Mandadak Spiritual: Dari Digital Bible Hingga Gereja Virtual

61
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Demam istilah berlanjut. Esensinya sungguh suatu kabar baik!

ADAKAH itu yang benar-benar disebut sebagai ‘spiritualitas digital’? Seandainya pun itu adalah linimasa dalam proses pertumbuhan spiritualitas, apakah lalu ada yang disebut spiritualitas pradigital alias analog? Atau lebih ekstremnya, bila spiritualitas digital adalah 4.0, apakah para rasul beserta murid-murid Yesus lainnya pascaperistiwa Pantekosta menjalani apa yang disebut ‘spiritualitas perdana’ atau 1.0?

Transformasi digital seyogyanya hanyalah sarana yang mengisi linimasa. Tahun 1996 saya membeli Palm Pilot pertama saya saat masih tinggal di Singapura. Masih berlayar chromatic abu-abu dengan teks atau gambar berupa dots-matrix hitam. Lucunya, sudah ada pengembang yang membuat alkitab digital untuk Palm OS waktu itu, masih sangat sederhana dan sifatnya offline, artinya harus didownload dahulu.

Umat mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Jakarta, Kardinal Ignatius Suharyo, secara streaming.

St. Paul of Digital Age: Mungkinkah?

Dua tahun terakhir ini banyak anak muda Katolik melalui jaringan OMK-OMK (Orang Muda Katolik) saling berbagi ayat alkitab dan renungan pendek secara digital. Ini sebuah revolusi digital yang senyata-nyatanya dalam kehidupan spiritualitas anak-anak muda Katolik.

Mereka juga berbagi hal-hal terkait aktivitas komunitas mereka. Bayangkan saja, sebelum pandemi menghantam, menyentuh Alkitab mungkin sesuatu yang amat langka, apalagi membuka dan membacanya secara rutin. Pandemi menjadi katalis bagi masyarakat global untuk mengadopsi dan beradaptasi dengan segala hal yang serba digital. Pun demikian dengan anak-anak muda Katolik yang terpaksa bersekolah, berkuliah dan bekerja secara virtual dalam ekosistem digital. Dan membaca alkitab!

Sudah tiga bulan terakhir ini akun Instagram (IG) saya banyak mem-follow maupun di-follow oleh jejaring OMK dari berbagai kota di Indonesia. Saya kaget, ada keseragaman numenklatur – penamaan – akun-akun media sosial OMK dari Sabang sampai Merauke. Bahkan saya menyerah dan berhenti menghitung jumlah akun IG mereka karena saking banyaknya. Akun-akun itu begitu sibuk berdinamika bertukar hal baik – tak hanya ayat, tapi juga berbagai kesaksian iman.

Karena kepo, saya merangkum akun-akun IG OMK terpopuler dengan jumlah follower terbanyak, sekaligus merangkum akun Youtube Channel komsos berbagai katedral/keuskupan di Indonesia dengan jumlah subscriber terbanyak sebagai pelengkap.

Jumlah subscriber Youtube di setiap katedral dalam saya asumsikan merefleksikan mereka yang entah secara rutin atau seasonal mengikuti Misa – mingguan maupun harian – secara online di channel-channel tersebut. Itu kabar baik. Dan sudah bisa ditebak, Misa-misa virtual di berbagai tempat telah memberikan akses umat Katolik untuk memilih sendiri misa LIVE Streaming via Youtube di paroki mana pun mereka suka.

Saya misalnya, sudah mengikuti Misa-misa harian dan mingguan di berbagai channel, termasuk di Paroki St. Yusup, Bintaran, Yogyakarta, tempat saya dibaptis, menerima Komuni Pertama, Sakramen Penguatan dan Sakramen Pernikahan. Ada rasa sentimental bila kita bisa tetap terhubung dengan masa lalu yang sangat indah terkait kehidupan spiritualitas kita. (Oh ya, saya juga kepo mengikuti Misa-misa live-streaming di Washington DC, New York, Boston, San Fransisco, bahkan Misa online di Filipina.).

Pengalaman ini membuat saya membayangkan semangat misioner Santo Paulus saat ia menjelajah tempat-tempat nun jauh dari Yerusalem yang dimulai di tanah Antiokia. Kitab Suci mencatat perjalanan penginjilannya begitu panjang dan berliku, dari kota ke kota.

Ia memang menginjili banyak penduduk di kota-kota yang ia singgahi. Banyak yang bertobat karenanya, sebagaimana ia bertobat oleh karena Yesus melawatnya, dan Ananias yang kemudian membaptisnya setelah Tuhan mengutusnya untuk memulihkan penglihatan Saulus (nama Paulus sebelum bertobat) dari kebutaan. Paripurna!

What if – nah ini dia pikiran kepo saya – bagaimana jika St. Paulus datang kembali dalam kehidupan zaman ini, tidakkah ia akan memaksimalkan sarana digital yang tersedia untuk tetap bermisi? Tidakkah – mari kita bayangkan – kita akan sering melihat Instagram serta Youtube Channelnya setiap hari berubah status dan content? Tidakkah pula ia akan sependapat dengan kita semua bahwa jalan kesucian serta pewartaan kabar baik boleh dilakukan dengan sarana yang disediakan tiap jaman dengan sebaik-baiknya?

Anak-anak OMK, yang mungkin jejaringnya mencapai ratusan ribu anggota, bahkan bisa tembus satu juta, tidakkah mereka juga mewakili spirit Santo Paulus dalam menghidupi iman serta menginjili dunia di jaman digital hari ini? Kehidupan sekuler mereka – belajar, bekerja, bersosialisasi serta berinteraksi – sudah mengadopsi lingkungan dan ekosistem digital. Zoom, Gmeet, MS Teams, dan lain-lain sudah jadi sarapan sehari-hari.

Hampir semua menu media sosial mereka lahap, bekerja secara sistematis di platform digital sangat mereka kuasai dalam kesehariannya, artinya, mereka adalah generasi yang yang tak lagi ‘analog’ bila meminjam istilah teknis.

Ini tak terhindarkan, anak-anak muda ini adalah masa depan Gereja Katolik. Merekalah yang melanjutkan pembangunan ‘jalan tol spiritual’ yang dirintis Santo Paulus yang menghubungkan Yerusalem, Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, Tesalonika hingga ke pelosok Nusantara.

Jawaban atas pertanyaan awal saya sudah ketemu. Apakah dengan go-digital dan go-internet, kehidupan spiritualitas saya mengalami dekadensi? Saya yakin, itu tak ada kaitannya.

Sekali lagi, digital hanya istilah yang melekat pada sarananya. Esensinya sama. Kita dan anak-anak muda Katolik hari ini sedang menuju jalan pulang ke era Santo Paulus, dengan bertindak: “when in Rome, do as the Romans do” (Kisah Rasul 22), sebagaimana St. Ambrosius mempolerkan pepatah itu.

Tampaknya kita mendadak spiritual, tapi sebenarnya tidak. Teknologi menyingkapkannya, membuka selubung yang selama ini mata biasa luput menatapnya dalam setiap detil: bahwa kita umat Katolik – termasuk anak-anak mudanya – sungguh mencintai Kitab Suci, mencintai Allah Tritunggal Maha Kudus, mencintai Gerejanya, bahkan dalam keheningan saat teknologi belum benar-benar tiba menyingkapnya.

Semper Fi!

A.C. Mahendra K Datu, Paroki St. Monika – BSD, Tech Reviewer, OSCI-Innovation Designer

HIDUP, Edisi No. 52, Tahun ke-75, Minggu, 26 Desember 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here