Pastor Johanis Mangkey, Menjadi Sahabat bagi Keluarga Katolik dan Para Imam

74
Dari kiri ke kanan: Pastor Aloysius Tombokan, MSC_ Pastor Johanis Mangkey, MSC_ dan Pastor Julius Salettia.

HIDUPKATOLIK.COM Tidak hanya keluarga Katolik yang dekat dengannya. Ia juga terpanggil memperhatikan kebutuhan para imam mahasiswa dan yang bertugas di paroki terpencil.

“ANAK-anak kami senang memanggilnya Opa Pastor.” Begitu Sandra Nangoy menceritakan bagaimana kedekatan keluarganya dengan Pastor Johanis Mangkey, MSC. Pastor Yance, sapaan Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) ini, yang membaptis kedua anak Sandra dan Ivan Sondakh. Ia bercerita, sejak Pastor Yance kembali dari penugasannya di Roma dan menetap di Jakarta, keluarga Nangoy-Sondakh seakan memiliki tambahan satu keluarga baru seorang pastor. “Opa Pastor, secara luar biasa menjadi bapak rohani bagi seluruh anggota keluarga kami. Ia membaptis seluruh anak dalam keluarga Nangoy-Sondakh,” ujarnya.

Tahun 2003, Pastor Yance membaptis Alex, Stephanie dan Nicole, putra dan putri dari Shierly dan Hani. Selanjutnya, tahun 2005, ia membaptis Vanessa, putri dari Sandra dan Ivan. Selang lima tahun kemudian, Pastor Yance juga secara bersama-sama membaptis Natalie, putri bungsu dari Sandra dan Ivan; serta Darren putri dari Monita dan David.

“Putri bungsu Monita dan David, Michaela juga dibaptis Pastor Yance. Pembaptisannya dilakukan dengan cepat di RSAD Teling, Manado, Sulawesi Utara karena ayahanda Louis Nangoy sedang sakit dan ingin menyaksikan pembaptisan cucu bungsunya,” cerita Sandra.

Keluarga Sandra Nangoy dan Ivan Sondakh bersama Pastor Johanis Mangkey, MSC (paling kiri).

Bukan sebuah kebetulan bahwa Pastor Yance dekat dengan keluarga Nangoy. Sandra melihat kedekatan ini sebagai penyelenggaraan Ilahi. Pastor Yance tidak saja membaptis anak-anak dalam keluarga, ia juga pernah memimpin Misa ulang tahun perkawinan ke-44 orangtua di rumah sakit karena ayahnya saat itu sakit. “Bahkan ketika ayah kami menerima Sakramen Minyak Suci, ia meminta agar diberikan khusus oleh Pastor Yance. Selang beberapa jam setelah dilayani Pastor Yance, ayah kami tutup usia dalam damai,” tambahnya.

Sahabat Keluarga

Cerita yang berkesan juga datang dari keluarga Iwanov Sumakud. Iwanov mengisahkan sudah mengenal Pastor Yance sejak tahun 1970-an, waktu itu Pastor Yance masih menjadi frater di Seminari Tinggi Pineleng, Manado, seangkatan dengan saudaranya, Pastor Yoppy Sumakud, MSC (alm.). “Orangtua saya sering ke seminari sehingga makin dekatlah keluarga dengan Pastor Yance. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP tetapi melihat Pastor Yance sebagai sosok kakak yang luar biasa,” cerita Iwanov.

Kedekatan itu terus berlanjut saat ditahbiskan pastor dan penugasan pertama di Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado. Lalu sebelum berangkat ke Roma, Pastor Yance sempat bertemu dengan keluarga Sumakud. Ketika Iwanov menikah, Pastor Yance yang memberkatinya. Tanggal pernikahan disesuaikan dengan waktu cuti Pastor Yance ke Indonesia. “Ketika kami dikaruniai anak, saya minta kepada Pastor Yance untuk memberikan nama untuk anak pertama kami, dan Pastor juga yang membaptis kedua anak kami.”

Iwanov menyebutkan, Pastor Yance seorang yang memiliki dedikasi yang tinggi untuk iman keluarga-keluarga Katolik. Ia selalu siap sedia melayani siapa pun, tidak saja orang yang ia kenal tetapi semua orang. Ia dekat dengan orang sakit, orang miskin, anak yatim-piatu, dan khususnya kepada kawula muda yang dalam persiapan perkawinan. “Dia sangat berkonsentrasi tentang masalah pribadi keluarga-keluarga Katolik,” sebut Iwanov.

Menyoal konsentrasi tentang masalah keluarga-keluarga Katolik juga diaminkan pasturi Nico Wondal dan Henny Datu. Mereka menyebut Pastor Yance sebagai sahabat bagi keluarga. Nico sendiri mengenal Pastor Yance saat diangkat oleh Mgr. Theodorus Moors, MSC sebagai Delegatus Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Manado tahun 1981. Sejak itu, Pastor Yance rajin berkunjung ke Radio Veritas (sekarang Radio Montini), tempat Nico bekerja. Ternyata pastor muda ini menaruh perhatian besar terhadap Komsos. Ia rutin mengisi renungan harian malam di RRI Manado dan ikut mengkoordinir Pentas Drama Katolik di TVRI Manado.

Saat Pastor Yance kembali dari studinya di Amerika, kami janjian bertemu dan anak-anak waktu itu masih SMP dan SD juga ikut. Ia sangat dekat dengan keluarga. Ketika Mik, anak kami menikah dengan Rani, Pastor Yance juga yang memberkati pernikahan mereka. Juga ketika anak mereka dibaptis, Pastor Yance juga yang membaptisnya.

“Saya melihat bahwa Pastor Yance bukan saja seorang imam. Ia adalah sahabat bagi keluarga-keluarga Katolik. Ia adalah teman seperjalanan bagi banyak keluarga Katolik yang berada dalam ragam persoalan. Ia selalu mendoakan dan menguatkan keluarga-keluarga Katolik agar menyadari janji perkawinan mereka,” paparnya.

Kolegialitas Para Imam

Cerita lain datang juga dari Pastor Jacob Adilang, imam Keuskupan Manado. Pastor Adi, sapaannya, menjelaskan sudah mengenal Pastor Yance jauh sebelum menjadi imam. Tahun 1992 dalam sebuah kesempatan pertemuan Orang Muda Katolik wilayah Gorontalo, Luwuk, Toli-Toli, Poso, dan Palu yang diselenggarakan Paroki Sta. Theresia Poso. Pastor Yance menjadi moderator dalam pertemuan orang muda itu. “Sebagai anak muda, saya sungguh kagum dengan Pastor Yance. Caranya berdiskusi, bercerita, ketegasan serta kecermatannya membangun motivasi di hati saya untuk bisa menjadi seperti dirinya,” cerita Pastor Adi.

 

Pastor Jacob Adilang

Tahun 2002-2003, Pastor Adi berpastoral di Paroki St. Antonius Padua Tataaran, paroki Pastor Yance. Di situ, Pastor Adi menemukan banyak cerita tentang Pastor Yance. Salah satunya adalah kesederhanaannya. “Hal itu terbukti ketika Pastor Yance kembali ke Manado dan memimpin Misa. Saya diminta mengambil sesuatu di kamarnya, dan betapa kaget karena Pastor Yance menempati kamar yang sederhana, jauh dari kesan mewah,” sebut Pastor Adi.

Selanjutnya, tanggal 28 Desember 2018, saat menghadiri Misa 50 tahun Imamat Pastor John Tinggogoy, MSC di Tataaran, Pastor Yance sempat bertanya tentang sebuah gereja kecil di Kayuroya, Lambean Timur, Minahasa. Pastor Adi menjawab, gereja itu belum selesai dibangun. Lalu Pastor Yance mengatakan, “Sudah nanti kita (saya) kasih kenal (mengenalkan) dengan keluarga-keluarga itu (sambil menunjuk pada pasutri Louw dan Lucy serta pasutri Aminuddin dan Chintya sebagai donatur),” ujar Pastor Adi.

Gayung bersambut, perkenalan itu tidak sia-sia. Pada bulan Januari 2019, Pastor Yance hadir dan melihat langsung keadaan gereja. Kunjungan itu makin meyakinkan Pastor Yance untuk mengusahakan pembangunannya. Tanggal 1 Mei 2019, diadakan makan siang bersama di sebuah restoran Jakarta, akhirnya terkumpul dana untuk pembangunan gereja di Kayuroya. “Kini gerejanya sudah selesai bahkan peralatan Misa dan internal gereja juga lengkap,” tuturnya.

Kisah lain disampaikan Pastor Julius Salettia. Ia mengenal Pastor Yance tahun 1980 di mana Pastor Yance menjadi moderator Kelompok Bina Frater-frater tingkat satu, dan sempat menangani ujian spiritualitas bagi para calon imam di Seminari Tinggi Pineleng yang saat itu Pastor Julius sebagai frater.

Tapi perjumpaan paling berkesan adalah saat Pastor Julius studi di Roma dan bertemu Pastor Yance sebagai Asisten General MSC. “Dia sangat peduli kepada para imam mahasiswa. Dia tahu kekurangan kami. Dari waktu ke waktu ia selalu mengajak kami makan di restoran Cina dan mentraktir kami dengan uang sakunya. Ia juga memfasilitasi kami untuk mendapatkan stipendium Misa dari ekonom Generalat MSC yakni Pastor Fil Pelingon, MSC, asal Filipina,” cerita Pastor Julius.

“Saya percaya, Pastor Yance adalah seorang biarawan profesional. Hidupnya menyatakan pengakuannya akan ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian. Eksistensinya sebagai seorang biarawan terekam dalam kesaksian hidupnya setiap hari,” imbuh Pastor Julius.

 Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 26, Tahun ke-75, Minggu, 27 Juni 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here