Ketahuilah Dia Memberi Lebih Besar!

89
Penggalangan dana bagi korban bencana alam di NTT.

HIDUPKATOLIK.COM – SALAH satu tahapan formasi dalam Serikat Xaverian (SX) ialah studi filsafat. Tahun ini dimulai setelah formandi (frater) bergelut dengan pengenalan diri di tahun pranovisiat dan pembinaan rohani di tahun novisiat. Kendati prioritas pada hidup studi, kegiatan kerasulan tetap menjadi perhatian. Kerasulan menjadi ladang misi kecil sebelum perutusan kepada bangsa-bangsa (ad gentes) kelak. Sekadar informasi, beberapa konfrater Xaverian yang dulunya pernah merasul di ladang misi kecil ini, kini telah tersebar di seluruh penjuru dunia. Ada yang di Thailand, Jepang, Konggo, Siera Leonne, Mozambiq, Italia, Brasil, dan Kolombia. Hebat bukan! Adapun ladang misi kecil itu seperti pelayanan katekumen, pelayanan orang miskin bersama komunitas Sant Egidio, pendampingan anak-anak, dan bahkan pernah mendampingi imigran.

Sejak Agustus 2020 yang lalu saya diutus komunitas untuk melayani di komunitas Sant Egidio Mensa, Jakarta Barat. Pelayanan di Mensa dimulai sejak tahun 2016. Komunitas ini dirintis oleh Andrea Riccardi pada tahun 1968 di Roma, Italia.  Komunitas ini memfokuskan pelayanannya bagi orang-orang miskin dan hadir sebagai sahabat bagi mereka. Kehadiran itu pertama-tama di tengah kerasnya kehidupan ini.

Di Mensa saban minggu komunitas mengadakan kegiatan makan malam bareng dan membuka kelas bagi anak-anak untuk belajar bersama. Mereka hadir dengan penuh antusias untuk menikmati sepiring nasi bersama dengan yang lain. Di sana terjadi perjumpaan, sharing pengalaman, dan guyonan yang melahirkan tawa. Tawa yang tulus dari wajah-wajah lusuh yang tampak lelah setelah seminggu bergulat mencari nafkah di tanah yang keras ini.

Semenjak pandemi Covid-19, khususnya pemberlakuan pembatasan sosial di Jakarta kegiatan makan bareng dan kelas bersama anak-anak ditiadakan. Namun komunitas tetap melayani sahabat-sahabat dengan membagikan makanan tiap minggunya. Mereka datang, mengantre, dan setelah mendapat beberapa bungkus makanan mereka kembali ke rumah. Pandemi merenggut kebahagiaan yang dirasakan melalui perjumpaan di meja makan. Anak-anak pun tidak bisa belajar dan bermain karena wabah ini. Dalam beberapa obrolan, mereka menyatakan kerinduannya untuk kembali berkumpul seperti sedia kala. “Kita tetap bertekun dalam doa, semoga wabah ini segera berlalu, sehingga kita bisa ngumpul bareng lagi,” ujar seorang sahabat.

Tak dapat dipungkiri, kelompok yang paling terpukul dari pemberlakuan pembatasan sosial adalah masyarakat kecil. Di jalanan bisa ditemukan mereka yang tetap berjerih lelah, supaya bisa memenuhi kebutuhan, sekurang-kurangnya bisa makan. Apakah mereka tak takut tertular? Mereka takut tapi tak kerja tak dapat makan. Sahabat-sahabat Mensa pun demikian. Mereka bukan pekerja kantoran yang bisa bekerja dari rumah. Mereka adalah buruh, pedagang, dan pemulung yang harus bekerja di luar rumah. Mereka tak kenal everything doing from home.

Kesusahan yang mereka alami tidak serta-merta membuat mereka tidak memikirkan orang lain. Mereka punya simpati, bahkan jika mampu mereka berempati, memberi dari kekurangan. Minggu 18 April 2021 yang lalu komunitas mengadakan penggalangan dana bagi korban bencana alam di NTT. Penggalangan ini dilakukan di antara sahabat-sahabat yang saban minggu menerima beberapa bungkus makanan. Seminggu sebelumnya telah diumumkan kepada mereka dan mereka menyetujuinya. “Kita sendiri memang susah dalam situasi saat ini. Bagaimana pun kita tetap solider dengan para saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Malang (Jawa Timur). Kita diminta untuk menyisihkan sedikit rezeki kita, berapa pun itu, sedikit apa pun itu yang penting diberi  dengan ikhlas,” umum seorang rekan seminggu sebelumnya.

Tak dinyana hampir semua sahabat berdonasi. Oh ya, bukan dari kelimpahan tapi dari kekurangan. Antusiasme mereka berdonasi sungguh mengagumkan. Total donasi pun bagi saya sangat besar untuk kalangan mereka. Saya lantas teringat persembahan seorang janda. Ia memberi dari seluruh nafkahnya hari itu, hanya beberapa keping lusuh. Bahkan ia diejek. Tanpa tedeng aling, Yesus yang melihatnya lantas mengatakan bahwa janda itulah justeru yang memberi paling besar dari yang lain. Enggak mungkin, sebab banyak orang kaya yang memberi jauh lebih banyak dari si janda. Lantas apa ukuran Yesus? Sebab dia memberi dari kekurangan. Itulah jawabannya. Bagi saya donasi dari sahabat-sahabat komunitas Sant Egidio Mensa paling besar. Selain dari kekurangan, ada sentuhan ketulusan di  dalam pemberian itu.

Inilah kisah sederhana yang ingin kubagikan. Sekiranya ada yang terketuk pintu hatinya untuk sesama yang menderita dan kehilangan asa. Ada yang jauh dari kita tetapi ada yang dekat di sekitar kita. Mereka membutuhkan kepekaan kita! Kisah ini teruntuk mereka yang terus berlayar dalam kenyamanannya sendiri, tanpa menepi bagi mereka yang menanti. Mereka menanti mata yang melihat dan tangan yang terulur bagi hidup mereka.

Fr. Erick Ndeto, SX, Mahasiswa STF Driyarkara

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here