MANAJEMEN: SAATNYA KITA SEMUA BEKERJA UNTUK ORANG MUDA

117

HIDUPKATOLIK.COM – Hingga awal 1980-an, hanya segelintir orang yang bekerja di bagian komputer (waktu itu disebut Electronic Data Processing) saja yang pernah melihat mesin komputer. Hanya beberapa instansi berskala besar di Indonesia dari antara kantor pemerintah, perusahaan asing, Badan Usaha Milik Negara, dan bank swasta yang mampu memiliki sistem komputer karena investasinya sangat mahal.

Mesin komputer yang berukuran sangat besar itu (disebut main frame), harus ditempatkan di ruangan khusus (raised floor) dengan sirkulasi udara dingin. Karena itu, operator komputer yang bekerja di dalam ruang komputer harus selalu mengenakan jaket tebal. Di luar ruang komputer, programmer bekerja di unit terminal yang terhubung ke komputer besar tadi menggunakan sambungan kabel.

Perusahaan jasa dengan banyak nasabah seperti bank (sebutlah BNI, Bank Niaga, BCA) tahun 1982 mulai menggunakan aplikasi CASA (Current Account Savings Account) secara online real time, yang memungkinkan setor dana ke – transfer antar – dan tarik dari – cabang tertentu selama jam kerja. Bank Niaga tahun 1984 mulai mengoperasikan ATM yang melayani sepanjang tahun tanpa henti. Komunikasi data mengandalkan jaringan telepon khusus (leased line) berkecepatan maksimum 9,6 KBps.

Menjelang era 1990-an, personal computer (PC) sudah mulai banyak dipakai oleh Sekretariat kantor, awalnya berfungsi untuk menggantikan mesin tik dengan program WordStar, juga spreadsheet Lotus 123. Mulai banyak orang yang menggunakan komputer, ukuran kecil, dan masih di kluster perkantoran.

Selanjutnya PC saling terhubung antar sesamanya dalam jaringan Local Area Network (LAN dengan Novell Netware) dan beremulasi ke komputer besar sebagai unit terminal. Tersedia program siap pakai (off the shelf) untuk bisnis seperti Akuntansi, Inventori, Administrasi Penjualan, dan lain-lain. Pemakaiannya masih di sekitar kluster perkantoran. Era sistem komputerisasi terpusat (sentral), mulai terbagi dengan kantor operasional di daerah. Konektivitas LAN dengan komputer besar masih mahal.

Mulainya Internet

Pertengahan 1990-an, Internet Service Provider pertama RadNet dan CBN mulai menyediakan layanan dial up telepon, kecepatannya relatif masih rendah dan kualitasnya tidak menentu. Sistem komunikasi surat elektronik (email) gratis dan massal mulai dikenal seperti hotmail, yahoo, dll. Sistem email dalam perusahaan (intranet) mulai terhubung ke internet, menjadikan dunia semakin tanpa batas. Orang-orang yang terbiasa bekerja dengan komputer di kantor, ikut membeli PC untuk dipakai di rumah dan bebas menjelajahi dunia internet dengan browser yahoo. Operating System Windows menjadi standar.

Memasuki milenium tahun 2000, komputer jinjing (laptop) sudah semakin murah. Multimedia semakin berkembang, orang bisa menikmati video dalam compact disc (CD). Layanan komunikasi data (internet broadband) juga semakin tersedia, bahkan mulai memasuki wilayah permukiman di perkotaan.

Rupa-rupa hal bisa diperoleh di internet, cukup dengan bantuan mesin pencari seperti Google. Dari sekadar informasi, berita, buku, pelajaran, pendidikan, hiburan, hingga perdagangan, perjudian, kejahatan, dsb. Keterhubungan sepanjang hari ke seluruh dunia hampir tanpa batas dan pembatasan untuk siapa saja. Sejak saat itu kita memasuki era peradaban berbasis digital, dan tak mungkin mundur kembali. Meski demikian, porsi hidup di dunia nyata masih lebih dominan daripada dunia yang maya.

Era 2010-an, gawai pintar (smartphone), semakin menjadi alat standar setiap orang (bahkan ada yang memilikinya beberapa buah sekaligus). Semua yang bisa dilakukan di komputer, kini bisa dilakukan juga di gawai pintar tadi. Karena ukurannya kecil, gawai mudah dibawa ke mana pun juga. Harganya pun relatif terjangkau sehingga semua orang bisa memilikinya. Segala macam aplikasi (apps) tersedia, atau dibuat khusus sesuai kebutuhan. Untuk bisnis, hiburan, pendidikan, apa saja.

Tahun 2020 wabah Covid-19 melanda seluruh dunia dan untuk mengatasi penularannya, pemerintah menerapkan protokol kesehatan ketat berupa aneka pembatasan. Dalam hal protokol menjaga jarak, hampir semua kegiatan harus diselenggarakan secara virtual. ‘Bersyukur’ teknologi digital sudah tersedia (walaupun belum merata ke seluruh negeri, dan belum semua orang bisa memakainya), namun pembatasan protokol kesehatan tak membuat semua orang harus mati kutu.

Manusia kini semakin bergantung pada teknologi digital, hidup dalam 2 dunia secara bersamaan, yaitu dunia nyata yang kelihatan seperti selama ini, dan dunia maya lewat internet yang tak kelihatan. Dalam banyak hal, dunia dan komunikasi maya kini sudah menjadi lebih dominan daripada kebiasaan sebelumnya. Yang semakin terbiasa dengan dunia maya, ada kecenderungan mengabaikan dunia nyata.

Orang Muda dan Dunia Maya

Meski komputer sudah hadir dan dipakai banyak orang sejak 40 tahun yang lalu, namun orang-orang muda (usia SMA hingga 30-an tahun) adalah yang paling gesit memanfaatkannya. Tidak perlu berlatar belakang pendidikan komputer atau cara kerja yang sistematis, cukup berbekal inisiatif dan kreativitas. Orang-orang (khususnya yang muda) itu, lebih jeli melihat manfaat teknologi digital (hasil perpaduan sistem komputer dan komunikasi data) ini dalam menghasilkan banyak hal menarik bagi kehidupannya.

Sebutlah kini orang bisa menjadi desainer grafis, content creator (di youtube, TikTok), gamer, online shop, dengan cara mudah, murah, seketika. Bahkan menjadi coder (programmer), data miner, hingga hacker. Semua peran itu bisa dilakukan sendirian, secara simultan (multi-tasking), dari tempat dan waktu yang disukainya, dengan cara santai dan riang gembira, tanpa birokrasi apalagi pengawasan.

Semua jalan pintas dan peluang ini memungkinkan seseorang menjadi masyhur dan makmur dalam waktu singkat. Apa implikasi semuanya ini?

Yang pertama, orang-orang muda sekarang memandang pendidikan formal dengan cara berbeda dengan generasi sebelumnya. Semula, pendidikan adalah tangga tegak menanjak untuk memperbaiki derajat sosial, orang berpendidikan tinggi layak diharapkan akan lebih sukses dalam kehidupan. Kini mengumpulkan sebanyak-banyaknya like, follower, atau subscriber di media sosial itu lebih menantang untuk seterusnya dikonversi menjadi senjata influencer yang dapat menghasilkan manfaat finansial.

Program-program studi (Prodi) yang tersedia juga sudah bervariasi daripada sekedar Teknik (Sipil, Elektro, Mesin), Ekonomi, Hukum, Sosial Politik, tetapi melebar sampai ke Musik, Kuliner, Travel, Penyiaran, dsb. Orang-orang muda sekarang tidak perlu mencari perguruan tinggi lagi (kecuali yang bergengsi), sebab banyak perguruan tinggi yang justru mencari mahasiswa sampai ke daerah-daerah. Saat kuliah, pikiran mahasiswa bisa bercabang ke kegiatan-kegiatan mayanya yang jauh lebih menarik.

Jangan kaget kalau tak semua mahasiswa kini fokus menyimak kuliah, sebab mereka bisa multi-tasking melakukan hal-hal lain secara bersamaan. Mungkin kegiatan lainnya malah jauh lebih menyenangkan daripada paparan kuliah. Saat mengikuti kuliah secara virtual seperti sekarang ini, mahasiswa pun punya alasan teknis terkendala sinyal internet sehingga tidak mengaktifkan kameranya.

Sukses dalam kehidupan nanti tidak perlu diukur dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) lagi. Karena itu tak semua mahasiswa mau ngoyo dalam kuliah, cukup lulus dalam tempo yang tak melampaui batas.

Tidak semua mahasiswa yang setelah lulus, ingin bekerja di perusahaan besar, sebab membuka usaha sendiri bisa dimulai dengan modal kecil. Juga transaksi perdagangan dapat dilakukan secara online menggunakan media sosial yang sudah tersedia, atau nebeng di marketplace yang terkenal. Lihatlah orang-orang muda yang berhasil membangun bisnis rintisan (start up), tidak harus berpendidikan tinggi apalagi sampai ke luar negeri, bukan pula anak dari keluarga kaya. Tetapi insting dan kreativitas bisnisnya justru berhasil mendatangkan investor malaikat (angel investor) dengan jumlah investasi dan kapitalisasi pasar yang besar. Orang muda itu tidak perlu lagi mencari dana ke bank konvensional.

Kedua, dalam dunia maya, setiap orang dapat bertindak sendirian tanpa organisasi formal, sehingga tidak memerlukan birokrasi. Tidak ada jenjang kepangkatan dan urut kacang untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Semuanya saling bekerja sama (kolaborasi) dan disiplin pada jadwal tenggat kerjanya masing-masing. Orang-orang muda semakin tidak peduli birokrasi dan hierarki, apa perlunya?

Ketiga, komunikasi virtual 24 jam sehari, mengurangi interaksi tatap muka, sehingga tidak perlu ada formalitas kesantunan sesuai budaya orang setempat. Dengan aplikasi messaging, pesan singkat dapat ditulis dari mana saja dan kapan saja dengan bahasa sekenanya. Tidak perlu basa-basi pembuka dan penutup seperti lazim dilakukan orang dulu. Jangan pernah kecewa mengharapkan balasan cepat dari orang muda, sebab prioritas komunikasi mereka banyak dan kita belum tentu salah satu di antaranya.

Ikuti Selera Orang Muda

Jadi ingat April 2018, komunitas SUDARA (Sumber Daya Rasuli) yang menghimpun para praktisi Manajemen Sumber Daya Manusia di Keuskupan Agung Jakarta, berkunjung ke sebuah perusahaan multinasional consumer goods di Bumi Serpong Damai (Tangerang Selatan), Banten. Perusahaan ini baru saja mendirikan gedung perkantoran baru dengan rancangan bagaikan mal modern di pusat kota. Di tengah-tengah lantai pertama adalah hamparan luas tanpa sekat untuk orang lalu lalang, ada atrium bercahaya matahari langsung dan gundukan yang instagrammable, serta toko kebutuhan sehari-hari.

Tanpa ditanya mengapa perusahaan sebesar itu harus melakukan semuanya, tuan rumah menjelaskan bahwa masa depan perusahaan sangat bergantung pada mau bergabungnya para talenta muda. Masalahnya, belakangan ini perusahaan harus bersaing ketat dengan beberapa perusahaan start up yang lebih sexy. Perusahaan kelas dunia dan mapan sekali pun, sudah tidak cukup menarik lagi dengan kompensasi dan fasilitas yang bernilai tinggi. Orang muda sekarang punya cara kerja yang berbeda dan mereka pun berhak untuk didengar serta diikuti seleranya. Orang muda mau lingkungan kerja yang bebas dengan sedikit SOP, rules, standing instruction, business conduct, dan sejenisnya.

Wabah Covid-19 dengan metode Work from Home, bagaikan stimulus yang semakin mengukuhkan apa maunya orang muda. Bisa bekerja dari mana saja, kapan saja, dengan supervisi minimum, tanpa kendala organisasi, hierarki, birokrasi, administrasi, atau pembatasan lainnya. “Ukurlah kinerja kami, bukan penampilan kami”, begitulah kira-kira pembelaan kaum muda sekarang ini. Dan teknologi digital yang sangat mereka akrab (technology savvy) adalah andalan sekaligus keunggulan orang muda.

Ini menunjukkan bahwa kini sudah saatnya kita semua bekerja mengikuti selera orang muda. Mereka yang semakin menguasai mayoritas aktivitas bisnis sehari-hari dengan start up yang berbasis teknologi digital. Mereka pula yang menentukan dinamika kehidupan dan semakin mendikte pasar tenaga kerja.

Cosmas Christanmas, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here