Cinta Bergilir, Rasa Tersingkir

109
2/5 - (1 vote)

Terdengar suara pintu mobil tertutup. Agui bergegas ke balik jendela, menyaksikan adegan menyentuh saat abangnya Jore mengusap wajah perempuan keriput sambil  saling  menggenggam erat dalam tatap penuh kasih.

“Sehat terus ya, Bu..! Maafkan tak bisa sering mampir. Tapi pasti aku selalu sempatkan lihat Ibu begitu ada waktu luang,” Jore mencium kening Ibu, lalu menyapa ramah Agui yang sekarang keluar ikut menyambut. Kakak beradik itu berpelukan penuh cinta sebelum Jore pamit. Agui menuntun Ibu yang meski lelah tapi terlihat bahagia kerena baru menghabiskan waktu bersama putra sulungnya. Sambil mendengarkan celoteh Ibu dibawa ke mana saja tadi, Agui menyiapkan teh manis panas buat mereka berdua sebagai teman ngobrol.

“Kamis bulan depan Ibu ulang tahun kan.”

“Ya.. ke-80. Tidak nyangka juga ibu bisa kuat mencapai usia segini. Kita bikin doa di rumah ya. Beritahu kakak-kakakmu biar semua kumpul di sini.”

Agui mengangguk bersemangat. Jaringan-jaringan halus di otak kecilnya langsung bagai saling melilit mencoba berlomba melontarkan ide paling berkesan untuk merayakan ulang tahun Ibu. Dia berencana mengumpulkan 80 pesan dan kesan tentang Ibu dari 80 orang terdekat, mulai dari anak, cucu, adik-adik ibu, sepupu termasuk asisten rumah tangga yang melayani Ibu. Dan ini akan jadi buku kecil sebagai kado indah untuk Ibu.  Agui merasa ini ide brillian dan membayangkan Ibu pasti senang membaca satu per satu pesan  tertulis orang-orang yang dicintai dan mencintai ibu.

***

Langit malam dipenuhi bintang. Istimewa sekali malam ini di tengah senyum merekah Agui yang nyaris menyelesaikan hadiah istimewa untuk Ibu. Kurang dua pesan lagi, sempurna sudah dan akan menjadi hadiah terunik sepanjang sejarah ulang tahun Ibu. Sambil menunggu  pesan genap berjumlah 80 sesuai usia Ibu,  Agui menyisihkan waktu memeriksa semua pesan di HP. Sejak sore terabaikan akibat sibuk merangkai semua kiriman pesan kesan untuk Ibu. Sekarang saatnya berselancar di pesan lain grup-grup Wa. Dari grup alumni kampus…, ups 200 pesan menanti buat di lirik. Isinya memang selalu menghibur. Beranjak ke grup pembicara umum… hmmmm sederet info acara, si anu mau webinar di sini… si itu mau IG live, brosur jual beli mulai dari benda sampai pelatihan. Penuh!

Belum lagi link-link artikel beberapa anggota grup yang di bagikan termasuk ragam komen nyinyir  social media atas isu-isu terkini.  Semua tersaji bagai etalase toko kelontong serba ada. Lalu beranjak ke grup keluarga… nah ini penting…. Agui mengamati satu per satu.

Randal: Gui, aku bisa datang ke acara Ibu tapi agak telat ya.. masih ada acara kantor di tanggal itu.

Jore: Yaaah.. pas ke luar kota tuh. Nanti aku datang sebelum bertugas ya dan bawa Ibu beli kado, terus makan-makan. Ibu pasti suka ada resto baru tuh deket kantor aku.

Warina: kayaknya aku nggak bisa deh. Dapat tugas luar kota juga. Tapi nanti aku cari tanggal deh.. buat ajak Ibu ke luar. Biar Ibu  yang pilih mau ke mana. Aku siap bawa.

Agui menarik nafas berat. Lalu mengetik beberapa pesan mencoba mengatur tanggal di mana kira-kira semua anak bisa berkumpul atau ada ide lain. Tapi ternyata tak ada satu tanggal pun yang pas. Saling beradu kegiatan satu sama lain. Malah akhirnya seliweran pesan seputar koordinasi tanggal kapan dan siapa yang akan bawa Ibu. Agui akhirnya mematikan telepon dan menyampaikan semua pesan. Ibu tetap tersenyum, namun sepertinya tak bisa menyembunyikan rasa kecewa ketika tahu anak-anak tidak bisa berkumpul. Tapi seperti biasa Ibu selalu bisa menguasai situasi, tak pernah mengeluh, siap menerima apapun keadaannya dengan sukacita. Tak seorangpun tahu apa sesungguhnya yang dirasakan Ibu karena  selalu menampilkan wajah sukacita.

***

Masih 17 hari menjelang ulang tahun Ibu. Warina tiba dengan bungkusan besar hingga menutupi tubuh dari pinggang hingga ke leher. Nyaris tak terlihat wajahnya. Berbicara sebentar dengan Agui lalu pergi membawa Ibu. Kado mewah ditinggal begitu saja di meja dengan pesan dibuka nanti saat ulang tahun ibu biar seru.

Enam hari menjelang ulang tahun Ibu, Jore muncul menjemput tanpa bawa bungkusan apapun. Alasannya biar memberi kesempatan pilih sendiri apa yang sedang Ibu idamkan. Dan saat menjelang senja mereka kembali, Ibu juga tidak membawa bungkusan apa-apa.

“Nggak jadi beli kado, Bu?” tanya Agui polos.

“Ibu kekenyangan tak sanggup jalan lagi. Abangmu bawa Ibu ke restoran besar dan pesan makanan banyak sekali. Ini ada untuk kamu juga. Tadi Ibu sempat intip bill di kasir,  uuuhhh.. mengagetkan.  Jadi ya sudahlah .. selain capek Ibu juga nggak pengen beli apa-apa lagi. Makan saja mahal banget,” urai Ibu seraya tertawa senang.

“Waaahhh.. berarti malam ini kita nggak usah masak nih…,” Agui ikut senang.

“Jangankan malam ini, sampai besok pun rasanya masih kenyang,” balas Ibu lagi bercanda.

Tiba-tiba Ibu menarik tangan Agui perlahan dan mengajak duduk berdekatan.

“Enam hari lagi ya Ibu ulang tahun?” tanya Ibu.

Agui  mengangguk. Ibu menatap lurus ke arah pintu. Lalu menghela nafas panjang.

“Lusa Randal katanya mau mampir Bu.”

“Ada apa?”

“Mau ajak Ibu jalan-jalan juga, lalu makan-makan. Seperti yang dilakukan bang Jore dan kak Wari. Semua anak ingin bergilir membahagiakan Ibu. Kalau aku nanti saja pada harinya. Kita masak bareng ya, Bu.”

“Gui…..!” Ibu menyapa lembut seakan ingin menyampaikan sesuatu tapi tertahan.

“Ibu tampaknya lelah. Mandi dulu ya dan istirahat saja.” Agui menuntun ke kamar dan ibu menurut.

“Gui…..!” Ibu menyapa lagi masih terlihat ingin membahas sesuatu tapi lagi-lagi tertahan.

“Ibu baringan dulu. Nanti baru mandi. Tampaknya  kekenyangan nih,” canda Agui dan ibu tertawa lalu tertidur.

***

Agui memoles bibir dengan lipstik senada dengan warna bibir. Tak terlihat perubahan warna apa apa selain hanya sedikit lebih mengkilat.

“Bu, aku pergi sebentar, ada acara dengan teman-teman. Hari ini giliran bang Randal mau ajak Ibu  quality time. Temanya mom and son… “ Agui mencium pipi Ibu, lalu pipi Randal dan pamit.

“Kita mau ke mana?” tanya Ibu ke Randal sesaat setelah  tinggal berdua saja.

“Ibu mau makan apa?”

“Masih kenyang…”

“Atau kita cari kado buat Ibu?”

“Belum tahu juga mau apa. Sebenarnya hanya ingin……,” Ibu menarik nafas dan tidak melanjutkan perkataan.

“Mau apa Bu? Bilang saja… aku siap menyediakan. Makan enak..? Kado mahal…? Sebut saja.., ” desak Randal.

“Maunya kita berkumpul, lalu Ibu masak ikan mas arsik kesukaan kalian semasa kecil dulu di rumah ini. Iyaa… di rumah ini, rumah masa kecil kalian semua,” ucap Ibu lirih sambil menyapu pandang ke seluruh sudut ruang.

“Kita juga ingin.., tapi saat ini semua sedang sibuk. Nanti cari waktu yang tepat ya, di mana anak-anak bisa berkumpul lengkap!”

“Ibu senang lihat kesuksesan kalian, apalagi selalu memanjakan  dengan semua kemewahan ini. Kemaren Jore bawa Ibu, lalu Warina, Agui juga sering ngajak jalan-jalan. Sekarang kamu ada di sini, siap menyenangkan Ibu. Semua bergilir mempersembahkan cinta. Sesungguhnya yang Ibu rindukan… kita duduk di meja makan ini berkumpul dan menikmati masakan Ibu. Sederhana! Semua kemewahan bisa kalian dapatkan. Tetapi kebersamaan yang membahagiakan belum tentu bisa kita dapatkan dari sebuah kemewahan.”

Randal tercekat.

“Ibu tidak kuat lagi Ran. Ibu tahu kalian sangat sayang, penuh perhatian dan karena cinta pula semua bergilir berusaha beri kesenangan. Sangat memanjakan dan berlomba menunjukkan kasih sayang sendiri-sendiri. Sekarang Ibu lelah ke sana ke mari memenuhi ajakan cinta bergilir ini. Rasa untuk menciptakan kebersamaan sudah tersingkir. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, tetapi terima kasih masih menyempatkan diri  selalu membahagiakan Ibu.”

Randal memeluk ibu.

*

“Selamat ulang tahun, Bu,” Agui terhisak di sisi ranjang ibu.

Tak ada jawaban

“Bangun, Bu…!” Jore bermohon

Tak ada reaksi.

“Ayo Bu buka kadonya,” Warina tak kuasa membendung air mata.

Tak ada gerakan

“Ibu mengundang berkumpul. Tapi kita semua sibuk, dan berusaha tetap menunjukkan cinta, bergiliran membawa Ibu dengan cara dan gaya masing-masing tanpa memperhatikan keinginan Ibu. Kita pikir dengan kemewahan Ibu bakal sukacita, padahal hanya menginginkan sebuah kebersamaan dalam kesederhanaan di satu peristiwa,” keluh Randal lirih bersimbah air mata.

“Kita menolak undangan Ibu untuk bersukacita. Merasa telah memberi kesenangan dalam ukuran kita tanpa pernah berusaha menanyakan apakah memang ini yang Ibu  inginkan. Terlalu egois…! Sekarang kita memang berkumpul, tapi dalam duka cita mendalam,” Jore makin tersedu.

Yah.., cinta yang diberikan secara bergilir itu pun jadi sebuah pertunjukan semata, sebab rasa sudah tersingkir.

Dan, Ibu terbujur kaku. Selesai sudah!

Oleh Ita Sembiring

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here