pemangku kepentingan. Harga barang dan jasanya sebanding dengan produknya, demikian juga layanan pelanggannya cukup bagus.

Abraham juga berhasil dalam kehidupan berkeluarga. Empat orang anaknya berpendidikan tinggi dan berhasil dalam bidangnya masing-masing. Ada yang menjadi dokter spesialis, bankir, pengacara, dan kontraktor. Keempat menantunya juga cemerlang dalam bidang lain. Semuanya sukses, hasil didikan Abraham dan istrinya yang adalah murni ibu rumah tangga. Mereka semuanya hidup rukun dan damai.

Walaupun sukses lahir batin, Abraham tetaplah seorang yang sederhana dan suka menderma. Semasa muda dan mengembangkan usaha, Abraham selalu mencukupkan kesejahteraan para karyawannya, taat peraturan dan membayar pajak, memperbaiki lingkungan hidup sekitar. Saat pensiun, kehidupan mereka dicukupkan dari deposito tanpa membebani anak-anaknya.

Abraham dan istri adalah pendoa yang rajin ke gereja. Sekalipun lansia, mereka tidak suka minta kemudahan. Pasangan yang rambutnya sudah uban itu selalu duduk jauh di belakang. “Supaya tidak mudah kelihatan oleh pastor di altar,” demikian kata Abraham. Sang istri ikut tersenyum karena tahu suaminya suka bercanda. Tidak pernah ada berita miring atau gosip tentang keluarga Abraham.

Tak hanya ke gereja, pasangan ini juga menyediakan rumahnya untuk tempat Misa Lingkungan. Saat tak ada tetangga yang bersedia ketempatan, mereka selalu menyambut. “Anggaplah sebagai cara untuk meramaikan hidup kami yang hanya tinggal berdua di rumah ini,” kata sang istri memberi alasan. Sepanjang tahun rumah mereka pasti ketempatan misa, pendalaman iman, pendalaman Alkitab, dan sebagainya.

Abraham dan istri suka jalan-jalan ikut tur ke Holy Land. Mereka berkenalan dengan pastor dan uskup yang menjadi pembimbing rohani. Hubungan baik yang terjalin itu tidak hanya ketika para imam membutuhkan dukungan, tetapi juga saling mendoakan. Abraham juga suka membantu tetangganya.

Ketika Abraham meninggal, banyak sekali yang datang melayat. Mulai dari tetangga dalam lingkungan, paroki, komunitas; relasi anak-cucunya, dan sebagainya. Mereka bergantian atau datang berulang kali untuk berdoa Rosario, Misa, atau Ibadat.

Papan-papan bunga ucapan dukacita datang silih-berganti. Tiga cucu perempuannya mencatat dan membalas dengan kartu ucapan terima kasih. Selama 2 hari pertama saja sudah datang lebih dari 250 papan bunga, dan masih terus berdatangan. Papan-papan bunga itu saling menutupi karena tak ada tempat lagi untuk menjajarkan semuanya. Hanya beberapa papan yang datang dari tokoh atau lembaga terpandang yang diberi tempat yang mudah kelihatan. Abraham memang orang baik dan disukai banyak orang, pantas menerima semua kehormatan seperti itu.

Sesuai hitungan usia dan tradisi dari leluhurnya, Abraham disemayamkan 4 malam 5 hari. Selama itu keluarga besar taat berjaga menerima kunjungan relasi dari segala bidang dan penjuru. Banyak suguhan dari cangcimen (kacang, kuaci, permen), bakery, nasi campur, sampai dimsum, juga bubur di malam hari. Semua jenis minuman juga tersedia, dari air mineral, teh, kopi, sampai yang beralkohol.

Iklan pemberitahuan kematian juga dipasang di surat kabar nasional. Pertama dari keluarga yang berduka, lengkap dengan foto Abraham dilengkapi nama istri beserta anak/menantu/cucu-cucunya. Esoknya iklan Turut Berdukacita dari semua usaha dan institusi tempat kerja para anak/menantu. Kabarnya Abraham sendiri yang merancang semua iklan itu selagi hidup.

Setiap siang ada doa Rosario. Misa selalu konselebrasi sebab banyak imam yang ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan Abraham. Malam kedua, Misa dari imam paroki, ketiga dari provinsialat, dan keempat yang disebut malam kembang dari uskup. Banyak sekali umat yang menyempatkan diri hadir, menyimak homili, testimoni dari hadirin, dan eulogi dari anak/menantu dan beberapa cucunya.

Jenazah Abraham dimakamkan di Tempat Pemakaman Komersial di luar Jakarta. Disediakan beberapa bis untuk mengangkut para pelayat. Seratusan pengantar lain menggunakan mobil pribadi.

Malam Kembang

“Aku juga ingin meninggal seperti itu,” kata Ronny (sebut saja namanya demikian), seorang pelayat yang sedang ngobrol dengan teman-temannya. Mereka mengenang Abraham yang meninggal tua tanpa sakit dan menyusahkan. Pada malam kembang itu, ramai sekali orang datang melayat. “Abraham orang yang tidak pernah ingkar janji atau telat menunaikan kewajibannya,” kata seorang menimpali.

Selain merancang iklan dukacitanya sendiri, ia juga menulis ringkasan riwayat hidup untuk dibacakan dalam sambutan keluarga. Ia tidak meninggalkan utang, bahkan hartanya sudah dibagi adil di antara keempat anaknya. Bersyukur semua anaknya telah mampu hidup mandiri dan berkecukupan. Tidak bakalan ada sengketa warisan antar-anak pasca kematian. Anak-anak pun kompak, harmonis, dan akan menjaga ibunya yang ditinggal mati oleh suaminya.

Semua yang baik dari Abraham itu ingin dicontoh oleh Ronny, yang umurnya sekitar 10 tahun lebih muda. Ronny sadar bahwa umurnya pun sudah melampaui usia bonus itu. Ronny juga membuat rincian prosesi bila kematiannya tiba. Dari pilihan rumah duka, peti jenazah, iklan, tempat pemakaman, hitung-hitungan hari baik, dan lain-lain.

Lalu pandemi  Covid-19 melanda dunia. Suatu hari, sang istri yang masih aktif berinteraksi dengan tetangga dan teman-teman sekolahnya, meninggal setelah sempat dirawat sebentar di rumah sakit. Ketika kabar kematiannya disebar dan menyebar cepat melalui jaringan media sosial, banyak orang yang tak percaya. Mereka mengirim pesan minta konfirmasi dan bertanya meninggalnya karena apa.

Banyak yang bertanya di rumah duka mana disemayamkan dan jadwalnya menjelang pemakaman. Karena pandemi, banyak yang mengirim pesan dukacita dan mohon maaf tidak dapat datang melayat. Tidak ada tetangga dari Lingkungan yang datang mengadakan doa Rosario. Tak ada pula pula imam yang berani mengadakan misa ekaristi di tempat karena protokol kesehatan yang ketat untuk menjaga jarak, menghindari kerumuman, dan sebagainya. Yang datang melayat pun hanya sedikit, padahal Ronny, istrinya, dan semua anak-menantu juga orang-orang yang terpandang baik dan dermawan di komunitasnya.

Pastor dan uskup yang diundang mengadakan Misa hanya bisa melayani secara virtual. Tak ada orang yang ingin terpapar  Covid-19, terlalu riskan menantang virus maut itu saat ini.

Ronny memutuskan istrinya cukup disemayamkan 1 malam saja di rumah duka. Tidak perlu berlama-lama karena tak ada sanak-saudara yang ditunggu, juga sedikit sekali orang yang datang melayat. Ronny memilih cara kremasi untuk istrinya, dan abu jenazahnya dilarung ke laut terdekat.

Semua rancangan yang Ronny siapkan untuk dirinya tak sempat digunakan untuk istrinya. Waktunya terlalu singkat, juga tak ada lagi manfaatnya memasang iklan dukacita di suratkabar. Ronny dan keluarga pun ingin semua prosesi berlangsung cepat. Perpisahan abadi ini harus terjadi, dan hanya keluarga terdekat saja yang berani hadir. Tak ada lagi ruang untuk ‘merayakannya’ karena setiap orang telah saling waspada terhadap bahaya Covid-19.

Kematian adalah peristiwa alamiah. Pandemi Covid-19 telah membuat semua orang kembali ke esensi kehidupan. Lebih berharga meninggalkan karya amal daripada hingar-bingar peristiwa itu sendiri.

Setelah selesai kremasi dan larung abu jenazah, Ronny kembali ke rumahnya. Rumah yang besar ini akan sepi tanpa istri. Semua anak lelaki akan datang bergantian untuk menemani ayahnya. Tanpa satu pun anak perempuan, menantu perempuan pasti canggung merawat mertua laki-lakinya.

“Lebih baik saya sendiri yang berangkat duluan,” kata Ronny lirih. Sebagai suami, Ronny sadar tak lebih tahu tentang bagaimana merawat pasangan hidupnya dibandingkan sebaliknya. Seorang istri lebih tahu cara membersihkan rumah, memasak makanan kesukaan, setrika pakaian, takaran obat, dan sebagainya.

Di rumah, Ronny membuka sebuah laci dan mengeluarkan polis asuransi yang dibuatnya sejak mereka menikah 50 tahun yang lalu. Di polis itu tertulis nama sang istri sebagai penerima manfaat bila dirinya meninggal duluan. Kini Ronny harus menata rencana hidup yang baru, saat umurnya pun sudah senja.

Cosmas Christanmas, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here