Ini Sosok “Paket” Sempurna Milik “Misionaris Hati Kudus Yesus”

92
Audiensi dengan Paus Yohanes Paulus II tahun 1994.

HIDUPKATOLIK.COMPengalamannya sebagai imam terbentang dari benua ke benua. Ia adalah imam MSC Indonesia pertama yang terpilih sebagai Sekretaris Jenderal MSC. Berulangkali, satu cita-citanya menjadi imam, pupus ditelan perutusan demi perutusan yang tak pernah ia bayangkan.

USAI ditahbiskan sebagai imam pada 29 Juni 1981, Pastor Johanis Mangkey, MSC mendapat penugasan pertama sebagai pastor rekan di Paroki Hati Tersuci Maria Katedral Manado. Pengumuman tugas ini disampaikan Pemimpin MSC Daerah Manado Pastor John Mengko, MSC. “Pastor Yance, Anda ditugaskan membantu di Paroki Katedral Manado dibawah bimbingan Pastor Agus Sumaraw,” begitu Pastor Yance mengingat pesan pimpinannya. Sejak Juli 1981-1983, Pastor Yance, sapaan akrabnya, melayani di Paroki Katedral Manado.

Audiensi Kapitel Umum MSC 2005 dengan Paus Benediktus XVI di Vatikan.

Pada hari pertama masuk di Paroki Katedral Manado, pastorannya masih nebeng di rumah keuskupan. Dari Skolastikat Pineleng, Manado tidak ada yang mengantarnya ke Katedral, sehingga meminta bantuan kakak iparnya, Anton Turang. Pukul 11. 00 WITA, Anton menjemput Pastor Yance menuju paroki. Sebuah tas pakaian Pastor Yance yang berisi kasula, piala, dan satu-dua hadiah tahbisan, diantar dan diletakan di ruang makan keuskupan di mana terdapat juga kota-kotak pos paroki dan lembaga-lembaga keuskupan. Setiap hari suasananya ramai oleh para tamu.

“Tepat pukul 12.00 WITA, saya tidak menemukan tas pakaian yang tadi pagi saya letakkan di salah satu sudut ruang makan. Saya benar-benar sedih karena beberapa hadiah dari umat yang belum saya buka. Tas itu dicuri orang dan saya harus merelakannya,” kisahnya mengingat 40 tahun lalu sejak ditahbisakan menjadi imam.

Keluarga Saleh

Pastor Yance terlahir dalam keluarga Katolik saleh di Tataaran II, Tondano Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, 18 Mei 1954. Ia dibaptis empat hari setelah kelahirannya. Sejak kecil ia sudah diajarkan ragam keutamaan hidup. Ayahnya Ferdinand Mangkey berasal dari keluarga Protestan dan menikah menjadi Katolik dengan ibunda Aldegonda Rengkuan.

Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Yance kecil selalu diajarkan untuk tidak lalai dalam mengikuti Misa Harian. Ayah dan ibu, dua pribadi yang berbeda karakter tetapi saling melengkapi dalam membina anak-anak. Ferdinand seorang yang selalu menanamkan nilai-nilai disiplin dan kerja keras kepada anak-anak. Sementara Aldegonda, seorang ibu yang berhati mulia, suka mendengarkan, sabar, dan ingin anak-anaknya memiliki karakter Kristiani yang kuat.

Kepada Yance, orangtua selalu berharap agar kelak menjadi imam. Dan cita-cita ini sudah dikondisikan. Misal, dari empat anaknya, Yance yang paling sering disuruh untuk mengikuti Misa Harian. Hidup doa dan ketekunan ini menjadi lengkap saat Yance menerima Komuni Pertama. “Kadang muncul rasa tidak enak dalam hati kenapa saya saja yang disuruh untuk mengikuti Misa pagi. Sementara ketiga kakak perempuan tidak,” cerita Pastor Yance soal masa kecilnya.

Suasana rohani yang diciptakan orangtua ikut mendorong Yance tertarik menjadi pastor. Ferdinand sebagai tokoh umat dan masyarakat banyak dipercaya oleh para pastor paroki. Hal ini membuat kedekatan keluarga Mangkey dengan Gereja makin terasa apalagi saat Yance menjadi misdinar. “Kompleks gereja sering menjadi tempat bermain. Sesekali saya ikut pastor dalam tugas ke stasi-stasi. Situasi itu mempertebal motivasi saya menjadi imam,” ujarnya.

Pastor Johanis Mangkey, MSC (ditengah, kiri) bersama rekan-rekan imam dan suster dari Indonesia Pemimpin Tarekat di Roma.

Dengan tekad yang kuat, Yance melanjutkan studi di Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen, Manado pada Agustus 1966 dan menyelesaikannya pada Desember 1973. Pastor Yance mengawali panggilan sebagai calon imam di Seminari Kakaskasen bersama 35 siswa baru ditambah 5 orang yang mengulang dari angkatan sebelumnya. Dari jumlah itu mereka yang menyelesaikan studi di Seminari Kakaskasen adalah Pastor Yance; Pastor Aloysius Roong, MSC; Pastor Frans Rares, MSC; Pastor Yoppy Sumakud, MSC; Pastor Cardo Renwarin; dan Eddy Wolf. Enam orang ini kemudian melanjutkan studi ke Seminari Tinggi Pineleng. “Kami berenam ditahbiskan imam dengan waktu berbeda-beda, tapi kini tertinggal saya dan Pastor Cardo karena lainnya telah berada di kediaman kekal,” kata Pastor Yance.

Ia melanjutkan, kepergian empat rekannya ini turut menginspirasi permenungannya untuk terus bersyukur dalam 40 tahun imamatnya.  “Pastor Roong dan Pastor Frans teman tahbisan kini dikuburkan di pekuburan Seminari Kakaskasen. Ziarah ke makam mereka adalah tanda kebersamaan saya bersama mereka dalam merayakan 40 tahun imamat ini,” tuturnya.

Mimpi Seorang Pastor

Mendahului tahbisan imam, sebagai frater, Yance menjalani masa pastoral di Paroki St. Perawan Maria Hati Tak Bernoda Langgur, Maluku Tenggara dibawah bimbingan imam muda Pastor John Luntungan, MSC. Relasi dalam kolegialitas bersama para imam dan bruder MSC yang rata-rata dari Belanda menjadi motivasi kuat untuk menjadi imam. Relasi demikian justru membangkitkan mimpi dalam hatinya untuk kelak kembali sebagai imam melayani di Kei.

(Duduk kiri-kanan) Pastor Yoppy Sumakud, MSC dan Pastor Johanis Mangkey, MSC. (Berdiri kiri-kanan) Pastor Frans Rares, MSC dan Pastor Aloysius Roong, MSC.

Tahun pastoral ini diisi dengan mengajar bahasa Inggris di SMP Budi Mulia, SMA Sanata Karya, dan Sekolah Pendidikan Guru Fajar langgur. Pada sore sampai malam, Pastor Yance mengadakan pendampingan bagi kaum muda, anak-anak, serta orangtua secara bergantian di Stasi Faan, Wearlilir, dan Kolser. Sedangkan di Sathean yang sedikit jauh dilayani dua kali sebulan.

Sebenarnya, Yance ingin terus melayani umat di Kepulauan Kei. Hal ini terbukti dengan harapannya yang disampaikan kepada Provinsial MSC saat itu, Pastor Jos Suwatan, MSC (sekarang Uskup Emeritus Manado). Pastor Yance sangat berharap kembali ke Kei melayani umat sederhana dengan militansi iman yang luar biasa. Tetapi rapat dewan justru menempatkannya di Katedral Manado. “Saya kecewa karena saya ingin menjadi imam bagi umat-umat sederhana,” katanya.

Baru dua bulan bertugas di Katedral Manado, suatu sore, Mgr. Theodorus Moors mengajaknya berjalan-jalan di halaman keuskupan. Tanpa diduga, Mgr. Moors memintanya menjadi Delegatus Komunikasi Sosial Keuskupan Manado. Pastor Yance spontan menolak dengan cara halus, “Maaf Mgr, saya tidak tahu apa-apa tentang komunikasi sosial.” Mgr. Moors menimpali, “Ya, perlahan-lahan Pastor bisa belajar tentang hal itu.” Demikian bertambahlah tugas baru. Sejak itu Pastor Yance rajin mengunjungi Radio Veritas (kini Radio Montini) serta mengisi renungan Katolik di RRI dan TVRI Manado.

Selama enam bulan berkarya di Katedral Manado, tiba-tiba sebuah perintah baru datang kepadanya dari Pastor Suwatan. Ia diminta untuk mempersiapkan diri studi ke Amerika Serikat bidang Administrasi dan Keuangan. Suatu usulan dan permintaan yang sebenarnya tidak menarik karena Pastor Yance lebih suka berada di tengah umat. Apalagi dirinya tahu pasca studi, pasti jadi dosen dan berkarya dalam lingkup pembinaan.

Studi Spiritualitas

Demi ketaatan, pada Juli 1983, ia berangkat ke Jakarta untuk mengurus dokumen-dukomen yang perlu khususnya Visa USA. Dengan bantuan Pastor Lau Jotten, MSC semua urusan selesai. Lalu pada September 1983, ia meninggalkan Jakarta dan dengan British Airways yang transit selama enam jam di Bandara Doha, Qatar tanpa boleh turun dari pesawat. Di pesawat itu, ia duduk bersebelahan dengan seorang ibu yang kebetulan Katolik. Sang ibu menghadiahinya 25 sen Dollar dengan pesan apabila memerlukan telepon umum, cukup menggunakan uang ini.

Setelah melewati prosedur imigrasi dan bea cukai di Badara O’Hare Chicago, ia mulai merasa cemas. Ia tak melihat para penjemput yang membawa tulisan nama, tetapi tidak menemukan namanya. Cukup lama dirinya menunggu akhirnya datang seorang mendekatinya dan bertanya, “Apakah Anda John Mangkey dari Indonesia?” Ia kemudian mengenal lelaki itu sebagai Bruder George, MSC. Sejak itu, hatinya mulai tenang.

Selama menjalani studi di Theological Catholic Union, Chicago, ia tinggal di komunitas MSC bersama para frater MSC dan para pembina. Dalam perjuangan studi yang tidak mudah, ia kemudian menulis tesis berjudul: A Model for the Mission of the Missionaries of the Sacred Heart in the Light of the Spirituality of the Heart…” Tesis setebal 194 halaman ini sebagai persyaratan mendapat gelar akademik Master of Arts (MA) di bidang Spiritualitas.

“Tesis ini saya pilih dengan pertimbangan spiritualitas pendiri MSC Pater Jules Chevalier, yang dalam rentang sejarah spiritualitas yang disampaikan belum semuanya ditangkap oleh para pengikutnya. Hal ini mendorong saya menggali lebih jauh dari sumber-sumber yang tersedia di perpustakaan Komunitas MSC di Amerika,” ujar imam yang menggelar wisuda MA pada Mei 1986 ini.

Dari Amerika, ia kembali ke Indonesia pada Juli 1986 dan mendapat tugas sebagai pendamping para frater Skolastikat MSC Pineleng bersama Pastor P.C. Mandagi, MSC (kini Uskup Agung Merauke/Administrator Amboina). Selain itu tugas tambahannya sebagai pengajar Spiritualitas dan bahasa Inggris di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, ia juga membantu Pastor August Marks, MSC melayani kebutuhan rohani para mahasiwa di Universitas Sam Ratulangi dan IKIP Manado. Pada hari minggu, ia diminta Pastor Johny Luntungan, MSC melayani di Paroki Langowan yang begitu luas.

Sayangnya baru beberapa saat menjadi dosen, tiba-tiba Pastor Suwatan mengirim surat kepadanya untuk menjadi sekretaris dan bendahara Provinsi MSC di Jakarta. “Mengejutkan, maklum baru tiga bulan menjadi dosen di Pineleng,” timpalnya.

Pertama dari Indonesia

Sejak penugasan itu, jadilah Pastor Yance lebih banyak menghabiskan waktu menduduki struktural Provinsi MSC Indonesia. “Kepercayaan ini mengingatkan saya akan rencana awal studi saya ke Amerika yakni mendalami administrasi dan keuangan. Rencana ini berubah, tapi saya akhirnya tetap bertugas. Entahlah provinsial mendeteksi sesuatu tentang kemampuan saya di bidang ini,” lanjutnya.

Lima tahun mengemban tugas rangkap hingga Pastor P.C. Mandagi, MSC menjadi Provinsial MSC pada Februari 1990. Selain mempertahankan Pastor Yance, tugas tambahan lain adalah menjadi Asisten III Provinsial. Jadilah tugas triganda. Salah satu yang ia buat adalah diterbitkannya “Buletin MSC Indonesia” mulai tahun 1990-1998. “Tugas tambahan lain adalah saya menjadi sopir bagi konfrater dari berbagai daerah yang tiba di Jakarta. Dengan mobil Mitsubishi L-300, saya menjemput dan mengantar mereka ke bandara,” katanya.

Tugas ini ia lakoni dalam semangat ketaatan yang berlandaskan Hati Yesus Yang Maha Kudus. Sampai akhirnya, sebuah berita mengejutkan datang usai Kapitel Umum MSC pada 5-25 September 1993 di Roma. Dalam usia 39 tahun, Pemimpin Umum MSC yang baru terpilih, Pastor Michael Curran, MSC dari Irlandia mendaulatnya sebagai Asisten III Pemimpin Umum. “Saya katakan kalau toh saya menerima tugas ini, hanya bisa enam tahun saja atau paling lama 12 tahun saya memikul salib,” tuturnya. Demikian Pastor Yance menjadi Asisten III Pemimpin Umum MSC untuk jabatan 1993-1999.

Setelah enam tahun menyelesaikan periode ini, pada Kapitel Umum MSC tahun 1999 di Issoudun, Prancis pada 6-25 September 1999, secara pribadi, ia merasa tugasnya di Generalat MSC sudah cukup. Tetapi ketika Pastor Michael terpilih lagi pada periode kedua, ia tetap dipertahankan dan diminta batal kembali ke Indonesia. Pada periode kedua ini, ia tidak saja menjadi Asisten I, justru merangkap tugas sebagai Sekretaris Jenderal. Tugas ini membuatnya sebagai orang pertama MSC dari Indonesia yang mengemban tugas ini. “Saya tidak bisa menolak demi alasan ketaatan. Entah apa yang diamati selama enam tahun pekerjaan saya,” tuturnya. Selama menjalani tugas ini ia berturut-turut mengikuti Kapitel Umum MSC: 1993, 1999, 2005, dan 2011 di El Escorial, luar Kota Madrid, Spanyol.

Selama 12 tahun di Roma ia diberi kesempatan mengunjungi banyak konfrater di seluruh dunia. Dari 50 negara tempat MSC berkarya, sudah 25 negara yang dikunjungi. Ia terlibat dalam pertemuan nasional maupun internasional. Suatu prevelese berkesempatan mengunjungi bagian-bagian kepausan di Vatikan. Sudah bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus IV. Pastor Yance juga memiliki jasa besar dan berpartisipasi untuk MSC di Indonesia dan Papua New Guinea (PNG) dengan hadir tiga kali Kapitel Provinsi MSC PNG.

Menyelamatkan Panggilan

Ideal sebagai pastor adalah berada di tengah umat. Itu impian Pastor Yance ketika kembali dari Roma. Tetapi impian ini pupus setelah Uskup Manado, Mgr. Suwatan memintanya menjadi Ketua Yayasan Universitas Katolik De La Salle Manado. Reaksi spontannya waktu itu adalah menolak karena tidak berpengalaman. Tetapi Mgr. Suwatan menguatkannya dan mengatakan kemampuan di bidang administrasi akan membantunya mempelajari tugas ini dengan mudah.

Pastor Johanis Mangkey, MSC sebagai translator di Kapiten Umum Pertama Tarekat JMJ.

Tahun 2006, ia “pasang badan” selama tiga tahun sebagai Rektor Unika De La Salle. Ia berusaha menampilkan wajah Unika De La Salle yang moderat, terbuka bagi semua kalangan. Setelah tiga tahun mengembang tugas ini, dalam sebuah Kapitel Indonesia pada 4-11 Februari 2008 di Merauke, Papua, ia terpilih sebagai Pemimpin Provinsi MSC Indonesia. Sejak itu, ia harus mengepak lagi barang-barangnya dan pindah ke ‘mabes’ MSC di Jakarta Pusat.

Tugas ini dalam pandangannya adalah multidimensional dan berjejaring. Ia bersama Tarekat Puteri Bunda Hati Kudus (PBHK), Frater Bunda Hati Kudus (BHK), dan Suster Tarekat Maria Mediatrix (TMM) mendirikan Asosiasi Awam dan membentuk Keluarga Chevalier dan Tim Ametur Indonesia.

Asosiasi awam ini memiliki peranan penting bagi perkembangan MSC khususnya pembinaan calon imam. Setelah jabatannya sebagai Provinsial MSC Indonesia selesai, ia berniat meliburkan diri tetapi keinginan ini belum tersampaikan, Provinsial baru, Pastor Benedictus Rolly Untu, MSC (sekarang Uskup Manado) mendekatinya dan memintanya sebagai Sekretaris Provinsi. Dengan mengesampingkan perasaan-perasaan manusiawi yang muncul, ia menerima tugas ini. “Lagi-lagi mimpi saya melayani umat dan berada di tengah umat kandas,” sebutnya.

Tugas sebagai Sekretaris Provinsial dijalani sampai ada provinsial yang baru yaitu Pastor Johny Luntungan, MSC yang terpilih pada 21 Januari 2017. Pada April 2019, tugas sebagai Sekretaris Provinsi dilepaskan diganti oleh Pastor Yoseph Harbelubun, MSC. Selanjutnya ia bertugas sebagai Prokurator Provinsi yakni mengurus bidang yuridis seperti dispensasi dan laisasi para anggota yang meninggalkan hidup membiara atau imamat dan menghendaki pelepasan dari ikatan-ikatan kaul dan tahbisan diakonat atau imamat.

Saat ini kurang lebih 25 mantan imam, suster, frater yang berkaul kekal, atau diakon yang dibantu pengurusannya sampai mendapatkan dispensasi dari Paus. “Saya hanya membantu mereka untuk menemukan hidup yang layak agar terbebas dari ragam tekanan. Hal ini juga sesuai dengan spiritualitas hati yang bebela rasa,” demikian Pastor Yance.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No.26, Tahun ke-75, Minggu, 27 Juni 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here