Dari Altar-altaran Menuju Altar Kesetiaan, Lima Tahun Tahbisan Episkopat Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm

63
Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm usai ditahbiskan sebagai Uskup Malang. (Foto: Dok. Keuskupan Malang)

 HIDUPKATOLIK.COM – Waktu kecil ia dan kakaknya sering main romo-romoan. Hostinya mereka buat dari kue dolar, piala dari tempat puding, meja kecil di alas serbet, dan jubah dari handuk putih.

“SAYA tak menyangka dia dipilih Paus menjadi Uskup,” kisah Maria Magdalena Sri Wahyuni soal penunjukan anaknya Pastor Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm sebagai Uskup Malang. “Saya terkejut!” sambungnya.

Magdalena mengingat. Setelah bertemu Duta Besar Vatikan di Jakarta, Pastor Pid, sapaan sang putra, segera mengabarkan perihal penunjukannya oleh Takhta Suci. Sebuah pesan yang membuatnya begitu bahagia. “Ibu, mohon doa. Saya dipilih Paus menjadi Uskup Malang.”

“Saya ndak percaya. Kok bisa ya? Kan masih ada Romo-romo lain yang hebat-hebat. Tapi, mungkin ini harapan Gereja dan kehendak Tuhan,” ujar kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1928 ini.

Menurut Magdalena, sang anak menjadi uskup adalah anugerah dan kehendak Tuhan. Selama perjalanan hingga saat ini keluarga terus mendukung. Setidaknya sebagai orangtua, ia telah mempersembahkan dua putra terbaiknya menjadi imam yaitu (alm.) Pastor Antonius Gunawan, OCarm dan Pastor Pid. “Ini persembahan terindah dari keluarga untuk Gereja,” ujarnya.

Mgr Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm (kanan) dan almarhum Pastor Antonius Gunawan, OCarm (Foto:Dok Keluarga)

Karena Ketaatan

Berita penunjukan sebagai Uskup Malang juga tak disangka oleh Pastor Pid. Pertengahan Juni 2016 lalu, ia sedang tidak di Indonesia. Sekelompok peziarah memintanya mendampingi berziarah. Dalam ziarah itu, sebuah telepon dari sektretariat Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang, Jawa Timur. “Katanya ada telepon dari Jakarta menggunakan Bahasa Inggris,” ujarnya sambil menambahkan, “Ternyata telepon itu datang dari Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia.”

Setelah kembali dari ziarah, ia bergegas bertemu Mgr. Antonio Guido Filipazzi. Mgr. Pid tiba di Nunsiatura, di Jakarta Pusat, Kamis, 23/6/2016, diterima dengan hangat oleh Mgr. Filipazzi. Tanpa basa-basi, Mgr. Filipazzi menjelaskan Mgr. Pid diangat Paus sebagai Uskup Malang menggantikan Uskup Emeritus Malang, Mgr. H. J.S Pandoyoputro, OCarm. “Informasi ini dirahasiakan dulu sampai sampai Vatikan yang mengumumkannya,” pesan Mgr. Filipazzi.

Seperti cerita-cerita pada umumnya, Mgr. Pid sempat mengalami keraguan. “Saya merasa berat dan ragu-ragu takut tidak mampu mengemban tugas. Saya takut tugas ini tidak cocok bagi saya,” ujar kelahiran Malang, 13 Juli 1955 ini.

Dalam keraguan dan ketakutan, Mgr. Pid meyakini ada nilai yang lebih besar di balik semua ini. Nilai itu adalah ketaatan kepada “Pengganti St. Petrus”.  “Karena ketaatan saya kepada Paus  Fransiskus maka saya menerima tugas ini,” katanya.

Pada Selasa, 28/6/2016, usai Ibadah Sore Vigili Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus di Katedral Malang, Mgr. Pandoyoputro membacakan surat dari Tahkta Suci perihal pengangkatan Mgr. Pid.

Main Romo-romoan

Benih panggilan di hati Mgr. Pid bertumbuh sejalan dengan cita-cita sang kakak Pastor Anton Gunawan. Waktu itu, sang kakak masuk Seminarium Marianum Lawang, Malang. Setahun berselang, Mgr. Pid mengikuti jejak sang kakak. Setamat SD, Mgr. Pid lantas bergabung di lembaga persemaian yang sama.

Mengetahui anaknya masuk seminari, sang ibu begitu senang. Sementara sang ayah merasa tidak rela, tetapi memilih diam. Tidak melarang, juga tidak merelakan. “Seakan membiarkan pilihan kami,” cerita Mgr. Pid. Ayah dan saudari-saudari sempat menakut-nakuti katanya, “Kalau jadi romo, kamu gak bisa pulang sering-sering lho. Gak bisa makan enak lagi, dan tidur sendiri.” Mgr. Pid hanya membalas dengan senyum, “Ngak apa-apa.”

Setamat Seminarium Marianum, Mgr. Pid melanjutkan ke SMA St. Albertus Malang Dempo. Waktu di SMA, ia mulai merasakan benih-benih panggilan yang begitu kuat. Katanya, semua itu karena kesalehan dan kedisiplinan kekatolikan yang kuat dalam keluarga. Lahir dalam keluarga Katolik dan benih-benih iman itu dipupuk dan dipelihara dalam keluarga. “Bersama kakak-kakak kami sering berdoa Rosario tiap malam. Hampir setiap hari mengikuti Misa Harian, dan itu turut mempengaruhi kehidupan rohani kami,” ujarnya.

Sang ibu bercerita, usia  yang hanya terpaut satu tahun dari sang kakak sehingga kerap keduanya bermain bersama. Ketika masa kanak-kanak, keduanya gemar bermain romo-romoan. Mereka menyulap sebuah meja kecil menjadi altar. Kemudian mereka berlagak menjadi imam yang tengah memimpin Misa di depan “altar”. Entah kenapa, sebut Magdalena, mereka itu sering main romo-romoan. Hostinya dari kue dolar, piala dari tempat puding, meja kecil pakai serbet meja, dan jubah dari handuk putih.

Setia Mewarta

Awalnya orangtua heran kenapa kedua anaknya sering bermain seperti ini. Tapi di hati kecil Magdalena, ia berharap ada anaknya menjadi biarawan-biarawati. Ia tak mempersalahkan andai anak-anaknya memilih jalan ini. Hal ini berbeda dengan (alm.) Laurentius Hadiono Gunawan, sang ayah yang tak ingin “kehilangan” buah hati mereka.

Mgr. H.J.S Pandoyoputro, O.Carm (kanan) menyerahkan tugas sebagai Uskup Malang kepada Mgr. Henrcius Pidyarto Gunawan, OCarm. (Foto: Dok Keuskuan Malang)

Mgr. Pid melabuhkan hati ke Ordo Fratrum Beatae Virginis Mariae de Monte Carmelo (Ordo Karmel). Ia menerima tahbisan imam bersama sang kakak pada 7 Februari 1982. Keduanya menerima tahbisan dari Mgr. F.X. Hadisumarta, OCarm, Uskup Malang kala itu di Katedral St. Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang.

Mgr. Pidyarto menerima Tahbisan Episkopal pada Sabtu, 3 Agustus 2016, di Stadion Gajayana Malang. Uskup penahbis utama adalah Uskup Agung Jakarta sekaligus Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Ignatius Kardinal Suharyo; dengan uskup pendamping, Mgr. Antonius Bunjamin Subianto, OSC selaku Uskup Bandung; serta Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono.

Mengemban tampuk penggembalaan di Keuskupan Malang, Mgr. Pidyarto memilih moto, “Fideliter Praedicare Evangelium Christi (Dengan Setia Mewartakan Kristus). “Kesetiaan sebagai murid Kristus adalah kebajikan Kristiani dalam mewartakan Kristus,” demikian Mgr. Pidyarto.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edini No. 36, Tahun ke-75, Minggu, 5 September 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here