Namaku Herman, Sopir Ambulans

100
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – NAMA lengkapku dalam katepe Hermanus Adi Suryo. Pada kolom agama tertulis Katholik pakai th kukan t. Ya hanya sejauh itu kekatholikanku, katholik katepe. Dulu memang masih dipaksa ibu untuk ke gereja terutama Natal dan Paskah, pada minggu biasa tak tentu. Kadang mau kadang tidak. Begitu juga kegiatan lain, sekolah minggu hanya dua kali datang. Yang agak rajin pada persiapan komuni. Tetapi setelah itu menghilang dari gereja.

Jangan tanya seputaran pengetahuan katholikku, apa itu minggu palma, kamis putih, adven, sakramen, siapa ketua lingkungan, nama lingkungan dan wilayah, nama gereja. Nggak ngerti sama sekali. Aku pasti akan minta surat keterangan tidak mampu pada pak RT kalau ditanya seputaran itu.

Kalau ditanya soal ambulan dan penumpangnya aku bisa jawab. Tapi sebelum ditanya aku mau cerita saja dulu.

Bertugas di ambulan membuatku selalu berhubungan dengan yang namanya orang yang dekat dengan kematian atau malahan sudah meninggal. Orang yang tergeletak tak berdaya digotong oleh keluarga atau kerabat atau petugas untuk mendapat pertolongan.

Aku melihat dan sering juga terlibat hingga belajar bahwa sehebat-sekuat-seviral-secantik-setampan apapun dalam keadaan seperti itu pasti membutuhkan orang lain di sekitarnya. Beruntung kalau di sekitarnya itu istri/suani/anak/adik/kakak, perlakuannya berbeda kalau di sekitanya itu petugas bayaran yang mau mengangkat kalau sudah mengantongi “Penari Topeng Betawi.” Dan sangat beruntung kalau ditemukan dan ditolong oleh orang yang dengan tulus menolong. Orang semacam ini tak pernah itung-itungan.

Sangat beruntung kalau di rumah sakit atau klinik diterima oleh satpam, parawat, dokter yang berhati emas. Nyawa harga mati, semboyannya. Mereka dengan cepat, tepat, cekatan, trampil, trengginas hinga pasti selamat, nyawanya yang sudah siap berangkat akan balik lagi. Dalam beberapa hari perawatan akan kembali ke rumah.

Kasihan juga orang yang sudah tinggal satu-dua napasnya masih harus menunggu perawat yang baru keluar ICU untuk cari makan, satpam yang ogah-ogahan karena mengganggu  keasyikan nonton youtube. Petugas magang yang mencatat seluruh data diri pasien dengan detail. Patugas baru mau mengangkat kalau sudah ada jaminan pasti bayar dari kasir. Saya harus menunggu hampir satu jam untuk memindahkan pasien dari depan pintu UGD ke dalam ruang ICU. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan keadaan dan situasi seperti itu tetapi sebagai orang awam pasti akan sangat khawatir keselamatan pasien. Saya aja yang hanya sopir merasa jengkel. Kalau kemudian mati sebelum ditangani ungkapan klisenya, “sudah waktunya.”

Orang kalau sudah menjadi jenazah hanya jadi tontonan, tidak ada yang berani mendekat. Kasarnya sudah seperti bangkai binatang. Apalagi yang matinya itu mengalami kecelakaan, hanya petugas yang boleh menyentuh. Awal bekerja di ambulan dan mengangkut orang yang belum lama meninggal aku nggak bisa makan. Aku diajari oleh senior di ambulan. Harus lihat bagaimanapun wujudnya, mengatakan, dan berdoa, itu kuncinya.

Saat mengevakuasi korban kecelakaan tertabrak truck, aku melihat jenazah yang dikolong, melihat lagi waktu sudah di dalam ambulan, lalu aku mengatakan Pak, mohon maaf, saya Herman yang akan mengantar Bapak ke rumah sakit. Sebelum jalan aku berhenti sejenak, berdoa, “Ya Tuhan beri kami kelancaran dalam perjalanan.” Pernah sebelum diajari senior, ada saja kendalanya. Biasanya perjalanan tidak lancar, rasanya sudah digas mentok tapi ambulan nggak mau lari.

Lain kalau membawa jenazah dari rumah duka ke pemakaman. Kalau orang-orang biasa di perkampungan itu ramai seperti pawai. Saya terkadang bingung mengapa seperti ini. Di depan ambulan ada puluhan motor bermodal bendera kuning. Dari orang tua, remaja, anak-anak ikut semua. Di belakang mikrolet dan metromini. Usai pemakaman kembali ke rumah duka untuk makan siang. Aku nggak dapat makan siang karena langsung balik kanan.

Kalau dari kalangan menengah biasanya lebih kalem. Ada mobil keluarga dan bus medium untuk keluarga yang memilih naik mobil. Motor tidak ada. Makan minum sudah tersedia di mobil. Perjalanan juga kalem tidak acak-acakan. Kalau yang ini aku dapat pasti jatah bahkan berlebih.

Kalau pejabat atau orang besar sangat meriah dalam kesunyian. Di depan ada empat polisi sebagai pembuka jalan, lalu ambulan, di belakangnya puluhan mobil kerabat, dan terakhir bus-bus yang berisi rekanan dan handai taulan. Sebelum pulang semua diarahkan ke aula untuk santap siang bersama yang sudah disiapkan. Karena mereka tahu juga kalau ambulan harus segera balik kanan, kami sudah diberi jatah segambreng makan siang, kudapan, dan air mineral, terkadang ada amplopnya juga.

Sampai 2019 aku masih menyaksikan dengan mata kepalaku bagaimana orang-orang membludak di rumah duka. Mereka melepas ayah, bapak, suami, anak, bos, guru, kerabat dengan air mata tiada henti. Kalau saya ibaratkan seperti mata air di kaki gunung. Tissu selalu tersedia dan habis. Memang raga dengan sendirinya bereaksi kalau rasa hati tersentuh. Air mata dan ingus pasti keluar. Saat itu terutama keluarga sangat kehilangan sosok yang dalam peti mati atau keranda. Saat itulah masih bisa menyaksikan secara fisik ada, esok sudah tidak ada. Sudah tidak menemukan di kamar, di ruang tamu. Ada yang terenggut paksa. Tak jarang karena terlalu sedih  sampai pingsan. Mereka belum mau berpisah tetapi terpaksa berpisah. Aku merasa tidak sendirian karena mereka turut mendoakan aku yang di belakang kemudi supaya lancar sampai tujuan. Amin.

Aku biasanya juga ikut sedih tetapi aku tahan-tahan supaya dalam membawa kendaraan lancar. Biasanya aku teringat dan ikut sedih kalau mengantar ibu, apalagi ibu muda yang anaknya masih sangat membutuhkan ibunya.

Aku pernah mengantar seorang ibu guru yang menurutku luar biasa. Dari celoteh dan beberapa obrolan, Ibu Guru ini meninggal di kelas ketika sedang mengajar. Murid-murid hiteris ketika gurunya yang sedang mengajar tiba-tiba terkulai dan telungkup di meja guru. Katanya serangan jantung. Tapi yang mengantar itu luar biasa seperti pejabat penting. Ada polisi yang membuka jalan, mobil pribadi dari keluarga dan guru-guru, lalu ada sembilan bus, nyaris seluruh sekolah menghantarnya.

Selama covid-19 ini aku mengantar jenazah selalu dalam sepi-senyap. Tak ada iringan doa, tak ada tissu, tak ada air mata dan ingus yang keluar, tidak ada mata sembab karena menangis. Air mata sudah kering laksana mata air di kaki gunung pada saat kemarau panjang. Manusia sudah kehilangan rasa sedih. Bahkan doa-doa yang menghantar mulai lenyap, kalaupun ada doa-doa dilakukan setelah jenazah ada di dalam tanah atau dikremasi. Katanya sekarang ini doa-doanya online, aku nggak mengikuti karena jelas tidak masuk dalam jaringan atau sedang mengantar jenazah yang lain.

Terpapar atau tidak yang sering dan makin sering aku lihat, jenazah benar-benar sendiri tidak ada orang-orang di sekitarnya. Sampai petugas datang untuk mengangkat. Terkadang aku yang sopir harus ikut mengangkat peti karena benar-benar nggak ada orang. Kalau meninggal karena terpapar covid lain ceritanya.

Di jalan aku tertolong sirine, tetapi karena mungkin sudah terlalu sering mendengar suara sirine,  kendaraan lain terutama mobil pribadi tidak mau minggir. Kalau bus dan truck malahan selalu memberi jalan.

Seminggu lalu aku dan Sonny mengantar jenazah ke Purwokerto. Aku bersyukur Sonny mau jadi sopir tengah karena aku sudah kecapaian nggak ada libur. Sonny ini aktivis gereja dan punya banyak kenalan Romo, Suster, Dewan Paroki, Staff di gereja. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta kami ngobrol banyak. Tentu salah satunya tentang kematian.

“Man …, kata Romo Ronny, yang lebih dulu mati itu orang-orang yang pinter-pinter dan suci-suci,” kata Sonny dengan ringan.

“Ah … masa begitu? Mana buktinya?” sahutku cepat.

“Itu yang barusan kita antar, asal kamu tahu ya, beliau ini pejabat di BUMN, donatur tetap paroki kita, donatur seminari, aktif di lingkungan sampai paroki, anggota legio maria, prodiakon. Anak istrinya juga aktivis.” jelasnya.

“Ok … deh aku ikuti teorimu yang mati duluan itu yang pinter-pinter dan yang suci-suci, atinya yang bodo-bodo dan banyak dosanya belakangan,” kataku menyimpulkan.

“Man, kamu ingat nggak pelajaran SMA, kata Pak Guru, waktu itu ada hujan meteor yang memusnahkan makluk hidup di muka bumi ini, salah salah satunya dinosaurus, apa covid- 19 itu separti meteor ya,  Man? ” guman Sonny.

“Tak ada secuilpun pelajaran yang kuingat, makanya aku hanya jadi sopir ambulan, yang kuingat sampai sekarang hanya waktu disuruh lompat jendela 50 kali karena aku ketangkap basah masuk kelas lewat jendela oleh Pak Nico,” jelasku.

“Ah … kamu ini Man… , bodo kok dipelihara, “ sahut Sonny.

“ Ya gitulah, Son…  aku ngak mau jadi orang pintar …. takutnya ….,“ kataku datar.

“Maksud lue…? “

Oleh Nicolas Widi Wahyono

HIDUP, Edisi No. 31, Tahun ke-75, Minggu, 1 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here