Gereja yang Berbela Rasa, Setia Membangun Kebersamaan

117
Paus bersama imigran di Pulau Lesbos Yunani.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Paus memberi warna baru dalam kehidupan Gereja Universal yang lebih setia berbela rasa kepada sesama.

SAMPAI akhir tahun 2021, pandemi Covid-19 belum berakhir. Meskipun muncul varian baru Omicron di Afrika Selatan dan korban masih berjatuhan, harapan pandemi menjadi endemi membuncah di sebagian besar bangsa-negara.  Virus Corona Disease Desember 2019 pemicu pandemi Covid-19 berdampingan dengan virus Influenza, misalnya.

Gereja sebagai bagian dunia, ketika beberapa tahun sebelumnya dihadapkan pada perkembangan digital yang mendisrupi segala aspek kehidupan disusul terjangan virus Covid-19, terus berusaha mencari solusi keberadaannya. Gereja oline —menggereja = mewartakan kabar gembira bagi dunia, setia membangun kebersamaan sebagai komunitas pengharapan.

Gereja online, di antaranya dalam  peribadatan adalah solusi dengan payung  Gereja yang berbela rasa.  Sepanjang tahun 2021, undangan untuk berbela rasa memperoleh ruang yang luas, selain pandemi Covid-19 dan dunia digital — juga terjadinya bencana alam, konflik berbagai etnis maupun negara, kemiskinan, pelecehan hak asasi, peperangan dan keserakahan manusia — sekadar menyebut beberapa contoh yang terus berulang dan semakin massif.

Karya penyelamatan Allah, dengan kelahiran, pengajaran, penderitaan, kematian di salib dan kebangkitan Yesus Kristus, bersumber dari bela rasa. Bela rasa atas kehancuran kekal manusia karena dosa yang akhirnya hapus ditebus dengan penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang terjadi sekali dan selama-lamanya (Ibrani 6:20). Bela rasa yang ditunjukkan dalam seluruh sikap, perbuatan, kata-kata dan ajaran Yesus dengan puncaknya kematian dan kebangkitanNya  — kental dijiwai keberpihakan terhadap yang miskin, tertindas, dan terpinggirkan.

Irisan besar bela rasa dan akar kebersamaan adalah keprihatinan sosial. Oleh karena itu dalam ajaran para Bapa Gereja atau pun Konstitusi Pastoral, masalah keprihatinan sosial dan perkembangan bangsa-bangsa dewasa ini (sesuai dengan kurun waktu ketika diumumkan), senantiasa menjadi fokus perhatian Gereja Universal.

Salah satu dokumen Konsili Vatikan II (1963-1965), Konstitusi Pastoral tentang Gereja di dunia dewasa Ini berjudul Gaudium et Spes (Kegembiraan dan Harapan), merupakan dokumen yang paling banyak dikutip, menguraikan dan memberikan arahan rinci, dasar dan mendalam tentang masalah keprihatinan sosial sekaligus senantiasa memunculkan pengharapan.

Di antaranya mengenai masalah keprihatinan sosial, Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis Ecclesiae (Keprihatinan Sosial Gereja) tahun 1987 yang memaparkan perkembangan dunia yang lebih detail dari ensiklik pendahulunya Paus Paulus VI, Populorum Progressio (Kemajuan Bangsa-bangsa) tahun 1967. Di antaranya, diuraikan perkembangan dunia tidak semata-mata sebagai masalah ekonomi dan sosial tetapi juga masalah etis dan kultural.

Yang paling mencolok, jurang antara yang kaya dan yang miskin semakin melebar. Ditegaskan oleh  Paus Yohanes Paulus II tentang sikap mengutamakan kaum miskin (optio atau amor praeferentialis pro pauperibus). Diingatkan perlunya solidaritas antar negara berkembang termasuk pembentukan organisasi-organisasi regional.

Paus Fransiskus: Bela Rasa, Harapan, Sukacita

Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires terpilih 13 Maret 2013 sebagai Paus ke-266, merupakan Bapa Suci pertama dari Amerika Latin (Argentina) yang membawa angin baru dalam karya penggembalaan. Kerendahan hati tidak hanya disampaikan dalam kata-kata, tetapi dalam berbagai peristiwa, kebijakan dan ajaran pastoralnya.

Kesahajaan hati melekat erat dalam pribadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik dengan sekitar 1,5 miliar umat itu. Yang mendorong dia tanpa lelah mencari jalan baru memperbarui Gereja, menurut Kardinal Suharyo, bersumber dari pengalaman dasar Bapa Suci tentang Allah yang Maharahim.

Karena itu, semboyan tahbisan sebagai Uskup maupun ketika diangkat sebagai Paus adalah Miserando atque Eligendo, artinya Yesus memandang dia (Matius ketika dipanggil) dengan penuh kerahiman. Belum pernah disebut oleh para Paus sebelumnya, Paus Fransiskus menyebutkan dalam ajanan pastoralnya Gereja itu seperti rumah sakti di medan perang.

Media mainstream populer menggambarkan Paus Fransiskus sebagai pembaharu penggembalaan yang progresif-liberal memoderasi nilai-nilai, tidak doktriner tetapi diwarnai ekstrapolasi rasa terima kasih, pesan toleransi, pun membuka Instagram yang memperoleh jutaan followers dalam waktu 12 jam.

Berbagai kunjungan pastoral ke negara-negara yang sedang mengalami konflik di luar Italia dan pertemuan dengan tokoh-tokoh berbagai agama termasuk membangun kerja sama ekumenis, ditempatkan dalam tujuan membangun komunitas dunia yang damai, solider dan mengembangkan kehidupan sebagai komunitas pengharapan.

Bebeberapa waktu setelah diangkat, Paus Fransiskus menerbitkan dua ensiklik dan dua anjuran apostolik. Dua ensiklik itu Lumen Fidei (Cahaya Iman) kurang lebih 4 bulan setelah pengangkatan, dan Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) tentang perawatan rumah kita bersama terbit tahun 2015.

Ensiklik kedua ini monumental, bergema hingga saat ini yang berisi kritik Bapa Suci tentang konsumerisme dan keserakahan manusia, kerusakan lingkungan dan pemanasan global. Dua Anjuran Apostoliknya Evangelii Gaudium (Sukacita Injil) terbit tahun 2013 yang mengundang umat Kristiani mengalami evangelisasi dengan suka cita Injil, dan Amoris Laetitia (Kegembiraan Cinta) tahun 2016.

Gema Laudato Si’ disuarakan banyak pihak, menjadi populer karena relevan atas keprihatinan dunia terhadap rusaknya lingkungan alam dan ciptaan. Bumi menjerit disesah habis-habisan.

Paus Fransiskus mendapatkan inspirasi dari Kitab Kejadian tentang penciptaan manusia.  Bahwa pada hari terakhir Allah menciptakan manusia (Kejadian 1:26-28) memberi wewenang manusia untuk menguasai alam raya beserta isinya, yang tidak berarti manusia boleh mengeksploitasi alam semaunya, melainkan kewenangan itu perlu ditafsirkan sebagai kewenangan melindungi, melestarikan dan memakainya secara bertanggung jawab. Menguasai alam perlu dijalankan sebagai misi Allah.

Salah satu peristiwa internasional yang penting terkait kerusakan alam, secara tidak langsung sering disebut sesemangat ajakan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ adalah Konferensi Tingkat Tinggi perubahan iklim Conference of the Parties ke-26 tanggal 31 Oktober-12 November 2021 (COP26) di Glasgow, Scotlandia, lanjutan Perjanjian Paris tahun 2015 dengan target penghentian pemanasan global.

Undangan Berjalan Bersama

Paus Fransiskus mengembangkan sinode (syn = bersama) dan hodos (berjalan) — undangan berjalan bersama — saling mendengarkan, berdialog dan manages bersama. Sinode itu menurut Kanon 342 Kitab Hukum Kanonik merupakan pertemuan para uskup yang dipilih dari pelbagai kawasan dunia berkumpul, bertemu dengan Bapa Suci untuk membantu beliau dalam menjalankan karya penggembalaan.

Oleh Paus Fransiskus, Sinode Para Uskup 2021-2023 dengan tema “Untuk Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, dan Misi”, dibuka oleh Bapa Suci tanggal 9-10 Oktober 2021, dikembangkan dengan semangat sinodal (bersama).

Menurut Kardinal Suharyo dalam khotbah Misa Pembukaan Sinode KAJ, 17 Oktober 2021, Sinode Para Uskup kali ini berbeda dengan sebelumnya. Pertemuan tiga tahun sekali ini biasanya hanya dihadiri beberapa uskup undangan dari beberapa kawasan, kali ini Sinode disiapkan mendengarkan gagasan dan usulan dari semua uskup yang datang dari seluruh dunia.

Hasil Sinode KAJ akan  menjadi bahan untuk Sinode Para Uskup, Oktober 2023 — peristiwa yang sama juga diselenggarakan oleh seluruh keuskupan (Gereja Lokal) di dunia dengan melibatkan partisipasi umat.

Sosok kepemimpinan dan karya penggembalaan Paus Fransiskus pun, selain oleh media mainstream disebut  progresif-liberal memoderasi nilai-nilai, terkesan fenomenal, terutama dalam situasi setahun lewat dengan terjadinya pandemi Covid-19 dan kerusakan alam yang massif. Belarasa sebagai kompetensi etis kerja sama merupakan dasar gerakan membangun dan memupuk komunitas pengharapan.

Disertai pengharapan itu, Paus memberi warna baru dalam kehidupan Gereja Universal yang lebih setia berbela rasa kepada sesama, terhadap alam ciptaan dan solidaritas mengembangkan bumi ini sebagai rumah bersama semua mahkluk ciptaan, perjuangan yang di tahun 2021 ini tetap jadi  tantangan bersama, bahkan mungkin lebih besar lagi di tahun-tahun yang akan datang: ajakan berbela rasa dan membangun kebersamaan sebagai komunitas yang berpengharapan.

St. Sularto, Wartawan Senior, Kontributor

 HIDUP, Edisi No. 52, Tahun ke-75, Minggu, 26 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here