Manajemen: Tidak Ada Orang yang Dilahirkan dengan Pengalaman

191
McNamara (kedua dari kiri), mantan Menteri Pertahanan Amerika Serikat.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – SETELAH terpilih menjadi Presiden ke-35 Amerika Serikat, November 1960, John Fitzgerald Kennedy menawari Robert A. Lovett jabatan Menteri Pertahanan. Lovett yang telah berpengalaman serupa semasa Presiden Harry S. Truman, menolak tawaran itu dan memperkenalkan nama Robert McNamara.

Setelah membaca profil McNamara dalam Majalah Time edisi 2 Desember 1960, Kennedy mengundang McNamara untuk wawancara pada 8 Desember. Kennedy didampingi orang kepercayaan yaitu adik bernama Robert F. Kennedy. Saat itu McNamara mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa tentang pemerintahan. Atas pengakuan McNamara itu, Kennedy mengatakan bahwa dirinya juga tidak tahu bagaimana caranya menjadi presiden. Kennedy mengajak McNamara belajar bersama-sama. “Tidak ada orang yang dilahirkan dengan pengalaman,” kata Kennedy membesarkan hati McNamara.

Kennedy terkesan pada McNamara dan menawarkan 2 pilihan jabatan sebagai Menteri Pertahanan atau Menteri Keuangan. Seminggu kemudian, McNamara menyatakan memilih Menteri Pertahanan.

McNamara

McNamara kelahiran San Francisco, California, tahun 1916, adalah lulusan University of California Berkeley, dan Harvard Business School. Segera setelah lulus kuliah, McNamara bekerja di perusahaan jasa akuntansi Price Waterhouse di San Fransisco selama 1 tahun.

McNamara lalu kembali ke Harvard untuk menjadi pengajar muda dalam Akuntansi. Waktu itu Harvard mengembangkan program untuk mengajari perwira Angkatan Udara AS (AUAS) dalam Pendekatan Analitik yang digunakan kalangan bisnis. McNamara pun masuk AUAS sebagai Kapten dengan tugas menganalisis tingkat efisiensi dan efektivitas pesawat pembom semasa Perang Dunia II. Khususnya Armada B-29 pimpinan Mayor Jenderal Curtis LeMay yang bertugas di beberapa wilayah Asia.

Setelah perang, McNamara pensiun muda sebagai Letnan Kolonel. Bersama beberapa veteran AUAS, mereka diterima Henry Ford II di perusahaan Ford Motor. Orang-orang muda ini membantu Ford dalam reformasi perencanaan bisnis modern, organisasi, dan sistem manajemen kendali.

Pada masa inilah McNamara ditawari Kennedy untuk menjadi Menteri Pertahanan dengan gaji USD 25 ribu per tahun. Bandingkan dengan gaji USD 3 juta sebelumnya sebagai CEO perusahaan Ford. Atas pengorbanan finansial ini, McNamara mendapat kompensasi berupa kebebasan mengangkat semua personel penting selama memimpin Pentagon itu. Kennedy setuju, “it’s a deal“.

McNamara adalah penasihat dekat Presiden Kennedy yang selalu dimintai pendapat dalam banyak hal, dari masalah keamanan nasional hingga bisnis dan ekonomi.

Kennedy terbunuh pada November 1963 dan sisa masa kepresidenannya dilanjutkan oleh wakilnya bernama Lyndon B. Johnson. Presiden Johnson terpilih menjadi Presiden ke-36 AS hingga Januari 1969. McNamara tetap menjabat sebagai Menteri Pertahanan hingga mengundurkan diri pada Februari 1968.

Selama menjabat Menteri Pertahanan itu, McNamara meningkatkan keterlibatan AS dalam perang Vietnam, mengatasi Krisis Misil di Kuba, Perang Dingin pasca Perang Dunia II, dll. McNamara juga mengembangkan Sistem Analisis dalam Kebijakan Publik yang kini dikenal sebagai Analisis Kebijakan. McNamara pula yang membangun 2 fungsi utama pertahanan yaitu Pusat Intelijen dan Pusat Logistik.

Sebagai Menteri Pertahanan, McNamara bertemu kembali dengan Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal Curtis, mantan atasannya semasa dinas militer.

Setelah mengundurkan diri sebagai Menteri Pertahanan, McNamara menjadi Presiden Bank Dunia, 1968-1981. Di Bank Dunia, McNamara memindahkan fokus perhatian dari infrastruktur dan industrialisasi ke pengentasan kemiskinan. Setelah pensiun, McNamara menjadi pembina sejumlah organisasi termasuk California Institute of Technology dan the Brookings Institution. Belakangan, McNamara menyatakan penyesalannya atas sejumlah keputusannya dalam Perang Vietnam.

Kuadran

“Tidak ada orang yang dilahirkan dengan pengalaman,” kata Kennedy. Juga tidak ada orang yang terlatih menjadi presiden, bahkan untuk mengisi jabatan di tingkat apa pun juga.

Adalah pendidikan berjenjang yang menyiapkan orang untuk berpikir secara sistem dan memecahkan masalah secara terstruktur. Dari permasalahan skala terkecil yang kelihatan di depan mata hingga yang meluas skala regional, nasional, sampai global.

Pendidikan pada bidang tertentu secara mendalam, berhasil membuat seseorang menjadi spesialis. Penugasannya secara melebar ke aneka bidang, bekerja sama dan berkomunikasi dengan orang lain, adalah tahapan latihan untuk menjadikan seseorang berkembang lebih matang dalam kepemimpinan.

Seorang calon pemimpin yang ideal adalah yang memiliki kompetensi teknis dan pengalaman di lapangan dalam bidangnya. Itu betul, namun meminjam piramida manajemen, seorang pemimpin di tingkat yang lebih tinggi adalah yang lebih mampu mengelola strategi daripada taktis apalagi operasional. Manajemen strategi membutuhkan kemampuan melihat jauh ke depan (visioner), memadukan semua elemen dalam kolaborasi, menjadi model, motivasi, dan bertanggung jawab. Seorang pemimpin juga harus berani mengambil risiko, dekat dengan organisasi dan personelnya.

Ada orang yang terjebak berpikir ideal sebagai profesional, sampai membatasi diri sendiri untuk menggali potensi di luar bidang studi atau keahlian. Namun seorang calon pemimpin, justru sebaliknya menggali seluas-luasnya peluang yang berada di luar kompetensi teknis dasarnya seoptimum mungkin.

Kemampuan berkomunikasi dengan muatan inspirasi, motivasi, dan berkolaborasi adalah syarat minimum seseorang dalam memaksimalkan semua potensi di dalam dan di sekitar diri sendiri, sumber-sumber daya, dan organisasi terdekatnya.

Di Indonesia, kita semua mengenal Ignasius Jonan yang berani meninggalkan zona lamanya sebagai profesional puncak dalam bidang keuangan, ke kuadran yang sama sekali baru. Jonan berani menerima tantangan untuk mengelola ekosistem jasa perkeretaapian yang selama puluhan tahun terabaikan. Jonan terjun ke setiap sektor organisasinya, dan menyapa semua personel di tempat-tempat terujung tempat tugasnya. Dengan mengenal manusia dan permasalahannya, Jonan berhasil memetakan jalan reformasi, dan sukses mewujudkan sistem perkeretaapian Indonesia yang baik seperti sekarang ini.

Jonan mendapat dukungan politik negara untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh. Dengan modal itu, Jonan dapat mengatasi tantangan budaya, kendala kedaerahan, dan setiap hambatan lainnya. Tidak hanya membuat perubahan dan memetik buahnya, tetapi juga mewariskan ekosistem pendukungnya. Sistem yang relevan, transparan, akuntabel, dan siap berkembang sesuai kebutuhan.

Visi Pemimpin

Dalam masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo periode pertama (2014-2019), pernah diangkat seorang menteri yang tidak memiliki ijazah formal lebih tinggi dari SMP. Hal ini dianggap luar biasa sebab Indonesia tidak berkekurangan orang berpendidikan tinggi di bidang Kelautan dan Perikanan.

 

Nadiem Makarim

Demikian pula untuk periode kedua (2019-2024), Presiden mengangkat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahkan kini merangkap Riset dan Teknologi (Nadiem Makarim), yang bukan dari kalangan pendidikan. Dan belum lama ini, Menteri BUMN mengangkat seorang musisi menjadi Komisaris perusahaan telekomunikasi. Masyarakat bereaksi tidak percaya hingga meragukan kemampuan mereka.

Padahal sudah jelas bahwa kemampuan teknis seseorang bisa didukung oleh para personel yang dimilikinya. Yang dibutuhkan dari seorang pemimpin adalah kemampuan visi strategisnya, yaitu melihat yang selama ini tidak terlihat oleh para profesional di bidangnya. Kehadiran para pemimpin baru itu akan menambahkan dan memperluas cakrawala dalam proses pembuatan kebijakan, yang justru semakin dibutuhkan di masa kini dan mendatang.

Cosmas Christanmas, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here