PESONA UNIKNYA GEREJA KATOLIK

313
Gereja St. Yoseph Beijing
5/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – SALAH satu nilai positif beriman Katolik adalah tata perayaan Ekaristi yang sama di mana pun kita berada. Saya mengalami sendiri, ketika hadir dalam Misa di berbagai kota di negeri tercinta ini, ataupun ketika berkelana ke mancanegara. Walau sering saya tak paham bahasanya, paling tidak, karena saya tahu urutan acara, saya bisa mengikuti walau dengan membatin. Hanya saja ada satu kendala, saya tidak mengerti homili yang disampaikan romo. Tapi untuk bacaan, saya sudah mempersiapkan diri dengan membaca terlebih dahulu sebelum berangkat misa.

Dari beberapa kali mengikuti Misa di daerah atau negara lain, cukup sering saya menemukan hal-hal unik yang menarik untuk diceritakan.

Hari itu hari Minggu. Langit masih gelap ketika pesawat mendarat. Selesai lolos imigrasi dan urus bagasi, dengan menggunakan taksi kami menuju pusat kota. Tujuan kami adalah Gereja Santo Joseph, terletak di area Wangfujing, pusat kota Beijing. Sebuah gereja bersejarah dan cukup tua, karena selesai dibangun tahun 1655.

Pagi itu ada jadual Misa pukul 7.00 dan kami turun dari taksi beberapa menit sebelumnya. Langsung kami disergap udara dingin dan berangin. Dengan tergopoh dan heboh karena menggeret koper-koper besar dan sedang, kami berempat masuk gereja.

Sekilas kami lihat gereja sudah penuh dan kami putuskan berdiri saja di belakang dekat pintu masuk, sambil menjaga kumpulan koper. Upaya kami untuk khusuk mengikuti Misa, agak sedikit terganggu dengan adanya beberapa umat yang telat masuk dan umat yang tiba-tiba keluar gereja di tengah misa.

Selain itu, dan ini uniknya, tidak jauh dari posisi kami berdiri, pada sisi kanan, terdapat sebuah bilik yang tidak menempel dinding gereja. Rupanya ini adalah bilik pengakuan dosa, dengan seorang pastor berada di dalam. Pastor berada di dalam bilik selama Misa berlangsung dan ada saja umat yang datang serta berlutut di depan bilik. Ya benar, tidak ada bilik untuk umat, jadi umat yang mengaku dosa dapat dilihat dan didengar oleh umat lain yang ada di sekitar bilik.

Saya hanya tersenyum melihat beberapa umat silih berganti mengaku dosa dengan suara yang samar terdengar, untung saja saya tidak paham Bahasa Mandarin. Kalau saya renungkan, baik juga seperti ini, bukankah kita memang perlu bersih sebelum menyambut Tubuh Kristus?

Lain waktu, di Konstanz, kota kecil di Selatan Jerman yang berbatasan dengan Swiss, saya dan keluarga hendak ikut misa. Ada sebuah gereja tua bernama Konstanz Minster (Katedral Konstanz – namun sejak 1821 statusnya sudah bukan sebagai katedral). Gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Maria ini sudah ada sejak 615, namun telah beberapa kali mengalami pemugaran. Pagi itu rupanya ada acara besar, entah acara apa, karena Misa dipimpin oleh  uskup dan beberapa imam secara konsebran. Gereja hampir penuh, nampak banyak rohaniwan dan suster hadir.

Upacara berlangsung lama, hampir tiga jam. Homili saja hampir satu jam. Juga karena hampir semua bagian dinyanyikan secara lengkap oleh kor. Saya menduga koor ini berisi penyanyi professional, karena menyanyi dengan suara bagus sekali.

Gereja Konztans Minster, German (Foto: Dokpri)

Yang unik, posisi kor ada di atas altar. Altar memang luas, selain ada meja altar dan kursi-kursi, di belakang masih tersedia tempat untuk puluhan orang anggota kor. Sehingga ketika berdiri dan bernyanyi, kor dapat dilihat umat dengan cukup jelas.

Jadi walau melelahkan dan tidak paham, namun saat itu saya bersyukur dapat ikut misa yang dipimpin seorang uskup serta mendengar suara koor nan ciamik.

Masih di Jerman, tapi beda kota. Kali ini di Ahlem, sebuah kota kecil pinggiran Hannover. Kami Misa di gereja kecil tapi modern, lengkap dengan AC. Bahkan di sudut kanan depan, ini unik, juga dilengkapi dengan peralatan musik, seperti drum, beberapa gitar listrik, keyboard.

Benar saja misa diiringi band dengan anak-anak muda yang berperan. Misa menjadi meriah. Rupanya ini upaya gereja setempat untuk menumbuhkan minat anak-anak muda terlibat dan rajin hadir misa. Sebagaimana kita tahu, Gereja Katolik Jerman yang pada abad pertengahan begitu subur, kini mengalami sepi umat. Jadi upaya Gereja setempat ini memang perlu dihargai.

Pernah juga saya Misa di Penang, tepatnya Gereja Francis Xavier. Sebuah gereja cukup tua, hadir sejak 1867. Kursi-kursinya pun nampak tua. Ketika kami masuk dalam gereja, umat sangat sedikit. Ada rasa aneh, mengapa Penang yang relatif dekat dengan Indonesia, namun gereja sepi.

Mengiktuti Misa di Gereja Francis Xavier Penang. (Foto: Dokpri)

Uniknya tidak terlihat ada kelompok umat yang duduk berdekatan, padahal waktu itu dunia belum mengenal Covid-19. Sehingga kami berlima pun memutuskan duduk terpencar, jauh satu sama lain. Ya bolehlah sesekali Misa dalam kesendirian dan kelegaan, tidak berdesak-desak seperti biasa saya alami ketika misa di kampung halaman.

Satu pengalaman lain, kali ini saat ikut Misa di Gereja Santa Maria Lourdes. Bukan di Perancis ya, tapi di paroki Promasan – Kalibawang, Jogyakarta, dekat Gua Maria Sendangsono. Gerejanya sederhana yang dibangun pada tahun 1940, tanpa AC dengan kursi-kursi kayu yang juga sederhana.

Misa waktu itu dihadiri oleh umat yang sebagian besar sudah sepuh. Romo membawakan Misa dalam bahasa Jawa halus. Suasana misa sangat hening dan syahdu. Unik. Saya tidak pernah menemukan suasana Misa yang demikian. Begitu damai, hati terasa sejuk. Apalagi selesai Misa, para umat sepuh ini tampak begitu guyub. Wajah-wajah tanpa riasan, tapi menampilkan sukacita mendalam.  Rasanya sulit saya mengalami suasana batin seperti ini ketika mengikuti misa di paroki-paroki kota besar.

Kebiasaan saya dan keluarga untuk sedapat mungkin ikut Misa saat ke mana pun berlibur, rupanya Tuhan ganjar dengan memperlihatkan pengalaman dan peristiwa unik. Puji Tuhan.

Fidensius Gunawan, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here