Kesatuan dalam Bela Rasa

15
Ozagma Lorenzo Simorangkir (kanan) mendampingi Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ (tengah) ketika mengunjungi Selfin (kiri), penerima manfaat di Dusun II, Desa Ape Maliku. (HIDUP/Karina Chrisyantia)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Penguatan jaringan lokal Caritas sangat penting untuk mewujudkan sinergi dalam usaha pelayanan bagi kaum miskin yang paling miskin.

CARA terbaik bagi Caritas untuk melayani yang termiskin dari yang miskin adalah bekerja dan berupaya bersama-sama. Tujuan pelayanan Caritas, baik Caritas Nasional, Caritas Keuskupan, maupun Caritas di tingkat paroki adalah melayani mereka ini. Dengan bersama, Caritas akan menjadi lebih kuat.

Komunitas lokal adalah pusat dari perhatian Caritas. Untuk itu, Caritas memiliki program Diocesan Accompaniment (Pendampingan Keuskupan). Dengan cara ini, Caritas Nasional akan mampu membangun struktur Caritas Keuskupan yang kuat, dengan indentitas yang jelas, berakar pada Kristus. Pada gilirannya, Caritas akan memiliki pemahaman yang baik tentang konteks lokal, terutama tentang di mana orang miskin berada dan melayani mereka dengan pelayanan terbaik.

Matteo Luigi Amigoni

Demikian Matteo Luigi Amigoni menyampaikan pandangannya tentang bagaimana Caritas harus berjalan di setiap negara. Country Representative Caritas Italiana for Indonesia and Philippines ini memberikan kata sambutan dalam Learning Event dan Pertemuan Tahunan Caritas Indonesia di Palu, Sulawesi Tengah, 26 Oktober 2021. Beberapa perwakilan Caritas dari negara lain, Caritas Asia, dan Caritas Internationalis juga hadir melalui video conference.

Kekuatan Jaringan

Matteo yang sekian lama bekerja di Indonesia mengatakan, seperti yang dilakukan di Italia, di sana Caritas memiliki jaringan hingga ke tingkat paroki. Di mana ada ribuan relawan yang terlibat setiap hari untuk mengumpulkan informasi terkait orang miskin dan memberikan pelayanan yang dibutuhkan. Paroki adalah tingkat yang paling dekat dengan masyarakat.

“Saya teringat masa lalu di Indonesia hingga tahun 2014, saya selalu menjadi bagian pertemuan nasional seperti ini. Caritas Indonesia pada waktu itu masih sangat muda dan banyak kesalahpahaman dan salah pengertian terkait perannya dalam Gereja Indonesia dan masyarakat pada umumnya,” ujar Matteo.

Ide untuk mewujudkan adanya relawan di setiap paroki merupakan gagasan yang seharusnya dijalankan. Ia menjelaskan, relawan di setiap paroki sangat mungkin dibentuk juga di Indonesia. Relawan semacam inilah yang menurut keyakinannya, lebih mengerti konteks lokal dan bekerja di lapangan untuk menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik. “Tingkat paroki dan keuskupan adalah tingkatan kunci untuk memiliki Jaringan Caritas yang kuat di setiap negara di seluruh dunia. Juga di Indonesia,” ujarnya.

Penguatan jaringan Caritas di Indonesia ini diakui sudah semakin baik. Pengakuan ini disampaikan Alessandra Arcidiacono yang selama ini bekerja bersama Caritas Indonesia pada respons Gempa di Palu Sulawesi Tengah 2018.

Ia mengatakan, selama tiga tahun terakhir, Caritas Indonesia (Karina) telah melalui proses pembelajaran yang signifikan yang layak untuk dibagikan kepada seluruh jaringan Caritas di Indonesia, bahkan hingga di luar Indonesia di Kawasan Asia.

Sebagai dampaknya, program yang dijalankan di Indonesia kemudian didukung oleh jaringan Caritas di seluruh dunia yang tergabung dalam Konfederasi Caritas Internationalis. Caritas dari banyak negara menunjukkan solidaritas dan dukungan kepada Karina dalam respons gempa Palu.

Alessandra Arcidiacono

Alessandra menunjukkan, 30 organisasi anggota Caritas, termasuk dari Afrika dan Amerika Latin, berkontribusi pada Emergency Appeal pertama Karina tahun 2018/2019. “Ini merupakan sebuah tanda dari kekuatan dan keberdayaan keluarga Caritas kita dalam membangun solidaritas dan dukungan kolektif di sekitar Gereja lokal dan Caritas di daerah yang terkena bencana,” ujar Emergency Response Staff Caritas Internationalis ini.

Untuk menguatkan jaringan ini, Alessandra merasa perlu bagi Karina maupun Caritas di negara lain untuk terus mempertimbangkan berbagai rekomendasi yang dibuat Caritas Internationalis. “Saya mengikuti dan mendampingi respons Karina terhadap gempa di Palu sejak September 2018, maka saya telah menyaksikan kemajuan dan pembelajaran Karina yang luar biasa,” ujarnya.

Selama tiga tahun ini, Alessandra melihat secara nyata kemajuan yang dibuat Karinia dalam memahami perannya sebagai koordinator, fasilitator, dan animator jaringan. Karinia berhasil memimpin respons kolektif di mana semua aktor Caritas di semua tingkatan memahami peran mereka masing-masing, dan berkontribusi untuk tujuan bersama. “Kontribusi ini memberikan dukungan penuh kepada masyarakat yang terkena dampak, terutama mereka yang paling terpinggirkan, di daerah terpencil, tidak terjangkau oleh bantuan bantuan, tanpa menduplikasi dan menyia-nyiakan upaya dan sumber daya,” ujar Alessandra.

Tiga Dimensi

Tiga dimensi refleksi dapat ditarik dalam kaitan penguatan jaringan Caritas. Pengguatan jaringan lokal menjadi poin pertama yang patut mendapat catatan. Refleksi ini tentu berangkat dari semangat “subsidiaritas” yang selama ini berjalan dalam Gereja. Sekretaris Jenderal Caritas Internationalis, Aloysius John mengatakan, sebagai Caritas, pelayanan yang diberikan bagi mereka yang miskin dilakukan dalam kebersamaan.

Poin kedua adalah penguatan unit Caritas Nasional dan Caritas Kekuskupan. Poin ketiga adalah solidaritas. Aloysius mengatakan, tanpa adanya solidaritas maka karya kemanusiaan tidak dapat dijalankan. “Ketiga poin ini saling tekait dan kita perlu menjalankannya dalam sebuah cara yang komprehensif,” katanya.

Pembelajaran dapat terus dilakukan dalam setiap kegiatan respon bencana yang dijalankan Caritas. Aloysius mengingat apa yang juga menjadi dasar karya kemanusiaan Caritas, yaitu inspirasi yang ditimba dari kisah Orang Samaria yang baik hati. Kisah ini menurutnya menunjukkan bagaimana Caritas harus berbelas kasih dalam karya-karyanya. Ia melihat, semangat belas kasih ini juga yang kembali diulang Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti. “Kita bersyukur atas berkat Tuhan dalam pertemuan ini, dan mari kita mohon kepadanya agar terus menyertai kita,” pungkas Aloysius.

Zar Gomez

Learning Event dan Pertemuan Tahunan Caritas menjadi wadah untuk berbagi dan bertukar informasi, ide, dan pembelajaran. Komunikasi seperti ini membantu menjaga keharmonisan, bahkan di saat ada perbedaan pendapat. Demikian disampaikan Asia Regional Coordinator Caritas Asia, Zar Gomez. Kegiatan ini menjadi kesempatan menemukan solusi yang saling menguntungkan.

“Komunikasi ini juga membantu kita dalam menyebarkan dan mempromosikan praktik-praktik baik, kisah sukses, dan pencapaian-pencapaian penting lainnya yang dapat menginspirasi orang lain untuk mengikuti atau meniru kesuksesan kita,” ujar Zar.

Zar mengungkapkan, Caritas Asia akan melanjutkan komitmen teguhnya untuk kian memperkuat kerja sama, koordinasi, dan kolaborasi dengan Karina. Caritas Asia berdedikasi untuk berjalan bersama Karina, terlepas dari tantangan berat yang dihadapi selama pandemi Covid-19. “Caritas Asia bersama anda untuk mencapai pembangunan manusia yang holistik, dengan mengutamakan masyarakat miskin dan yang rentan,” ujarnya.

Zar berterima kasih atas kontribusi berharga dari Caritas Indonesia dalam upaya regional dan global. Karina aktif melakukan tindakan-tindakan tanggap darurat, migrasi, perlindungan lingkungan, advokasi, pengembangan kapasitas kelembagaan, dan banyak inisiatif lainnya yang terutama diarahkan untuk pembangunan manusia yang holistik.

Antonius E. S dari Palu, Sulawesi Tengah

HIDUP, Edisi No. 47, Tahun ke-75, Minggu, 14 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here