Empat Puluh Ribu Langkah, Tapak-tapak Menuju Sendangsono

146
Para frater, teman-teman seperjalanan ke Gua Maria Sendangsono. (Foto: Dokpri)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – BAGI komunitas Seminari Tinggi Anging Mammiri, Yogyakarta (Seminari Tinggi Keuskupan Agung Makassar), bersepeda, naik sepeda motor atau menggunakan kendaraan menuju tempat ziarah rasanya sudah terlalu biasa. Terutama bersepeda, kebiasaan menggunakan kendaraan ini sudah pasti kami laksanakan pada bulan Mei dan Oktober.

Pada bulan Desember tahun lalu, beberapa anggota komunitas ingin mencoba cara yang berbeda untuk berziarah. Tepatnya lima orang yakni seorang romo dan empat orang frater. Kami ingin berjalan kaki menuju Gua Maria Sendangsono. Dalam istilah Jawa, berjalan jauh biasanya disebut napak tilas, sebuah perjalanan untuk mengenang perjalanan seorang pejuang/tokoh di masa lalu. Teman-teman frater dari Regio Jawa pasti sudah terbiasa dan sudah pasti akrab dengan kegiatan semacam ini.

Berjalan menuju Sendangsono dengan memperhatikan prokes. (Foto: Dokpri)

Kelima orang yang ingin mencicipi perjalanan yang extraordinary ini, sudah memantapkan tekad untuk berangkat pada tanggal 28 Desember 2020. Tentu saja beberapa hal dipertimbangkan, terutama karena masih masa pandemi, kami berjalan dalam kelompok kecil saja. Lagipula, tawaran ini terbuka untuk seluruh penghuni Seminari, tetapi lima orang saja yang mengiyakan.

Perjalanan kami mulai dari rumah Pak Saryono, salah seorang karyawan Seminari. Kebetulan kompleksnya tepat di samping Selokan Mataram, jadi memudahkan kami untuk menelusuri jalur air yang sarat catatan sejarah itu. Kami memang mengambil jalan alternatif menelusuri Selokan Mataram. Selain karena jalurnya lebih gampang, perjalanan melalui jalan ini juga cenderung agak sepi karena tidak melalui jalan utama.

Setelah mengganjal perut dengan beberapa jenis makanan yang disiapkan Pak Saryono, pada pukul 09.00 WIB, kami memulai langkah pertama untuk perjalanan yang ‘mungkin’ agak berat ini.

Seperti banyak hal dalam dimensi hidup, ‘yang awal-awal’ memang sangat menggairahkan. Kita terlalu bersemangat untuk sesuatu yang baru saja dimulai. Begitu pun kami yang mengayunkan langkah pertama dengan tawa dan semangat. Sebelumnya kami tak lupa memohon bimbingan Tuhan dalam perjalanan kami kali ini.

Tak lupa juga kami masing-masing mengaktifkan aplikasi Strava, aplikasi android yang bisa mengukur jarak dan lamanya perjalanan yang kami lakukan. Kebetulan saat itu, kami tergabung dalam kegiatan Caritas Christmass Cross Challenge. Kegiatan ini merupakan aksi penggalangan dana oleh Caritas Indonesia-KWI dengan bentuk pengumpulan poin untuk menyalurkan bantuan kepada guru-guru di pelosok Indonesia. Adapun kegiatan penggalangan dana melalui olahraga ini digagas Asosiasi Alumni Jesuit Indonesia (AAJI). Partisipasi kita adalah dengan berolahraga seperti lari dan bersepeda. Jarak yang ditempuh akan dikalkulasi ke dalam poin yang akan diuangkan oleh donator dan pihak penyelenggara.

Rasanya, alam masih memihak kami kali ini. Perjalanan kami dari Timur menuju Barat, sehingga pada sekitar pukul 09.00, perjalanan kami membelakangi sang surya sehingga tidak  terlalu panas.

Romo Anthon Pabendon, yang baru saja pindah dari sebuah paroki di Toraja masih sangat fit bersama kami. Kontur georafis di tempat lamanya memang agak sulit dan berbukit-bukit. Pantaslah jika Romo Anthon sangat akrab dengan kegiatan jalan kaki. Sedangkan kami para frater yang sudah cukup lama di Yogyakarta paling hanya bermain bola atau olahraga lapangan lainnya, tidak terlalu biasa berjalan jauh. Bagi saya sendiri, perjalanan ini cukuplah berat. Namun, melihat semangat dari Romo Anthon dan rekan frater, rasanya agak absurb jika saya justru menunjukkan ekspresi loyo. Saya menyadari bahwa kekuatan perjalanan kita (di mana pun konteksnya) sangat dipengaruhi oleh bagaimana anggota lainnya membangun semangat. Di dalam kelompok pasti ada yang berperan sebagai penggerak yang memotivasi anggota yang lain.

Kami menyusuri Selokan Mataram, melalui jalan aspal yang cukup sempit di sampingnya. Jalannya tidak terlalu ramai. Hanya sesekali saja kendaraan bermotor melaju di jalan ini. Kami juga  melalui beberapa perkampungan yang sejauh saya amati cukup sepi. Mungkin karena masih dalam masa pandemi sehingga masyarakat tak banyak beraktivitas di luar ruangan.

Tetap semangat menelusuri jalan setapak. (Foto: Dokpri)

Yang menjadi pergulatan sendiri bagi saya adalah ketika kami sudah berjalan lebih dari 10 km, namun belum pernah berhenti untuk beristirahat. Saya lebih banyak berjalan di belakang kawan-kawan, mengamati mereka yang tampaknya tak pernah kelelahan. Tumit kaki saya juga sudah mulai lecet oleh sendal yang ternyata tidak cocok untuk perjalanan jauh. Fr. Yudit, salah seorang rekan perjalanan, harus sesering mungkin bergantian sendal dengan saya  untuk meminimalisir luka pada kaki saya.

Rasanya agak memalukan jika saya yang masih muda harus mengatakan bahwa sepertinya kami harus beristirahat. Saya melihat kawan-kawan yang lain juga masih  terlihat kuat dan tak begitu menunjukkan ekspresi kelelahan. Keadaan yang melelahkan kadang kala memicu kita untuk melakukan tindakan yang sedikit gila untuk sekadar menghibur diri. Seperti ketika kami sudah mulai mendaki,  Fr. Yudit dan saya terlalu banyak bercanda. Ketika bertemu dengan sekelompok anak-anak yang bertanya soal tujuan perjalanan kami, Fr. Yudit menjawabnya dengan bahasa yang tak jelas, seolah-olah sedang berbicara dalam bahasa Thailand. Saya tak bisa menahan tawa, sedangkan anak-anak tadi melongo mendengarnya. Akhirnya mereka lari dan berteriak..”Itu bule. Loooo.” Mereka mengira kami bukan orang Indonesia. Selepas mereka pergi, kami berdua melepas tawa. Tindakan yang agak konyol itu setidaknya bisa mengobati rasa lelah.

Akhirnya kami sampai di Sendangsono, sebuah tempat yang entah mengapa, selalu mengundang saya kembali mengunjunginya. Teringat, kenangan beberapa bulan lalu saat ziarah komunitas, saya mulai jatuh cinta pada tempat ini. Entah karena suasananya yang sunyi dan tenang, nuansa mistis ataukah panataan tempatnya yang indah yang membuat saya selalu ingin ke tempat ini. Kami beristirahat sejenak, membersihkan diri dan menuju sebuah warung makan yang menyajikan menu khusus. Setelah tenaga kembali pulih, kami kemudian masuk ke pelataran Gua dan berdoa bersama Bunda Maria.

Merasakan keheningan di pelataran Gua Maria Sendangsono (Foto: Dokpri)

Rasanya sangat damai saat berdoa diterpa desiran angin dan sejuk pohon cendana menaungi kami. Sesekali kudengar para peziarah lain keluar masuk ke sekitar tempat berdoa. Orang-orang datang dan pergi silih berganti, tetapi kami ingin berlama-lama lagi, entah karena ingin menenangkan diri dari kebisingan Kota Yogyakarta, merehatkan diri dari rasa lelah berjalan, ataukah memang ingin mendengar sapaan-sapaan Tuhan bersama Bunda di tempat ini. Tentu saja kami mempunyai alasan masing-masing.

Merasa cukup untuk berdoa, kami kemudian duduk di sebuah pendopo. Kami banyak bercerita tentang perjalanan hari ini. Kami tak lupa memperhatikan Aplikasi Strava yang mengukur jarak perjalanan kami hari ini. Ternyata perjalanan kami mencapai 20 kilometer, sebuah jarak yang cukup jauh untuk pejalan kaki. Kami menghabiskan lebih dari empat jam untuk menyelesaikan perjalanan ini. Saya kemudian menimpali bahwa kemungkinan langkah yang kami buat hari ini lebih dari 40.000 jika dalam satu meter kami melangkah rata-rata dua kali. Ternyata memang sangat jauh. Namun jarak itu tak masalah, lagipula semuanya sudah terbayar dengan segala rahmat yang ditawarkan oleh Sendangsono, sekaligus kami bisa melatih fisik agar lebih kuat lagi.

Tak terasa, matahari telah merunduk, dan jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Kami harus bergegas pulang ke seminari. Masih ada 40.000 langkah lagi yang akan kami selesaikan hingga malam menyambangi perjalanan kami.

Penulis dengan latar Gua Maria Sendangsono (Foto: Dokpri)

Fr. Kelvin Tandiayu’, Calon Imam Keuskupan Agung Makassar, Sulawesi Selatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here