USKUP AGUNG KUPANG, MGR. PETRUS TURANG: BERSAMA-NYA MENGHASILKAN BUAH BANYAK

115

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 02 April 2021 Minggu Paskah V Kis.9:26-31; Mzm.22:26b-27, 28, 30, 31-32; 1Yoh. 3:18-24; Yoh. 15:1-8

MINGGU ini mendapat sapaan firman Tuhan tentang “Pokok Anggur”. Komunikasi antara kita dan Kristus memang demikian mendalam, mesra, dan vital, yang dapat dipatrikan dalam kesatuan yang tak terceraikan, yaitu ikatan erat ranting-ranting pada pokok anggur dan pokok anggur pada ranting-rantingnya. Dari mana datangnya suatu kesatuan yang begitu erat dan tak terceraikan? Kesatuan itu berasal dari pembaptisan kita. Dengan pembaptisan kita diserapkan dalam Kristus seperti ranting-ranting pada pokok anggur. Akibatnya seluruh kepribadian kita diubah oleh rahmat. Kita secara efektif menjadi pengambil bagian dari hidup ilahi (2Ptr. 1:4). Hidup Kristus menjadi hidup kita. Kita menjadi mampu untuk mengasihi Tuhan, orang miskin, sesama dengan hati-Nya.

Sejatinya kita tidak mungkin berpikir, mengasihi dan berlaku seperti Kristus, jika Dia tinggal di luar diri kita atau hanya seorang guru yang berjalan di depan atau di samping. Nyatanya, Dia tinggal dalam kita. Setiap orang Kristiani dapat mengatakan dengan benar bersama Paulus: “Bukan lagi aku yang hidup, tetapi Kristus hidup dalam diriku” (Gal. 2:20). Jadi, idealnya bukan lagi aku yang berpikir, mengasihi dan berbuat, tetapi Kristuslah yang berpikir, mengasihi dan berbuat dalam diriku. Kemudian, bagaimana kita dapat mengembangkan benih dari hidup ilahi, yang dicurahkan dalam diri kita dengan permbaptisan? Jawabannya kita tahu, tetapi selalu pantas ditegaskan dan diperdalam: benih itu berkembang dalam diri kita dengan Ekaristi dan Salib.

Anugerah roti Ekaristis.  Marilah kita dengarkan Yesus: “Sebagaimana Bapa yang memiliki hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku akan hidup oleh Aku” (Yoh. 6:57). Dengan kata lain, seperti Kristus hidup dari Bapa dan oleh Bapa, demikian pula dengan menyatukan diri pada misteri suci dari Tubuh-Nya dan Darah-Nya, kita hidup oleh Kristus, bersama Kristus dan dalam Kristus. Itulah prinsip dari penyelarasan vital, di mana unsur lebih tinggi menyelaraskan diri pada yang lebih rendah: daya vegetatif menyelaraskan pada daya mineral, daya hewani menyelaraskan pada daya vegetatif, daya manusiawi menyelaraskan pada daya hewani, dan tidak sebaliknya. Demikian, dalam tingkat spiritual, daya Ilahi menyelaraskan diri pada daya manusiawi, dan tidak sebaliknya. Siapa makan, maka dia menyelaraskan diri pada apa yang dimakannya. Tetapi dalam Ekaristi terjadi sebaliknya: Kristus yang disantap menyelaraskan orang Kristiani yang menyantap-Nya pada diri-Nya: Bukan kamu yang akan menyelaraskan Aku padamu, tetapi Akulah yang menyelaraskankamu pada-Ku. Inilah “pertukaran yang mengagumkan dan ajaib” dalam liturgi. Terjadi simbiosis mutualistik antara Kristus dan kita yang menyantap-Nya.

Dalam Injil, Yesus berbicara tentang operasi “sirurgis” yang menimbulkan rasa sakit. Operasi ini harus dilakukan agar semakin menghasilkan pertumbuhan yang sehat, seperti pemangkasan ranting pokok anggur: Setiap ranting yang berbuah dipangkas atau dibersihkan agar berbuah lebih banyak.  Kekuatan besar yang membawa kematangan penuh dari benih hidup Ilahi yang dianugerahkan dalam pembaptisan kita, adalah salib, yaitu mengorbankan diri. Pemangkasan yang dilakukan Bapa, pengusaha kebun anggur, sejatinya menyedihkan serta menyakitkan, seperti setiap “koreksi” atau “perbaikan”, yang sesaat tidak membawa kegembiraan dan rasa senang, tetapi kesedihan dan rasa sakit. Tetapi dalam perjalanan waktu, tindakan itu akan membawa daya tumbuh dan menghasilkan buah perdamaian dan keadilan (Cfr. Ibr 12:11).

Pola pikiran ini bercorak menghibur, memberdayakan dan melegakan pengharapan: pengusaha kebun anggur memangkas bukan untuk menyiksa atau mematikan, tetapi untuk mendorong daya tumbuh, memberdayakan serta menyuburkan perkembangan hidup iman yang berbuah banyak. Pengusaha tidak mencungkil dan melenyapkan kita, tetapi membuat kita hidup dengan daya tumbuh untuk menghasilkan buah semakin banyak. Rasul Paulus berkata kepada jemaat Ibrani: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya, karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak” (Ibr. 12:5-6).

Dalam perjalanan hidup iman, suatu hari nanti kita akan mengerti dan bersyukur. Allah lebih besar dari hati kita dan mengetahui segala sesuatu. Kita memuji dan bersyukur kepada-Nya, karena kita dapat “tinggal dalam kasih-Nya”. Dengan penuh syukur menerima pembuluh darah dari pokok anggur, kita akan menjadi ranting-ranting yang hidup dan mekar bertunas: dalam dan bersama Kristus, kita mampu menghasilkan banyak buah, yaitu perbuatan-perbuatan baik menurut teladan Yesus Kristus dalam Daya Roh-Nya. Semoga demikian!

“Dengan pembaptisan kita diserapkan dalam Kristus seperti ranting-ranting pada pokok anggur.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here