Amalya Yap: Lewat Kuliner, ‘Merasul’ hingga Pondok Pesantren

85
Amelya Yap

HIDUPKATOLIK.COM – BERAWAL dari hobi masak sejak kecil, Amelya Djap senang membuat dan menata makanan dan kue hingga sedap dipandang serta nikmat di lidah. Amel, sapaannya, merintis usaha katering di Jakarta sejak tahun 1992.

Nama kateringnya “Afedys” gabungan dari nama Amelya dengan kedua anaknya yaitu perempuan Femmy dan laki-laki Kendy. Afedys melayani masakan Indonesia, China, Jepang, Korea, Eropa, seafood, saus padang, juga aneka kue pemanisnya. Unggulannya adalah gudeg komplit, opor, bakso lohua, dendeng balado, siomay, asinan, rujak pengantin, dan lain-lain.

Kelahiran Bangka, 17 Januari 1959 ini lulus SMEA di Jakarta tahun 1979 lalu mendampingi suami yang membuka toko di Jatinegara. Kini ia mengawasi Afedys, dibantu oleh kedua anak dan tiga orang cucunya. Ia juga aktif di WKRI, Legio Maria, serta Seksi Sosial di Lingkungan Santo Michael, semuanya di lingkungan Paroki Kristoforus, Grogol, Jakarta.

Untuk mengembangkan hobi itu, awalnya ia mengikuti kursus yang diadakan oleh Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia di Jakarta tahun 1991. Ia lalu diajak mengisi kantin di kantor pusat sebuah bank swasta nasional, bergantian dengan 2 peserta lainnya. Kateringnya juga melayani makan siang para dosen dan karyawan di Universitas Trisakti selama 15 tahun.

Ia bergabung dalam komunitas kuliner seperti Dapur Ngebul, Pecinan, dan OKG Garden. Menjadi pengurus di Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia; Ikatan Ahli Boga Indonesia (Ikaboga), dan de Mono untuk mendidik masyarakat dalam tata boga.

Untuk menjadi instruktur yang diakui Pemerintah, ia harus kuliah lagi hingga memiliki ijazah S1. Amel lulus Sarjana Tata Boga dari Universitas Negeri Jakarta tahun 2012 setelah kuliah 3,5 tahun.

Sebagai pengurus Ikaboga, khususnya Seksi Pendidikan yang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, ia mendapat tugas mengajari murid-murid berkebutuhan khusus Sekolah Luar Biasa se-Sulawesi yang diselenggarakan di Makassar selama 2 minggu. Dan se-Jawa di Yogyakarta.

Pengalaman berkesan lainnya adalah ketika mengajar masak di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur sampai dua kali, masing-masing empat hari. Selama itu Amel tinggal di pesantren dan memakai hijab sewaktu mengajar. “Tidak masalah walaupun saya menggunakan kalung salib dan berdoa secara Katolik,” katanya tentang pengalamannya waktu itu.

Ia juga membagikan pengalaman masaknya di Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) tingkat kelurahan hingga menjadi juri masak di kantor Wali Kota Jakarta Barat. Pada kesempatan lain ia mengajar masak di Lembaga Pendidikan Ketrampilan.

Atas semua kecintaannya dalam memasak, ia bersama DapoerLezat4 telah menulis buku Terampil Membuat Aneka Tumpeng yang diterbitkan oleh Gramedia, 2019.

Ia bersyukur bekerja atas dasar hobi, dan hidupnya tidak berkekurangan. Bahkan bisa berbagi pengalaman kepada orang yang membutuhkan. Banyak peserta didiknya yang sudah mandiri. Ia selalu berusaha, berdoa, dan memohon bimbingan Tuhan agar bisa menjadi baik dan lebih baik lagi.

Selalu bersemangat positif, niat baik, dan ikhlas. Sebagai pengajar masak, ia selalu membagikan resep yang benar tanpa rahasia, tidak takut orang lain lebih sukses daripada dirinya sendiri.

Dengan kuliner, Amel ikut merasul ke segala lapisan masyarakat dan lintas agama tanpa ada halangan.

Cosmas Christanmas, Kontributor

HIDJP, No.20,Tahun ke-75, Minggu 16 Mei 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here