ADA SURGA DI HATIMU

77

HIDUPKATOLIK.COM – “TAPI Romo, saya ndak punya minat ke bidang itu. Apakah bisa frater yang lain saja?”

“Wah, tidak bisa, Frater. Ini sudah menjadi kesepakatan dewan formator. Frater, kami minta segera untuk berkemas-kemas secukupnya. Minggu depan Frater sudah harus berada di tempat penugasan yang baru.”

Begitulah cuplikan percapakanku dengan Romo Sugeng, Sang Rektor Seminari, sebelum keberangkatanku menuju tempat penugasan baru. Ya, aku ditugaskan ke tempat di mana tidak kukehendaki sebelumnya. Jangankan kukehendaki, memikirkannya saja seperti mengkhayal di siang bolong. Menurut ukuran pada umumnya, harusnya frater berbakat sepertiku berkarya di paroki ibu kota atau lembaga eksekutif gerejawi. Kalaupun juga tidak di keduanya, setidaknya aku ditugaskan untuk mengajar di salah satu sekolah menengah bergengsi di keuskupan ini.

“Ah, masak IPK-mu di atas 3,8 harus pergi ke tempat itu?” tanya adik kelasku, Joni seakan protes kepadaku.

“Iya nih, Dri. Masak kamu kalah sama si Adit? Dia saja yang sempat ngulang kuliahnya ditugaskan ke paroki elit di perkotaan. Si Rizal juga. Dia kan jarang dapat nilai A, tapi malah dia yang ditugaskan membimbing anak-anak seminari menengah….” tambah Danang menimpali pernyataan Joni.

“Ye……kok malah tanya ke aku. Aku sendiri enggak tahu keputusan dewan formator. Tapi, kujalani sajalah, sebagai wujud janji ketaatanku terhadap pemimpin,” jawabku sembari menutupi gejolak dalam batinku. Gejolak itu menghantam telak sisi psikologisku. Sebabnya adalah kebutaanku akan tantangan apa yang kelak kuhadapi. Ada pula sebentuk keraguan apakah aku bisa cepat beradaptasi di tempat yang baru. Aku hanya dapat berharap semoga berkat Tuhan mengiringi langkahku menuju medan perutusan itu.

***

Setelah lebih dari 7 jam perjalanan dari seminari menuju Desa Nong Senip, akhirnya aku tiba ke tempat di mana aku ditugaskan. Setelah beberapa kali bertanya kepada warga sekitar, kini persis di depanku tampak plang kusam bertuliskan “Panti Asuhan Imago Dei” (imago Dei: citra Allah). Sekilas, muncul bayanganku pada pengantar kuliah Teologi Keselamatan pada waktu yang silam. Kala itu Pater Bolt mengatakan bahwa manusia hakikatnya imago Dei. Karena hakikat itulah manusia pada dasarnya memiliki hak untuk diselamatkan. Tidak ada pihak mana pun yang boleh mencederai harkat dan martabat sesamanya, apalagi kalau itu didasarkan pada kemiskinan dan kelas sosial semata. Permenungan itu buyar seketika di kala seseorang berusaha menyapaku.

“Frater Andri, selamat datang di Panti Asuhan Imago Dei. Bagaimana perjalanannya tadi? Lancar?”

“Puji Tuhan lancar. Maaf, saya memanggil anda dengan sebutan apa? Ibu, mbak, atau suster?”

“Ah, frater bisa saja. Saya kan tidak pakai caput, masak dipanggil suster. Panggil saja saya Ibu Sisil. Anak saya dua, yang sulung namanya Ririn, akan lulus SMA. Yang bontot, Willy, baru kelas 5 SD. Baik, saya antarkan Frater ke kantor Bruder Markus ya.”

Sejatinya aku mengharapkan percakapan ini masih berlanjut. Namun, apa daya Bu Sisil segera mengajakku ke kantor Bruder Markus. Aku menduga ia adalah karyawan di sini, sedangkan Bruder Markus adalah pemimpin panti asuhan ini.

“Nama saya Bruder Markus. Sudah lebih dari 10 tahun dikaryakan di tempat ini. Puji Tuhan tahun depan saya sudah merayakan 25 tahun hidup membiara. Kalau cerita mas Frater, bagaimana?”

“Terima kasih, Bruder. Nama saya Frater Andri. Saya baru saja lulus S1 bulan lalu dan mendapat perutusan untuk berpastoral di tempat ini. Kalau boleh tahu, apakah Bruder pimpinan di panti asuhan ini?

“Wah, saya bukan pimpinan di sini. Kok kesannya saya manager di tempat ini. Tidak. Saya lebih suka disebut bapa rohani di tempat ini. Kasihan anak-anak di sini. Di samping miskin secara finasial, mereka juga miskin secara spiritual. Ada yang yatim piatu, ada juga yang ‘dititipkan’ karena hasil hubungan terlarang.”

Sekilas, saya melihat Bruder Markus adalah pribadi yang rendah hati. Dari cara berbicara beliau, ia terkesan grapyak dan lembah manah (ramah dan murah hati). Bahkan dia pun memakai kata ‘dititipkan’ karena tidak tega mengucapkan kata ‘dibuang’. Sebentuk ungkapan kemanusiawiaan terhadap mereka yang bernasib malang dan nestapa. Mana ada orangtua yang tega menitipkan buah hati, kecuali alasan ekonomis, kalau memang kelahirannya tidak dikehendaki?

“Untuk kegiatan-kegiatan selanjutnya, Frater bisa berkomunikasi dengan Bu Sisil. Dia hanya satu-satunya karyawan tetap yang masih setia ngopeni (merawat) anak-anak di sini. Sekarang alangkah baiknya Frater bebersih, kemudian membereskan barang bawaan di kamar,” tuturnya sambil mengakhiri percakapan di malam ini.

Malam ini aku tidak bisa lekas tidur. Aku merasa ‘jet-lag’ akibat perjalanan jauh itu. Maka, kudengarkan dengan seksama suara semilir angin malam ini, agar kantuk segera menyergap tubuhku.

7 bulan kemudian….

“Frater, emang surga itu ada ya?”

“Ada kok. Memangnya kenapa, Cus?”

“Ah masak, aku enggak percaya. Aku belum pernah lihat surga itu di mana.”

Mendegar pertanyaan Icus, aku sempat terperanjat barang beberapa detik. Jelaslah tak mungkin aku menerangkan materi Eskatologi yang diampu oleh Pater Dolus selama 14 kali pertemuan itu. Maka, dengan sigap, aku langsung menebak-nebak dada di hadapannya. Sebuah gerakan yang rupanya menarik perhatian anak-anak di sekelilingku.

“Duh, Flatel sakit ya? Aku mintakan Bludel Malkus obat peleda nyeli ya?” tanya Lani dengan pelafalan cadel yang membikin aku gemas.

“Ah, ini pasti gara-gara sambelnya Bu Sisil kepedesan ya, Ter?” sahut Icus dengan raut panik melihat dada fraternya tampak kepanasan.

“Eh…..bukan. Frater enggak apa-apa kok.” sergahku agar memutus kesalahpahaman ini.

“Frater tadi ingin menunjukkan bahwa letak surga ada di sini. Surga ada di hati kita masing-masing. Kalau kita dalam suasana damai, maka kerajaan Allah besemayam di hati kita. Percaya deh, Yesus ada di dalam hati Rani dan Icus.”

“Hore…..berarti mama papa ada di sini dong?” seru Icus sambil mengarahkan telunjuk ke dadanya.

Sungguh, pernyataan bocah yatim-piatu itu membuatku tertohok sekaligus tersipu malu. Selama ini, aku sendiri meyakini bahwa surga berada di atas sana. Suatu tempat nun jauh di sana yang terpisah sama sekali dengan alam duniawi ini. Di sini, aku serasa menghakimi diriku sendiri. Pengetahuan akan nilai-nilai teologis dan dokumen gerejawi, rupanya belum membantuku berkembang dalam iman. Hidup rohaniku serasa kering kerontang, sebab dijejali kepuasaan diri sudah memahami betul seluruh catatan eksegesis Kitab Suci. Adapun pada refleksi harian kutuliskan sebatas catatan konseptual cupet belaka; penuh dengan formalitas dan aneka kemunafikan.

“Maaf Frater Andri, Bruder Markus meminta Frater untuk menemui di ruangannya sekarang,” seru Bu Sisil yang lagi-lagi membuyarkan lamunanku. Dengan tergopoh-gopoh aku menuju ruangan bruder dengan berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi.

***

“Gimana Frater, betah melayani anak-anak di tempat ini?” tanyaanya dengan kharisma kebapaan yang khas.

“Betah kok Bruder…. Saya enjoy dengan kehidupan anak-anak di sini.”

“Puji Tuhan, berarti romo rektor dan dewan formator seminari tidak salah menunjuk Frater.”

Seketika itu juga aku teringat kembali ‘protes’ Danang dan Joni terhadap perutusanku ini.

“Romo Sugeng mengatakan bahwa Frater adalah lulusan terbaik seangkatan. Ia menitipkan pesan kepada saya agar Frater mampu menggunakan kepandaian yang Tuhan berikan demi pelayanan di tempat ini. Kalau tidak percaya, silakan baca surat singkat yang dikirimkan romo rektor, persis seminggu sebelum kedatangan Frater di tempat ini.”

Aku pun membuka sepucuk surat yang tampaknya masih terbingkai rapi di dalam amplop coklat tua.

Ytk. Bruder Markus Suhasstya di tempat

Salam Sejahtera!

Melalui surat ini, saya, Romo Alexius Sugeng Pambardi, selaku Rektor Seminari Tinggi “Lux Mundi”, memohon kesediaan anda untuk menerima anak didik kami, Frater Lukas Andriono untuk berpastoral di tempat karya anda. Sebagai catatan, Frater Andri adalah anak didik kami yang pandai di antara teman-teman seangkatannya. Namun, kami melihat bahwa sisi spiritual dan afektif kurang terasah selama pembinaan beberapa tahun ini. Maka, kami berharap agar Frater Andri mampu menggunakan anugerah intelektualitas yang Allah berikan kepadanya untuk melayani anak-anak miskin dan terlantar.

Akhir kata, mohon bimbingan Bruder agar rahmat Allah mampu bekerja di dalam dirinya secara penuh. Berkah Dalem!

NB:

Surat keputusan penugasan terlampir dalam surat ini.

Girimukti, 7 Mei 2019

Rm. A.S. Pambardi

***

Tak terasa, bendungan air mataku mendadak jebol. Segala tameng dan benteng dan pertahanan diriku selama ini seakan sirna. Kata orang, air mata adalah ungkapan syukur yang tulus dari hati terdalam Akupun sadar, kepandaian bukanlah segala-galanya yang harus kuperjuangkan dalam hidup. Justru hal utama yang harus kucari dalam hidup adalah kedamaian. Kedamaianlah yang mampu menjadikan hatiku sebagai surga yang nyata, bukan sekadar konseptual abstrak yang terjebak dalam idealisme semu. Terimakasih Tuhan, melalui Icus kecil, Engkau telah mengatakan kepadaku, “Ada surga di hatimu.”

Oleh Fr. Garbiel Mario L. OSC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here