Ketika Makna Hidup Hanya ‘Demi Konten’

25
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COMSEPANJANG tahun berteman pandemi.
Di penghujung tahun dukacita datang bertubi.
Memasuki awal tahun sempatkah menyusun resolusi?
Sebab hidup harus dijalani meski entah apa bakal terjadi!

Seorang remaja bertanya dalam webinar bertajuk Understanding Anxiety, bagaimana mengatasi kecemasan. Sebagai fasilitator aku balik bertanya, kecemasan seperti apa gerangan. Sebab pikirku, memiliki kecemasan kan wajar. Justru mengherankan bila tanpa kecemasan, sehingga berjalan pun tak berpikir bahwa sesuatu bisa terjadi dan saat itu berlangsung dia tidak siap. Itu bahaya…!

Namun sungguh mengagetkan, bahkan berbalik aku yang cemas karena ini tidak main-main, apalagi sekadar masuk kategori lebay-lebay tak terkonsep. Ini serius! Dia ingin menyudahi hidup, dipicu cemas akan masa depan juga terhadap hari-hari yang dijalani terasa tanpa makna apalagi tujuan menyongsong sesuatu di depan sana. Lalu katanya: “Apakah sebaiknya bunuh diri saja?”

Sampai di sini kupikir sekadar minta pendapat ala-ala anak kekinian, asal nyablak. Ternyata disusul pengakuan dahsyat sebagai pamungkas, dia pernah mencoba mengakhiri hidupnya dengan menyayat nadi sebelum lagi SMP. Tapi percobaan itu gagal. Sekarang, saat dia bertanya ini baru berusia 13. Aku merinding, bukankah masa remaja penuh kenangan indah? Tapi kok ini sebaliknya terjadi?

Sempat ramai berita di media, pelajar dari tingkat SD, SMP bahkan SMA mengakhiri hidup karena sarat beban. Tekanan semula berawal dari kecemasan tidak bisa menyelesaikan tugas, gagal memenuhi harapan orang tua maupun keinginan pribadi. Belum lagi ditolak lingkungan atau pengaruh situasi internal, sulit menerima perubahan situasi secara sangat tiba-tiba.

Sekarang ganti aku yang cemas. Sebab, setelah anak ini, menyusul keterbukaan remaja lain yang sama mengerikannya secara beruntun sehingga kagetku lenyap berganti keraguan. Apakah ini kisah nyata atau aku sedang mengumpulkan bahan skenario sinetron striping? Semakin sadis semakin laris! Di mana para orang tua, guru maupun teman-teman kala semua ini berlangsung? Ke mana orang terpercaya sekadar mencurahkan isi hati demi mengurangi beban? Sirnakah sahabat sejati tempat menumpahkan saja biar plong, tanpa nasihat, saran atau jalan keluar? Tidak adakah yang peduli melihat situasi diikuti pudarnya nirempati?

Bukan itu!

Ternyata semua juga sedang menghadapi hal serupa, akhirnya terciptalah kecemasan massal. Serunya lagi karena tak mendapat teman berbagi cerita apalagi masalah,  jadilah sosial media sebagai wadah favorit. Dianggap paling mengerti sekaligus penawar mujarab kecemasan, terangkum dalam key word Kesehatan Mental atau Mental Health dengan persentasi terbesar dalam pencarian. Dari pembahasan utama seputar tubuh sehat, sekarang beralih pada kesehatan mental mulai tergerus sehingga jadi penyakit serius bahkan kronis.

Kenapa jadi begini?

Sedikit kembali ke masa lalu, dulu orang mengejar karya demi sebuah pengakuan dalam prestasi. Kini, untuk dapat dikenal sampai terkenal bahkan dianggap sebagai prestasi, menghasilkan uang berawal dari seberapa banyak likes dan followers atau subsscriber. Bahkan dalam obrolan di kanal Youtube, seorang stand up comedian kondang bilang followers lebih penting dari ijazah. Terdengar miris bikin meringis, tapi mau berkata apalagi, begitulah sedang menggejala.

Hidup bukan lagi bicara kualitas, tapi hidup adalah konten sebagai cara pintas jadi tajir melintir, bergelimang kemewahan lalu diolah lagi sebagai konten  siap tonton.

Setiap gerakan mulai bangun tidur bahkan tak sempat tidur lagi karena semua jadi konten. Demi konten semua sah, sekalipun sesungguhnya merupakan konsumsi pribadi, diumbar agar mengejar serbuan likes.  Bisa pula konten mengenai kehidupan orang lain tanpa seizin pemilik kisah. Hidup dipertontonkan pemiliknya sendiri maupun orang lain dengan menabrak privasi pun jadi. Jangankan sekadar privasi, mebahayakan diri pun dijalani demi konten.

Ragam peristiwa menutup 2021, didominasi bencana dan kedukaan, telah membuat banjir konten. Tak sungkan mengumbar segala perkara, mempertontonkan karakter asli, dari yang patut diteladani sampai layak dimaki.

Bila di undang-undang tertera perihal penguasaan negara atas sumber-sumber yang menyangkut hajat hidup orang banyak, sementara sekarang secara pribadi pun orang berani bahkan merasa paling tahu, berhak hingga menentukan atas kehidupan orang lain tanpa rasa malu. Melontar kata tanpa saringan sebab semua sah pula dijadikan konten bahkan secara sengaja. Kalau dulu ada ungkapan mulutmu harimaumu, sekarang tampaknya harimau pun sudah dikuasi mulut. Raib sudah norma-norma yang bisa jadi pelindung. Manakala berbuat salah, tak lagi bersembunyi tetapi sengaja tampil di sosial media bermegah diri. Sebab sekali lagi hidup sudah jadi konten.

Ingin kutemui remaja yang merasa hidupya tak guna dan ingin bunuh diri tadi, lalu membisikkan: “Jangan putus asa! Lihat di luar sana, banyak kok yang melakukan hal sia-sia tapi tenang-tenang saja dan masih terus ingin hidup. Lebih lama bahkan. Tak perlu cemas. Jalani saja dengan penuh makna.”

Tapi aku ragu lagi, bisa jadi kecemasan dan rasa tidak berguna yang dirasakannya bermuara dari keterbukaan tanpa batas sehingga saat menutup tahun 2021, tetap harus menjelang 2022 tanpa ada yang bisa ditutup lagi, akibat setiap tarikan nafas sudah jadi konten. Sampai jadi jenazah pun tak ada ketenangan karena semua jadi cerita dan laporan langsung pandangan mata lewat media sosial secara real time. Mirisnya pula, mengantar satu jiwa berpulang dalam ritual pun tak lagi syahdu karena setiap perkataan hingga pergerakan terekam lewat kotak mungil ajaib yang orang modern sebut gadget. Langsung tayang dinikmati banyak orang menembus   batas ruang dan waktu.

 

Semua berlangsung ajaib, seajaib bisa orang menangis dalam kesedihan tetapi seseorang telah bersiap pula  merekam setiap adegan. Bahkan dengan sangat terkonsep memberikan hpnya pada seseroang, lalu  mendekati pihak yang berduka, bahkan jenazah dan semua muncul secara real time di sosial media. Belum lagi tengah berdoa, bernyanyi semua lengkap terlapor melebihi hasil kerja reporter handal sekalipun. Sosial media di masa depan menjadi rumah tinggal seakan menjanjikan, sekaligus jadi penjara kehidupan.

Ini mencemaskan enggak sih?

Kecemasan yang semula wajar, meningkat menjadi gangguan dan merusak ketenangan jiwa sampai berakibat depresi lantas berujung pada putus asa, mengakhiri hidup secara sepihak dengan melanggar skenario kehidupan dari ketetapan Sang Pencipta. Tanpa bermaksud sinis, menyimak semua fenomena ini, aku kuatir bahkan sosok Pencipta pun mulai pudar terkalahkan kebutuhan akan followers dan likes. Maafkan pemikiranku di bagian ini, bukan bermaksud menghakimi tapi sekadar menggelontorkan kecemasan pribadi pula sebagai seorang ibu yang juga terlilit kecemasan akan nasib dan masa depan anak-anaknya juga. Jangan sampai tergulung dalam hastag kesehatan mental.

Permisi! Ini bukan barisan sinis kelompok sakit hati.
Sekadar letusan kegelisahan bila hati tak dapat berkata lagi.
Akan jadi apa generasi umat ini?

Ita Sembiring, Pekerja Seni

HIDUP, Edisi No. 52, Tahun ke-75, Minggu, 26 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here