Pemimpin Rohani Senatus Jakarta, Romo Antonius Didit Soepartono: Legio Maria, Mewartakan Wajah Allah

44
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – PADA tahun 2016, setelah menjadi Moderator Pastoral Mahasiswa Unit Timur Keuskupan Agung Jakarta, Romo Antonius Didit Soepartono mendapatkan perutusan menjadi Pembina Rohani Senatus Jakarta menggantikan Romo Petrus Tunjung Kesuma yang ketika itu sakit. Imam yang akrab disapa Romo Didit ini sudah menjadi seorang legioner saat duduk di bangku SMP di Paroki Kelapa Gading, Jakarta Utara. Perutusan sebagai pembina rohani sebuah senatus sangat berkesan. Kecintaannya  dengan Sang Bunda Allah dilihat oleh para imam, khususnya Romo Tunjung.

Dalam rangka 100 tahun Legio Maria, berikut nukilan wawancara dengan imam diosesan kelahiran 15 Agustus 1970 saat dihubungi HIDUP via daring pada Kamis, 16/9/2021.

Bagaimana relasi Romo dengan Bunda Maria? Adakah pengalaman iman yang meneguhkan?

Bagi saya, Bunda Maria tidak ada duanya. Pertama, saya lahir bertepatan dengan pesta perayaan Bunda Maria Diangkat ke Surga, yakni ada tanggal 15 Agustus. Kedua, di usia 30 tahun, pada tanggal yang sama, saya ditahbiskan menjadi imam. Ketiga, pada tahun 1978, saya berusia delapan tahun saat itu, ibu saya mulai mengajak saya berziarah ke Gua Maria Fatima, di Susteran Gembala Baik Jatinegara, Jakarta Timur. Awalnya saya bingung, kenapa setiap tanggal 13 itu banyak orang datang ke situ untuk berdoa. Setiap tanggal 13 dari Mei-Oktober semua orang pergi ke sana.

Seiring berjalannya waktu, kedua orangtua saya yang tadinya belum punya pekerjaan tetap, dikasih. Mereka berdoa agar bisa mendapatkan rumah, dikasih. Ibu dan bapak saya ingin agar anak-anaknya lulus sekolah, dikabulkan. Termasuk, saat ibu saya  berdoa agar salah satu anaknya menjadi biarawan/biarawati. 22 tahun kemudian dijawab juga doa mereka, saya menjadi imam. Sejak saat itu, saya bilang ke ibu saya, sudah enggak usah minta lagi, semuanya sudah diberi melalui perantaraan Bunda Maria. Mulai dari pekerjaan, rumah dan kesejahteraan.

Sejak itu, setiap tanggal 13 Mei Oktober saya dan keluarga berziarah. Dulu motivasi saya untuk ikut berziarah itu dangkal, biar setelah itu dibelikan Soto Betawi oleh Bapak dan Ibu. Dalam perjalan waktu, motivasi itu berubah, saya merasa kebaikan Bunda Maria menjawab semua doa-doa keluarga. Sehingga, sejak saya ditahbiskan setiap tanggal 13 Mei – Oktober, saya berjalan kaki, berziarah ke Jatinegara. Itu saya lakukan sejak tahun 2000. Di mana pun saya bertugas, setiap tanggal 13 saya pergi ke berziarah.

Apa saja tugas dari seorang pemimpin Rohani Legio Maria?

Namanya pemimpin, artinya harus mengatur, mendampingi, melindungi yang dipimpin. Yang dipimpin adalah para legioner dan para dewan. Di Legio Maria itu ada tingkatannya, mulai dari presidium yang ada di paroki. Kemudian di atasnya ada yang namanya kuria, setingkat dengan dekenat. Setelah itu ada komisium, lebih luas lagi cakupannya. Di atasnya komisium, ada regia, di atasnya lagi ada senatus. Di Indonesia, senatus ada tiga yakni Malang, Jakarta, dan Kupang.

Seorang pemimpin rohani harus minimal mendampingi mereka dengan perayaan Ekaristi, rapat senatus, sekarang ini karena via zoom, jadi bisa bertemu. Di rapat itu biasanya para anggota melaporkan kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan. Seperti kunjungan orang sakit, berdoa untuk yang sudah meninggal dan sebagainya. Kami pun juga melaporkan kepada konsilium di Dublin. Dari pertumbuhan anggota sampai kesan pesan ketika rapat.

Misa Acies di Paroki St. Lukas, Keuskupan Samarinda, 1 Juni 2021. (Foto: Dokpri)

Maka 100 tahun usianya merupakan sesuatu yang hendak kami banggakan bersama. Dulu kelompok kategorial masih sedikit di paroki-paroki. Yang dituju ya Legio Maria yang dipakai untuk perpanjangan tangan paroki. Maka legioner bisa jadi lektor/lektris, jadi katekis, prodiakon dan sebagainya.

Jadi tugas seorang pemimpin tidak melulu mengatur, namun mendengarkan dari perwiranya. Biasanya mereka meminta pertimbangan-pertimbangan mengenai ide dan kegiatan. Juga, mendoakan para perwiranya dalam doa pribadinya.

Kenapa pertemuan Legio itu disebut rapat?

Sebetulnya secara teoritisnya, rapat (pertemuan) menjadi yang utama. Bagaimana pertemuan cinta antara Maria dan anggotanya/prajuritnya harus dikomunikasikan. Rapatnya ini rutin. Kalau di presidium, seminggu sekali. Untuk dewan di atasnya bisa sebulan sekali atau tiga bulan sekali, melihat lokasi dan situasinya. Sebetulnya dengan meeting online ini sangat membantu.

Kenapa disebut rapat? Karena sebuah pertemuan yang harus didatangi para anggota/para prajurit Maria yang melaporkan tugas-tugasnya dengan penuh bahagia. Misalkan, mengunjungi seorang nenek yang sakit.

Bagi saya, pertemuan itulah yang menjadi kekuatan bagi para legioner. Ini bukan sebuah pertemuan/kunjungan belaka saja, yang penting saya anggota. Anggota Legio Maria hendaknya melaporkan setiap tugasnya dengan jujur yang dijalankan dengan sepenuh hati dan tidak bersungut-sungut. Melayani dengan sukacita, seperti Bunda Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk. 1:38). Legioner harus melaksanakan tugas dengan sepenuh hati. Sehingga, rapat menjadi suatu yang utama selain tugas-tugas.

Saya sebagai pemimpin rohani, saya meminta para legioner harus wajib melaksanakakan setidaknya rapat, kalau di presidium setidaknya seminggu sekali, di kuria, sebulan sekali juga di senatus. Saya pun jika tidak ada halangan seperti sakit, saya selalu ikut rapat.

Berdasarkan buku pegangan Legio Maria, ada tujuh Spiritualitas Legio Maria, salah satunya adalah Maria harus ditujukkan kepada dunia. Menurut Romo, mengapa Maria harus ditunjukkan kepada dunia? Bagaimana cara legioner mewujudkan sosok Maria?

Pertama, sosok Bunda Maria tidak ada duanya dan yang utama adalah Maria merupakan wanita pilihan Allah. Kedua, saudarinya, Elisabet bahkan bersukacita Ketika Maria mengunjunginya. “Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.” (Lukas 1:42). Yohanes Ketika masih dikandungan Elisabeth melonjak kegirangan karena Ibu Tuhan datang. Bayangkan, Allah yang mencipatkan alam raya ini ada di rahim seorang perawan Maria seorang yang tidak terkenal di zaman itu. Ketiga, Ia merupakan seorang istri, seorang ibu, yang tenang, menyimpan segalanya dalam diam. Tidak banyak ngomong namun banyak berdoa. Keempat, Maria adalah seorang ibu yang bertanggung jawab. Ketika Yesus hilang di Bait Allah, ia tidak tinggal diam, ia dan Yosef mencari Yesus. Bahkan Ketika Yesus menjawab, “mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49). Maria tidak ngomel. Kelima, wanita yang paling lembut dan paling pemberani adalah Bunda Maria. Sampai akhirnya, Bunda Maria-lah yang paling setia. Dari melahirkan Yesus hingga mengikuti-Nya sampai wafat di kayu salib sedangkan para murid yang lain lari kocar-kacir.  Maka, Bunda Maria, Bunda Allah, Bunda kita semua itu harus diwartakan.

Selain meneladani sosok sang bunda, para legioner hendaknya mewujukan wajah-wajah Maria di dunia. Peran Maria, peran Yesus harus ada dalam diri seorang legioner dan ditampakkan dalam kehidupan sehari-hari. Wajah seorang pelayan yang penuh sukacita dan mempunyai sikap kepedulian seperti Bunda Maria. Hal ini juga nampak pada Yesus. Salah satu contohnya pada kisah Yesus memberikan makan 5000 orang. Artinya, Allah yang nampak dalam diri Yesus mempunyai kepedulian kepada orang yang membutuhkan.

Perlu diingat kembali, Maria adalah sosok yang paling setia mengikuti Yesus. Maka kita perlu mencontoh Bunda Maria, yang mau mengikuti Yesus sampai akhir. Tanpa mengeluh. Jangan salah, umat Katolik bukan menyembah Maria ya, tetapi menyembah Yesus yang ada dalam kandungan Maria. Kalau Maria tidak melahirkan Yesus ke dunia, Allah tidak akan hadir di dunia. Penyelamatan baru sungguh terlaksana dengan sempurna melalui kerendahaan hati seorang hamba Allah yakni Maria.

Bagaimana Romo memaknai 100 tahun Legio Maria?

Pada Misa Syukur 100 Tahun Legio Maria yang diselenggarakan pada 7 September 2021, Uskup Palangkaraya, Mgr. Aloysius Sutrisnaatmaka, MSF menyampaikan bahwa Legio Maria menjadikan Katolik mempunyai kekhasan dari agama lainnya. Di situlah para legioner mempunyai identitas dan menjadi identitas kekatolikan.

Saya pun juga bersemangat ketika Ignatius Kardinal Suharyo, Uskup Agung Jakarta,  membawakan Misa Puncak Rangkaian Perayaan 100 Tahun Legio Maria pada tanggal 11 September 2021.  Yang menarik adalah ketika Bapa Kardinal mengatakan bahwa Yesus adalah wajah Allah yang peduli. Lantas, harapannya, wajah Allah yang peduli itu juga lahir dari para legioner di Indonesia dan Bapa Kardinal berpesan kepada saya sebagai pemimpin rohani di Senatus Jakarta juga bisa menyampaikan ini kepada para legioner terkasih di seluruh Indonesia. Mari kita, sebagai anggota Legio Maria memperlihatkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan.

Frank Duff

Selain itu, saya sungguh sukacita dan sangat bersyukur karena Legio Maria boleh merasakan usianya 100 tahun, enggak mudah ya. Usia 100 tahun itu panjang dan dinamika naik dan turunnya pasti akan kelihatan. Tapi artinya, Legio Maria itu sudah tahan uji dan sudah terbukti sebagai sebuah organisasi yang hebat. Maka saya berharap, dengan mengusung tema “Aku Siap Diutus”, para legioner diperbaharui semangatnya, semakin meneldani sosok Frank Duff, pendiri dari organisasi kerasulan awam yang sungguh mendampingi Gereja hingga sekarang yakni Legio Maria. Semoga kita bisa menjadi awam-awam yang merasul penuh sukacita dan menjadi perpanjangan tangan Gereja.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu

HIDUP, Edisi No. 39, Tahun ke-75, Minggu, 26 September 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here