Celakalah, (Dengarkan) Alarm-alarm di Sekitar Kita!

87
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – BARU-baru ini muncul berita menghebohkan karena ucapan kontroversial dari seorang wanita bernama Lois Owein. Saking ramenya sampai-sampai tim podcast master DC berniat memanggil bu dokter ini untuk diajak ngobrol, namun sayang ke buru ditangkap. Ibu dokter ini sempat diundang ke acara Hotman Paris Show karena cuitan nya yang menimbulkan kehebohan di dunia maya. Saat diwawancara oleh Hotman, Lois dengan yakin mengatakan tidak mempercayai adanya virus covid.

Tidak sedikit tweeps yang mempercayai dan mengikuti yang di-tweetkan bu dokter di sosmed. Entah mereka itu follower buzzer atau memang fans garis keras, tetapi saat dia ditangkap polisi dan kemudian dibebaskan, sebagian fans berubah menjadi haters yang mempertanyakan mengapa dia dibebaskan. Bikin SHM dan TBH geli sendiri memperhatikan kelakuan pengguna sosmed ini.

Setelah hampir 18 bulan berlalu virus corona masih saja menjadi perdebatan dan semakin diperdebatkan tampaknya si virus semakin merajalela akhir-akhir ini, ditandai dengan semakin seringnya mendengar bunyi sirene ambulans di jalanan. Banyak kalangan yang mengkaitan kondisi pandemi saat ini sebagai suatu hukuman dari Allah, “tanda-tanda” menuju akhir zaman, dan masih banyak lagi nubuat-nubuat lainnya.

Girang setelah divaksin di SVS (Foto: Adhi Adono)

Walaupun ada juga sebagian kalangan, yang tidak mempercayai keberadaannya, tidak ada seorang pun yang bisa melihat sang virus, bagaimana mungkin dia ada? Bahkan orang yang terpapar covid pun terkadang tidak tahu bahwa dia terpapar, hanya orang yang bergejala yang tahu bagaimana rasanya, dari gejala yang menyertai. Gejala ini bisa juga kita sebut “alarm” yang memperingatkan bahwa ada yang tidak beres dengan tubuh kita.

Kata “alarm” mengingatkan saya akan anak semata wayang kami yang selalu bikin gemes dan menimbulkan kegaduhan di pagi hari, hanya gara-gara bunyi alarmnya yang kencang dan berulang-ulang bunyi, namun pemilik alarm enggak bangun-bangun juga. Biasanya yang akhirnya akan membuat dia terbangun adalah “alarm alamiah” dari teriakan saya atau papanya yang mengelegar seantero rumah, mengalahkan alarm dia, ditambah dengan ocehan “kicauan burung” yang enggak akan berhenti hingga dia terbangun.

Sampai suatu waktu, anak kami kena batunya, dia harus mengulang salah satu mata kuliah pagi, karena seringnya dia terlambat mengikuti pelajaran dan ketinggalan beberapa materi kuliah. Dan sebagai kompensasinya, dia harus membayar sendiri biaya untuk mata kuliah yang diulang tersebut. Sejak saat itu anak kami otomatis mulai terbangun saat alarm nya berbunyi.

Sering kali tanpa disadari, dalam kehidupan pun banyak sekali alarm-alarm berbunyi, saat kita melenceng-melenceng sedikit saja dalam hidup. Entah itu peringatan dari orang terdekat, dari khotbah di gereja, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita. Namun seringkali kita tidak hiraukan dan abaikan, kita tidak sadar kalo belum kena batunya.

Celakalah ….. alarm ?

Saat mereview sebuah renungan berjudul “alarm”, yang ditulis oleh salah seorang teman komunitas.  Judulnya yang singkat, padat dan jelas, cukup menyentak buat saya dan ternyata isinya sangat tegas dan bikin bergidik.  “Alarm” dianalogikan dengan peringatan Yesus kepada Kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum dengan kata “Celakalah”.

“Celakalah” menjadi peringatan dan tanda bagi mereka, umat Khorazim, Betsaida dan Kapenaum karena pertobatan mereka sejenis ‘tomat’, sebentar tobat sebentar kumat. Pertobatan sebatas euforia dan lebih karena antusiasme akibat mujizat yang mereka lihat. Tobat saat mendapatkan mukjizat kesembuhan, berkat melimpah atau keajaiban lainnya yang menyenangkan hati. Tetapi saat frustasi, kecewa atau datang godaan mengiurkan, semua pertobatan buyar dan kumat lagi.

Pertobatan mereka sebatas ngefans sama Yesus, mungkin lebih tepat disebut buzzer, mem“follow” karena mendapatkan sesuatu, bukan sungguh-sungguh percaya dan mau dekat dengan Yesus. Seperti yang dialami oleh Lois, fans bisa menjadi sangat fanatik membela atau malahan berbalik menjadi hater saat mereka kecewa.

Dalam kondisi pandemi yang berkepanjangan ini, rasanya manusiawi jika banyak orang menjadi frustasi, kecewa dan kehilangan pegangan. Walaupun sebagian kalangan menyatakan mosi tidak percaya dengan adanya virus corona, tetapi pada kenyataannya kondisi ini menuju ulang tahun ke-2. Lingkaran penyebaran pun saat ini bukan hanya terdengar, tapi terlihat dan semakin mendekat pada orang-orang yang dikenal dan berinteraksi setiap hari, entah di kantor atau di keluarga. Sangat menyakitkan rasanya setiap hari mendengar berita duka hampir di seluruh WAG dan sosmed.

Peserta vaksinasi di Sentra Vaksinasi Serviam (Foto: Adhi Andono)

Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi besok atau lusa, sedih pasti, kecewa iya, takut dan galau apalagi. Namun dalam ketidaktahuan dan ketidak berdayaan ini, tetaplah WARAS – Waspada – Rasional – Sensitif, berjaga-jaga, berpikir positif dan peka terhadap alarm-alarm yang diberikan oleh alam semesta. Kepekaan dan kesadaran dapat timbul dan berkembang saat kita menjalin relasi intim secara terus menerus dengan pemilik semesta.

Dengarkan alarm-alarm di sekitar kita, syukur-syukur jika bisa segera sadar dan kemudian bertobat sebelum ditegur dengan “Celakalah…….” serem deh …..   Mengambil keputusan untuk hidup berdamai dan beradaptasi dengan situasi yang ada tampaknya cukup bijaksana dan sedikit menenangkan. Menjaga diri sendiri dan orang lain dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, jaga imun dan iman.  Jadilah fans yang tetap setia dan percaya penuh akan penyelenggaraan-Nya dalam hidup ini. ISTG No Buzzer, No Hater, Salam sehat.

M.F. Fenny, Kontributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here