Menghibur dengan Menangis Bersama…?

192

HIDUPKATOLIK.COM – Butuh tawa menghalau pedihnya luka
Ada juga air mata ungkapan bahagia
Tapi kalau menghibur dengan meratap bersama?
Ironikah ini kiranya?

Sesaat sebelum senja menjemput terbaca status sahabat kecilku Luci Siahaan di akun Facebook begini: “Seringkali ketika kita sedang terpuruk, kita ga butuh orang menasehati kita. Yang kita butuhkan adalah dia ikut menangis bersama kita.” Permisi ya  Luci, kutipanmu kucomot lengkap sebagaimana adanya tertera setelah minta izin tentu saja. Aku terkesan, sebab bisa merasakan makna terdalam kata demi kata, terlepas  dari sedikit banyak yang kuketahui tentangnya secara kami bersahabat sejak kecil.

Di awal pandemi merebak, tiap menerima kabar ada yang terpapar, tanpa bermaksud kepo, namun justru sebagai bentuk kepedulian selalu muncul tanya  bagaimana bisa terpapar? Ragam cerita mengalir spontan tentang kronologisnya. Semua lalu dijadikan referensi bersama agar saling menjaga. Setelahnya menyusul tambahan berbagi pengalaman  seputar informasi medis hingga cara-cara alami sebagai bekal percepatan penyembuhan.

Setahun berlalu, situasi sempat mereda di mana beberapa bulan ada keadaan mulai bisa melangkah tenang meski dengan segala atribut new normal yang secara sederhana dipahami tak lagi normal sebab defenisi normal itu sendiri pun luas. Memasuki pertengahan tahun kedua, sekonyong-konyong semua berbalik, bagai kembali ke awal pandemi tiba bahkan gelombangnya lebih dahsyat. Tak ada tempat rawat inap bagi pasien, kelangkaan oksigen yang menjadi kebutuhan utama para pasien. Tenaga kesehatan kewalahan dalam lelah dan kehidupan terasa mencekam. Kita takut sama orang lain, sementara orang lainpun takut pada kita. Kehidupan seakan bukan sekedar jaga jarak, tapi cenderung menjauh demi kata selamat.

Bisa lebih dari 6 kali sehari orang mengetik ucapan dukacita atas kepergian kenalan hingga kerabat. Sederet panjang nama dibawa dalam doa harian demi kesembuhan mereka yang berkabar langsung maupun sekadar terlihat dari postingan sosial media. Lara merasuki jiwa, masih pula tambah rumit dengan polemik soal obat mana paling manjur, pilihan vaksinasi paling aman, harga obat tiba-tiba melambung atas dasar hukum ekonomi soal permintaan meningkat, diikuti kesulitan mendapatkan  hal yang sangat dibutuhkan dari tengah publik dan pasar.  Belum lagi sahut-sahutan antarpihak yang meragukan wabah ini tidak nyata, tapi jelas angka pasien terpapar terus melesat. Sempat terbaca dalam ‘perang’ sosial media komentar bahwa ini bukan lagi pandemi tapi ‘invasi’. Konon ada pihak yang menginginkan kehancuran pihak lain. Bagi orang seperti aku yang memiliki jenis otak dangkal-dangkal keruh, pastilah sulit menyeruput pernyataan sejenis atau lanjutan informasi berantai. Maka yang terjadi selanjutnya melumat saja tanpa bisa memisahkan sari dari ampas. Semua tertelan tanpa bisa kulepeh lagi, lalu otak dangkal tadi mampet sudah.

Dulu (sampai sekarang) aku tahu ada istilah kata penghiburan dari orang-orang terdekat bila  kedukaan atau ditimpa bencana. Paling sering terdengar termasuk kerap pula kuucapkan begini: sabar, tabah, tetap kuat, semua sudah tersurat dan lain lain. Namun ketika ayah kembali ke Pencipta saat aku sedang melayang di udara dari Bali menuju rumah mendapati ayah sudah terbaring kaku, kata-kata serupa mampir di telinga bertubi-tubi.

Sabar….! Dalam hati aku berteriak, apa arti sabar di saat aku sangat tidak sabar bertemu Ayah yang baru beberapa hari kutinggalkan karena harus kembali bekerja di Bali,  lalu subuh-subuh ditelepon  supaya kembali ke rumah dengan penerbangan pertama. Lalu kudapati ayah sudah tidak lagi bisa sekadar bertanya, bawa oleh-oleh apa? Sedikit jujur, air matakupun menetes saat menulis kisah ini kembali meski peristiwanya sudah berlalu 28 tahun.

Tabah….! Jangankan tabah, memahami ini terjadi saja belum mampu. Membayangkan kehilangan teman berdebat, guru tempatku belajar dan sosok kuat yang selalu terdepan membela di balik keras garis wajahnya.

Tetap kuat….! Hmmm…. berdiri pun sulit ketika yang kuinginkan saat itu tangan kokoh ayah memeluk,  tapi sudah terlipat di atas perut dengan lilitan kalung Rosario. Terlelap tenang dalam keabadian dengan senyuman.

Lantas…, salahkah orang-orang sekeliling yang membisiki kata-kata penghiburan tadi?

Tentu tidak! Hanya saja saat itu barangkali yang kuinginkan sama seperti keinginan sahabatku Luci… mari menangis bersama untuk merasakan penghiburan. Itu saja!

Tak beda dengan situasi kini, ketika menerima kabar kondisi seseorang terpapar, tak ada kata mampu terucap bahkan sekadar tanya bagaimana terjadinya. Jangankan mengurai kata penghiburan, mengelola ketakutan diri saja butuh upaya ekstra. Tolong jangan terjemahkan ini sebagai ketidakpedulian. Sungguh sangat peduli dan prihatin, tapi memang tak ada lagi kata penguat dapat terurai selain ikut menangis bersama sebagai bentuk keprihatinan sambil tentulah dalam kesendiriaan siap mendaraskan doa. Percaya janji Tuhan yang akan jadi perisai dan mengambil alih segala perkara.

“Ini saatnya iman diimani..!”

Izinkan kujelaskan sedikit, kalimat di atas bukan nasehat dariku. Tapi persis begitu terdengar suara di seberang telepon siang bolong dari Windiarto sahabat lama, fotografer kondang di eranya. Terdengar seperti permainan kata dalam rumus sajak manis. Tapi sesungguhnya sarat makna ingin dia sampaikan dalam situasi tidak mudah ini, ditingkahi serbuan arus informasi yang kadang membuat kondisi tubuh retak perlahan  digerogoti pikiran.

Baru berusaha memahami cara terbaik menyikapi pandemi, segera mentah lagi dengan munculnya artikel tandingan mematahkan segala  teori. Inipun belum disimak, muncul pula pembelaan berikut  keterangan tambahan dari informasi penentang. Begitu terus ‘badai’ postingan merakit sebuah labirin. Saat tersadar sudah terjebak di posisi terdalam, tak tahu jalan keluar apalagi harus bertindak bagaimana. Situasi penuh luka.

Dalam kesendirian kucoba merangkai perkataan dua sahabat berbeda di waktu berdekatan tadi. Ya… saatnya iman diimani… tanpa banyak bicara,  tampak pada tingkah nyata. Begitupun dalam bersimpati di tengah situasi berat, tak  perlu untaian kata, cukup ‘menangis’ bersama.

Tambahan sedikit, bila berseberangan pendapat dalam menyikapi, berarti tak perlu menangis bersama, tapi tolong jangan juga membuat orang lain menangis massal. Memperkeruh suasana saja nantinya.

Permisiiiii….. ini sekadar refleksi diri 
Saat benak kebanjiran informasi
Berusaha tetap memahami situasi
Agar tak terjerat frustasi?
Karena  ini saatnya iman diimani

Salam cinta: Ita Sembiring, Pekerja Seni, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here