Naik “SEDAN”: Menemukan Mutiara-mutiara yang Terpendam Santo Yusuf

268
Temu Pria Katolik, 24 Juni 2016.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – KOMUNITAS Pria Katolik (KPK) St. Helena Paroki Curug lahir dari refleksi empat keempat pria aktivis di lingkungan dan wilayah Paroki Curug yakni Antonius Andi Janto Singgih, Mustofa Hadi, William Winata dan Irwan Santiago. Mereka usai mengikuti sebuah Camp Kepriaan Katolik yaitu Camp Pria Sejati Katolik di akhir tahun 2013 di Bogor.

Setelah beberapa kali berkonsultasi dengan Vikep KAJ saat itu Romo Al. Andang Binawan, SJ, ia menyarankan membawa kegiatan ini hendaknya ada di payung Seksi Kerasulan Keluarga di paroki.  “Karena sifatnya untuk menjaga panggilan pria sebagai suami dan ayah. Kemudian harus ada nama pelindungnya sebagai spiritualitasnya. Ia langsung menyarankan kami memilih St. Yusuf. Jadi kegiatannya bisa dimulai dengan doa dan devosi kepada St. Yusuf,” tambah Andi.

Setelah berdiskusi dengan Kepala Paroki maka lahirlah KPK St. Helena pada 19 Agustus 2014, sebagai komunitas kategorial paroki di Paroki Curug dibawah koordinasi SKK Paroki Curug. Pelayanan perdananya mengundang para pria: Kelahirannya ditandai dengan digelarnya pertemuan doa bulanan perdana yang dinamakan Temu Pria Katolik St. Helena” (TPK).

Kegiatan dan pelayanan dilakukan secara konsisten oleh komunitas kategorial ini. Secara kreatif mereka melakukan aksi bela rasa salah satunya menyapa warga binaan. Sampai mereka dihadapkan oleh situasi pandemi Covid-19 dan pada kesempatan yang sama mereka disemangati dengan adanya Tahun St. Yusuf yang diusung oleh Paus Fransiskus. “Ketika pelantikan pengurus baru, enggak ada yang punya rencana membuat sekolah,” ungkap Andi.

Berawal dari Buku

Masih lekat di benak Andi ketika ia googling buku-buku untuk bahan di KPK di akhir tahun 2017. Ia menemukan sebuah buku “The School of Nazareth: 30 Days Spritual Journey with St. Joseph”. Penulisnya  merupakan penggerak Komunitas Pria Katolik “That’s Man is YOU” di Amerika. Ia memutuskan untuk membelinya dan coba membaca. Saat itu buku tersebut hanya menjadi pelengkap bagi persputakaannya saja.

Usai pelantikan pengurus KPK St. Helena pada 19 Maret 2021, ketika sedang membongkar-bongar rak buku, Andi menemukan buku “The School of Nazaret”. Segera ia baca kembali.  Tulisan di dalamnya terkait rekomendasi saat membaca buku ini dilakukan yaitu retret 30 hari ini baik dilakukaan saat jelang Pesta Nama St. Yusuf 19 Maret dan Pesta St. Yusuf Pekerja 1 Mei.  “Mengingat 19 Maret sudah lewat, maka saya berbulat tekad untuk menghadirkan mulai April 1 – 30 Maret 2021 sehingga 1 Mei bisa merayakan Hari Santo Yusuf Pekerja dengan persiapan retret pribadinya secara daring,” tutur Andi.

Berusaha Menerjemahkan

Andi segera mengabari tim KPK di antaranya Benedictus Yulius Ariyasatya
dan Jonathan Arvin Max Samuels. Awalnya Andi enggan menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonsia dan ia ingin langsung saja memperbanyak dan membagi para pengurus dan anggota. Namun Yulius bersedia membantu. Maka beberapa orang ikut terlibat menerjemahkan materi-materi tersebut.

Yulius dan Arvin membeberkan pengalamannya ketika menejemahkan buku ini, terkendala di waktu. Mereka sebagai seorang pekerja mempunyai kegiatan yang padat di kantor. “Karena Andi sebagai editor, kalau saya sudah rampung saya berikan ke beliau dan itu bisa jam 1 pagi saya baru chat Andi,” tutur Yulius.

Sebanyak 60 orang dari KPK St. Helena yang mengikuti Sekolah dari Nazaret (SEDAN) Angkatan 1 di mulai Bulan April 2021 melalui Zoom. Sambil sekolah jalan, sambil menerjemahkan. Sedangkan kerjaan saya dari  Januari – April lagi hectic-hecticnya. Jadi saya ikut menejemahkan materi yang bagian akhir-akhir,” aku Arvin.

Tim KPK juga menyerahkan hasil terjemahkan tersebut di kepada moderator dan pendamping. Secara legalitas, di setiap materi per harinya, sudah dirancang ada disclaimernya. “Keterbukaan bahwa penerjemah bukanlah seorang penerjemah resmi dan tersumpah. Jika ada yang dirasa kurang berkenan maka silakan dapat membaca dari naskah aslinya yang ditulis dalam Bahasa Inggris.  Tanpa mengurangi risiko legalitas yang ada. Jadi kayaknya itu harus ditekankan bahwa sudah ada keterbukaan atau disclaimer,” tegas Yulius.

Kegiatan SEDAN Angkatan 2 melalui zoom meeting.

Perkembangan dari SEDAN sangat membuahkan hasil yang menggembirakan maka mereka mulai merancang untuk membuat Angkatan berikutnya, sampai sekarang akan dibuka Angkatan 7. SEDAN turut hadir di Penjara Lapas Pemuda sudah dimulai sejak Angkatan 2.

Menurut Andi, pelayanan SEDAN di penjara bertujuan untuk mengajak pria, suami, ayah, warga binaan juga belajar ketedalanan St. Yusuf dan mengalami transformasi kehidupan. Mereka boleh berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi khususnya selama menjalani masa hukuman dan mempersiapkan mereka kelak khususnya setelah mereka bebas.

Sekolah lanjutan

Perjumpaan dengan buku “Consecration to St. Joseph: The Wonders of Our Spiritual Father” karya Donald Calloway, MIC membuat Andi ingin mempersiapkan sekolah lanjutan SEDAN (secara daring juga).   Romo Siprianus Smakur Tukan, SS.CC, yang terlibat dalam pendampingan SEDAN kembali membantu dengan memberikan nama sekolah lanjutan ini dengan nama Sekolah Abdi Yusuf (SAY).

Bagi kelahiran Kudus, 1 Desember 1971 ini menggelar SEDAN dan SAY ternyata membawa keasyikan tersendiri. Setiap angkatan ada suka dukanya tersendiri dan semuanya itu menguatkan dan menumbuhkan agar Sekolah Yusuf ini semakin teruji dan dimurnikan. Dinamika sekolah juga berbeda setiap angkatan. Refleksi-refleksi yang dibagikan peserta ternyata menguatkan, meneguhkan dan menimbulkan empathy peserta lainnnya.

“Apalagi apabila peserta mampu memaknai kedalaman materi kedua sekolah ini. Mereka akan menemukan mutiara-mutiara yang selama ini terpendam terkait St. Yusuf. SEDAN dan SAY memberikan rasa takjub yang tidak ada habisnya apabila peserta dapat menggalinya dan rasa haru biasa datang ketika hari kelulusan tiba, setelah 30 atau 33 hari menyelesaikan SEDAN atau SAY,” terang Ketua KPK St. Helena ini.

Diuji

Setelah lulus dari SEDAN di Angkatan 1, Andi justru merasakan berada di dalam sebuah ujian. Ada sebuah pengalaman yang kurang mengenakan, ketika itu anaknya menabrak dan mengakibatkan seseorang dilarikan ke rumah sakit.

Andi merasa ia diuji sebagai seorang ayah, bagaimana ia harus bersikap dalam situasi pelik namun ia harus tetap mendampingi dan melindungi anaknya. “Justru setelah SEDAN 1 saya mendapatkan ujian sebagai seorang ayah, dihadaptkan dengan realitas kehidupans sehari-hari. Saya merasakan kekuatan sebagai ayah yang diuji dalam situasi sulit,” tuturnya.

Paguyuban Legion Yusuf dan Lady Yusuf membagikan donasi ke Lapas Kelas1 Tangerang.

Harapan Andi, peserta tidak sekadar lulusan dari SEDAN dan SAY. Sehingga KPK St. Helena membuat wadah yakni Paguyuban Legion Yusuf dan Paguyuban Lady Yusuf. Paguyuban bagi para alumni SEDAN dan SAY. Di dalam paguyuban ini pun mereka diajak menjadi satu kelurga yang berbela rasa dan menghidup keutamaan St. Yusuf.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu

HIDUP, Edisi No. 11, Tahun ke-76, Minggu, 13 Maret 2022

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here