Komisi PSE Keuskupan Purwokerto: Tidak Sekadar Mengajak Para Tukang Becak Makan Bersama

65
Makan bersama para tukang becak di Kantor PSE Keuskupan Purwokerto.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Sebuah kepedulian yang tidak memandang latar-belakang menjadi api semangat karya Komisi PSE Purwoketo.

BECAK menjadi salah satu alat transportasi tradisional yang masih bertahan di Purwokerto, Jawa Tengah. Namun lambat laun, alat transportasi ini kian terpinggirkan. Selain itu, sejak pandemi, para tukang becak juga mengeluhkan sepinya penumpang. Meski ekonomi nasional terlihat mulai bergerak, pada sektor transportasi tradisional masih belum terlihat geliatnya. Tak jarang tukang becak pulang kelaparan karena hari itu tidak satu pun penumpang. Melihat hal tersebut, Komisi PSE Keuskupan Purwokerto berkolaborasi dengan WKRI DPD Purwokerto mengadakan pelayanan Peduli Tukang  Becak (Dulicak).

Ketua Komisi PSE Keuskupan Purwokerto, Romo Stefanus Hariyanto, akrab disapa Romo Stef, mengungkapkan kerap melihat tukang becak di sekitar alun-alun Purwokerto. Kebetulan kantor Komisi PSE Purwokerto terletak sekitar 200 meter dari  alun-alun.  “Kami mengumpulkan 200-an tukang becak dari Kecamatan Purwokerto Timur dan Kecamatan Purwokerto Selatan, belum termasuk kecamatan lainnya,” ujarnya.

Bukan Sekadar Memberi

Dulicak berjalan sejak bulan Mei tahun 2018 hingga saat ini. Kegiatan yang awalnya dilaksanakan sebulan sekali kemudian menjadi satu bulan dua kali, di minggu kedua dan minggu keempat.

Anggota WKRI DPD Purwokerto, Katarina Maria Bintari mengatakan, pihaknya mengundang para tukang becak untuk makan prasmanan. “Awalnya kami menampung 50 orang. Sehari sebelumnya, kami membagikan kupon ke tukang-tukang becak di sekitar kantor PSE lalu di Stasiun Purwokerto, Jalan Merdeka, Jalan Sudirman, Jalan Gatot Subroto, dan Jalan Ahmad Yani. Kenapa makan secara prasmanan, karena kami ingin dekat dengan mereka. Tidak hanya memberi, namun mendengarkan cerita-cerita mereka juga,” terangnya.

Bagi Bintari, menarik becak saat ini gampang-gampang susah. “Kalau sudah punya langganan tetap, tukang becak punya penghasilan yang jelas. Namun, bagaimana nasib tukang becak yang tidak punya langganan tetap? Kadang mereka berharap ada yang keliling untuk memberi makan,” tuturnya.

Bintari kerap mendengarkan cerita para tukang becak. Untuk menafkahi keluarga, mereka harus mengobarkan waktu. Terkadang pulang ke rumah dua bulan sekali atau saat libur anak-anak sekolah. Beberapa dari mereka tinggal bersama dalam satu kontrakan. Tak jarang juga, setelah makan bersama, mereka meminta satu bungkus nasi untuk makan sore atau untuk anak dan istri. “Saya kadang sampai tersentuh, mendengar doa-doa tulus mereka,” ungkap umat Paroki Kristus Raja, Purwokerto ini.

Tumbuhkan Kepekaan

Kegiatan yang sudah berlangsung empat tahun ini sempat terhenti karena pandemi. Kendati demikian Komisi PSE Purwokerto menyiasati dengan membagikan nasi bungkus. “Kami buat ramesan lalu kami yang keliling. Pembagian makanan biasanya untuk sekitar 100 orang mulai dari tukang becak, tukang parkir, dan pemulung,” tutur Romo Stef.

Selain memberikan nasi bungkus, para tukang becak itu juga dibantu dalam bidang medis. Staf Komisi PSE Purwokerto, Cicilia Sarwiati mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan kerja sama dengan paroki-paroki dalam pengecekan kesehatan. “Jadi ada pengecekan kesehatan untuk mereka yang datang makan di kantor PSE. Kalau ada yang tensinya tinggi, akan diberikan obat atau vitamin,” jelas Cicilia.

Ibu-ibu DPD WKRI sedang persiapan untuk kegiatan Dulicak.

Dulicak memberikan pengalaman dan pembelajaran bagi setiap individu yang ikut tergabung di dalamnya. Kesan yang tertinggal bagi Romo Stef adalah ketika beberapa tukang becak lambat laun mengenali para pengurus di PSE. “Kami tidak hafal persis satu per satu karena mobilitasnya tinggi. Tukang becak itu lama-lama mengenali kami sebagai tim. Suatu saat ada pengurus kami yang dipanggil-panggil oleh mereka. Kaget. Ternyata itu salah satu tukang becak yang kami layani,”  ungkap imam diosesan tahbisan tahun 2019 ini.

Lain hal dengan Cicilia. Baginya melalui kegiatan Dulicak, pihaknya ingin menghimbau masyarakat untuk memiliki kepekaan. “Setiap individu hendaknya mempunyai kepekaan membantu sesama,” harapnya.

Karya Penggembalaan

Komisi PSE Keuskupan Purwokerto dulunya bernama Delegasi Sosial (Delsos) yang bersifat karitatif. Awalnya, Komisi PSE Purwokerto ditangani oleh Ekonom Keuskupan, Romo Hem Kemper MSC pada tahun 1984. Delsos menjadi Komisi PSE melalui perubahan fungsi sehingga perannya pun bertambah. Tidak hanya soal kegiatan karitatif di tingkat keuskupan tetapi menjadi animator dan fasilitator untuk karya-karya sosial ekonomi lainnya.

“Sebagai animator, kami memberikan sample atau contoh karya yang bisa diduplikasi di tingkat paroki. Sebagai fasilitator, kami menagani karya dalam tiga pilar yaitu APP (Aksi Puasa Pembangunan), HPS (Hari Pangan Sedunia), CU (Credit Union). Tiga pilar ini dianimasi dan difasilitasi oleh Komisi PSE untuk karya sosial ekonomi ditingkat keuskupan termasuk paroki,” tutur Romo Stef.

Menutut Romo Stef, hasil pengumpul dana dari aksi pantang dan puasa (APP) umat dikelola oleh panitia yang pengurus Komisi PSE. Karya-karyanya, antara lain, membantu sarana pendidikan, bantuan bedah rumah, fasilitas jamban, dan orang sakit.

Sementara pada peringatan Hari Pangan Sedunia yang terjadi pada tanggal 16 Oktober, Komisi PSE menganimasi atau memberi contoh kegiatan tidak hanya dalam Misa ekaristi tapi juga pengolahan makanan, penanaman tanaman pangan, dan pemberian makan secara gratis.

Komisi memiliki peran aktif terkait masalah sosial dan ekonomi. “Terkait dengan ekonomi, Komisi PSE melakukan usaha untuk karitatif, yaitu menolong umat yang berkekurangan dan pemberdayaan modal usaha agar umat dapat mengelolanya secara mandiri. Sedangkan secara sosial, berkaitan dengan ekologi yaitu animasi perlindungan untuk bumi yaitu penanaman, peghijauan, atupun kegiatan bersifat melindungi alam sekitar seperti pengelolahan sampah dan daur ulang sampah menjadi kerajinan tangan” ujar Romo Stef.

Rencana ke depan, Romo Stef bekerja sama dengan Komisi PSE KWI akan mengadakan kegiatan khusus ketahanan pangan. Program ini sudah dilakukan beberapa paroki. Misalnya, Paroki Banyumas memiliki proyek peternakan ikan Lele.

“Program ketahanan ekonomi ini tidak bisa kami jalankan sendiri, perlu kerja sama dengan pihak lain yaitu Komisi PSE KWI dalam hal ini APP Nasional,” tutup Romo Stef.

Angela Merici Devita Kusumawardhani

 

HIDUP, Edisi No. 2, Tahun ke-76, Minggu, 9 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here