DOA “SAYA MENGAKU”, APA DASAR ALKITABIAHNYA?

1207
Umat menghadiri Perayaan Ekaristi di Gereja Hati Maria Tak Bernoda, Makale, Taraja (Foto: HIDUP/FHS)

HIDUPKATOLIK.COM – SETIAP kali kita merayakan Ekaristi, di bagian pembukaan, kita sering mendaraskan doa yang pasti sudah sangat hafal, yaitu doa ‘Saya Mengaku”. Dalam bahasa Latin, doa ini dinamakan “Confiteor”. Secara sederhana, doa ini adalah doa pengakuan umum atas dosa dan kesalahan. Berbeda dengan doa tobat yang biasa kita doakan juga dan bersifat personal, doa ini lebih bersifat publik. Maksudnya, doa ini diucapakan bersama-sama dengan umat lain di hadapan Allah. Pada saat yang sama juga, kita memohon kepada para kudus (Maria, malaikat dan para kudus) supaya turut mendoakan juga agar TUHAN mengampuni segenap dosa kita.

Memang kita tidak menyebutkan dosa-dosa apa yang kita perbuat. Hanya dikatakan ‘saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa’. Idealnya, ketika mengatakan hal itu, kita menyebutkan di dalam hati kita dosa-dosa yang diperbuat. Sayangnya, karena sering kali perayaan Ekaristi seperti dikejar-kejar oleh waktu, tidak sempat kita merenungkan dosa-dosa kita. Bahkan, doa ‘saya mengaku’ sering kali diucapkan tanpa penghayatan atau sekedar formalitas saja. Semoga hal ini tidak terjadi.

Karena doa ini pada dasarnya adalah sebuah bentuk pengakuan dosa, doa ini tidak hanya diucapkan di awal perayaan Ekaristi. Dalam ibadat Harian misalnya, doa ini juga diucapkan di bagian pembukan ibadat penutup (completorium). Dao ini juga dapat diucapkan secara pribadi ketika mau menerima komuni: pada saat Misa itu sendiri atau ketika hendak menerima komuni kudus di luar perayaan Ekaristi. Doa ini juga dapat didaraskan oleh orang sakit sebelum diurapi dengan minyak suci pada saat penerimaan Sakramen Pengurapan orang sakit. Sama halnya, doa ini dapat diucapkan oleh orang yang mendekati maut sebelum memperoleh berkat dari imam atau uskup.

Begitu juga, sebelum mengaku dosa di depan imam, sekurang-kurangnya kita dapat mengatakan “Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa dan kepadamu bapa” (dalam bahasa Latin Confiteor Deo omnipotenti et tibi pater”. Akhirnya, dan ini jarang dipraktikan, sebelum promulgasi indulgensi oleh uskup, doa Confiteor dinyanyikan oleh diakon mengikuti rumusan dalam “Cæremoniale Episcoporum”. Yang terakhir ini merupakan praktik kuno dalam liturgi gereja. Mungkin karena faktor efisensi waktu atau mungkin juga petugas atau pelayan liturgi tidak tahu tentang ibadah tersebut, maka praktik ini jarang dilakukan.

Ditinjau dari perspektif tradisional, doa Confiteor termasuk doa kuno yang diwariskan turun-temurun dalam ibadah gereja. Doa Confiteor dalam berbagai versi pada mulanya mungkin salah satu doa pribadi yang diucapkan oleh uskup atau imam di sakristi sebelum memulai perayaan Ekaristi. Fungsinya sebagai doa persiapan batin bagi para pemimpin Ekaristi. Namun, dalam “Sixth Roman Ordo” (Tata Perayaan Ekaristi VI) tertulis bahwa dalam abad X dan XI, pada pembukaan Ekaristi, Paus “sambil menundukkan diri berdoa kepada Allah untuk pengampunan atas dosa-dosanya.” Selain itu, ada catatan bahwa pada abad itu terdapat kebiasaan bagi imam untuk mengucapkan doa ini di kaki altar (sebelum reformasi Konsili Vatikan II).

Sekarang ini, doa Confiteor rupanya tidak lagi diucapkan sebelum Ekaristi. Sebaliknya, doa ini sudah menjadi bagian dalam perayaan Ekaristi. Mereka yang mendoakannya pun bukan lagi hanya imam, tetapi juga umat. Dalam perkembangan selanjutnya, doa ini berfungsi untuk mempersiapkan batin bagi imam dan umat agar layak merayakan misteri keselamatan dalam Perayaan Ekaristi. S

Sebagai catatan berkenaan dengan rumusan doa ‘Saya Mengaku”, dalam TPE Tridentin, rumusan doa Confiteor ini cukup panjang, karena mencantumkan nama malaikat Mikael, Yohanes Pembaptis, Petrus dan Paulus. Sementara itu, rumusan doa Confiteor dalam versi yang lebih singkat dan yang umum dipakai sekarang ini berlaku sejak zaman Paus Paulus VI.

Dalam Perjanjian Lama

Mengaku dosa dan kesalahan baik secara pribadi maupun secara publik tampaknya sudah menjadi tradisi yang kuat dalam sejumlah agama, termasuk Yahudi dan Kristiani. Maka, tidak mengherankan jika, kebiasaan mengakui dosa juga dapat ditemukan dalam sejumlah teks atau perikop dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Intinya jelas, bahwa tujuan utama pengakuan dosa adalah untuk membersihkan batin yang kotor karena dosa dan kesalah sekaligus untuk mempersiapkan diri berjumpa dengan TUHAN. Karena TUHAN itu kudus, maka supaya perjumpaan itu menjadi pantas dan layak, orang harus dikuduskan dulu. Salah satu caranya, dengan mengakui dosa dan kesalahan dan mohon ampun dari TUHAN sendiri.

Dalam Perjanjian Lama, TUHAN biasanya menampakkan diri-Nya kepada umat-Nya secara tiba-tiba. Reaksi mereka yang mengalami penampakan TUHAN pun beraneka raga. Takut dan gentar, sujud menyembah dengan muka ke tanah atau menutupi mukanya karena tidak layak berhadapan muka dengan Yang Kudus (bdk. Kej 17:2; 28:17; Kel 3:6; 19:16). Sama halnya, dalam Perjanjian Baru, kita sering mendengar kisah Yesus berubah rupa atau transfigurasi. Apa yang terjadi dengan Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika menyaksikan transfigurasi Yesus (Mat 17:6)? Mereka takut dan gentar. Reaksi yang kurang lebih sama juga dapat ditemukan dalam diri penulis kitab Wahyu (Yohanes) yang melihat Kristus dalam kemuliaan-Nya dalam penglihatan ilahi (Why 1:17).

Salah satu kisah tentang bagaimana bangsa Israel mempersiapkan diri untuk bertemu dengan TUHAN terdapat dalam kitab Keluaran 19. Dikisahkan, kalau bangsa Israel akan berjumpa dengan TUHAN, mereka memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri mereka secara seksama. Di kaki gunung Sinai, mereka harus mempersiapkan diri selama tiga hari untuk berjumpa dengan-Nya. Dalam masa persiapan itu, mereka diminta untuk menyucikan dirinya seturut peraturan yang berlaku (bdk. Kel 19:9-19). Memang, tidak dikatakan dalam teks Kitab Suci bahwa mereka mengaku dosa entah secara privat atau secara publik untuk membersihkan hati dan budi mereka. Tetapi, pengandaiannya, mereka pasti berdoa kepada TUHAN agar diampuni dosa dan kesalahannya agar pantas untuk bertemu dengan TUHAN. Singkatnya, untuk berjumpa dengan TUHAN, pembersihan hati itu mutlak dan penting.

Sebagaimana bangsa Israel di hadapan TUHAN, demikian pula dengan umat yang hendak merayakan perayaan Ekaristi. Ekaristi adalah perayaan sakral karena umat berjumpa dengan TUHAN. Tidak seperti bangsa Israel yang berhadapan dengan kehadiran TUHAN dalam awan, api, dan guruh, umat Katolik berjumpa dengan TUHAN dalam sakramen Mahakudus dalam rupa tubuh dan darah Kristus. Maka dari itu, penyucian diri dari segala dosa adalah tindakan yang mutlak perlu dilakukan. Sebagaimana bangsa Israel dahulu membasuh diri dan pakaian mereka sebelum mendekati TUHAN di gunung Sinai, umat perlu membasuh dirinya dari dosa supaya bersih. “Membasuh” adalah gambaran alkitabiah untuk pembersihan dari dosa: “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku!.. basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (Mzm 51:2,7)

Gambaran praktik pengakuan dosa dan kesalahan dapat ditemukan dalam dalam tradisi alkitabiah. Dalam kitab Nehemia, ada kisah bagaimana bangsa Yahudi mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka secara bersama-sama (Neh 9:2). Ada pula pengakuan dosa yang dilakukan secara pribadi dan sifatnya spontan (Mzm 32:5; 38:18). Kitab-kitab Kebijaksanaan juga sangat menekankan pentingnya pengakuan dosa: “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi (Ams. 28:13. Lihat juga Sir 4:26). Hukum Taurat juga meminta agar orang untuk mengakui dosa-dosa tertentu: “Jadi apabila ia bersalah dalam salah satu perkara itu, haruslah ia mengakui dosa yang telah diperbuatnya itu” (Im 5:5) atau maka haruslah ia mengakui dosa yang telah dilakukannya itu; kemudian membayar tebusan sepenuhnya dengan menambah seperlima, lalu menyerahkannya kepada orang terhadap siapa ia bersalah (Bil 5:7). Beberapa tokoh dalam Perjanjian Lama, dalam pengakuan dosa bersama, mengakui dosa-dosa seluruh bangsa (Dan 9:20; Neh 1:6; Ezr 9).

Salah satu kisah menarik tentang pengakuan dosa dapat ditemukan dalam Kitab Ezra. Dikisahkan, setelah tiba di Yerusalem dan mendengar perbuatan dosa orang Israel, Ezra sebagai imam mengakukan dosa dan kesalahan mereka di hadapan TUHAN sambil memohon belas kasih dan pengampunan dari pada-Nya (bdk. Ezr 9). Begitu pula dalam Kitab Nehemia, diceritakan bahwa setelah mendengar situasi menyedihkan di tanah Yehuda, Nehemia mengakukan segala dosa dirinya dan seluruh orang Israel (bdk. Neh 1:5-11). Catatan menarik, salah satu bagian dari rumusan doa pengakuan Nehemia ini agak mirip dengan doa Confiteor: “..dengan mengaku segala dosa (Latin: Confiteor  pro peccatis) yang kami orang Israel telah lakukan terhadap-Mu. Juga aku dan kaum keluargaku telah berbuat dosa. Kami telah sangat bersalah terhadap-Mu dan tidak mengikuti perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan yang telah Kauperintahkan kepada Musa, hamba-Mu itu” (Neh 1:6-7).

Dalam Perjanjian Baru

Praktik pengakuan dosa ini juga dapat ditemukan dalam sejumlah teks di Perjanjian Baru. Injil, misalnya, menceritakan Yohanes Pembaptis yang mengajak orang-orang untuk mengakukan dosa dan kesalahan mereka (bdk. Mat 3:1-12; Mrk 1:1-8; Luk 3:3-9; Yoh 1:19-28). Dalam surat pertama Yohanes dikatakan, umat Kristen hendaknya mengakui dosa-dosa dengan meyakini bahwa Tuhan akan mengampuni kita: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh 1:9).

Salah satu hal menarik dari doa Saya mengaku “Confiteor” ini adalah bahwa si pendoa bukan hanya mengakui dosa di hadapan Allah tetapi juga kepada “saudara sekalian” (saudara dan saudari). Secara teologis, rumusan ini hendak mengatakan bahwa selain merusak relasi dengan Allah, dosa-dosa juga dapat merusak relasi dengan sesama. Jika ditelisik secara lebih mendalam berkenaan dengan asal usul rumusan ‘kepada saudara sekalian’, surat Yakobus memberikan petunjuk kuncinya. Dalam ajakannya, penulis surat Yakobus mengatakan: “Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh” (Yak 5:16). Sebagai catatan, konteks ajakan Yakobus ini adalah mendoakan orang sakit.

Para nabi dalam Perjanjian Lama jugasering menggunakan kesembuhan dari sakit sebagai gambaran kesembuhan dari dosa. Tulisan-tulisan Yahudi sering menghubungkan dosa dengan sakit. Misalnya, dalam berkat ke delapan dalam doa harian orang Yahudi, permohonan akan kesembuhan (meskipun bukan hanya kesembuhan fisik, bisa juga rohani, dalam hal ini dosa), selalu diikuti dengan permohonan akan pengampunan dan penebusan dosa. Dalam kitab Sirakh, kesembuhan dari Allah (Sir 38:9) dihubungkan dengan pembersihan hati dari segala dosa (Sir 38:10).

Karena itu, jika perikop dari surat Yakobus ini dikaitkan dengan doa Confiteor, kesembuhan jiwa atau batin seseorang karena dosa dapat terwujud jika orang mau mengakui segala dosa dan kesalahannya di hadapan TUHAN dan sesama. Jiwa yang sembuh dari sakit adalah jiwa yang layak dan pantas di hadapan Allah.

Praktek pengakuan dosa sebelum perayaan Ekaristi dapat ditelusuri dalam Didakhe atau ajaran para Rasul (salah satu tulisan Kristen di luar Alkitab pada abad II). Dikatakan “Berkumpulah di Hari Tuhan, dan pecahkanlah roti dan persembahkanlah Ekaristi, tetapi pertama-tama akuilah segala kesalahanmu sehingga kurbanmu menjadi murni” (Didakhe 14). Anjuran dalam Didakhe ini tampaknya mencerminkan nasehat rasul Paulus supaya jemaat di Korintus memeriksa batin dan dosa-dosa mereka sebelum mengambil bagian dari perjamuan Ekaristi (1Kor 11:31).

Saya Telah Berdosa

Ungkapan “saya telah berdosa” dan kemudian diulangi lagi “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa” dalam doa Saya Mengaku” kiranya mengacu pada pernyataan sesal Daud dalam Alkitab. Ini terlihat dalam teguran Natan terhadap Daud karena dosanya mengambil Batsyeba sebagai istrinya dengan merancang pembunuhan terhadap suaminya (bdk. 2 Sam 11-12). Di sini Daud berkata “Aku sudah berdosa kepada TUHAN” (2Sa 12:13). Begitu pula dalam kisah tentang pendaftaran orang Israel (2 Sam 24:1-17), Daud menyesali kesalahannya dan berkata “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini”  (2Sam 24:10). Selain dari kisah Daud, ungkapan “Aku (telah) berdosa” juga diucapkan oleh Firaun kepada Musa dan Harun (Kel 9:27), Bileam kepada Malaikat TUHAN (Bil 22:34), dan Saul kepada Samuel (1 Sam 15:24,30).

Dalam doa “Saya Mengaku” dinyatakan empat wilayah di mana orang sering melakukan dosa: pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian.

Pertama, berkaitan dengan pikiran. Rujukan Alkitabiah dapat ditumukan dalam nasehat Paulus agar jemaatnya menjaga pikiran dan berfokus pada sesuatu yang baik dan benar: “Semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Fil 4:8). Dalam khotbah di Bukit, Yesus memberkan sejumlah peringatan dini berkaitan dengan bahaya jatuh ke dalam dosa pikiran (bdk. Mt 5:22; 5:27-28; 6:25-34; 7:1).

Kedua, berkaitan dengan perkataan. Surat Yakobus memberikan petunjuk tentang dosa karena perkataan. Dalam suratnya, ia mengingatkan akan bahaya dari lidah. Dengan kata-kata, orang dapat memberkati, tetapi juga mengutuki. Lidah itu seperti api. Ketika kata-kata dipergunakan untuk kejahatan, itu akan menyebabkan kekacauan: “Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar” (Yak 3:5). Di bagian lain dalam Alkitab diperlihatkan bahwa lidah dapat menyebabkan kerugian orang lain: gosip (2 Kor 12:20; 1 Tim 5:13; Rom 1:29), fitnah (Rom 1:30; 1 Tim 3:11), penghinaan (Mat 5:22), dusta (Kol 3:9; Keb 1:11; Sir 7:12-13) dan kesombongan (Mzm 5:5; 75:4; 1 Kor 5:6; Yak 4:16).

Ketiga, berkaitan dengan perbuatan. Faktanya, dosa memang sangat terkait dengan perbuatan. Dengan kata lain, dosa paling kelihatan ketika orang melakukan perbuatan dosa. Selama belum nampak dalam perbuatan, masih sulit untuk mengatakan apakah orang ini melakukan dosa atau tidak. Dosa dalam bentuk perbuatan memang sangat merugikan dan menyakiti sesama. Pada saat yang sama, dosa ini juga merusak relasi dengan Allah. Untuk menimbang dosa yang berkenaan dengan perbuatan, sepuluh Firman Allah kiranya dapat dipergunakan sebagai patokan dasar.

Keempat, berkaitan dengan kelalaian. Kelalaian adalah salah satu bentuk kegagalan untuk melakukan sesuatu yang diminta. Kelalaian juga dipandang sebagai dosa. Pandangan ini dapat ditelusuri akarnya dalam dari surat Yakobus: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak 4:17).

Menepuk Dada

Salah satu unsur dalam doa “Saya Mengaku” yang acapkali diabaikan adalah gerak simbolis penyesalan dan pertobatan, yaitu “memukul-mukul dada” ketika berkata “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa.” Santo Agustinus menegaskan bahwa gerak ini adalah bagian tak terpisahkan dari doa “Saya Mengaku”. Sebab, gerak tersebut merupakan simbol untuk mengungkapkah sikap rendah hati di hadapan Allah.

Dari perspektif liturgis, tindakan menepuk dada (meskipun tidak harus sekeras-kerasnya) merupakan ungkapan yang baik dan indah. Mengapa? Sebab, kata-kata sakramental memang perlu dilengkapi dengan ungkapan yang bersifat sakramental. Dalam Injil Lukas, tindakan memukul diri mirip dengan tindakan pemungut cukai ketika berdoa di hadapan Allah: “…Pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Dengan sikap dan tindakannya yang merendahkan diri di hadapan Allah, pemungut cukai itu akhirnya dibenarkan oleh Allah.

Singkatnya, doa “Saya Mengaku” memiliki arti dan nilai penting dalam perayaan Ekaristi. Selain mengakar pada Alkitab, doa ini sudah hidup sejak dalam liturgi gereja awal. Karena itu, kiranya baik jika doa ini tidak digantikan dengan doa lainnya sebab makna doa ini begitu kaya dan mendalam. Dengan mendoakan “Saya Mengaku” berarti kita menjaga dan memelihara salah satu doa dalam tradisi suci gereja Katolik. Sekali lagi, meskipun kita sudah hafal doa tersebut di luar kepala, jangan pernah menganggap doa itu sebagai formalitas belaka dalam perayaan Ekaristi. Mereka yang merayakan Ekaristi perlu menghayati doa ini dengan baik, sebab hanya dengan penghayatan yang baik dan mendalam manfaat dari doa tersebut kiranya dapat dirasakan. Semoga.

 Sumber rujukan: KEENER, CRAIG S., The IVP Bible Background Commentary New Testament 2nd Edition (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2014); SRI, EDWARD, A Biblical Walk through the Mass. Understanding What We Say dan Do in The Liturgy (West Chester, Pennsylvania: Ascension Press, 2011); http://www.newadvent.org/cathen/04222a.htm

 

Romo Albertus Purnomo, OFM, Penulis Buku, Kolumnis, Pengajar Kitab Suci dan Aktivis Kerasulan Kitab Suci. Studi spesialisasi Kitab Suci di Pontificium Institutum Biblicum di Roma Italia.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here