Ketua Badan Pengurus Caritas Indonesia, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ: Jembatan bagi Mereka yang Tak Terjamah

19
(Dok. HIDUP)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Caritas Indonesia (KARINA) menggelar Learning Event dan Pertemuan Tahunan Jaringan Nasional KARINA, 26-30 Oktober 2021 di Palu, Sulawesi Tengah. Ketua Badan Pengurus Caritas Indonesia, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ turut hadir. Berikut ini tanggapan Mgr. Aloysius terkait dengan pembangunan rumah hunian yang dilakukan KARINA serta harapannya terhadap kegiatan KARINA ke depan:

Ozagma Lorenzo Simorangkir (kanan) mendampingi Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ (tengah) ketika mengunjungi Selfin (kiri), penerima manfaat di Dusun II, Desa Ape Maliku. (HIDUP/Karina Chrisyantia)

“MELIHAT bagaimana program pembangunan hunian bagi para penyintas di Desa Ape Maliko, Kecamatan Sindue, Donggala, saya cukup terkejut juga dengan keberadaan masyarakat pedalaman di tengah perkotaan seperti ini. Yang saya dengar ketika saya berkunjung ke sana, mereka dulu tinggal di pegunungan, karena gempa bumi mereka kehilangan tempat tinggal. Namun belum ada lembaga yang membantu di sana. Saya kira pemerintah harus memberikan perhatian kepada mereka ya.

Setelah tempat hunian jadi, mereka perlu pendidikan. Mungkin tidak bisa ditanangi oleh Karina sendiri. Sangat baik Caritas PSE Manado sudah bersinergi dengan kecamatan setempat supaya diperhatikan. Tetapi bahwa kita terbuka dalam membantu dan sudah bisa membangun komunikasi baik dengan pemerintah, maka silahkan pemerintah setempat dan masyarakat menindaklanjuti.

Gereja, entah lewat Caritas, dapat membuat suatu dialog sebagai pintu masuk. Apalagi ketika pihak masyarakat sudah menerima bahwa Caritas itu tidak memperhitungkan perbedaan agama  seperti yang dikatakan Sekretaris Kecamatan di Ape Maliko.  Dengan menunjukkan rasa kemanusiaan, caritas menampilkan Gereja yang peduli dan diterima.

Harapannya, Karina meningkatkan sinergi dan memayungi semua komisi yang bergerak didalam kemanusiaan. Di KWI  ada berbagai macam komisi. Karina sudah mulai merangkul mereka sehingga Karina menjadi sinergi dari berbagai komisi yang peduli dalam kemanusiaan seperti Komisi Pendidikan, SGPP KWI (Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan), KKP (Komisi Keadilan-Perdamaian Dan Pastoral Migran Perantau) dan sebagainya.

Bagi saya, program pembangunan hunian di pedalaman mengingatkan saya akan pendekatan Caritas kepada kelompok yang belum terjamah. Kita sudah dipercayai untuk menjembatani. Namun enggak mungkin kita sanggup menangani segalanya sendirian. Maka perlunya sinergi itu tadi. Juga terkait tema Sinode Para Uskup, Gereja yang sinodal, artinya mau berjalan bersama justru dengan mereka yang tak diperhatikan.

Akhirnya, saya mengucapkan proficiat untuk Caritas PSE Manado bersama Karina menggandeng Caritas Internationalis (CI) juga beberapa keuskupan, tarekat yang sudah membantu. Mereka telah bekerja keras untuk program ini.

Satu hal lain, saya melihat banyak orang muda terlibat. Ketika di Ape Maliko, masyarakat sangat dekat dengan para anggota dari Caritas PSE Manado yang masih muda-muda. Direkturnya pun masih muda. Nah, ini artinya orang muda sangat memungkinkan jika bisa terlibat dalam kegiatan kemanusiaan seperti ini. Menyapa dan merangkul mereka. Ini menggembirakan sekali.  Semoga gerakan ini menarik orang muda lainnya agar aktif terlibat dalam gerakan Gereja.

Karina Chrisyantia dari Palu, Sulawesi Tengah

HIDUP, Edisi No. 46, Tahun ke-75, Minggu, 7 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here