Uskup Ketapang, Mgr. Pius Riana Prapdi: Berbelarasa, Tanda Hikmat Allah

90
Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 7 Maret 2021 Minggu Prapaskah III Kel. 20:1-17; Mzm. 19:8, 9, 10, 11; 1Kor. 1:22-25; Yoh. 2:13-25

 WARTA sukacita Minggu III Prapaskah adalah Yesus menyatakan tubuh-Nya sebagai Bait Allah. Yesus mengusir para pedagang dan penukar uang dari Bait Allah karena mereka telah menjadikan Bait Allah sebagai tempat berjual beli dan tidak mustahil terjadi pula penipuan dan pencarian keuntungan pribadi. Bait Allah yang semestinya digunakan untuk membangun relasi dengan Allah dan menimba inspirasi hidup justru digunakan untuk kepentingan diri. Tindakan Yesus mengacaukan pelataran Bait Allah merupakan tindakan untuk membongkar kepalsuan beragama.

Yesus bukan hanya menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang tetapi membongkar penjungkirbalikan nilai kehidupan. Mereka telah mengubah hormat kepada Allah menjadi hormat kepada diri sendiri. Oleh karena itu, Yesus dengan keras berkata: “Rombak Bait Allah ini dan dalam tiga hari, Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Dengan Tindakan-Nya, Yesus mengajarkan kepada mereka bahwa Bait Allah yang sesungguhnya adalah Tubuh-Nya.

Bait Allah yang dibangun dengan batu-batu yang indah akan runtuh. Kenyataan membuktikan bahwa Bait Allah itu dihancurkan pada tahun 70 oleh orang-orang Romawi. Para murid pun baru memahami kata-kata Yesus setelah kebangkitan-Nya (Yoh. 2:22). Peristiwa kebangkitan tidak dapat dilepaskan dengan Peristiwa Salib. Dalam Peristiwa Salib, Yesus wafat dan dalam tiga hari Bapa membangkitkan-Nya. Tindakan Bapa dan tindakan Yesus adalah satu kesatuan. Yesus dibangkitkan oleh Bapa sekaligus ‘Yesus bangkit’.

Bait Allah yang sesungguhnya adalah Yesus yang bangkit. Hanya dalam persatuan dengan Yesus Kristus kita dapat menghormati dan menguduskan Allah. Hubungan dengan Yesus Kristus harus sungguh murni dan bebas dari perhitungan manusiawi, apalagi kepentingan untuk mencari keuntungan pribadi. Yesus menjadi Bait Allah yang hidup di tengah umat manusia sehingga melalui Sakramen Ekaristi kita belajar bagaimana Yesus memberikan diri-Nya sampai tuntas dengan pengosongan diri. St. Paulus mengatakan kepada umat di Korintus: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu” (1 Kor. 3:16).

Berkat pembaptisan, kita menjadi Bait Allah sehingga kita pun wajib menjaga kekudusan dan kehormatannya. “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku” (Yoh. 2:17)”. Yesus menyucikan bait Allah karena juga digerakkan oleh cinta. Menjaga kekudusan dan kehormatan bait Allah dalam diri kita berarti mengikuti pola hidup Kristus. Pola hidup Kristus adalah melaksanakan kehendak Allah yakni dengan pengosongan diri. “Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia” (Fil. 2:5-7).

Hukum cinta yang telah diberikan oleh Allah melalui Nabi Musa dalam Kitab Keluaran. Sepuluh perintah Allah merupakan pedoman dasar yang menjadi tuntunan dalam menjaga kekudusan dan kehormatan bait Allah. Tiga perintah pertama merupakan relasi cinta kasih manusia kepada Allah menuntun kita agar secara murni tanpa perhitungan untuk diri sendiri hanya memuliakan Allah. Kita tidak ikut menjungkirbalikkan nilai kehidupan dengan membawa nama Allah demi kepentingan politik, ekonomi dan kekuasaan. Justru segala kehidupan itu ditata sesuai dengan kehendak Allah. Kita semakin hormat akan kekudusan bait Allah ketika kita memuliakan manusia dan bukan menjadikan manusia sebagai sarana untuk memenuhi keinginan kita.

Tujuh perintah berikutnya adalah untuk mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Dengan kata lain, kita menjaga kehormatan dan kekudusan bait Allah dengan membangun sikap belarasa. Kita membela rasa sesama dan semesta agar tetap sesuai dengan maksud Allah yang Pencipta yakni baik adanya. Karena itu, segala sesuatu yang baik yang kita kehendaki supaya orang perbuat kepada kita, kita buat demikian juga kepada mereka. Dengan perayaan Ekaristi yang menghadirkan kembali Peristiwa Salib dan kebangkitan Yesus, kita menjadikan Ekaristi sebagai sekolah cinta kasih, agar semua orang mengalamai hidup dalam belarasa yakni mengusir segala kepentingan dan keuntungan diri. Hidup dalam berbelarasa bagi sesama dan semesta adalah tanda hikmat Allah yang kita hidupi hari demi hari. Tuhan memberkati.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here