“Yakin, Agnostik?”

236
Fr. Klemens Yuris Widya Denanta, SJ, Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta (paling kiri)

HIDUPKATOLIK.COM – TAK sedikit orang muda zaman ini yang mulai mengaku diri sebagai Agnostik. Entah mereka paham arti kata itu atau sekadar ikut-ikutan tren zaman. Faktanya, mulai bermunculan ungkapan atau identifikasi diri sebagai Agnostik.

Kelompok orang muda ini keknya perlu kenalan nih dengan salah satu filsuf Barat modern, David Hume. Meski filsuf ini lebih dikenal karena gagasan, ‘pikiran adalah budak dari perasaan,’ bukan berarti ia cocok begitu saja loh ya sama orang muda yang suka baper-baperan.

Lebih jauh, ia juga berpikir yang berat-berat, bahkan soal eksistensi (=keberadaan) dan sifat-sifat Tuhan. Kita bisa menggali pemikiran kelahiran Edinburgh, Skotlandia ini lewat salah satu karya masyhurnya berjudul Dialogues Concerning Natural Religion.

Sebelum menulis karya ini, barangkali ia sudah memprediksi kalau karyanya akan relevan dengan disposisi zaman masa depan (saat ini). Suatu masa yang tidak mau mengiyakan begitu saja instruksi satu arah, mengawang dan tidak jelas seperti periode Abad Pertengahan. Sebaliknya, ia memakai metode yang orang muda suka dengan gagasan dialogis dan diskursif yang mengandaikan argumen dengan alasan yang masuk akal dan memadai.

Layaknya skenario film atau teater yang memuat tokoh hingga percakapan untuk menyampaikan pesan tertentu, Hume juga mengungkap pemikirannya melalui dialog tiga tokoh: Cleanthes, Demea, dan Philo. Masing-masing memiliki pendapat yang berbeda dan berusaha mencari kebenaran tak terbantahkan.

Unik, sebagaimana film detektif yang tidak mengungkap kebenarannya secara terang-terangan. Dengan plot twis yang yang dirancang untuk memberi daya kejut kepada para penonton ketika menjumpai kebenaran yang sesungguhnya, demikian pula yang menjadi kecerdikan filsuf ini. Hume tidak memberi jawaban eksplisit. Dengan kata lain, dialog dalam buku ini lebih bersifat berlapis daripada linear begitu saja.

Lantas, bagaimana sih isi dialog ketiga tokoh imajinatif tersebut? Secara garis besar, Cleanthes meyakini kalau Tuhan bisa dikenali dengan ciptaan-Nya, namun Demea berbeda. Ia yakin, Tuhan bisa dikenali hanya melalui iman.  Sedangkan bagi Philo, tidak sesederhana pendapat keduanya.

Dari sisi Philo ini nampaknya kita bisa belajar. Barangkali orang Agnostik dari sisi yang lain patut disebut sebagai seorang skeptis. Philo memberikan suatu perbedaan antara skeptis ekstrem dan skeptis ringan (mitigated scepticism). Skeptis ringan inilah yang bagi Philo dikatakan sehat karena menyadari keterbatasan akal budinya untuk memahami Tuhan yang luar biasa tak terpahami.

Di sisi yang lain seraya memaknai gagasan Demea, barangkali tidak sedikit pula orang muda dewasa ini yang menelan begitu saja segala wahyu yang termuat dalam Kitab Suci. Artinya, wahyu tersebut ditelan mentah-mentah tanpa direfleksikan, digulati sekaligus dimaknai dalam hidup sebagaimana konteksnya.

Bahkan segala yang ada di dalamnya ditafsirkan sedemikian mutlak dan harfiah tanpa melihat situasi dan zaman yang selalu berubah. Suatu teks yang tidak dikontekskan menjadi berbahaya, sebab bisa memicu suatu sifat radikal yang seolah kebenarannya mutlak ada padanya hingga mengantar pada kebencian berlebihan akan keyakinan lain. Sayangnya, untuk masuk ke dialog yang sebagian besar didominasi oleh Cleanthes dan Philo ini, perlu suatu uraian dan elaborasi panjang nih. Jadi tidak mungkin secara komprehensif diuraikan di sini. Bagi yang tertarik silakan baca-baca sendiri yaa.

Namun singkatnya, kita diajak untuk lebih bertindak sebagaimana pemikiran Philo. Untuk menjadi seorang pengikut Kristus yang kokoh, kita perlu menjadi seorang yang skeptis secara filosofis, yang sehat, yang dengan kesadaran akan keterbatasan inteligensi justru dapat menuju pada pemahaman wahyu yang otentik, sehingga tidak langsung loncat ke yang Ilahi sewaktu berefleksi. Sebab sesungguhnya, menjadi pribadi yang rohani justru berarti menjadi pribadi yang semakin manusiawi dan insani.

Bukan berarti pendapat Demea dan Cleanthes sama sekali keliru. Namun ketiganya perlu diblender, bukan dipisah. Pertama-tama yang perlu diusung dan dimohonkan dari pihak kita ialah mohon rahmat untuk mau percaya sebagaimana yang diutarakan Demea. Namun bukan percaya dalam arti buta lalu mengabaikan peran rasio, melainkan keduanya beriringan.

Sebab dengan percaya ini kita bagai membuka satu pintu utama yang mengantar masuk ke dalam rumah sehingga kita bisa membuka pintu-pintu yang lain. Apabila sedari awal kita bahkan tidak mau membuka pintu utama yang pertama itu, bagaimana bisa kita bisa membuka pintu-pintu lain yang ada di dalam rumah.

Demikian relasi atau hubungan dengan Tuhan, pertama-tama mengandaikan kehendak bebas dalam diri kita untuk mau mempercayai-Nya. Bila sedari awal kita sudah menetapkan diri untuk tidak percaya, lantas bagaimana kita bisa terampil mengenal gerak-geriknya lewat hal-hal sepele dan sederhana dalam hidup harian. Bahkan bila terjadi suatu mukjizat tak terbantahkan sekalipun, bisa saja lalu kita anggap suatu kejadian yang ‘so-so.’ Padahal, apabila kita sedari awal sudah membuka satu pintu, dengan sendirinya pintu yang lain yang akan dibukakan oleh Tuan rumah.

Dengan demikian, kita tidak diajak untuk secara ekstrem percaya begitu saja atau sebaliknya, tidak percaya sama sekali. Namun lebih untuk pertama-tama memiliki suatu kemauan membuka hati. Dengan keterbukaan hati untuk mau percaya inilah, kita niscaya akan diberi dan diantar pada kepekaan sehingga semakin terampil menjumpai rahmat dan gerak-gerik Tuhan yang “tercecer” di mana-mana.

Fr. Klemens Yuris Widya Denanta, SJ, Mahasiswa STF Driyarkara, Jakarta

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here