KAMAR

108
Ita Sembiring
1/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – MALAM menjemput, begitu senyap. Di langitpun tak ada bintang. Katrina bergidik sambil menggeser duduk mendekati Ibunya yang juga ikut memperhatikan arah datangnya suara.

“Suara itu lagi! Seperti yang lalu-lalu. Suara apa ya itu, Bu…., aneh….!” bisik Katrina berusaha berlindung pada Ibunya.

“Tidurlah…..!” bujuk Ibu.

“Aku takut. Kenapa kita tidak pindah saja, supaya lebih tenang.”

“Ke mana…? Semua tempat sama. Sudah bagus kita punya tempat tinggal besar begini warisan kakekmu. Ketenangan hidup bukan ditentukan tempat di mana kita tinggal, tapi bagaimana menjalani kehidupan.”

Katrina diam. Sulit mencerna ucapan Ibu untuk ukuran otak kecilnya. Larangan mendekati salah satu kamar ini saja sudah membingungkan. Kenapa juga harus ada kamar misterius, pantang  didekati lewat titipan sederet ancaman bila coba-coba melanggar. Selalu terkunci rapat dan hampir setiap akhir pekan selalu muncul suara-suara yang di telinga Katrina terdengar aneh.

Bertahun-tahun hanya  Ibu yang boleh masuk dengan alasan membersihkan dan dilakukan penuh rahasia. Membawakan bunga-bunga cantik, seprei putih bersih, parfum khusus, lalu mengunci diri di dalam. Pemahaman sederhana Katrina, itulah ritual rutin harus dilakukan Ibu demi ‘keamanan’ mereka agar tidak terganggu. Pokoknya kesan tercipta dari kamar itu di kepala Katrina adalah istimewa, angker dan harus dipelihara dan paling penting jangan mendekat apalagi masuk. Semua itu diterima saja sebagai bagian hidup bahkan hampir terlupakan  kalau sedang  tidak terdengar suara-suara aneh. Apalagi belum pernah ada gangguan berarti apalagi menyeramkan. Seiring kesibukan Katrina dengan tugas-tugas kuliah, kamar itu terabaikan meskipun dari semua ruang, kamar terlarang paling disukainya sebab  menghadap taman samping dengan akses keluar masuk langsung dari luar selain pintu menyambung ke ruang dalam.

Meski tanpa alasan jelas, atas dasar suara-suara aneh Katrina menyimpulkan  kamar itu angker dan memilih mengabaikan saja. Seperti malam ini beberapa kali terdengar bunyi-bunyian yang tak mampu diterjemahkan, sesekali mirip teriakan tertahan. Satu hal yang dia ingat sejak kecil, setiap bunyi-bunyian teriakan tertahan Ibu langsung membawanya menjauh. Semua itu tersimpan dalam hati ditingkahi ketakutan berbungkus penasaran yang akhirnya pupus saking terbiasa.

***

“Jadi, kamu terlahir dalam suasana kehidupan Ibumu porak poranda?” tanya Fabio.

Katrina mengangguk.

“Sampai sekarang tidak pernah mencari tahu keberadaan ayahmu?

“Kalau dia saja tidak mencari keberadaanku, masih  gunakah mencari tahu dia di mana? Lagian sekiranya bertemu, bisakah dia  menerima? Kenal pun tidak, bahkan bisa jadi malah tidak tahu kalau aku pernah ada.”

“Tidak menyimpan rindu?”

Katrin menggeleng tegas. Fabio menatap seksama kekasihnya itu, seakan ragu bila tak terbersit rindu di hatinya.

“Kamu boleh bohong padaku. Tapi tolong jangan dustai dirimu. Yakin tak pernah terbersit rindu?”

“Fabio.., jika kelak kamu pergi, aku akan sangat merindukanmu. Karena apa? Kamu selalu peduli, mencintaiku, selalu ada untukku. Tapi ayahku…? Aku bahkan tidak tahu bentuknya seperti apa. Malas banget merindukan sesuatu yang abstrak. Enggak penting!”

“Ibumu juga tak pernah cerita?”

“Jangankan cerita, mengingat saja Ibu tak sudi. Sudah dihapus  semua tentangnya. Aku bahkan lupa apa defenisi dari kata ayah.”

“Sedikit pun Ibu tidak menceritakan apa-apa tentangmu?”

“Yang kuingat hanya soal nama. Ibu bilang namaku Katrina karena saat aku lahir, hidup Ibu bagai dihempas badai.”

Fabio terkesima mendengar kisah di balik nama kekasihnya. Meski terdengar indah, sesungguhnya diambil dari nama badai terkuat dan mematikan dalam sejarah Amerika Serikat dilihat dari dampak serta jumlah korban. Bahkan akibatnya pada pesisir Lousiana, Mississippi juga New Orleans masih terlihat jelas selang 5 tahun setelah serangan badai Katrina. Sedahsyat itulah pilu serta luka ditinggalkan ayah Katrina hingga Ibunya memilih nama itu untuknya.

“Kenapa ya memilihkan nama justru semakin  membuat selalu teringat lara hati. Bukankah sebaiknya sesuatu yang membawa sukacita agar terlepas dari kenangan pahit.”

“Tiap orang punya cara menyimpan kenangan baik maupun buruk. Begitu juga tiap individu bisa tetap menghargai seseorang dengan ragam latar belakang. Seperti kamu Fabio. Cintamu tak luntur meski tahu latar belakang hidupku getir.”

“Keberadaanku di masa kini dan ingin menjelang masa depan bersamamu. Jadi masa lalu luput dalam catatan cintaku.”

“Terima kasih Fabio. Untung kita bukan Dora Emon yang suka masuk laci dan kembali ke mesin waktu ya. Lalu kembali ke masa lalu. Pasti sudah tercoretlah aku dari peradaban.”

Keduanya terbahak.

“Dari dulu ada satu ketakutanku. Tak bakal ada orang mau meniti masa kini dan merenda masa depan bersamaku hanya karena masa lalu,” lanjut Katrina mendadak sendu.

“Aku akan menuntunmu melangkah di masa kini menuju masa depan,” tegas Fabio.

Katrina lega, seakan semua beban terlepas saat silsilah tak lagi penentu nasib.

“Tapi aku masih ada pertanyaan masa kini dan kamu harus jawab. Tentang kamar ‘angker’ itu.”

Katrina mendadak serasa sesak nafas.

“Maafkan… ! Bukan tak ingin bercerita atau menyimpan rahasia darimu. Aku sungguh tak tahu selain juga ini termasuk salah satu hal tak hendak kubahas, bukan saja di masa lalu, masa kini apalagi masa depan, tapi sepanjang masa.

***

Langit menghitam, hujan deras persis saat Katrina menjejakkan kaki di beranda. Sepi, sebagaimana hari-hari biasanya, sebab penghuninya pun hanya ibu dan anak itu.  Langkah Katrina terhenti melihat pintu kamar angker terbuka sedikit. Dengan nafas tertahan dia mengintip hati-hati. Pria setengah baya tengah berbincang dengan Ibu berdiri menyamping sehingga wajahnya jelas terlihat. Di sebelah Ibu ada wanita muda berkulit putih dengan lekuk tubuh nyaris sempurna. Wajahnya tak terlihat sebab membelakangi.

Suara hujan ditingkahi badai angin membuat Katrina sulit menyimak percakapan, tapi jelas terlihat Ibu menerima segepok uang lembaran seratus ribu. Dan betapa kaget Ibu saat melangkah keluar, menutup pintu dan Katrina sedang menatap tajam.

“Bu…..!”

“Kamu enggak kuliah?” Ibu  berusaha  tenang tapi suaranya  bergetar termasuk tangan yang menggenggam gepokan uang.

“Andai tahu dari mana sumber uang kuliahku, seharusnya tak perlu kuliah, Bu. Dari kecil aku diajarkan moralitas dan hari ini kutahu kalau biaya  belajar soal moral itu bersumber dari kegiatan amoral.”

Dengan bibir makin gemetar Ibu bermohon anaknya mendengar penjelasan. Tapi Katrina langsung mengunci diri  sambil bercucuran air mata. Belasan tahun patuh agar menjauhi  kamar terlarang. Sekian lama mendengar suara aneh yang diterima sebagai  sebuah misteri peninggalan rumah tua tapi ternyata hanya desahan nafsu teriakan birahi. Kepatuhan serta hormat pada Ibu sebagai orangtua tunggal yang tak ingin melukai lagi membuatnya menerima semua sebagai sebuah misteri angker keberadaan  ruangan terlarang dalam hunian mereka.

Benar sekali.. kamar terlarang karena di dalamnya berlangsung perbuatan terlarang. Hari ini, untuk pertama kali dia menyesali dinamai Katrina badai terdahsyat di Amerika, sebab akhirnya hidup  selalu bagai dihantam badai beruntun. Sepanjang  malam tak mampu terpejam, sebab kornea dipenuhi wajah pria dalam kamar terlarang ditemani bayangan wanita semampai. Menyesali betapa  bodohnya begitu saja percaya dengan dongeng maupun ‘ritual’ ciptaan Ibu atas keangkeran kamar  berikut suara  aneh dibumbui kisah menakutkan sejak kecil.

***

Perempuan berambut kecoklatan dengan tubuh semampai menuntun Katrina memasuki ruang kerja mewah. Mempersilahkan masuk lalu menutup pintu kembali. Tubuh perempuan itu menghilang, tapi seluruh anatomi tubuhnya tertinggal di ingatan Katrin.

“Silahkan duduk,  Kat. Sendirian? Oom pikir bareng Fabio tadi.”

“Fabio ada kuliah, Oom. Lagian dia enggak tahu saya ke sini.”

Pria yang dipanggil Oom itu menaikkan alis hingga menimbulkan  kerutan halus di kening.

“Saya mau mengembalikan dompet, Oom, tertinggal di rumah saya.”

“Rumah kamu?”

“Tepatnya kamar tamu, di bawah bantal. Isinya utuh. Permisi, Oom…!” Katrina bergegas pergi meninggalkan pria itu terduduk kaku. Katrin menoleh sekali lagi, memastikan pria yang  sesungguhnya bakal jadi calon mertuanya itu tidak terkena serangan jantung. Tak hendak repot jadi saksi sekiranya itu terjadi sebab dia orang terakhir yang ditemui.

Katrin meninggalkan kantor Ayah Fabio tanpa rasa marah bahkan tanpa rasa apapun. Kosong! Keinginannya saat itu satu, segera bertemu Fabio dan bertanya: “Masihkan kita punya masa depan sementara masa kini saja sudah porak poranda dan masa lalu tercatat kelam?”

***

“Dari kecil sampai sekarang, aku hanya mengenal Ibu yang penuh cinta, berjuang untuk anak tanpa pernah mengerti apa yang Ibu lakukan saat berjuang. Yang  kutahu Ibu telah memenuhi semua kebutuhan  tanpa aku kenal kata susah dan tinggal menikmati. Percaya saja Ibu punya bisnis online. Benar adanya Ibu punya bisnis online unik, rapi, sangat aman buat ‘konsumen’  sebab ibu telah menyediakan ruang ‘terlarang’ untukku di rumah ini untuk sebuah perbuatan terlarang.”

“Ibu bukan cuma tidak punya siapa-siapa saat kamu lahir, tapi juga tidak memiliki kemampuan apa-apa. Rumah besar ini satu-satunya milik …. ”

“Cukup, Bu. Kita tidak bisa menutup semua yang sudah terjadi. Tapi kita masih bisa menutup bisnis ini. Masih ada masa depan sekalipun masa lalu kita penuh luka dan masa kini pun sudah porak poranda. Maaf dan cinta akan menyelesaikan semua,” Katrin berkata tulus. Dalam hati dia pun merasa bersalah sudah begitu egois menikmati semua fasilitas mewah Ibu tanpa pernah mau tahu secara detail. Bagaimana juga dia merasa turut punya andil dalam kesalahan Ibu.

Ibu menatap Katrina memohon iba, Katrina memeluk Ibu penuh kasih. Yakin badai pasti berlalu, namun perjuangan menata masa depan tetap berpacu.

Oleh Ita Sembiring

HIDUP, No. 34, Tahun ke-75, Minggu, 22 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here