Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC: Hosana: Seruan Oportunis atau Loyalis

312
Uskup Bandung, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 28 Maret 2021 Minggu Palma Yes. 50:4-7; Mzm. 22:8-9, 17-18a, 19-20, 23-24; Flp 2:6-11; Mrk 14:1-15:47 atau Mrk 15:1-39

SIKAP oportunis adalah perilaku yang hanya mau mencari keuntungan bagi diri sendiri dengan mengambil kesempatan yang ada tanpa berpegang teguh pada prinsip tertentu. Orang oportunis biasanya mencari muka di hadapan orang yang bertahta atau berharta dengan cara apapun bahkan rela mengesampingkan kebenaran dan kebaikan serta tega mengorbankan orang benar, baik, dan kudus. Bagi seorang oportunis, yang penting bukanlah kebenaran, melainkan ketenaran dan kebesaran yang membawa keuntungan pribadi.

Dalam dunia politik, seseorang yang menjadi kawan bisa dengan cepat berbalik menjadi lawan tergantung posisi mana yang lebih menguntungkan. Orang oportunis mau mencari apa saja yang lebih aman dan nyaman walau harus menyangkal kebenaran dan mengkhianati orang baik. Itulah sikap orang-orang Yahudi terhadap Yesus. Pada awalnya, bagai loyalis mereka bersorak “Hosana!” saat Yesus disambut sebagai raja. Beberapa hari kemudian, ternyata bagai oportunis mereka berteriak “Durjana!” ketika Yesus diadili sebagai terdakwa. Itulah yang dilakukan Yudas, murid dan bendahara yang dipercaya; yang tadinya melayani Yesus, akhirnya menjual Yesus.

Minggu Palma adalah awal dari perwujudan kisah kasih Yesus yang menebus manusia melalui jalan sengsara dengan didahului adegan sorak-sorai bagi seorang raja: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Diberkatilah Kerjaaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana, di tempat tinggi.” (Mrk 11: 9-10) Suara hiruk-pikuk kemuliaan memenuhi Yerusalem yang menyambut Yesus. Sayangnya gemuruh kemuliaan tersebut berubah sekejap menjadi teriakan histeris pada Jumat Agung dengan memekikkan kata-kata hujatan terhadap Putera Allah: “Salibkan Dia!” Seruan pujian “hosana, hosana, terpujilah penyelamat” seakan berubah menjadi teriakan makian “durjana, durjana, terkutuklah penjahat.” Ia menyaksikan bukan hanya orang asing, para prajurit Romawi yang menghujat diri-Nya, tetapi juga orang-orang sebangsa-Nya. Mereka yang awalnya memuji kini turut mencaci karena sikap oportunis.

Sebetulnya Pilatus bermaksud membebaskan Yesus. “Namun mereka makin keras berteriak: “Salibkanlah Dia!” (Mrk 15: 14) Orang-orang Yahudi lebih memilih penjahat yang mengganggu ketentraman mereka daripada penyelamat dunia yang membawa kedamaian. Yesus menyaksikan bagaimana orang-orang yang dikasihi-Nya memekikkan teriakan kebencian bagai air susu dibalas air tuba. Yesus menatap mereka yang akan diselamatkan dengan penuh kasih seraya menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi dosa manusia: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan diriKu.” (Luk 23: 46) Peristiwa penebusan ini membuat kepala pasukan Romawi, yang biasa menyalibkan terpidana dan kini menyaksikan bagaimana Yesus wafat, mengalami “pertobatan” dan berseru mengaku: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (Mrk. 15: 39)

Peristiwa Minggu Palma dan Jumat Agung mengingatkan orang-orang yang antusias menerima dan membiarkan Yesus memasuki kota hati dan hidupnya, tetapi akhirnya karena sikap oportunis: mau untung dan senangnya sendiri mereka menolak Yesus. Pada mulanya dengan semangat mereka rela melepaskan segala kelekatan bahkan berkorban diri demi Yesus yang datang, tetapi kemudian menolak-Nya karena berpikir bahwa kedekatan dengan Yesus; iman pada-Nya ternyata mengancam rencana, kesukaan, karier, dan hidupnya. Syukurlah di antara orang-orang oportunis masih ada orang-orang loyalis yang setia menemani Yesus di kayu Salib.

Sikap oportunis ternyata bukan hanya di dunia politik, tetapi juga meresap dalam kehidupan beragama. Kita yang ikut bersorak menyambut Yesus pada Minggu Palma, apakah juga akan setia sebagai seorang loyalis yang menemani Yesus hingga menghembuskan napas terakhir pada Jumat Agung. Apakah Ia yang loyal pada Allah; yang menyelamatkan kita; yang wafat untuk menebus dosa kita, menyaksikan kita sebagai seorang loyalis yang setia menemani-Nya hingga di bawah kaki salib; saat banyak orang menyingkir dari-Nya dan mencibirkan Dia; waktu orang meninggalkan dan menyangkal Dia? Akankah Yesus melihat kita seperti Ia menyaksikan Yohanes (murid terkasih) dan Maria (Sang Bunda) yang setia sampai berada di bawah kaki salib.

Sikap oportunis ternyata bukan hanya di dunia politik, tetapi juga meresap dalam kehidupan beragama.”

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here