Aku tapi Bukan Aku

134
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – ADA seorang lelaki mengetuk pintu rumah kekasihnya. Muncul suara dari dalam rumah itu, “Siapa?” lelaki yang sudah rindu itu segera menjawab, “Aku.” Maka kembali terdengar suara kekasih dari balik pintu, “Rumah ini terlalu sempit untuk Aku dan Kamu.” Maka pergilah lelaki itu dan merenungkan apa yang baru saja terjadi. Hingga suatu hari dia memberanikan kembali mengetuk pintu itu dan kembali terdengar suara kekasihnya dari dalam, “Siapa?” Lelaki itu menjawab, “Kamu.” Maka pintu pun dibuka oleh kekasihnya.

Problem dunia ini, ditarik kemanapun dan menggunakan teori apapun, selalu bermuara kepada si “AKU.” Aku yang seharusnya menjadi titik kesadaran, oleh dunia dengan segala tipu muslihat dan keinginannya, telah ditransformasi menjadi pusaran ego yang menelan apapun yang ada di dunia ini. Ego selalu lapar dan haus. Seseorang berjuang keras mengenyangkan egonya, namun hanya selisih berada detik, ego tersebut meraung-raung kembali minta disuapi. Ego menelan apapun, dan tiada titik puas. Ego ini menjadi lapisan yang memanipulasi, seolah-olah semua dorongan yang ia vibrasikan adalah kehendak si Aku. Padahal bukan! Ego sering menipu, memanipulasi, membiaskan kebenaran menjadi sekedar kesenangan. Deprak Copra menulis,  EGO ini sesungguhnya bukan AKU yang sejati. EGO adalah self-image. Social MASK. Peran yang kita mainkan. Tapi EGO inilah yang mengontrol si AKU.

Gaya hidup modern membuat ego berekstensi sedemikian rupa, membesar dan melekat ke banyak barang yang dimiliki. Sehingga saat seseorang menggores mobilku, orang itu terasa sedang melukaiku. Saat seseorang menyalib laju kendaraanku di jalan tol, ia seolah-olah sedang merendahkanku. Saat seseorang menginjak-injak pekaranganku, mereka sedang menginjak-injak harga diriku. Milikku adalah aku. Aku adalah milikku. Si Aku ada dimana-mana.

Seluas apapun rumah, saat ego para penghuni di dalamnya terlalu besar, maka rumah itu akan terasa sesak dan sempit. Karena itu, Meister Echart, seorang mistikus di abad pertengahan memberi petuah, agar ego itu disingkirkan dari jiwa. Sebab jiwa yang sudah disesaki dengan ego akan membuat Tuhan enggan masuk. Meister Echart menampilkan kisah Yesus yang menyucikan Bait Allah dari para pedagang sebagai simbol bagaimana jiwa kita (bait allah) harus dibersihkan dari dorongan berdagang (mencari untung). “Jika Makhluk ada di dalam, maka Tuhan tidak bisa masuk,” tulis Echart. Yesus secara radikal membersihkan ego dari jiwa untuk menyiapkan kedatangan Tuhan. Jika jiwa bersih dan kosong, maka Allah hadir.

Ego itu memberatkan perjalanan hidup kita. Seseorang yang merencanakan perjalanan jauh tetapi terlalu banyak membawa barang, maka akan kesulitan untuk bergerak gesit menuju tujuan. Kepandiran ini banyak diilustrasikan dalam cerita-cerita dari timur. Ada seseorang yang menyeberang lautan untuk menuju sebuah pulau. Namun setelah ia sampai ke pulau yang menjadi tujuannya, ia tetap membawa-bawa perahu dan dayungnya kemana-mana. Siapapun yang sudah sampai, dia akan menanggalkan semua sarana yang ia pernah pakai untuk sampai itu. Perahu ia tambatkan. Dayung ia letakkan. Dan ia memasuki pulau itu tanpa membawa apa-apa. Perahu dan dayung itu ego kita. Dan pulau itu tujuan hakiki kehidupan kita.

Seseorang yang semakin tinggi kedudukannya di dunia ini, biasanya tidak lagi direpotkan dengan membawa tas atau kunci mobil atau handphone kemana-mana. Semuanya dipegang oleh asistennya. Dia sendiri cukup membawa dirinya. Tidak ada beban. Demikian juga, semakin tinggi level spiritualitas seseorang, dia tidak akan direpotkan dengan membawa egonya. Semuanya dilepaskan. Dia tinggal dirinya yang sejati.

Ada kisah sufi yang menarik. Seseorang mengetuk pintu Abu Yazid. “Siapa yang kamu cari?” Tanya Abu Yazid. Jawab orang itu, “Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid menjawab, “Orang yang malang. Aku telah mencari Abu Yazid selama tiga puluh tahun. Dan tidak menemukan jejak dan tanda-tandanya.” Abu Yazid telah menanggalkan dirinya dan lenyap di dalam Tuhan.  “Tuhan, antara Aku dan ENGKAU masih ada “inilah aku” – yang menyiksaku. Angkatlah “inilah aku” ini dari kita berdua.” Demikianlah, ketika lukisan-lukisan disingkirkan, maka Anda akan bertemu dengan pelukisnya.

Sebab seluruh persoalan di dunia ini bermuara kepada EGO. Maka bagaimana pengikut Kristus merawat si Aku agar tidak membesar menjadi Ego? Galatia 2 : 20 (TB) menuturkan, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan dirinya untuk aku.

Aku tapi bukan Aku. Sebab yang hidup di dalam diriku adalah Kristus, bukan aku lagi. Maka Kristuslah yang membesar dan bukan egoku. Keinginan dan kehendak Kristus dan bukan kesenanganku. Visi Kristus dan bukan fantasiku. Pikiran Kristus dan bukan pertimbanganku. Perasaan Kristus dan bukan moodku. Ego dibersihkan dari jiwa, agar Kristus bisa masuk dan mendiami Bait Allah di dalam diriku.

Yusuf Marwoto, Kontributor, Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here