Uskup Agats, Papua, Mgr. Aloysius Murwito, OFM: Memberi Jauh Melampaui Kemampuan

81
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 7 November 2021 Minggu Biasa XXXII, 1 Raj 17:10-16; Mzm. 146:7,8-9a, 9bc-10; Ibr. 9:24-28; Mrk. 12:38-44
BACAAN Pertama dari Kitab Pertama Raja-Raja (1 Raj. 17:10-16) dan kutipan Injil Markus (Mark 12:38-44) menghadirkan dua tokoh janda miskin yang menjadi pokok permenungan kita. Keduanya adalah ibu yang menanggung beban berat  hidupnya. Seorang ibu yang harus memainkan peran sebagai orangtua tunggal (single parent) dalam keluarganya karena telah ditinggal oleh suaminya entah karena apa. Tetapi kedua janda ini di tengah kesulitan dan penderitaannya, tetap setia akan iman dan kasihnya.

Pergumulan  Janda Sarfat (1Raj.17:10-16) digambarkan sebagai seorang ibu yang   harus berjuang mempertahankan hidup bagi diri dan anak-anaknya. Saat  disapa oleh Nabi Elia dan diminta bantuannya, ia sedang mencari kayu bakar.  Ia tidak memiliki apa-apa kecuali  segenggam tepung dan sedikit minyak.  Ia akan segera pulang untuk mengolah tepung itu, memakannya bersama dengan anaknya. Sesudah itu ia tidak memiliki apa-apa lagi dan tidak tahu lagi apa yang terjadi pada dirinya.

Namun kita melihat janda itu memiliki hati terbuka, mendengarkan permintaan Nabi Elia untuk menyediakan air untuk minum dan membagikan makanan yang sedikit itu untuknya.

Dalam Injil, kemiskinan janda miskin namun tetap berbuat kasih  diperlihatkan dengan tanpa rasa malu di tengah orang kaya  memasukkan persembahan walau dalam jumlah amat sedikit ke kotak persembahan.   Persembahan yang hanya  dua peser yang bila dirupiahkan   tidak lebih dari  Rp1000 adalah  uang recehan yang dari segi jumlah tidak   ada artinya dibandingkan dengan derma besar yang dimasukkan oleh orang-orang kaya.

Yang mengesankan adalah kedua janda miskin yang diceriterakan oleh kedua kutipan Sabda Tuhan itu dipuji oleh Tuhan. Sikap dan tindakan janda Sarfat amat dihargai Tuhan. Ia menganugerahi berkat berlimpah dengan memberi rezeki berkecukupan pada hari-hari selanjutnya. Janda itu tidak jatuh dalam kekurangan dan kehabisan makanan sebaliknya setiap hari menerima rezeki secara berkecukupan. Kasih setia pelayanannya mendatangkan berkat berlimpah dari Tuhan. Ia selalu berkecukupan dengan makanan dan minuman pada hari-hari selanjutnya.

Sementara Janda miskin dalam Injil  yang mempersembahkan sedikit derma itu dipuji Tuhan Yesus yang bersabda …..” janda miskin itu memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan“.  Ia memberi bukan dari kelebihannya tetapi dari kekurangannya.  Ia memberikan derma melampaui kemampuannya.

Dalam kedua kutipan Sabda Tuhan di atas, kita menemukan sikap iman kedua janda yang patut kita teladani. Yang pertama adalah semangat berbagi yang tinggi. Kekurangan dan keterbatasan yang ada pada diri mereka tidak mengendurkan semangat mereka untuk melayani Tuhan  dan sesama. Janda Sarfat itu tetap membagi rotinya – walaupun hanya sedikit – kepada Nabi Elia, dan janda miskin dalam kutipan Markus tetap memberikan persembahan bagi Tuhan sekalipun dalam jumlah yang amat sedikit.

Kedua janda miskin tadi memiliki iman yang besar. Sekalipun mereka menderita kekurangan, mereka tetap percaya Allah tidak meninggalkan umatNya. Jumlah yang sedikit itu pun berkat Tuhan bagi diri mereka yang patut disyukuri. Mereka tetap ingin berbagi karunia Tuhan itu kepada sesamanya.

Kita diajak menyadari dan percaya bahwa sedikit bukan berarti tidak ada artinya. Hal ini ditegaskan oleh penilaian Tuhan sendiri. Janda itu memberi bukan karena  kelebihannya tetapi karena kekurangannya. Ia memberi jauh melebihi dari kemampuannya. Seluruh nafkahnya dan hidupnya dipersembahkan kepada Tuhan.

Di sini kita dapat melihat adanya dua pinilaian terhadap sikap dan Tindakan manusia. Penilaian dari Tuhan dan penilaian dari manusia. Tuhan memandang dan melihat sikap dan Tindakan manusia sampai jauh ke dalam hati. Tidak pertama-tama melihat apa yang kelihatan: jumlah sumbangan, siapa yang menyumbang, latar belakang orang, dan lain sebagainya. Ia menilai ketulusan dan kasih orang.

Janda itu dipuji Tuhan karena kasih dan kerelaannya. Walau dalam keadaan berkekurangan dan penderitaan ia tetap setia berbuat kasih. Ia memberi makan kepada yang membutuhkan tanpa menghitung-hitung untung dan ruginya. Ia memberikan persembahan walaupun untuk diri sendiri tidak cukup. Memberikan dari kelebihannya tidak dicela Yesus. Sikap dan Tindakan ini baik pula di mata Tuhan tetapi dari sisi pengurbanan janda memberi lebih dari pada kebanyakan orang yang memberi dari “kelebihannya “.

Penilaian dari kebanyakan kita sering terbatas pada hal-hal lahiriah. Jumlah angka yang besar dinilai lebih bagus dari yang kecil. Atau siapa yang memberi sering menentukan sikap penghargaan kita. Yang rajin lebih hebat dari pada yang kurang aktip, dan lain-lain. Penilaian seperti ini bisa saja keliru. Seperti ahli-ahli taurat yang dicela Yesus, karena di balik kesalehannya ternyata membebani umat. Seperti masa sekarang yang  nampaknya lantang membicarakan dan memperjuangkan keadilan ternyata diketahui melakukan tindak korupsi besar.

Karenanya kita  diajak mengoreksi penilaian kita terhadap sesame: apakah kita menilai seseorang berdasar apa yang kelihatan dan tidak sampai ke lubuk hati yang dalam.  Tentu saja menghargai janda miskin tidak menurunkan penghargaan kita terhadap mereka yang bisa memberikan sumbangan lebih. Mereka patut diberi penghargaan dan ucapan terimakasih atas sumbangan kasihnya. KASIH itu yang yang menentukan kwalitas Tindakan seseorang terhadap Tuhan dan sesamanya.

Selain itu pesan Injil hari ini  adalah keterbatasan dan kekurangan kita  tidak menghalangi semangat untuk berbagi dan berpartisipasi. Semangat berbagi dan berpartisipasi berawal dari pengakuan akan Allah yang Maha murah yang memberi pelbagai berkat  kepada kita.

Berkat itu kita terima dengan penuh syukur dan terima kasih dan  kita ingin  bagikan kepada sesama supaya mereka pun mengalami kemurahan Tuhan yang sama. Yang bisa kita bagikan bukan saja berupa harta kekayaan materi tetapi juga kekayaan rohani.  Kita bisa berpartisipasi dalam hal tenaga, pikiran, keterlibatan, ketrampilan dan bakat-bakat kita.  Saya yang berkarya di pedalaman di mana peredaran uang terbatas dan kemampuan umat dalam hal berderma juga amat terbatas, sering mengajak untuk tetap memberi kontribusi atas apa yang mereka miliki.

Solidaritas

Dewasa ini kita sering mendengar kata solidaritas. Rasa setia kawan dengan yang lain. Misalnya saja perolehan dari dana Aksi Puasa Pembangunan. Hasil perolehan dana itu sering mencengangkan. Dana itu diperoleh dari pelbagai macam latar belakang, dari Keuskupan kota tetapi juga dari pedalaman, dari umat yang memiliki lebih tetapi juga dari yang berkekurangan. Sedikit-sedikit lalu  dikumpulkan dan disatukan bersama. Hasilnya menjadi banyak. Itulah hasil dari perbuatan kasih yang mengikat kita satu sama lain dan menjadi persembahan bagi saudara-saudara kita yang perlu dibantu. Baik yang berkelebihan maupun yang berkekurangan kita tetap bisa berbagi.

Janda itu memberi bukan karena kelebihannya tetapi karena kekurangannya. Ia memberi jauh melebihi dari kemampuannya

HIDUP, Edisi No.45, Tahun ke-75, Minggu, 7 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here