Aman Bersama (Tanpa) Petugas Keamanan

213
4.2/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.COM -Menapak dalam rangkulan kekasih
Pastilah aman nyaman sekujur tubuh
Melangkah dalam pengawasan penjaga
Tetap terasa aman, tapi.. nyaman nggak yaaaa…
Sejumput tanya menggoda
 
Ini beneran aman nggak sih…..?

Menjelang perayaan Tri-Hari Suci, ada kunjungan Wakapolda dan Kepala Staf Kodam Jaya beserta jajarannya ke Gereja Katedral Jakarta, Senin 29 Maret 2021. Persis sehari setelah Minggu Palma yang diwarnai ledakan di halaman Katedral Makassar. Kedatangan para pejabat terkait tentulah demi membangun rasa aman “agar umat Katolik khususnya serta masyarakat umumnya tidak perlu merasa takut dan kehadiran apparat TNI / Polri dalam pengamanan kegiatan ibadah di Tri-Hari Suci akan menjamin suasana yang aman, tertib dan kondusif.” Kukutip persis sebagaimana yang beredar di WAG secara resmi.

Melegakan, meski tetap terbersit cemas-cemas tipis sebagaimana setiap jelang perayaan sejenis. Apalagi  setelahnya ‘pesan aman’ tadi muncul beruntun pesan susulan masuk di beragam WAG. Standard sih.. seperti sudah-sudah, semacam tingkatkan kewaspadaan, tambah personil di pintu utama, umat tak perlu bawa tas besar ….., ……, …… dan seterusnya. Lalu penegasan koordinasi arus keluar masuk hanya satu pintu demi memudahkan pengecekan. Pintu alternatif yang semula diperuntukkan agar arus umat lancar terpaksa ditutup atas nama keamanan (bukan kenyamanan?).

Ditingkahi sederet himbauan, lalu apa arti keamanan itu sesungguhnya?

Kenapa berada di tengah segelintir orang yang nota bene hendak beribadah jadi lebih menakutkan daripada terselip di antara kerumunan penonton konser musik cadas atau supporter pertandingan bola yang punya potensi tawuran bila situasi tidak terkendali efek euforia misalnya. Sekilas melintas dalam ingatan tragedi ’98, seorang jenderal muda, ganteng, senyum menawan bikin para ibu tertawan, muncul berkali-kali di layar televisi guna menenangkan warga ibukota sambil berucap: “Jakarta tenang… aman terkendali…!”

Ya.., aman..! Tetapi kenapa bapak bicara dengan latar belakang deretan tank, kendaraan tempur lapis baja dengan roda berbentuk rantai? Dan saat kamera reporter bergeser, tampaklah pula situasi Jakarta lengang dikelilingi pagar kawat berduri dengan penjagaan ketat para petugas yang barangkali sudah beberapa hari tak sempat kumpul keluarga demi ‘keamanan’ negara tercinta ini.

Ruang pikir otakku memang kurang luas, sehingga sulit memahami defenisi keamanan. Lalu terlihat gerombolan anak kecil berkejaran bebas  lepas tanpa takut terjatuh karena lapangan tempat bermain berumput tebal. Sementara sisi lain, sekumpulan bocah bersepeda riang tak perlu kuatir tertabrak atau menabrak karena arus kendaraan melintas sangat terkendali. Tak terlihat satu orang dewasa pun menjaga mereka, yakin sekali berkejaran atau sepedaan bukanlah kegiatan berbahaya hingga butuh pengawasan ekstra.

Merasa amankah mereka?

Tentu saja..! Dan rasa aman itu bukan saja milik para bocah, tapi juga ada pada orangtua masing-masing karena toh tidak merasa perlu mengawasi khusus dari jauh, apalagi dari dekat. Karena ya memang aman dalam arti sesungguhnya.  Sekilas kisah masa lalu ketika menyusuri Carnaby Street, kawasan pejalan kaki di London, Inggris tepatnya  distrik Soho, Wetsminster sering bikin lupa waktu. Daerah iconic London dengan karakter unik, selalu ada sesuatu yang berbeda karena kaya budaya dan pertunjukan live penuh ragam, apalagi hiburan malam. Jadi nggak heran kan saat telapak kaki mulai panas kebanyakan berjalan sekaligus tersadar ternyata sudah larut dan nyaris ketinggalan jadwal terakhir Tube. Istilah untuk kereta bawah tanah di London, pilihan transportasi umum paling praktis, nyaman, ongkos bersahabat, juga menjangkau hampir semua wilayah di London.

Sebagai turis dengan rasa ingin tahu memuncak juga sedikit norak, belum sah rasanya sampai tidak berkeliaran di Carnaby Street  dan lupa waktu pastinya. Kemalaman di negeri orang berdua teman cewek pula, tanpa bekal ilmu bela diri.., hmmm. Setengah berlari kami mengejar Tube terakhir dan berhasil. Malam makin pekat, tapi suasana sekitar normal saja meski sepi dan di dalam Tube, hanya ada kami berdua serta satu pria berambut gondrong  kecoklatan sedikit kumal. Tak terlihat petugas keamanan selain sosok yang masih menjalankan peran sesuai fungsi. Sama sekali tidak menakutkan bagi dua perempuan muda (masa itu), pendatang pula. Sekadar info ini terjadi sekitar tahun 1993. Entah kalau sekarang, masihkah tetap begini? Sudah lama juga tidak mampir.

Di lain peristiwa, pernah aku dan suami nonton bioskop saat kebetulan mampir di Brussel. Pulang malam lagi,  jalan kaki pula karena rumah sepupuku tempat kami menginap ada di tengah kota. Berseberangan dengan istana kerajaan Brussel atau Paleis van Brussel,   tempat bekerja Raja dan Ratu sekaligus bila menerima tamu. Bukan tempat tinggal. Menuju pulang, harus melewati taman Brussel, berhadapan dengan istana di mana ada lapangan besar Paleizenplein yang saat musim bunga tampak indah warna warni. Setelah melintasi bagian taman, masih harus melintasi  jalan sepi dan gelap diantara pepohonan besar berusia  lebih tua dari nenekku bahkan. Berjalan dalam kondisi sedemikian, bukankah secara logika itu menakutkan? Dalam kondisi seperti inipun pasti banyak jenisnya.

Takut tiba-tiba orang tak dikenal muncul, merampok, melukai bahkan membunuh?

Bisa jadi muncul bukan orang, hanya tetap tergolong ‘mahluk’ dari rerimbunan daun atau lubang pohon di tengah batang  berdiameter jumbo?

Herannya rasa itu tak muncul, entah ketakutan akan orang maupun ‘bukan’ orang. Semisal tidak bergandengan, nyaris kehadiran suami pun tak tampak akibat sinar bulan saja sudah disembunyikan awan hitam. Tanpa rasa takut, cemas apalagi ngeri, tibalah di rumah, langsung  menikmati secangkir teh panas aroma peach sebelum beranjak ke peraduan melepeh lelah. Ijinkan aku berpendapat dari ruang otakku yang tidak tidak luas tadi, bahwa inilah rasa aman itu. Tanpa petugas keamanan tapi situasi terkendali. Tak diawasi, tapi yakin ada yang menjagai karena berjalan bersamaNya. Dan satu lagi butuh rasa dan yakin bahwa setiap orang menghargai hak  hidup orang lain. Tidak merasa paling kuasa boleh melepas paksa jiwa seseorang dari raganya terlebih di saat orang itu sedang berlutut minta perlindungan atas keutuhan roh dan badan. Izinkanlah ibadah tiap umat berjalan lancar aman tanpa, pengawasan ekstra juga penjagaan ketat. Bukankah ketika penjagaan begitu sempurna, saat itulah terasa bahwa keadaan tidak aman. Kusut ya….hehe….!

Permisiiii ..
Ini hanya soal pengenalan situasi 
saat sedang dijaga atau diawasi
Sama sama mengalirkan keamanan pasti
tapi rasa nyaman terbengkalai

Salam cinta: Ita Sembiring, Kontributor, Pekerja Seni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here