‘MAKAN NASI PAKAI PERIUK’, CERITA TANPA AKHIR PETRUS FAHIK

66
Petrus Fahik, kedua dari kanan, tak bisa berbuat banyak pasca banjir Sungai Benenain, Malaka, NTT.

HIDUPKATOLIK.COM – Duka Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT)  tinggalkan ceritera tanpa akhir. Banjir Benenain seakan tak ramah di kala guyuran hujan deras menyapa bumi. Minggu, 4 April 2021 menjadi catatan kelam yang takkan pernah sirna. Selalu terekam dalam benak.

Menatap dari dekat, seakan penghuni bantaran Sungai Benenain hanya membisu. Tak bisa berkata banyak. Rongsokan tiang penyangga rumah beratapkan seng rata ranah. Ada juga sederetan rumah bertudung  daun gewang tersangkut di sepanjang jalan.

Tumpukan lumpur dan selokan air mengairi halaman rumah tanpa aturan. Ada  rongsokan kayu melilit di sepanjang parit jalan penyeberangan. Saat derasnya aliran air menerjang, luapan lumpur beraroma tak sedap menerjang membabi buta.

Rasa perih masih tersisa dan melekat di hati. Tak mudah untuk dilupakan. Apalagi berada di tengah situasi sulit. Memori ini masih utuh dalam bayangan. Lokasi yang terkena banjir masih dalam proses pemulihan. Berbekal perlengkapan seadanya. Setiap orang membersihkan tumpukan lumpur yang mulai padat di dalam rumah dan halaman.

Perabot Rumah Tangga Hilang

Banjir bandang Benenain telah memporakporandakan seisi rumah tinggal. Saat kelopak mata masih terkatup rapat. Di situlah derasmya aliran air bertamu tanpa diundang menerjang deras. Ketinggian air hampir mendekati 2 meter bahkan lebih di beberapa titik yang berbeda. Seisi rumah ludes terbawa arus.

Perabot rumah tangga raib entah ke mana. Lemari pakaian, kursi, meja dan tempat tidur tak satu pun yang tersisa. Kata Petrus Fahik, sosok tua rentah dari Desa Wederok, Dusun Bualaran hanya meratapi nasib. Tak bisa berbuat banyak. Hanya termenung menatap bangunan tak berdinding yang kini jadi tontonan hari demi hari.

Bekas luapan Sungai Benenain, Malaka

“Saya sudah tua dan tak bisa berbuat banyak. Waktu banjir meluap pas dini hari. Saya tidak pikir lagi barang-barang di dalam rumah ini. Termasuk televisi yang baru dibeli 1 Minggu yang lalu terbawa banjir. Selesai,” kata Fahik sedih dengan kelopak mata berkaca-kaca menahan air matanya.

Ia berkisah jika bencana kali ini termasuk tersadis yang pernah dirasakan sepanjang hidupnya. Tahun 2000 teringat dalam benaknya ada banjir tapi tidak separah sekarang. Baginya banjir di tahun 2021 meninggalkan ceritera tersendiri. Perih dan menikam rasa.

Pengalaman Pahit

Bantuan kemanusiaan mengalir terus berupa sembako. Dari belahan dunia mana saja ikut berempati. Ikut merasakan duka di Malaka. Kadang harus menahan lapar jika persediaan bahan makanan habis. Petrus Fahik lanjut mengisahkan pengalaman terpahit yang dirasakannya. Sulit dilupakan dan penuh liku.

Genangan air sejak Minggu, 4 April dini hari sampai Senin, 5 April dengan ketinggian yang sangat meresahkan di rumahnya sangat menyulitkan untuk makan dan minum. Menahan lapar sepanjang hari. Badan lemas dan tak bertenaga.

Berbekal buah kelapa. Itulah pilihan terakhir untuk menghilangkan lapar. “Saya sudah sangat lapar. Badan gemetar menahan dingin dan kelaparan telah merontah dan melilit tubuh. Terpaksa saya makan buah kelapa yang isinya sudah tua untuk menghilangkan lapar,” ucap Petrus polos di rumahnya yang tak lagi berdinding karena diterjang banjir.

Hanya Meratapi Nasib

Tatapan mata kosong Petrus Fahik menyibakkan luka hati yang dalam mengakar. Di usia senja dan postur tubuhnya yang tak lagi tegap. Ia hanya berpasrah pada kenyataan. Jika ditanya ia lebih banyak terdiam tanpa kata.

Kadang sedikit tersenyum jika terlontar kata-kata Guyon namun selebihnya membisu sambil mengedipkan alis matanya yang telah memutih. Seakan kedipan aura hidupnya kian redup karena disapu bencana.

Tapi bencana Banjir Benenain telah membuka pintu hati banyak orang. Semua bantuan kemanusiaan mengalir tanpa henti. Sembako dibagikan untuk meringankan duka para korban. Juga perabot rumah tangga diberikan demi kelangsungan hidup di tengah situasi sulit dan tak bersahat.

Bencana Malaka. Tangisan dan jeritan para korban saat menatap rumah tinggal yang tak lagi ramah ditempati. Bukanlah semata duka mereka. Ini duka kita. Jangan biarkan luka hati mereka kian melebar. Sekalah air mata dengan uluran tanganmu. Polehlah wajah yang lesu dengan kehadiranmu. Balutlah luka di hati mereka dengan empatimu.

Beban hidup itu akan segera pamit. Bukan saja hari ini. Mungki besok atau lusa. Dukamu adalah juga sedih kami. Ratapanmu adalah nyanyian duka yang merobek hati kami. Malaka. Kamu takkan pernah berjalan sendirian.

Romo Ino Nahak, Kontributor (Atambua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here