Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga:Terang yang Menyatukan

115
Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga (Foto: Dok. Keuskupan Sibolga)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 2 Januari 2022 Hari Raya Penampakan Tuhan (Hari Anak Misioner Sedunia) Yes.60:1-6; Mzm.72:1-2, 7-8, 10-11, 12-13; Ef.3:2-3a, 5-6;Mat.2:1-12.

ALLAH yang menjelma menjadi manusia adalah Allah bagi semua manusia. Allah tidak membedakan manusia, antara hitam-putih, kaya-miskin, berpangkat-tidak berpangkat, pria-wanita, kafir-najis-suci. Allah merangkul semua manusia dalam cinta-Nya. Karena itu, Allah yang menjelma menjadi manusia ber-“diam di antara kita” untuk mempersatukan dan menyelamatkan kita. Di sinilah letak keagungan kasih Allah: Allah tidak pandang bulu. Cinta kasih-Nya melampaui kebijaksanaan dan perhitungan manusia. “Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan tidak benar” (Mat. 5:45).

Allah yang menjelma menjadi manusia memancarkan terang-Nya untuk mempersatukan kembali semua manusia yang terpecah dan terpisah dari-Nya dan sesamanya. Fakta ini dinyatakan dalam peristiwa penampakan Tuhan kepada dunia. Ketika Yesus berbaring di palungan Betlehem, Melkhior, Baltasar dan Kaspar datang menyembah-Nya. Mereka adalah wakil dari tiga ras manusia, yaitu Sem, Ham dan Yafet (ras manusia berkulit putih, hitam, dan coklat). Yesus yang berbaring di palungan menjadi Pusat. Semua bangsa bersatu memuji Allah sembari membawa persembahan di seputar palungan-Nya.

Di palungan, tangan Yesus terbuka untuk menyatakan cinta-Nya yang “menerima, merangkul, menyatukan dan menyelamatkan semua manusia”. Dia menerima semua manusia tanpa pandang bulu”. Terang-Nya menyinari hati dan memberdayakan manusia untuk menerangi dunia dengan Kabar Sukacita dari palungan-Nya. Diakui bahwa panggilan untuk menjadi Terang Yesus berhadapan dengan kejahatan yang bersumber dari pikiran dan hati manusia sendiri. Pikiran dan hati yang gelap selalu membuahkan perpecahan dan perpisahan serta menjadi sumber kegelapan bagi dunia. Diskriminasi ras adalah buah kegelapan. Sayangnya, produk manusia demikian sangat banyak jumlahnya.

Epifania Tuhan menyadarkan manusia bahwa “Allah adalah Bapa bagi semua manusia dan dunia menjadi dunia bersama, rumah bersama” bagi semua manusia.” Manusia harus sadar bahwa kita berada dalam satu dunia, satu rumah kediaman, satu perahu peziarahaan. Semua manusia harus merawat dunia ini seperti merawat rumah sendiri. Panggilan untuk merawat dunia yang mendukung kehidupan, kesatuan, keadilan dan kedamaian hanya mungkin terjadi apabila “kita setia merawat diri sendiri”, “setia merawat rumah sendiri”. Kita harus membentuk diri kita dan dunia ini menjadi “diri kita dan dunia kita”, yaitu kita yang yang berdiam dalam rumah bersama di dunia ini (Paus Fransikus, Ensiklik Fratelli Tutti).

Dalam Terang Epifania Tuhan, Paus Fransikus mengajak semua manusia untuk mengupayakan keselamatan dalam satu rumah persaudaraaan. Semua manusia harus mengakarkan “rasa solider bersaudara” dan hidup sebagai saudara. Pandemi korona membuka topeng egoisme diri manusia serta menyingkapkan kenyataan bahwa manusia telah mengabaikan harta bersama yang paling berharga, yaitu saudara dan menjadi saudara satu bagi yang lain.

Dalam situasi dunia seperti inilah, Yesus, Terang bagi semua bangsa manusia hadir untuk mematikan akar pemisahan di antara manusia. Sebagai pengikut-Nya, kita harus berjalan bersama untuk menemukan Terang di palungan-Nya, duduk dan sujud berdampingan untuk menyembah-memuliakan Allah serta mempersembahkan hidup kita kepada-Nya, yaitu: menyatakan ketundukan, ketaatan dan kesetiaan kita kepada Yesus, Sang Raja Agung dan Mulia (emas); menetapkan sikap dan niat suci untuk membangun kerohanian kita atas dasar kebenaran Allah (kemenyan); menyatakan kesediaan kita untuk memberikan diri serta setia bertahan dalam penderitaan seperti Bayi Yesus sendiri (mur).

Marilah kita mempersembahkan ketaatan, kesetiaan, kerohanian dan niat kita untuk hidup dalam Terang Yesus dan memancarkan terang-Nya dalam kata dan perilaku hidup kita. Marilah kita hancurkan belenggu pemisahan di antara kita, yaitu kecurigaan, kebencian dan dendam serta merawat dan mempersembahkan cinta, rindu, simpati dan maaf kita kepada Yesus yang berbaring di palungan dan kepada sesama demi terciptanya kebaikan bersama di antara kita.

Allah yang menjelma menjadi manusia memancarkan Terang-Nya untuk mempersatukan kembali semua manusia yang terpecah dan terpisah dari-Nya dan sesamanya.

HIDUP, Edisi No.1,Tahun ke-76, Minggu, 2 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here