Uskup Palangka Raya, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF: Menempatkan Harapan dalam Kesetiaan

61

HIDUPKATOLIK.COM – Dalam hidupnya, ia percaya bahwa selalu ada harapan dalam kesetiaan. Butuh sedikit perjuangan agar bisa mengalami kasih karunia Allah itu.

Awalnya tidak terpikirkan menjadi uskup di keuskupan yang menurutnya “asing”. Selain belum pernah berkarya di situ, juga blank tentang Keuskupan Palangka Raya. Walau sempat menyatakan penolakan, tetapi demi ketaatan, ia siap melayani. Kini, sudah 20 tahun menjadi gembala utama di Palangka Raya. Bagaimana pengembangan kehidupan beriman umat dan pengalaman iman selama penggembalaannya? Berikut petikan wawancara dengan Uskup Palangka Raya Mgr. Aloysius Maryadi Sutrisnaatmaka, MSF. Berikut petikannya:

Bagaimana cerita awal Bapak Uskup menyatakan kesediaan menerima tugas dari Paus?

Ketika itu saya masih menjadi dosen tetap dan aktif di Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Dunia saya didominasi oleh bidang pendidikan dan pengetahuan, itu sudah berlangsung 12,5 tahun. Tiba-tiba dipanggil Duta Besar Vatikan dan diarahkan sebagai gembala di Kalimantan Tengah (Kalteng). Ada rasa ragu-ragu dan takut lantas bertanya: apa tidak salah pilih? Apakah saya bisa menjalankan tugas itu? Saya masih mencoba menawar, apa mungkin menjadi administrator dulu, sambil mengenal Palangka Raya. Namun Duta Besar Vatikan, Mgr. Renzo Fratini, tidak mau berpanjang lebar berbicara tentang keinginan saya itu. Ia mengambil amplop dan membuka isinya, sebuah surat dari Paus Yohanes Paulus II. Isinya pengangkatan saya sebagai Uskup Palangka Raya. Sudah ditanda tangani dan tinggal mengatur hal-hal teknisnya. Walau hati saya tidak karuan, tapi saya akhirnya menyatakan kesediaan.

Sebelum menjadi uskup, apakah pernah berkarya di Palangka Raya?

Belum pernah. Pada Oktober 2000, saya diundang untuk pendalaman bersama para pastor se-Keuskupan Palangka Raya tentang karya misi di Indonesia. Hal itu saya rasa sesuai dengan studi saya Missiologi, dan posisi sebagai Sekretaris Komisi Karya Misioner KWI. Dari 1992 sampai 2000, tiap tahun saya menjadi pendamping para imam tahbisan balita (bawah lima tahun), diadakan 10 hari setiap tahunnya. Pertemuan itu hampir selalu diadakan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan dan baru sekali diadakan di Kalimantan Timur, belum pernah di Palangka juga. Sehingga boleh dikatan, saya merasa blank tentang Palangka Raya. Sepengetahuan saya, Palangka Raya itu ada di pedalaman di Kalteng. Suku aslinya Dayak, para pastor sebagian besar awalnya adalah imam-imam dari MSF Kalimantan dan Jerman. Saya juga tidak kenal dengan para misionaris itu. Jadi gambaran saya tentang Palangka Raya sangat minim.

Apa pengaruh Gereja terhadap kehidupan masyarakat Dayak saat ini?

Secara garis besar, Gereja yang sudah masuk di Kalteng sejak tahun 1930-an di bagian aliran Sungai Barito dengan karya para MSF. Disusul daerah-daerah lain sampai tahun 1980 dengan masuknya SVD, Kapusin, dan lainnya. Kehidupan beriman dan kegiatan hidup menggereja sudah masuk ke banyak bidang, antara lain bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial ekonomi. Bidang iman, memang masih cukup terbatas, dan kiranya belum mengakar sungguh. Dalam hal ini iman saudara-saudari Kristen sudah ditanam jauh lebih dulu, sekitar 100 tahun sebelum Katolik masuk. Ketika itu ada peraturan Belanda yang membagi wilayah: apabila suatu sungai aliran sudah dimasuki Kristen, maka Katolik tidak boleh masuk, dan sebaliknya. Itulah sebabnya Kalimatan Barat lebih didominasi Katolik dan Kalteng oleh Kristen.

Apa faktor yang membuat lemahnya penghayatan iman di Kalteng?

Sekarang ini tenaga pasatoral tertahbis makin bertambah. Tahun 2001 ketika saya mulai bertugas, jumlah imam seluruhnya 26 (21 religius dan 5 diosesan). Kini sudah 65 imam, terdiri dari 24 diosesan dan 41 religius. Ketika pemekaran tahun 1993, tercatat 15 paroki. Kini paroki definitif menjadi 27. Ada 3 tarekat bruder dan tarekat suster dari 6 dengan jumlah 78 menjadi 18 dengan jumlah 162 suster. Umat sejak pemekaran 1993 dari 35.000 menjadi  91.000 jiwa. Sementara medan pastoral juga sudah mengalami kemajuan signifikan. Awalnya perjalanan lewat darat dan sungai masih imbang. Bahkan jalan darat masih cukup memprihatinkan, harus dengan mobil dobel gardan. Sekarang jalan-jalan sudah sangat lumayan, juga jembatan-jembatan sudah dibangun. Soal lemahnya penghayatan iman kiranya terletak pada situasi zaman dan kemajuan teknologi yang belum bisa dipadukan dengan penghayatan yang kuat. Pengaruh konsumerisme dan materialisme menjadi tantangan yang sangat real. Pengaruh masyarakat adat juga di sebagian wilayah masih masih dominan, hidup gaya modern yang belum tersaring oleh kekuatan iman, maka penghayatan iman kerap masih terombang-ambing.

Selama 20 tahun episkopat, apa program yang sudah Bapak Uskup buat?

Pertama, mendirikan seminari menengah. Melalui Surat Keputusan (SK) 31 Maret 2002, diputuskan untuk mendirikan seminari. Sesudah mengadakan beberapa kali rapat dengan beberapa pastor, tokoh awam, katekis, dan sebagainya untuk menindaklanjuti SK itu. Akhirnya atas pertimbangan pelbagai pihak seminari menengah itu dinamai Seminari Raja Damai. Di kemudian hari nama Pelindung ditambahkan St. Bernardus. Pada 1 Juli 2002 seminari dibuka.

Kedua, Membuka Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS). Dengan SK bertanggal sama dengan SK pendirian seminari, STIPAS, pendidikan untuk para calon katekis. Pendirian ini atas keputusan Rapat Kerja I, Oktober 2001. Awalnya ingin dibuka Institut Pastoral Indonesia, filial Malang (dengan ijazah Diploma). Dengan pelbagai pertimbangan akhirnya panitia memutuskan mendirikan STIPAS dengan ijazah Sarjana. Hal ini dapat memenuhi syarat dari pemerintah untuk bisa diangkat menjadi PNS.

Ketiga, membuka SMAK dan seminari diintegrasikan di dalamnya. Ketika Dirjen Bimas Katolik menawarkan untuk membuka SMAK, maka dimulailah usaha untuk merintisnya. Sekitar 4-5 tahun dibicarakan akhirnya diputuskan untuk diadakan di Kompleks Katedral, menyatu dengan dengan kompleks STIPAS.

Mgr Sutrisnaatmaka memberkati sebuah gereja di pedalaman.

Apakah Keuskupan Palangka Raya sudah mandiri dalam hal tenaga pastoral dan finansial?

Untuk dikatakan mandiri sepenuhnya, pasti belum. Namun kemajuan yang cukup signifikan sudah mengarah ke kemandiran dalam bidang-bidang itu. Untuk kebutuhan tenaga pastoral tertahbis, seminari menengah sudah mulai “menghasilkan” beberapa imam, antara lain tahun 2020 ada 3 tahbisan imam lulusan dari Seminari Menengah Raja Damai. Sedangkan untuk tenaga pastoral non-tertahbis STIPAS sudah meluluskan tenaga katekis yang lumayan banyak, makin mendekati 200-an. Dalam hal finansial, tahun 2001 dari 15 paroki, hanya 3 paroki yang sudah mandiri. Sisahnya masih subsidi keuskupan. Untuk katekis purna waktu yang digaji penuh oleh keuskupan sekitar 20 orang. Saat ini sudah tinggal 5 paroki dari 27 paroki yang masih subsudi, yang lain sudah mandiri. Dengan cara ini kebutuhan seluruh keuskupan (running-cost) semakin mendekati pembiayaan sendiri.

Apa pengalaman iman yang membuat Bapak Uskup yakin “Tuhan memperpanjang hidup”?

Saya mendapat warisan dari keluarga penyakit Diabetes Melitus (DM). Sejak umur 33 tahun ketika baru kembali dari studi dan mulai mengajar, mendapat surat keterangan doktor penyakit DM itu. Dan penyakit ini memiliki beberapa komplikasi: jantung, stroke, ginjal, dan lainnya. Ibu saya meninggal mendadak ketika baru kembali dari Misa, dalam usia 50-an. Kakak sulung saya, meninggal mendadak ketika mau berangkat mengajar, dalam umur 50-an tahun juga. Kakak ke 2 dan ketiga kurang lebih dengan kasus yang sama. Kebanyakan dari mereka sepertinya “mendadak”, karena memang tidak rutin periksa kesehatan. Dugaan kami, penyakit keluarga DM ini menjadi alasan awal untuk penyakit lainnya. Penyakit ini membuat saya pernah bypass jantung. Kemudian pada 08 Juli, 2009, saluran ke pankreas mengalami masalah dan tertulup oleh dua batu empedu yang keluar dari kantongnya, menyumbat dan menjadikan pankreas bengkat dan infeksi sampai menjadi mirip bubur. Akhirnya saya menerima minyak Sakramen Minyak Suci sebelum dirawat di Singapura. Kejadian lain pada 25 Januari 2020, terjadi kecelakaan mobil sekembali dari turnei ke Pangkalan Bun, bersama dengan 3 Suster. Melihat kondisi mobil yang terbalik dengan keruskan yang sangat parah, orang mengira akibatnya juga fatal. Namun sekali lagi Tuhan melindungi dan itulah salah satu bentuk kepercayaan saya bahwa Tuhan memperpanjang hidupku.

Apa harapan Bapak Uskup yang belum terpenuhi untuk saat ini dan masa mendatang?

Sampai sekarang ini Keuskupan masih terus mengusahakan selesainya Pembangunan Catholic Center yang peletakan batu pertamanya dilaksanakan oleh Duta Besar Vatikan Mgr. Piero Pioppo pada 20 Oktober 2018. Tanah seluas 60 hektar milik keuskupan itu akan dimanfaatkan untuk pelbagai keperluan antara lain untuk tempat ziarah Bunda Maria dan Pusat Spiritualitas Marian, beberapa rumah biara, tempat pendidikan seminari-SMAK, STIPAS, pusat pembinaan kaum muda dengan model Tendopoli, dan pertemuan out-door, dan sebagainya. Intinya Catholic Center mau menunjukkan eksistensinya. Harapan umat dan keinginan untuk memiliki seminari, menghidupkan kembali lembaga pendidikan katekis, Rumah Sakit Keuskupan, Betang Pambelum sudah terlaksana dan sudah berjalan tinggal Catholic Center yang sudah dimulai dan senang berjalan pembangunannya. Saya berusaha menempatkan harapan saya dalam kesetiaan sebagai gembala di Palangka Raya.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 18, Tahun ke-75, Minggu, 2 Mei 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here