Trisatya dan Triprasetia Bruder Berchmans Nyotodiharjo, FIC:

53

HIDUPKATOLIK.COM – TRISATYA itu janji Bruder Bercmans Nyotodiharjo, FIC (82) sebagai anggota pramuka (pandu). Isinya, menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan NKRI dan menjalankan Pancasila; menolong sesama hidup dan ikut serta membangun masyarakat; dan menepati Dasa Darma. Triprasetya sebagai biarawan, terdiri atas tiga kaul: kesucian, ketaatan dan kemiskinan.  Sebagai bruder, ia mengucapkan kaul dua kali, pertama  tanggal 2 Juli 1962, dan kedua tanggal 2 Juli 1968, kaul kekal sebagai anggota Bruder-bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda  (FIC: Fraters Immaculatae Conceptionis–FIC).

Dalam usia hampir 82 tahun, lahir di Juwana tanggal 24 Desember 1939 dengan nama asli Nyoo Kie Tjhiang, ia menghidupi keduanya. Ia berusaha melebur keduanya: dua panggilan hidup karunia Tuhan yang saling memperkuat. Trisatya dia ucapkan tanggal 23 Desember 1951, “Dan dengan pengucapan kaul triprasetya pertama, tahun depan saya genap 60 tahun hidup membiara, sementara sebagai anggota pramuka sejak 23 Desember 1951. “

Berbincang dengan bruder berjanggut putih lebat, sepintas ibarat berdebat dengan seorang guru dan pendekar tua. Terpancar kebahagiaan hidupnya hampir 60 tahun membiara. Di ruang tamu di Biara FIC Don Bosco, Semarang, siang itu, ia berkisah tentang lika-liku karya pelayanan bagi masyarakat kelompok miskin. Lulus SGAK Putra Don Bosco, Semarang tahun 1960, dibaptis usia 17 tahun, setelah masa postulat satu tahun dan menjalani novisiat satu tahun dan mengucapkan kaul pertama, tugas pelayanan pun silih berganti. Nyaris semua bersentuhan dengan kepramukaan. “Saya kagum pada Bapak Pandu Dunia Lord Baden Powell dan Bapak Pramuka Indonesia Sultan HB IX.”

Janji kedua trisatya, sejalan dengan keyakinan Berchmans, bahwa Allah sendiri menyamakan diri-Nya dengan orang-orang paling hina (Mat. 25, 31-36). Semangat FIC, “berkarya terutama bagi kelompok miskin” memberi makna Ilahi karya-karya kemanusiaan termasuk lewat kepramukaan. Warna-warni karya berbagai bidang dan tempat, bagi penggemar vespa tua itu, selalu diawali dan diakhiri dengan ucapan syukur.

Kemandirian yang sangat ditanamkan dalam kegiatan pramuka,  Bruder yang aktif mulai sebagai anggota Siaga sampai menjadi Pembina tingkat Mahir, ibarat kamus berjalan tentang detail kepanduan (scouting). Menolong sesama sangat ditekankan Baden Powell (1857-1941) ketika mendirikan scouting tahun 1907. Apalagi di zaman itu situasi di London, tempat badan ini didirikan juga diwarnai kemiskinan, tegas Berchmans.

Dari antara beragam tugas pelayanan di Indonesia, ia prihatin dan tersentuh hatinya ketika mendampingi gelandangan, tahanan politik, bekas tapol dan keluarganya. Memberi bantuan dalam berbagai bentuk, mulai dari nasi bungkus bagi gelandangan sampai meminjamkan modalnya baginya sebagai “semata-mata membantu dan melihat mereka sebagai sesama kita dan agar mereka bisa mandiri.” Hatinya juga tersentuh ketika menjadi sukarelawan bagi para pengungsi di Rwanda, Burundi (1995). Kegiatan pramuka tidak terbatas pada “di sini senang, di sana senang, di mana-mana senang.”

Sebagai bagian dari menempa kemandirian, terkisah berbagai bentuk avonturisme sejalan dengan semangat kepanduan. Tahun 2009 dalam usia 69 tahun, ia sendirian naik bus umum dari Kampung Rambutan ke Kwarda, Aceh, berlanjut ke Sabang dengan kapal, kembali ke Tanjung Priok dari Pelabuhan Belawan, Medan. Vespa menjadi andalan. Tahun 2010, dengan vespanya dari Semarang, setelah Temu Pembina Pramuka di Palasari, Bali, ia ke Pantai Senggigi pulang pergi. Tahun 2011, setelah mengikuti Jambore Nasional di Teluk Gelam, Palembang, dengan vespanya ia melanjutkan perjalanan ke Rumah Ibu Fatmawati Soekarno di Bengkulu.

St. Sularto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here