MENEMUKAN ILHAM-ILHAM DARI BUNDA MARIA DI DALAM PIETÀ DARI MICHELANGELO

971
Patung Pieta di Basilika Santo Petrus, Vatikan (Foto: Dok. Pastor Markus Solo Kewuta, SVD)

HIDUPKATOLIK.COM – Pastor Dr. Markus Solo Kewuta, SVD, Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Umat Beragama, Takhta Suci Vatikan menyampaikan artikel di bawah ini dalam Acara Webinar bersama Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria (KBHTM) Keuskupan Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis, 13 Mei 2021.

Pastor Dr. Markus Solo Kewuta, SVD (Foto: Tribunnews)

Selamat berjumpa di mana saja saudara-saudari semua berada. Tak lupa saya mengucapkan Selamat Hari Raya Kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus, dan juga Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi saudara-saudari Muslim yang juga jatuh pada hari ini, 13 Mei 2021. Salam damai sejahtera dari Roma/Vatikan untuk kita semua.

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Team Penyelenggara Webinar dari Kongregasi Bunda Hati Tersuci Maria (KBHTM) Keuskupan Maumere, khususnya Koordinator, Hendrikus Monteiro, yang sudah mengundang saya untuk ikut hadir dan berbicara pada kesempatan yang berahmat ini. Terima kasih juga untuk band yang sudah melantunkan lagu ciptaan saya “Bawalah Daku ke Sion” pada awal sesi saya ini. Jauh di sini saya mendengar lagu yang saya ciptakan tahun 1992 di Seminari Tinggi Ledalero, tidak jauh dari Kota Maumere, host webinar kita malam ini, sekaligus membangkitkan banyak kenangan indah di masa lalu.

Pada tempat kedua, saya ingin mengucapkan Selamat merayakan Ulang Tahun ke-39 bagi KBHTM dan selamat menyongsong Pancawindu berdirinya Kongregasi ini. Semoga semakin bergiat dan sukses dalam menyebarkan spiritualitas Bunda Maria di dalam hidup keluarga, tempat kerja, Gereja, masyarakat dan bangsa. Yang terpenting tentunya, semoga nilai-nilai luhur dan keteladanan Bunda Maria semakin masuk lebih dekat ke dalam lingkaran utama hidup kita.

Sejarah Bulan Maria

Berbicara tentang Bunda Maria di bulan Mei adalah sangat tepat. Kita sama-sama tahu, bulan Mei adalah Bulan Maria. Hal ini berkaitan erat dengan peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima, 13 Mei 1917. Hari ini genap ke-104 tahun.

Menurut sejarah, bulan Mei sebagai bulan Maria memiliki asal-usul pertama kali di abad ke-18 (tahun 1784), di Italia bagian Utara, di sebuah kota bernama Ferrara, menyebar di Italia hingga ke Roma, menyebar lagi keluar Italia, terutama ke Swiss, Prancis, Belgia, Jerman dan Austria, lalu akhirnya ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia melalui misionaris-misionaris asing kita di masa lalu. Peristiwa penampakan Bunda Maria di Fatima tahun 1917 memperkuat tradisi kesalehan Marianis pada bulan Mei ini hingga saat ini. Paus Paulus VI, dalam Ensikliknya “Mense Maio” yang dirilis pada tanggal 29 April 1965 menetapkan Bulan Mei secara resmi sebagai Bulan Maria.

Paus Fransiskus pada awal bulan ini, persisnya hari Sabtu sore, 1 Mei yang lalu, berdoa Rosario bersama beberapa umat di Basilika Santo Petrus Vatikan dengan ujud untuk “kemanusiaan kita yang sedang terluka”. Beliau berkata: “Di dalam bulan Mei ini, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada Bunda Maria, Bunda Allah, simbol penghiburan dan harapan yang pasti. Kita berdoa Rosiario bersama-sama agar bisa menghadapi tantangan-tantangan masa kini, dan boleh merasa bersatu sebagai satu keluarga rohani”.

Di dalam ucapan Paus Fransiskus di atas sesungguhnya termaktub dua pesan utama. Pertama, dengan memupuk dan mengembangkan relasi personal kita dengan Bunda Maria, dan padanya kita mencari perlindungan, maka kita sedang menerima penghiburan atau pemuasan bathin yang tepat, bukan melalui tawaran-tawaran jasmani yang sementara dan bahkan merusak hidup kita. Dengan itu, harapan kita akan hidup dan pemenuhan setiap janji dan rencana indah Tuhan di dalam hidup kita akan semakin kuat.

Kedua, dengan mengarahkan pandangan dan memusatkan perhatian kita secara bersama-sama kepada Bunda Maria, kita diperteguh dan dipersatukan di dalam sebuah keluarga rohani, di mana Bunda Maria sendiri menjadi “Jalan” yang menghantar kita kepada Yesus.

Bunda Maria, Bunda Yesus, Bunda kita adalah sebuah tema atau pokok pembicaraan yang nampak tidak akan pernah selesai dibahas. Semakin orang melukiskan Bunda Maria, misalnya di dalam karya-karya seni, baik seni pahat, lukis dan seni musik, maupun di dalam berbagai refleksi serta ulasan, semakian ditemukan kekayaankekayaan atau ilham-ilham spiritual yang mencengangkan dan memperkaya hidup iman kita. Hal ini bukan saja terjadi di Flores, NTT atau Indonesia, tetapi ini sebuah fakta di mana-mana, termasuk di Eropa, tempat saya hidup dan bekerja sejak tahun 1992 (selama kurang lebih 29 tahun sekarang). Bunda Maria selalu menjadi topik yang menarik dan sekaligus figur penting di dalam praktek keimanan kita.

Kalau kita membuka Youtube dan melihat lagu-lagu Maria, terutama lagu-lagu terkenal seperti “Ave Maria” dari komponis Eropa terkanal Johann Sebastian Bach, “Ave Maria” dan “Tutta Pulchra es” dari komponis Eropa lainnya Anton Bruckner, atau lagu “Ave Maria” dari Pance Pondag dan berbagai lagu Maria bermotif etnik dan lokal lainnya yang umumnya bernada sangat menyentuh kedalaman jiwa, kita akan menemukan fakta bahwa lagu-lagu itu sangat disukai oleh banyak orang; ditandai melalui jumlah klicks dan jempol yang sangat banyak.

Alasan mendasar dari fakta iman ini karena pertama-tama, di dalam diri Maria, kita umat beriman menemukan sosok “Ibu” yang membuat kita lebih mudah mengkomunikasikan diri, membuka diri, menyampaikan segala sesuatu yang ingin kita sampaikan. Maria, Ibu, adalah simbol sebuah kedekatan. Kedua, di dalam diri Maria, kita menemukan jalan atau jembatan yang sangat pasti menuju Yesus. Kita mengenal adagium Latin ini: Per Mariam ad Jesum, artinya melalui Maria kepada Yesus.

Pada kesempatan ini saya mencoba untuk menyampaikan sebuah refleksi singkat dengan menggunakan sebuah pendekatan baru, dan berharap akan bisa membantu memperkaya hidup iman kita kepada dan bersama Bunda Maria. Saya beri judul: “Menemukan Ilham-ilham dari Bunda Maria di dalam Pietà dari Michelangelo”. Untuk memudahkan kita memahami refleksi saya, saya ingin share gambar Pietà di sini.

Saya bersyukur bahwa oleh karena tugas dan pekerjaan di Takhta Suci Vatikan, saya memiliki akses yang besar kepada Skulptur atau patung asli ini yang terletak di bagian kanan setelah pintu Masuk dari Basilika Santo Petrus, Vatikan. Pintu ini disebut “Porta dei Sacramenti”, artinya Pintu Sakramen-sakramen. Adalah sebuah gestikulasi rohani yang bagus dan bermakna, bahwa Sakristi Paus berada persis di samping Pietà. Selama empat tahun bergabung dalam Team Seremoniar Paus Fransiskus (2015-2019), saya sendiri melihat bahwa setiap kali sebelum perayaanperayaan Misa, diletakkan berbagai perlengkapan, termasuk doa-doa dan teks-teks resmi lainnya di bawah patung Pietà.

Patung Pietà ini merupakan salah satu dari hasil karya seni terbesar benua Eropa, dibuat oleh seniman terkenal dunia, Michelangelo Buonarotti, pemahat dan pelukis asal Firenza atau Florence, Italia, pada akhir abed ke-15 di Vatikan. Selain itu, di Kapela Sixtin, tempat dilaksanakan pemilihan Paus yang disebut Konkav, atau, terhimpun lukisan-lukisan Michaelangelo mulai dari Kisah Penciptaan hingga Pengadilan Terakhir. Di antaranya terdapat lukisan terkenal Penciptaan Manusia Pertama, Adam, di mana Allah dan Adam berbaring berhadapan dan sambil merentangkan tangan ke arah satu dengan yang lain, tetapi kedua jari telunjuk mereka tidak bisa bertemu.

Perlu diketahui juga bahwa Patung Pietà ini sudah berada di dalam Basilika Vatikan bertahun-tahun lamanya dan sudah membantu menginspirasi Paus demi Paus dan berbagai pemimpin Gereja Katolik, yang kemudian diungkapkan melalui cara mereka masing-masing di dalam merumuskan berbagai ajaran Gereja, terutama dalam kaitannya dengan Bunda Maria.

Sejarah Singkat Pietà

Kalau sekarang para Duta Besar berbagai negara untuk Takhta Suci adalah para awam, maka dulu, pada zaman lahirnya Patung Pietà, persisnya antara tahun 1496-1499, para Duta Besar negara-negara dunia untuk Takhta Suci adalah para Kardinal. Suatu waktu di masa kepemimpinan Paus Alexander VI (abad ke-15), ketika nama Michelangelo mulai tercuat ke permukaan, Duta Besar Prancis untuk Takhta Suci waktu itu, Yang Mulia Kardinal Jean de Bilheres, meminta Michelangelo untuk mengukir sebuah patung bernama Pietà dengan contoh patung-patung Vesperale dari Jerman dan Prancis zaman itu. Motif utama gambar-gambar Vesperale adalah skenario setelah penurunan jenazah Yesus dari Kayu Salib, yang umumnya menggambarkan Bunda Maria menerima Puteranya yang tidak bernyawa. Dinamakan Vesperale, yang selalu dikaitkan dengan sore atau senja, untuk mengenang kematian Yesus di Golgota pada pukul tiga sore dan momen-momen kesedihan Bunda Maria setelahnya.

Tujuan permitaan Duta Besar Kardinal de Bilheres di atas adalah untuk menghiasi makamnya suatu waktu kalau beliau meninggal dunia. Ternyata beliau meninggal pada tahun 1498, satu tahun sebelum Patung Pietà diselesaikan oleh Michelangelo.  Sejak selesainya patung itu hingga awal abad ke-20, Pietà dianggap biasa-biasa saja.

Kekhasan Patung ini ada dua: Pertama, dibuat dari sepotong batu Marmer putih dari tempat penghasil marmer terkenal di Italia, yakni Carrara, di Provinsi Toscana. Dengan kata lain, Pietà dipahat dari sebuah potongan marmer utuh. Kedua, ini adalah karya seni pahat pertama dan satu-satunya dari Michelangelo yang memuat nama Michelangelo. Di atas gambar kita bisa melihat dengan jelas namanya yang tertera di atas seutas pita yang melintang diagonal dari bahu Bunda Maria dan turun melintasi jantungnya hingga bersentuhan dengan tubuh Yesus. Michelangelo memulai pemahatan Patung Pietà ketika berumur 22 tahun dan selesai ketika ia berumur 25 tahun.

Selama Konsili Vatikan II (selama tiga tahun, yakni 1962-1965) Vatikan berperan serta pertama kali dalam pameran karya seni tingkat dunia bertempat di New York, dari tahun 1964 hingga 1965. Pada saat itu, Pietà tiba-tiba menjadi seperti sebuah magnet yang memikat minat sangat banyak orang. Ada yang berniat membelinya dengan harga sangat mahal. Vatikan memutuskan untuk mengembalikannya ke Vatikan, dan sejak saat itu ditempatkan di dalam Basilika Santo Petrus, tepatnya di area pintu masuk yang berdampingan dengan Porta Santa atau Pintu Kudus. Selain merupakan sebuah karya seni sakral yang bernilai sejarah, tetapi Pietà juga dinilai sangat inspiratif karena mengandung banyak ilham spiritual yang tersembunyi dan memperkaya iman kita. (Tahun 2017, ketika menerima mantan Presiden RI, Bambang Susilo Bambang Yudhoyono, saya membawa dia sekeluarga kepada Pietà dan mereka semua sangat tercenang). 

Mari kita coba untuk menemukan satu dua ilham inspiratif di balik Pietà. Saya membatasi diri pada dua ilham penting saja oleh karena keterbatasan waktu. Bagi yang masih berminat untuk mengenalnya lebih mendalam, silakan datang sendiri ke Vatikan, atau menelusurinya dengan kajian-kajian sendiri .

Pertama: Bunda Maria, Contoh Keikhlasan dan Pengolahan Duka

Yesus baru saja diturunkan dari Salib, sudah tidak bernyawa. Bunda Maria menerima Puteranya dan memangku di atas pangkuannya. Michelangelo ingin mempertemukan di sini dua titik penting, yakni masa masa kecil Yesus yang sering dipangku, penuh dinamika kehidupan, keceriaan dan harapan, dan masa sekarang, di mana sudah tidak bernyawa lagi. Yesus yang bayi, Yesus yang tidak bernyawa lagi pada umur 33 tahun, sama-sama dipangku oleh ibu yang satu dan sama. Michelangelo ingin mengangkat dan menekankan kuatnya relasi kasih antara ibu-anak dalam dua situasi berbeda, tetapi dipersatukan oleh satu kasih yang sama, dari dulu hingga sekarang.

Di sini dilihat bahwa Bunda Maria mencurahkan kasih ke-Ibuannya secara sempurna; sejak mengandung, melahirkan, membesarkan, mendidik dan mendampingi Puteranya Yesus, bahkan berjalan bersama Puteranya yang memanggul salib hingga melihat dengan mata sendiri, bagaimana Dia dianiaya, disalibkan dan wafat tanpa ada satu kesalahan pun. Dengan kata lain, Bunda Maria adalah ibu yang mengakui Yesus sebagai Puteranya, baik di dalam suka, maupun di dalam duka. Dia tidak memilih untuk mengakui Puteranya sesuai situasi dan kondisi, melainkan tanpa syarat.

Michelangelo juga melukiskan Yesus dan Bunda Maria dengan sebuah penghayatan hidup serta misi keduanya sedemikian mendalam, sehingga melihat kedua protagonis atau figur utama ini, kita seperti melihat dan menyaksikan atau sedang menyentuh tubuh-tubuh hidup dan real. Urat nadi, tulang-tulang dada, bekas paku, otot-otot lemas setelah pertarungan sengit melawan penderitaan di Salib, semua nampak seperti nyata dan hidup. Michaelangelo ingin mengatakan bahwa Yesus sebenarnya tidak mati. Bunda Maria tidak perlu menangis dan berduka. Tidak lama lagi akan ada moment sukacita karena kebangkitan.

Kebetulan saya sendiri masih berada di dalam kedukaan besar di dalam keluarga. Mungkin sempat mendengar kalau kakak sulung kami, Pater Yosef Bukubala Kewuta, SVD, pergi meninggalkan kami dengan cara tiba-tiba di Surabaya pada tanggal 27 April belum lama ini. Saya merasakan betapa beratnya ditinggalkan oleh seorang yang sangat dikasihi. Akan tetapi memandang Bunda Maria pada Pietà dirasakan ada hiburan iman yang besar. Ada pengalaman dipersatukan di dalam duka dan samasama pula bermuara pada iman akan kebangkitan.

Kita melihat pada Pietà bahwa Bunda Maria bisa menerima kematian Puteranya dengan sebuah keikhlasan hati yang luar biasa, jauh melampaui kemampuan setiap manusia di dunia ini. Tanpa keihklasan yang dibangun di atas iman, Bunda Maria pasti tidak bisa memiliki kekuatan fisik dan psikis demikian besar untuk bisa memangku tubuh Puteranya yang tentu saja sangat berat. Imannya yang sangat mendalam yang terungkap lewat “Fiat”-nya (motto kehidupannya sebagai Bunda Yesus) yakni: “Terpadilah padaku menurut perkataanMu” (Lk 1:38) menjadi sumber kekuatan yang membuatnya mampu dan tegar untuk menerima kenyataan yang demikian pahitnya.

Perlu diketahui bahwa pada tahun 1972 Patung Pietà yang berdiri tanpa perlindungan saat itu mendapat serangan dari seorang yang tidak waras sehingga wajah dan tangan Bunda Maria sempat mengalami kerusakan. Akan tetapi langsung dilakukan perbaikan sesuai bentuk asli, dan bentuk inilah yang bertahan sampai hari ini.

Tangan kanan Bunda Maria, yang biasanya lebih kuat merangkul Tuhan di dalam suasana penderitaan dengan sangat kuat. Tangan kiri yang dekat dengan hati dan jantung terbuka menggambarkan cintanya yang tidak pernah berkurang serta harapan akan kehidupan setelah kematian yang ditandai dengan kebangkitan. Itulah iman Bunda Maria, yang juga adalah iman kita semua.

Dari mata Bunda Maria tidak terlihat setetes air mata pun. Ia menutup kedua mata bukan karena tidak ingin melihat Puteranya dalam kondisi yang sangat menyedihkan, tetapi ia sebaliknya ingin membatinkan segala penderitaan Puteranya dan menyimpannya di dalam hatinya. Terlaksana sekali lagi apa yang pernah dikatakan tentang Bunda Maria: “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk. 2:19).

Wajah Bunda Maria yang polos, teduh, bersahaja, penuh roh cinta keibuan menggambarkan sebuah bentuk solidaritas, belarasa dan empati yang mendalam. Tidak ada ungkapan kemarahan, kebencian atau balas dendam terhadap musuhmusuh. Ia seutuhnya memfokus perhatiannya pada Puteranya yang sudah wafat, mencoba meletakkan seluruh dirinya ke dalam setiap luka dan tetes darah; dan itulah yang terpenting baginya saat itu.

Dengan kualitas-kualitas keimanan dan kerohanian Bunda Maria seperti ini, layak kita namakan dia: Bunda, contoh keikhlasan, contoh pengolahan duka tanpa batas.

Kedua: Kasih Ibu-Anak Tak Dapat Dipisahkan oleh Maut 

Kasih ibu-anak selalu bermula dari kandungan ketika ibu dan anak hidup di dalam sebuah sistem simbiosis dan menciptakan sebuah relasi yang tidak bisa dipisahkan satu dari yang lain. Keduanya hanya terpisah kemudian melalui kelahiran dan pemutusan tali pusat, akan tetapi jejak kasih sayang tetap melekat selamanya di dalam relasi ibu dan anak . Oleh karena itu, maut pada satu pihak sekalipun tidak dapat memisahkan mereka.

Didasarkan atas relasi yang kuat ini, Bunda Maria tidak pernah melihat tubuh Anaknya yang sudah tidak bernyawa itu sebagai sebuah bentuk kekalahan cinta. Karena baginya, kasih tidak pernah kalah. Rasul Paulus meneguhkan prinsip Bunda Maria ini di dalam 1 Korintus 13:13: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih”.

Pangkuan Bunda Maria oleh karena itu menjadi seperti sebuah “pangkuan” yang tetap selalu mengundang, selalu memiliki tempat bagi mereka yang letih dan berbeban berat. Di sana semua duka lara berubah menjadi tanda kemenangan karena ia sendiri telah berhasil menyelamatkan kekurangan anggur di Kana dengan perkataan yang terkenal itu: “Apa yang dikatakan-Nya (Yesus Puteranya), lakukanlah itu…”  (Yoh. 2:5). Lebih dari itu Bunda Maria berhasil mengubah konsep tentang kematian PuteraNya menjadi tanda kemenangan hingga bersama dengan rasul-rasul yang diserahkan Yesus sendiri kepadanya sebagai ibu mereka, masih dapat menyaksikan kebangkitan Putera-nya: Ibu, ini Anakmu… (Bdk. Yoh. 19:26-27).

Michelangelo yang dikenal sebagai seorang Katolik sejati dan mengenal Kitab Suci secara mendalam, sudah menghadirkan sebuah karya besar, masterpiece, di dalamnya kita boleh merenung dan mendalami kualitas-kualitas kerohanian Bunda Maria yang berguna untuk pendalaman iman kita, dan terutama memperkuat relasi kita dengan Bunda Maria. Dengan mencontohinya, kita dibantu untuk juga bisa menghadapi situasi-situasi berat di dalam hidup kita. Kita tidak pernah melangkah sendiri. Selalu ada “ibu” yang mendampingi kita. Asalkan kita tahu bahwa kepadanya kita harus pergi sambil membawa segala beban hidup kita. Dia sangat memahami kita. Pangkuannya selalu terbuka.

Kita sudah berusaha menemukan dua ilham utama. Tentu saja refleksi-refleksi lanjutan, baik pribadi maupun bersama, akan membuka gerbang-gerbang baru yang mewahyukan kepada kita ilham-ilham tersembunyi lainnya dari Bunda Maria. Di atas segala-galanya, Michelangelo menitip kepada kita sebuah pesan penting lain berikut ini:

“Sentimento”

Pietà, yang adalah bahasa Italia, asal kata bahasa Latin “Pietas”, di dalam konteks Michelangelo adalah sebuah “sentimento”, sebuah “rasa” atau “perasaan” yang menyalurkan cinta dan kasih sejati dari sebuah kedalaman iman; sebuah keharuan yang melampaui sebuah belarasa sesaat; sebuah belas kasih dan hormat yang mendalam terhadap orang yang sedang berada di dalam nasib malang. Juga ketika kita harus jatuh ke dalam situasi seperti ini, kita tidak hilang iman dan berbalik memarahi Tuhan dengan tuduhan tidak cukup melindungi kita, tetapi terus berkanjang di dalam iman dan pengharapan karena di balik segala sesuatu selalu hadir pesan (message) dan rencana Tuhan untuk kita masing-masing.  

Bunda Maria pulalah yang meyakinkan kita melalui Pietà bahwa sebesar apa pun kesulitan dan tantangan hidup kita, kita tidak pernah merasa kalah atau dikalahkan, karena kasih Tuhan kepada kita anak-anakNya selalu jauh lebih besar dari segala sesuatu yang menantang kita, dan rencana-rencana indahNya akan terlaksana di dalam hidup kita pada waktunya, “kairos” (bahasa Yunani), artinya pada waktu yang tepat menurut Tuhan.

Ave, Maria, grátia plena, Dóminus tecum.
Benedícta tu in muliéribus, et benedíctus fructus ventris tui, Iesus.
Sancta María, Mater Dei, ora pro nobis peccatóribus, nunc et in hora mortis nostrae.
Maria, Sedes Sapientiae,  Takhta Kebijaksanaan,  doakanlah kami. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here