Caplak di Bawah Meja Makan

77
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – DARI meja makan anak gadisku berteriak-teriak. Si fobia serangga parasit itu tegang wajahnya. Ia berlari menubruk dan memelukku dalam takut yang maha. Kuraih tubuhnya dan aku tertular paniknya. Sudah cukup lama dia tidak tersengat begini setelah awal bulan tujuh lalu ia berteriak panik karena belasan ekor kutu busuk berkejar-kejaran di kursi rotan Mbah Mul, tetangga jauh kami. Tutup rantang jatuh berderang-derang di lantai semen dan kuah soto yang kubawakan untuk Mbah Mul laki-bini itu tumpah sebagian.

Tangannya menunjuk-nunjuk di bawah meja makan. Arachnida dengan perut buncit kenyang darah itu merayap-rayap lamban hampir mendekati kaki kursi tempat anak gadisku tadi duduk makan sekeping crackers. Hati keibuanku memasang tameng. Jangan pernah serangga pengisap darah itu membuat anakku ketakutan.

Entah dari mana pula caplak itu datang. Geraknya lamban. Perut buncitnya yang berwarna abu-abu kehijauan itu mengkilat. Empat pasang kakinya tampak berat menopang perut rakusnya yang nyaris menggesek lantai. Tiba-tiba ada lagi yang datang, seperti sepasukan tentara yang hendak menyerbu musuhnya. Mereka mulai menyebar bergerak sendiri-sendiri ke berbagai arah tanpa komando. Aku mulai panik, nyaris tidak siap menghadapi pasukan caplak. Di pintu ada seekor anjing menyeringai. Sebagian bulu di punggungnya, juga ujung daun telinganya tertimbun gunungan caplak.

Pada moncong anjing itu kutemukan sekilas wajah yang sama dengan wajah ayah anakku, lelaki yang badannya sering mengeluarkan aneka satwa. Rupanya kali ini ia menjelma menjadi anjing caplakan. Betapa pun aku telah biasa menduga bahwa ia bisa menjadi beragam binatang, tetapi kali inilah ia begitu menjijikkan.

Lelaki itu mencintaiku. Tidak hanya sejak mengucapkan janji di depan pastor dan Tuhan, tetapi juga hari ini, mungkin. Sayangnya aku tidak lagi.

Cintaku mati bersamaan dengan munculnya beruang, singa, monyet, babi, dan anjing dari badannya.

Minggu lalu badannya mengeluarkan ular phyton reticulatus yang meremukkan tulang punggungku. Belitannya menghentikan aliran darah dan membuatku pucat lemas. Ular bermotif batik itu meninggalkan biru lebam di dada dan punggungku sehingga untuk berjalan pun aku limbung terhuyung-huyung. Badanku terasa nyeri tertusuk-tusuk. Tiga hari lalu ia menjadi beruang. Kuku-kukunya meninggalkan bilur di dagu dan leher sehingga aku harus memakai syal ke tempat mengajar sekadar menghindar dari pertanyaan yang tak kuinginkan dari teman-temanku.

“Lelaki itu harus dihormati, Ndhuk. Sebisa-bisamu kamu turuti keinginannya,”nasihat mertua perempuanku.

Kutelan saja kata-katanya seperti aku menelan sesendok nasi tanpa kukunyah. Lambat merayap tersendat di kerongkongan dan mencekik. Aku hanya ingin tampak sebagai menantu yang patuh pada mertua. Kasihan perempuan tua berkebaya yang selalu mengetuk-ngetuk ujung depan alas kakinya ke tembok agar kaki-kaki empu jahenya masuk ke dalam sandal itu. Anak lelaki kebanggaannya terus-menerus disanjungnya. Ia menjual sepetak sawahnya untuk penambah membeli mobil bagi anak lelakinya. Ke mana-mana ia selalu mengempit anak lelakinya di ketiaknya.

Ketika aku hendak memanggil lelaki itu untuk membantuku menggeser tempat tidur, mertuaku mencegah.

“Biarkan dia istirahat. Mari kita angkat berdua!”katanya.

Seketika perutku berkontraksi. Menegang dan keras. Mungkin anakku di kandungan memberontak.  Perutku yang sedang hamil 8,5 bulan mengeras akibat tenaga yang kupaksakan saat menggeser dan mengangkat tempat tidur. Sambil duduk di pinggir kasur, aku dilemparkan pada ingatan yang indah tentangnya. Tentang kata-kata romantisnya pada masa pacaran yang membuai dan sempat melambungkanku. Rasa-rasanya umur manisnya hanya dua tahun sejak di depan altar dan duduk bersanding di sisiku. Selebihnya ia bertransformasi menjadi isi kebun binatang dengan tingkahnya masing-masing dalam menghadapi mangsanya, aku.

Ia mengeluarkan monyet saat aku tiba di portal perumahan. Seperti di Sangeh, monyet itu pandai menyerobot segala yang menarik perhatiannya. Ia merampas kunci kendaraan dan isi dompetku. Seketika honor menulis di dua media minggu ini lenyap. Lembaran-lembaran yang bisa untuk periksa USG kehamilanku dikibar-kibarkannya dan disambut tawa-tawa berbau alkohol dari teman-temannya yang menanti di pos sekuriti perumahan.

Lelaki itu mengeluarkan buaya di tempat tidur. Dipaksanya aku mengikuti arahannya yang ganjil agar kebutuhan biologisnya terpenuhi. Ia tidak peduli bahwa aku hampir selalu pulang kelelahan di malam yang suntuk karena setelah mengajar aku mengambil beberapa tugas jurnalistik. Memburu narasumber untuk diwawancarai, mengetik laporan dengan terburu, lalu mengirimnya pada penanggung jawab desk. Seekor gajah menendangku dengan kaki kanan depannya ketika aku diam saja saat dimintanya membuatkan nasi goreng. Anak gadisku meraung melihatku meluncur di lantai. Lelaki itu pergi setelah anak gadisku menghebat raungannya.

Tangisku telah habis bertahun-tahun lalu. Dalam geming yang kian memadat aku tidak habis berpikir tentangnya. Kalau memang tidak bekerja mengapa tega merecoki uang belanja untuk dijadikannya bir berbotol-botol? Kalau tidak berpenghasilan tetap mengapa menyerobot honor menulis untuk beriang-riang memeluki perempuan dengan dandanan seronok. Andai saja dia anakku tentu lebih mudah bagiku menasihati, menegur, dan mengarahkannya. Lelaki luntang-lantung itu selalu merasa gengsi bila istrinya bicara. Gengsinya yang menggunung mengubahnya menjadi Hulk, raksasa hijau monster humanoid, alter ego Bruce Banner. Matanya merah menakutkan. Makin marah dia, kekuatannya makin menggila.

Hari ini aku bertekad keluar dari kebun binatang. Aku kelelahan bercanda dengan binatang-binatang buas. Sebelas tahun perkawinan dengan kondisi makin memburuk telah membuatku sangat puas menikmati aksi setiap binatang di dalamnya. Lelaki itu meradang ketika aku menyatakan berhenti mengamati aneka satwa dan mempelajari zoologi. Telah penat mataku melihat aneka tingkah binatang nyaris dalam sepanjang perkawinanku. Ia marah besar. Pintu dapur dilemparinya dengan panci. Kursi-kursi dibantingnya hingga jumpalitan. Tapi kemarahannya tidak membuatku mengubah pikiran. Hatiku kian keras. Sepuluh lembar baja yang melapisinya tidak akan pernah memuai oleh api yang diciptakannya. Hatiku tidak terbakar. Mataku terus mendapati seekor gajah yang mengamuk hebat karena habitatnya terganggu. Ia marah karena ATM berjalannya akan lenyap dari hadapannya. Ia mengamuk karena tidak ada lagi perempuan yang bisa jadi tumpuan emosinya. Tidak ada lagi perempuan yang bisa dicakar dagu dan lehernya, tidak ada lagi perempuan yang bisa dipatahkan tulangnya. Tidak ada lagi perempuan yang diseret ke luar rumah dan disiram seember besar air malam-malam di depan pintu.

Menuju ke pintu luar kebun binatang juga berarti tidak lagi mendengar wejangan mertua perempuanku. Ibu yang memanjakan anak lelakinya sejak kecil itu tidak akan lagi punya menantu yang selama ini tidak pernah membantah sedikit pun nasihatnya, menantu yang memuliakan anak lelakinya sepantas-pantasnya. Seorang pengacara yang bisa kudapatkan dari seorang teman membantuku berproses di pengadilan. Anakku ada dalam tanggung jawab dan asuhanku.

“Sakramen?” tanyaku balik pada seorang teman yang hendak menggoyahkanku.

“Kaupikir Tuhan senang melihatku berenang dalam kolam buaya? Ia akan mengarahkan hidupku pada kebahagiaan yang telah direncanakan-Nya untukku dan itu bukan di sini.”

Aku berusaha keras keluar dari anggapan yang memerangkap pikiranku, yaitu pikiran yang selalu menghubung-hubungkan pengalaman ini dengan kehidupan ayahnya yang berakhir karena kekecewaan yang mendalam tentang ibu lelaki itu. Ibu yang selalu mengempit anak lelakinya ke gereja, ke pasar, ke sekolah, ke mana saja. Ibu yang selalu ingin anak lelakinya senang tanpa perjuangan, bersila menikmati tumpeng di tikar yang telah dibentangkan orang tua.

Sebuah pilihan baru telah dijatuhkan. Pilihan dan keputusan kadang-kadang diyakini keliru setelah semuanya terjalani dan terasakan. Keliru karena tidak akan membawa bahagia, sedangkan tujuan manusia hidup adalah mencapai kebahagiaan. Maka pilihan dan keputusan berikutnya lebih didasari kehati-hatian dan siap dengan segala risiko yang menghadang. Aku tidak akan menyerahkan nyawaku pada binatang-binatang liar yang bermunculan dari tubuh lelaki itu.

Anjing buruk rupa itu masih di sana. Ia menuju bawah meja. Remah-remah biskuit crackers di bawah meja diendus-endusnya. Puluhan caplak berjatuhan dari punggungnya dan liar bergerak ke sana ke mari. Caplak-caplak itu menikmati remahan crakers di bawah meja makan yang sudah kosong. ***

Oleh Lidwina Ika

HIDUP, Edisi No. 52, Tahun ke-75, Minggu, 26 Desember 2021      

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here