PERJAMUAN TERAKHIR DI MILAN

172
Lukisan ini menunjukkan Perjamuan Terakhir Yesus bersama keduabelas murid, saat Dia menyatakan salah satu murid-Nya akan mengkhianati-Nya.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – MILAN (atau Milano) adalah kota terbesar nomor dua di Italia setelah Ibu kota Roma, tempat Negara Kota Vatikan berada. Terletak di Barat Laut Italia, bagi kaum perempuan modern sedunia, Milan dikenal sebagai salah satu Taman Firdaus mode kelas tinggi (di samping Paris, London, Sao Paulo, Tokyo, dan Singapura) karena di sini banyak diselenggarakan peragaan adi busana (haute couture).

Bagi kaum laki-laki pemerhati sepakbola, kota ini adalah tempat berhimpun 2 klub profesional terkemuka Italia yaitu AC Milan dan Inter Milan dengan stadion kenamaannya San Siro.

Tapi bagi pencinta seni lukis dan kaum beriman Kristen, Milan dikenang secara khusus karena Leonardo da Vinci (1452-1519) meninggalkan lukisan tembok The Last Supper alias Perjamuan Terakhir. Leonardo memang lebih dikenal karena lukisan Mona Lisa (La Gioconda, 1503-1506); tetapi Perjamuan Terakhir-nyalah yang mengilhami banyak lukisan serupa yang menghiasi dinding ruang makan keluarga Kristen di dunia.

Leonardo da Vinci (Cenacolo Vinciano) lahir di Vinci, Italia tanggal 15 April 1452, adalah salah seorang seniman lukis terkenal dari zaman Renaissance Italia, setara dengan Michelangelo dan Raphael. Tahun 1481-1499 ia menetap di Milan dan pada masa inilah (1494-1498) ia mengerjakan Perjamuan Terakhir ini. Lukisan terkenalnya Mona Lisa dibuat di Florence antara 1503 dan 1506. Leonardo masih beberapa kali kembali ke Milan, dan akhirnya wafat di San Fiorentino, 2 Mei 1519.

Lukisan Perjamuan Terakhir tersebut berukuran panjang 8,8 meter dan tinggi 4,6 meter dibuat di tembok Basilika Santa Maria tak Bernoda, di kota Milan, dan mulai rusak segera setelah selesai tahun 1498. Kelembaban, debu, dan udara kotor adalah penyebab kerusakannya selain (kelak) usia yang panjang sehingga dibutuhkan perawatan yang intensif, yang pertama sebelum tahun 1500. Pekerjaan restorasi lukisan ini dilakukan dengan sangat hati-hati karena tidak ingin merusak warna, bahan, serta nuansa aslinya.

Restorasi terakhir dilakukan tahun 1977 dengan bantuan dana dari Olivetti, sebuah perusahaan elektronik terkemuka Italia (pada saat itu), dan selesai 27 Mei 1999 atau 22 tahun kemudian. Restorasi ini menyusul kerusakan hebat akibat dari Perang Dunia I dan II yang melanda daratan Eropa. Pengamat seni mengatakan bahwa jenggot merah Yesus hilang dalam restorasi ini, demikian pula wajah dan kaki dari beberapa murid Yesus berubah warna. Ini bagaikan perempuan yang terlalu banyak melakukan make up wajah, kata pengamat seni itu.

Lukisan agung ini sendiri memang sudah berubah dari bentuk aslinya dalam beberapa restorasi di masa lalu. Dalam abad ke-17, perbaikan di bagian pintu yang terdapat di dalam gambar itu ikut memotong sebagian gambar kaki Yesus. Pada perang Dunia II, atap dan sebagian dinding bangunan terkena serangan bom Jerman, tetapi lukisan tidak mengalami kerusakan berarti karena telah dilindungi dengan kantong pasir.

Restorasi adalah pekerjaan maha berat karena harus berhubungan terinci dengan setiap inci lukisan. Ketika selesai, seorang kritikus seni mengatakan bahwa dimensi dan nuansa lukisan sudah berubah total termasuk wajah Yesus. “Leonardo tidak akan pernah menyetujui perubahan ini”, katanya. Tetapi pemimpin proyek restorasi Pietro Marani membelanya dengan mengatakan bahwa restorasi telah dilakukan secara ilmiah. “Tidak ada tambahan apa pun terhadap lukisan, bahkan kami mengembalikan warnanya yang asli”.

Kini tempat tersebut terbuka kembali untuk wisatawan dengan pengamanan ketat mengingat nilai seni lukisan tersebut sangat tinggi. Jumlah wisatawan per rombongan yang diijinkan masuk ke dalam gedung sangat dibatasi (maksimum 25 orang, bergantian setiap 15 menit) karena tidak ingin pengap yang ditimbulkan pengunjung akan merusak lukisan ini lagi. Ruangan tempat lukisan tembok ini berada, kini sepenuhnya sejuk dengan pendingin udara, teknologi yang tidak pernah dibayangkan oleh Leonardo sang pelukis agung ini pada zamannya.

Dalam ruangan yang sama berukuran lantai panjang sekitar 20 meter dan lebar sekitar 10 meter, di seberang lukisan Perjamuan Terakhir tersebut, kita juga mendapatkan lukisan Penyaliban di Bukit Golgota. Kedua lukisan tersebut saling berhadapan, dan pengunjung berdiri di antara keduanya.

Meski karya agung ini menggambarkan salah satu tonggak perjalanan iman yang sangat penting bagi kaum Kristiani, namun sekarang lebih dimaknai sebagai peninggalan sejarah dan seni yang layak dikunjungi. Harga tiket masuk sekarang adalah Euro 25 termasuk Euro 10 untuk sewa perangkat audio.

Selamat Memasuki Tri-Hari Suci 2021!

Cosmas Christanmas, Kontributor

Catatan ini dibuat saat perjalanan dinas ke Milan penghujung musim gugur 2001, singgah di tempat wisata ini dan Katedral Duomo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here