Ketua LBI, Romo Albertus Purnomo, OFM: Keselamatan dari Tuhan

168
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM Minggu, 5 Desember 2021 Hari Minggu Adven II Bar.5:1-9; Mzm.126:1-2ab, 2cd-3, 4-5, 6; Flp. 1:4-6, 8-11; Luk. 3:1-6

“KESELAMATAN dunia ini tidak terletak di mana-mana kecuali dalam hati manusia, dalam kemampuan manusia untuk berefleksi, dalam kelemahlembutan dan tanggung jawab manusia.” Kata-kata Vaclav Havel, presiden Republik Ceko yang pertama (1993-2003) ini menekankan, manusialah yang bertanggung jawab atas keselamatan di dunia ini. Meski demikian, keselamatan sejati tak mungkin bisa lepas dari campur tangan Tuhan sendiri. Tentang keselamatan dari Tuhan ini, Barukh, sekretaris nabi Yeremia dan penginjil Lukas menyinggungnya dalam kitabnya.

Barukh yang dahulu termasuk kaum buangan ke Babel (Irak sekarang), menubuatkan keselamatan yang akan dialami kota Yerusalem. Baginya, keselamatan adalah momen ketika para buangan orang Yehuda itu kembali dari Babel untuk memenuhi kota Yerusalem yang sebelumnya hancur. Di Yerusalem, hidup mereka tidak lagi dihantui ketakutan, ancaman, dan penindasan seperti saat mereka di pembuangan Babel. Dalam bahasa yang indah, Barukh merumuskan keselamatan demikian: “Israel akan dituntun dengan sukacita oleh Allah, dan cahaya kemuliaan-Nya, dan dengan belas kasihan serta kebenaran-Nya.” Keselamatan berarti sukacita karena didampingi oleh Tuhan.

Penginjil Lukas juga berbicara tentang keselamatan. Dikisahkan, Yohanes Pembaptis berseru kepada orang banyak di padang gurun dengan mengutip nubuat Nabi Yesaya, “Semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.” Apa itu keselamatan bagi Yohanes? Keselamatan adalah saat ketika seorang Mesias (Dia yang diurapi Allah) datang untuk membawa perubahan. Sosok Mesias, sang pembawa keselamatan ini, sudah lama dinubuatkan oleh para nabi. Kehadiran Mesias diyakini akan membebaskan orang Yahudi dari penjajahan Romawi pada waktu itu. Saat itulah, sukacita akan menggantikan penderitaan banyak orang. Bagi orang Kristiani, Mesias ini tak lain adalah Yesus dari Nazaret. Namun demikian, ada syarat yang diperlukan untuk mengalami keselamatan ini, yaitu bertobat dan dibaptis (yang berarti disucikan atau dimurnikan).

Warta keselamatan yang diserukan Barukh dan Yohanes Pembaptis tetaplah relevan bagi kita yang hidup dalam era digital 4.0 ini. Sebab, keselamatan merupakan kerinduan hakiki dalam diri manusia. Dari zaman kuno sampai sekarang ini, saat kondisi hidup semakin tidak menentu karena ancaman pandemi, perang, dan konflik, warta keselamatan justru selalu menginspirasi dan memberi harapan.

Keselamatan itu bukan hanya soal masuk surga atau terhindar dari neraka. Pemahaman ini kiranya sangat dangkal. Keselamatan juga bukan soal ganjaran setelah manusia mati. Ini bukan soal masa depan, tetapi lebih sekarang ini dan di sini. Keselamatan itu adalah kondisi hidup yang utuh, harmonis dan penuh sukacita. Dalam bahasa Ibrani, ke-selamat-an itu adalah shalom (atau Arab: salam) Shalom itu menunjuk pada kondisi hidup, entah manusia maupun alam, yang dipenuhi kedamaian, keutuhan, kesejahteraan, dan ketenangan. Bukan hanya pada level material, tetapi juga rohaniah. Shalom itu bukan hanya kondisi ketika manusia dengan Allah atau manusia dengan manusia lainnya berada dalam kedamaian. Tetapi juga, ketika manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan alam ciptaan tercipta relasi harmonis. Shalom adalah keutuhan dalam sukacita dan damai. Saat terwujud harmoni yang utuh antara orang dengan dirinya sendiri, sesama, alam dan Tuhan, disitulah terjadi puncak keselamatan, entah di sekarang ini maupun di masa depan.

Yesus Kristus adalah keselamatan (shalom) dari Tuhan. Dia hadir di tengah dunia untuk memberikan teladan dan ajaran hidup, yang membawa orang Kristiani dapat mengalami keselamatannya sendiri. Di tengah kehidupan yang hiruk pikuk, penuh dengan ketidakpastian dan distraksi, kedamaian dan sukacita batin adalah dambaan setiap orang. Mengikuti ajakan dari Barukh dan Yohanes Pembaptis, kita hendaknya terus melangkah untuk mengalami keselamatan dari Tuhan.

Keselamatan berarti sukacita karena didampingi oleh TUHAN.”

Romo Albertus Purnomo, OFM
Ketua Lembaga Biblika Indonesia (LBI)

HIDUP, Edisi No. 49, Tahun ke-75, Minggu, 5 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here