KEMBALI KE TUKANG LAS, SANG MANTAN PEJABAT, TANPA BEBAN

166
Cosmas Christanmas, Kontributor

HIDUPKATOLIK.COM – SEDANG viral sebuah video mengenai seseorang yang kembali ke pekerjaan semula sebagai tukang las yang telah ditinggalkannya selama 15 tahun kerena menjadi orang nomor satu sebuah kota di Jawa Tengah. Banyak yang kagum dan hormat atas begitu cepat dan mudahnya sang mantan pejabat itu kembali ke habitatnya.

Pada saat seseorang mulai menjabat, sering kita temukan pernyataan bahwa jabatan itu adalah amanah atau kepercayaan semata untuk suatu periode tertentu atau sementara. Sesuatu (jabatan) yang dimulai, pasti akan berakhir, cepat atau lambat, siap atau tidak, kapan pun juga. Namanya juga sementara. Memang ada jabatan seumur hidup seperti Paus, namun tidak banyak jabatan seperti itu.

Demi martabatnya sebagai pejabat dan agar mampu bekerja optimal, kepada orang itu disediakan kemudahan untuk hidup layak dan sejumlah fasilitas penunjang kerja. Misalnya berupa tempat tinggal, kendaraan, asisten, anggaran operasional, alat kerja, jaminan kesehatan, asuransi, dana pensiun, dan sebagainya. Kemudahan lainnya adalah seperti jalannya dilancarkan saat macet, namanya disebut saat sambutan, menu yang lebih istimewa, dan lain-lain. Saat jabatannya berakhir, ikut berakhir pula semua fasilitas penunjang itu, kecuali sedikit yang masih tinggal melekat atas namanya (misalnya asuransi jiwa atau kesehatan).

Lebih daripada itu, ada pejabat yang juga mendapat fasilitas penunjang seperti untuk kebugaran, klub sosial (membership), kartu kredit, diskon, dan sebagainya. Lain organisasi dan jenjang kepangkatan, memberikan fasilitas berbeda, antara yang lokal, nasional dengan internasional; pemerintah atau swasta; komersial atau sosial atau kegamaan.

Seringkali fasilitas penunjang jabatan itu ikut digunakan untuk kegiatan yang lebih luas daripada yang berhubungan dengan jabatannya saja. Misalnya untuk keperluan pribadi, pasangan hidup, anak-anak, bahkan keluarga besar hingga rekan-rekannya. Ada organisasi yang tegas memberikan panduan mana yang boleh atau tidak, dengan batas toleransi tertentu atau bahkan sanksi sekaligus.

Kenikmatan bagi orang yang tak semestinya, melampaui peruntukan dari fasilitas penunjang itu. Pada akhir jabatan, sang pejabat bisa saja siap melepaskan semua fasilitas penunjang kerjanya, tetapi belum tentu bagi keluarga dan rekan-rekannya. Seorang anak kecil akan merasakan kehilangan ketika sudah tidak ada lagi kendaraan dinas orang tuanya yang antar jemput sekolah, atau kolam renang di rumah.

Antara Hak Pakai dan Milik Pribadi

Hak pakai atas semua fasilitas penunjang jabatan itu sifatnya sementara selama menjabat. Karena itu bijaklah selama menjabat, hak pakai itu tidak lantas dianggap sebagai milik pribadi. Sebab, saat jabatannya berakhir, lenyap pula semua fasilitas penunjang itu.

Pejabat yang sadar hal itu, akan mampu membuat sikap yang jelas dan tegas, agar pemanfaatan semua fasilitas penunjang itu adalah semata-mata untuk dirinya sebagai pejabat dan selama menjabat saja. Oleh karena itu, ada pejabat yang menolak untuk tinggal di rumah jabatan. Alasan sederhananya adalah karena tidak mau repot pindah rumah dan kembali lagi dalam waktu yang tidak jelas.

Ada juga yang memilih tetap nyaman dengan kendaraan pribadinya. Bahkan melarang keluarga selain dirinya untuk menggunakan kendaraan dinas tanpa dia atau sopir ikut berada di dalamnya. Akan sulit mempertanggungjawabkannya bila kendaraannya bermasalah saat dipakai oleh orang yang tak berhak.

Banyak orang yang mendadak menjadi pejabat, tidak selalu siap dengan membanjirnya aneka fasilitas yang tersedia baginya. Ada fasilitas yang sifatnya kebutuhan primer berarti tambahan dari yang telah dimilikinya selama ini. Ada yang sifatnya sekunder, artinya pelengkap saja. Kalau fasilitas tersier, artinya kemewahan yang tidak perlu ada. Semakin lama seseorang menjabat dengan aneka fasilitas penunjang itu, makin nikmat dan terbenamlah ia dan keluarganya dengan semua kemudahan itu.

Sampai saatnya tiba jabatan itu berakhir. Entah karena periodenya sudah habis, adanya halangan tetap seperti sakit berkepanjangan sampai kematian, perubahan organisasi, relokasi, atau alasan lainnya.

Seorang (mantan) pejabat (dan keluarganya) yang mampu memisahkan diri dari semua kemudahan itu, dapat dengan mudah melanjutkan kehidupan dengan segala kebutuhan pokoknya tanpa terkendala. Ia telah menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilannya untuk memperbaiki fasilitas pokok miliknya sendiri seperti rumah. Ia mencukupkan kebutuhan anak-anaknya menempuh pendidikan agar bisa hidup mandiri. Ia menjaga gaya hidupnya agar tetap sehat dan realistis, belajar menambah wawasan, memperluas jejaring, dan selalu menjaga integritas.

Tetap Menjadi Diri Sendiri

Godaan atau halangan terbesar ketika seseorang mendapatkan jabatan adalah mempertahankan jati dirinya sendiri. Seseorang yang terbiasa hidup hemat sejak muda dan cermat menghitung biaya, harus berkompromi dengan standar citra organisasi dan jabatan yang harus ditampilkannya.

Dalam perjalanan waktu, seorang pejabat dituntun untuk berubah seturut kebutuhan organisasi. Orang menjadi sulit untuk tampil dengan pakaian seadanya lagi, makan di warung kesukaan, bergaul dengan komunitas lamanya, dan sebagainya. Tetapi harus sigap berbahasa casciscus, main golf, nonton konser, berlibur akhir pekan di Bali, naik moge atau gowes menggunakan sepeda bermerk. Tidak ada yang salah dengan semua standar hidup ini, namun menjadi beda karena bukan jati dirinya.

Seseorang yang memiliki kompetensi tertentu, akan dapat selalu mempertahankan posisi strategisnya dengan segala fasilitas kenikmatan itu. Orang itu bisa pindah dari sebuah organisasi ke organisasi yang lain, syukur-syukur dengan imbalan yang lebih baik lagi. Bisa juga pindah kuadran (fungsional) agar tetap relevan, seperti mantan atlet yang karena faktor usia beralih menjadi pelatih.

Tetapi yang langgeng adalah orang-orang bijak yang mampu mempertahankan jati dirinya sendiri. Mereka yang berumah di atas alas batu, bukan di atas pasir yang mudah terbawa angin. Sekali pun hidupnya tetap sederhana, tidak menonjolkan diri, bukan pula pesohor. Tetapi kedalaman pikir dan karyanya memberi makna bagi orang banyak.

Itulah jati diri yang sesungguhnya. Orang seperti mantan pejabat itu tidak canggung untuk kembali ke habitatnya. Dengan cepat dan mudah, tanpa beban apapun.

 

Cosmas Christanmas, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here