Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung: Wujud Konkret Kepedulian Gereja

147
Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – BEKERJA sama dengan komunitas Couple for Christ (CFC) melalui Yayasan ANCOP (Angkat Citra Orang Papa), Keuskupan Larantuka mendirikan sebuah sekolah kejuruan berasrama tahun 2016 dan diresmikan tahun 2017 dusun Likotuden, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Sekolah ini lahir dari sebuah keprihatinan sekaligus impian besar Mgr. Fransiskus Kopong Kung untuk menarik minat orang muda.

Mengapa Keuskupan Larantuka memprioritaskan pembangunan generasi muda?

Benar bahwa fokus perhatian Keuskupan adalah generasi muda. Ini harus dijajaki lebih serius karena sekarang umat yang berdevosi adalah generasi tua. Maka sekarang bagaimana orang muda ini perlu didampingi supaya mereka juga memiliki kehidupan iman yang tangguh dan menjadi orang Katolik yang baik. Peran keluarga juga bermain sentral dalam pendidikan iman. Selain itu, kami juga memberikan perhatian pada pendidikan formalnya dan bagaimana SMK Pariwisata ANCOP Likotuden ini membuka ruang yang memberi perhatian untuk menyambung pemberian nilai hidup dan kekatolikan yang telah diajarkan di rumah.

Para Siswa SMK Pariwisata ANCOP (Foto: Dok SMK Pariwisata ANCOP)

Kemudian bagaimana sekolah mendampingi anak dengan baik agar dari sisi ilmu pengetahuan ia memiliki keterampilan dan karakter baik? Di sekolah ini kami memiliki program pendampingan karakter melalui kehadiran Timothy dari Filipina. Dengan kehadirannya, kami mengharapkan ia dapat memberikan pengalaman dengan menularkan semangat Youth for Christ (YFC) kepada para murid. Di sinilah letak pembinaan karakter dan rohani.

Mengapa Bapa Uskup tertarik dengan isu keluarga?

Di Flores Timur ini kebanyakan masyarakat berprofesi sebagai petani. Kehidupan para keluarga sebagai petani ini sangat kuat mempengaruhi perubahan dan perkembangan dalam kaitan dengan kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Jikalau keluarga dengan realitas hidup yang penuh tantangan ini tidak didampingi, maka akan besar pengaruhnya kepada Gereja dan masyarakat. Kehidupan iman itu juga harus mendorong perubahan dalam kehidupan masyarakat di mana keluarga menentukan itu semua. Sudah sekian lama iman Katolik mengakar di sini tetapi kelihatannya keluarga masih hidup dibawah angka kesejahteraan dan ini mempengaruhi banyak bidang kehidupan. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena ekonomi terbatas. Banyak orang ingin merantau. Terlihat angka perantauan yang paling besar datang dari Flores Timur. Ironisnya, sementara mereka ingin keluar banyak pendatang hadir dan mereka bisa berhasil di sini.  Ini berarti ada sesuatu yang harus lebih dilihat. Bukan pada tanahnya yang keras dan tantangannya yang berat tetapi bagaimana mentalitas kehidupan dari keluarga perlu diperhatikan. Ketahanan keluarga menjadi sangat penting.

Saya perhatikan corak hidup tani ladang dan kuatnya tradisi mempengaruhi pola pikir dan kehidupan. Mereka sungguh bergantung pada iklim dan ini secara tidak langsung menciptakan iklim ketergantungan di dalam keluarga. Tidak banyak yang berpikir kreatif untuk menciptakan inovasi baru selain bertani. Ketergantungan ini membentuk mental, karakter, sikap, dan sifat kehidupan ketergantungan tinggi. Anak pun bertumbuh dan berkembang dalam kebiasaan ketergantungan tersebut. Mereka tidak dibiasakan untuk dirangsang inisiatif, inovasi, dan kreatifitasnya. Maka, keuskupan melihat ruang perangsangan revolusi mental itu harus diciptakan agar jangan sampai anak bergantung penuh pada orangtua dan menghambat potensinya sendiri sebagai anak yang diciptakan Tuhan dengan berbagai talenta.

SMK ANCOP didesain agar mereka memiliki wawasan global dan dari situ banyak anak bercita-cita bekerja di luar negeri. Apakah mereka juga diharapkan untuk kembali ke sini membangun Larantuka?

Iya, saya memang terinpirasi dengan gebrakan ini tetapi ini semua berangkat dari keprihatinan hidup keluarga di sini. Bagaimana generasi baru ini kita harapkan menjadi generasi yang membawa perubahan dan perkembangan baik bagi keluarganya sendiri. Kami harapkan sekolah ini mampu memberikan wawasan baru baik dari sisi pengetahuan  dengan memiliki keterampilan dan karakter tangguh, kreatif, inovatif terbangun. Bagaimana anak nantinya mampu berjuang membangun kehidupannya sebagai orang Katolik sejati. Bagaimana iman itu menjadi daya perubahan agar mau memutuskan rantai ketergantungan dan memutuskan untuk hidup mandiri tanpa meninggalkan nilai kekatolikan. Dan ya, saya harapkan setelah melihat dunia mereka kembali membangun Larantuka karena memang itulah tujuan utama. Itu cita-cita saya yang sebenarnya.

Apa cita-cita Bapa Uskup itu?

Tamat dari sini harus mampu ciptakan kerja. Sekolah ini berhasil jika tamatannya mampu ciptakan kerja. Jadi jangan menunggu orang mencarikan kerja. Maka saya bilang kepada mereka, tamat dari sini kamu jangan pergi ke tempat lain, pulang ke daerahmu, bangun daerahmu, dan ciptakan kerja di daerahmu. Saya tidak bercita-cita para murid bisa bekerja di hotel terbaik, tapi cita-citanya adalah mereka mampu membuat hotel kecil mereka sendiri. Tempat yang sederhana namun bersih dan ramah lingkungan. Mereka harus belajar menangkap peluang karena kampung mereka ini sangat indah. Mereka juga harus menangkap peluang yang ditawarkan media sosial sebagai sarana promosi. Untuk itu, saya terus ajak mereka untuk memiliki dan melatih mata mereka mensyukuri keindahan alam yang mereka peroleh. Peluang bisa dibaca ketika mata kita mampu melihat keindahan.

Mengapa SMK ANCOP tidak digratiskan saja?

Latar-belakang keluarga murid yang bersekolah di sini pada umumnya sederhana. Semula memang Yayasan ANCOP menawarkan untuk sekolah gratis mengingat mereka datang dari keluarga ekonomi lemah. Tetapi kalau gratis saya tidak mau. Mengapa? Supaya anak juga merasakan perjuangan orangtuanya. Jika gratis mereka terima bersih, mereka akan tidak pernah merasa bahwa sekolah itu punya nilai perjuangan. Maka anak juga, berkaitan dengan keluarga harus dibiasakan dirumah untuk mengelola hal sederhana. Untuk itu, sekolah pun jangan digratiskan. Sekolah itu harus ada partisipasi dari orangtua sehingga timbul dalam diri anak sekolah ini juga milik mereka.

Sekolah ini bukan hadiah saja dari donatur tapi milik bersama yang berarti turut membayar. Dalam menentukan harga, kita berusaha memberikan harga yang wajar dengan melakukan survei kepada SMA yang dianggap terbaik. Per satu bulan, murid dikenakan biaya uang sekolah sebesar Rp 250.000 sementara asramanya Rp 500.000. Biayanya ini sebetulnya paling rendah dibandingkan dengan fasilitas yang cukup lengkap. Kenyataannya memang masih banyak yang kesulitan membayar. Tapi ini sekaligus jadi cerminan masih belum baiknya pengelolaan keuangan di dalam rumah. Hal ini mendorong saya juga untuk berpikir apakah nanti saya turunkan lagi biayanya, tetapi belum saya sampaikan kepada Yayasan.

Mengapa Likotuden dipilih sebagai area sekolah?

Memang saya sengaja pilih tempatnya terpencil seperti ini supaya ada dorongan dan rangsangan bagi guru dan murid untuk menciptakan inovasi agar tempat ini jangan terus jadi terpencil. Kita harus bergerak dan menjawab pertanyaan, “supaya jangan terpencil apa yang harus kita perbuat?” kondisi ini kan juga mendorong kepekaan mereka untuk bergerak menjadi satu ekosistem pendidikan di sekolah dan masyarakat.

Telah empat tahun SMK ANCOP beroperasi, bagaimana Bapa Uskup menggambarkan dinamika sekolah ini? Sudah sampai mana bisa menjawab cita-cita Bapa Uskup?

Masuk tahun ke-4, sekolah ini sudah mulai dikenal secara lokal dan internasional. Masyarakat tahu mengapa SMK ANCOP hadir dan dengan siapa ia bekerja sama. Dari sini banyak yang memberi dukungan tetap kepada sekolah. Sekolah ini milik bersama dan pelan-pelan harapan dan recananya mulai terwujud. Kita berharap melalui tahapan berbagai proses, sekolah ini mampu menjadi sekolah unggulan yang bisa menjawab situasi kehidupan masyarakat di sini. Memang masa pandemi membuat siswa yang mendaftar tidak banyak karena ada ketakutan tatap muka dan sebagainya. Ke depan, saya berharap berkaca dengan keadaan ini dapat membantu kami untuk mencari jalan baru membuka peluang promosi sehingga SMK ANCOP tetap menarik menjadi suatu sekolah yang menjawab realitas kehidupan di sini. Saya juga berpesan agar jadikan sekolah yang unggul dengan Bahasa Inggris karena konsentrasinya pariwisata.

Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung (tengah) bersama lulusan SMK Pariwisata ANCOP. (Foto: Dok SMK Pariwisata ANCOP)

Apa harapan Bapa Uskup untuk SMK ANCOP?

Sekolah ini sudah berdiri menjadi dan menjadi suatu wujud konkret dari kepedulian Gereja bersama Yayasan ANCOP agar orang muda menjadi pelaku pembangunan. Maka saya berharap, sekolah tetap berkembang kedepan untuk berbuat lebih banyak kepada generasi muda. Tidak hanya itu, semoga anak-anak yang dididik bisa mandiri agar melanjutkan tanggung jawab pada sekolah dan kedepannya mereka akan menjadi donatur baru untuk generasi baru berikutnya. Sungguh kita inginkan sekolah ini terus berkelanjutan. Bagi para guru, semoga mereka dapat memberikan iklim hidup sehat yang menyenangkan bagi semua di mana bisa bersama mengalami suatu kehidupan komunitas yang konkret. Tetaplah menjaga sinergitas dengan berbagai pihak.

Siswi-siswi sedang belajar Bahasa Inggris. (Dok. SMK Pariwisata ANCOP)

 Felicia Permata Hanggu (Likotuden, Larantuka)

HIDUP, Edisi No.47, Tahun ke-75, Minggu, 21 November 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here