Lima Tahun Pertama Mgr. Pidyarto

50

HIDUPKATOLIK.COM – Kepekaan dan bela rasa menjadi semangat misioner Uskup Malang dalam melayani umat teristimewa mereka yang terdampak Covid-19.

UMAT Keuskupan Malang patut bersyukur karena tak menunggu waktu lama untuk mendapatkan gembala umat yang baru menggantikan Mgr. H.J.S Pandoyoputro, OCarm. Proses dikabulkannya permohonan pensiun Mgr. Pandoyoputro seiring dengan penunjukan Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, Ocarm lima tahun lalu.

Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm usai ditahbiskan sebagai Uskup Malang. (Foto: Dok. Keuskupan Malang)

Suksesi sebagai uskup menjadi hal yang wajar terjadi dalam Gereja Katolik. Paus, sebagai pemimpin Gereja Katolik tertinggi memiliki hak prerogatif untuk memilih siapa yang mengemban tampuk kepemimpinan di Gereja lokal.

Uskup sebagai gembala Gereja merupakan pengganti para Rasul. Salah satu tugasnya mewartakan Injil hingga akhir zaman. Uskup diharapkan bisa menggembalakan umat sebagai domba-domba, dan menjaga kawanan domba-Nya. “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah…,” (Bdk. Kis. 20:28).

Tugas inilah yang diharapkan umat Keuskupan Malang kepada gembala utama, Mgr. Pidyarto. Tahun 2021 ini, Mgr. Pidyarto telah lima tahun melayani umatnya.

Bidang-bidang Pastoral

Sejak terpilih, Mgr. Pidyarto “tancap gas” dengan sejumlah program kerja. Pada 28-30 November 2017, dalam Pertemuan Tahunan Keuskupan Malang ke-43, di Rumah Retret St. Maria Magdalena Postel dan Auditorium STFT Widya Sasana Malang, terdapat beberapa rekomendasi penting bagi karya pastoral Keuskupan.

Pastor Antonius Denny Firmanto selaku Vikaris Episkopal Kategorial Kerohanian tampil memberi beberapa rekomendasi penting. Di bidang Dewan Pastoral Paroki, diharapkan peran umat Katolik lewat kegiatan-kegiatan komisi dan kelompok kategorial.

Dalam bidang Pastoral Paroki ada rekomendasi untuk pengembangan kehidupan keluarga. Keluarga Katolik Keuskupan harus menjadikan rumah tangga sebagai Gereja kecil di mana tumbuhnya kesetiaan, cinta, kejujuran, dan saling menghargai. Di harapkan dari keluarga-keluarga Katolik munculnya katekis profesional di setiap paroki. Setiap anggota keluarga hendaknya menjadi misionaris di antara mereka.

Sejalan dengan bidang keluarga, ada juga bidang pendidikan. Penguatan sekolah-sekolah Katolik dalam hal karakter siswa dan katolisitasnya menjadi urgensi saat ini. “Selain itu adanya perhatian kepada para mahasiswa Katolik yang ada di Kota Malang sebagai kota pendidikan,” ujar Pastor Firmanto.

Senada dengan itu, Vikaris Jenderal Keuskupan Malang Pastor J.C. Eko Atmoko juga menambahkan hal yang sama. Menurutnya Keuskupan memiliki perhatian khusus di bidang Pastoral Kaum Muda. “Perhatian kepada kaum muda melalui pendalaman Kitab Suci yang khas kaum muda, pembinaan persiapan hidup perkawinan Katolik dan tindaklanjuti Asian Youth Day di tingkat paroki yang telah berlangsung,” jelasnya.

Mgrl Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm (kanan) di tengah umatnya. (Foto: Dok. Keuskupan Malang)

Hal yang menarik lain adalah beberapa tahun terakhir Keuskupan Malang memiliki perhatian khusus pada bidang Data Umat Katolik. Pengelolaan dan analisis data umat Katolik untuk pengembangan pastoral umat yang tepat sasaran, relevan, dan efisien. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Keuskupan, Pastor Ignatius Joko Purnomo, OCarm.

Menurutnya, pastoral berbasis data menjadi cara pastoral yang baru seiring dengan program komputerisasi saat ini. “Hampir semua paroki sudah mulai bisa merasakan manfaat itu. Misalnya bisa dengan mudah mengetahui jumlah anak untuk pastoral usia dini, jumlah lansia untuk kegiatan lansia paroki, Misa pembaharuan janji perkawinan berdasar data ulang tahun umat.”

Pada tingkat Keuskupan, lanjutnya, paling tidak dengan data tersebut Keuskupan dapat memiliki gambaran yang lebih baik tentang kondisi dan situasi umat Keuskupan, dan dengan data tersebut dapat menetapkan kebijakan dan arah pastoral yang lebih baik pula.

Peka Akan Kebutuhan

Keuskupan Malang adalah Gereja partikular, umat Allah yang terbuka bagi lingkungannya dan berupaya meningkatkan kepekaannnya terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Hal ini sebagaimana tergambarkan dalam materi Sinode Keuskupan Malang pada 24-27 Juli 2002. Fokusnya pada usaha menyatu dengan masyarakat dan peka terhadap kebutuhan orang lain.

Kepekaan terhadap masyarakat yang kecil dan sederhana tergambarkan dengan jelas dalam arti kata “Katolik” yaitu universal, tidak terikat pada budaya tertentu. Secara teologis, Gereja memahami diri sebagai Sakramen, tanda dan sarana keselamatan seluruh umat. Maka Keuskupan Malang juga bisa menjadi sarana keselamatan bagi banyak orang.

Sejak awal kehadiran Gereja partikular ini diharapkan memiliki peran penting dalam upaya mencerdaskan bangsa lewat persekolahan dan lembaga pendidikan di Malang. Tak ketinggalan berperan serta secara aktif dengan memperhatikan aspek-aspek etis dan kemanusiaan di bidang kesehatan. Hal ini begitu terasa di bidang pendidikan. Misalnya, hadirnya sekolah-sekolah di bawah Yayasan Karmel atau rumah sakit milik para Suster Kongregasi Misericordia.

Komunitas Partisipatif

Mgr. Pidyarto menambahkan, kabar baik dimaksudkan bagi semua. Tidak cukup hanya menyapa orang-orang diperkotaan, melainkan juga perlu menyapa mereka yang berada dipedesaan. Diharapkan agar pemberdayaan komunitas basis insani juga dapat mempunyai dampak positif atas penyebaran Kerajaan Allah dari kota hingga pelosok-pelosok di Keuskupan.

Mgr. Pidyarto mengambil contoh soal kepekaan. Virus korona tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi kondisi perekonomian, pendidikan, dan kehidupan sosial umat. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat berimplikasi terhadap aktivitas umat, termasuk aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sebagainya.

“Semangat kepekaan ini membuat kami lebih memilih membantu umat yang terdapkan Covid-19. Pasca pandemi, Keuskupan berpikir program-program efektif dalam membantu umat agar bisa bangkit dari keterpurukan. Atas alasan ini, tidak ada perayaan lima tahun episkopal. Ada kepekaan terhadap situasi sosial dan ekonomi umat beriman,” ujar Mgr. Pidyarto.

Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, OCarm (mengenakan batik) bersama aparat Polri saat akan memberikan sumbangan kepada umat yang terdampak Covid-19. (Foto: Dok. Keuskupan Malang)

Ia juga berharap adanya upaya-upaya karitatif di setiap paroki, lembaga pendidikan, lembaga nonparokial yang berada tergerak hati membantu mereka yang kecil dan terpinggirkan, atau yang terdampak langsung pandemi ini.

Selanjutnya, lima tahun episkopalnya ini, harapan utama adalah Keuskupan harus tampil sebagai komunitas partisipatif di mana faktor bela rasa dan kebersamaan menjadi fokus pastoral di masa pandemi. Lewat komunitas-komunitas basis Gerejawi atau lembaga kategorial, Keuskupan bisa membangun diri sebagai komunitas partisipatif yang berakar pada semangat misioner-dialogial.

Hal ini sebagaimana pesan Kristus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15) yang ditegaskan lagi dalam Dekret Kegiatan Misioner Gereja (Ad Gentes nomor 7), “Allah menghendaki agar semua manusia diselamatkan.”

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP Edisi No.36, Tahun ke-75, Minggu, 5 September 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here