Ko Tao

42
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – KUDENGAR suaramu samar di ponselku, datar tiada berirama. Rupanya, kegembiraan dan kepedihan tengah melebur di ceruk hatimu. Seberkas kegembiraan menyelinap karena pada akhirnya kau memungkasi studi.

“Aku sudah lulus ujian skripsi, Kak,” ujarmu dengan suara berdesah.

Namun, kegembiraan itu serta-merta tertelikung oleh kepedihan akibat kabar burung yang menusuk perasaanmu bahwa kekasihmu, Tonny, tengah berpaling pada rekan kerjanya.

“Dia tega banget, Kak,” katamu menahan isak.

“Kau masih muda, Manda. Masih ada banyak kesempatan untuk menjalin relasi dengan lelaki lain yang lebih baik,” tuturku mengingatkan. Lantas perbincangan beralih pada rencanamu berlibur bersama teman-teman kuliah ke Thailand.

“Aku mau menenangkan diri, Kak,” lanjutmu.

“Sebaiknya begitu. Ada banyak pemandangan indah di Thailand. Kulinernya menggoda. Kau akan senang di sana,” sambungku mendukung rencanamu.

“Kami mau backpacker-an, Kak,” tuturmu.

“Nah, itu cara berlibur hemat dan leluasa,” imbuhku.

Tiga hari berselang, kau bersama dua temanmu –Nancy dan Lia– beranjak dari Tanah Air menuju Negeri Gajah Putih yang memakan waktu sekitar tiga setengah jam penerbangan.

“Semoga luka hatimu segera sembuh, Manda,” harapku menjelang kau berangkat.

“Amin, Kak,” balasmu via teks WA.

Ko Tao adalah tujuan utamamu setelah singgah semalam di Bangkok. Pulau Penyu yang masih perawan itu telah memukau tak terbilang banyaknya turis dari mancanegara. Kendati beredar banyak kisah miring tentang Ko Tao, kau tak peduli.

***

Ko Tao adalah sebuah pulau di Pantai Barat Teluk Thailand yang merupakan bagian dari Kepulauan Chumphon. Luas pulau itu sekitar 21 km2. Secara administratif, pulau yang kerap dijuluki Death Island ini masuk wilayah Ko Pha-ngan, Provinsi Surat Thani. Populasi penduduknya sekitar 1.382 orang.

Ko Tao merupakan salah satu destinasi wisata terindah di Thailand. Pulau itu serasa surga bagi backpackers.  Ada sekitar 250 hotel dengan tarif yang bersahabat, yang membujur di sepanjang pantai. Setelah sempat babak-belur dihajar oleh pandemi Covid-19, per 15 Juli 2021 Ko Tao telah kembali menerima turis asing untuk berlibur dengan syarat telah lengkap divaksinasi.

Begitu tiba di Ko Tao, sontak kau dibekap perangah. Sebegitu jelita pulau itu! Pulau yang dikitari oleh pantai itu menyuguhkan panorama yang tenang dan sejuk di hati. Aura santai kau cecap di setiap langkahmu. Wajah-wajah ceria kau jumpai di mana-mana. “Beda banget  ya… dengan Jakarta, banyak orang stres di sana,” celetukmu.

Kalian menyewa bungalo yang lokasinya persis menghadap laut. Ketika bola mentari berbinar terik di punggung langit pada siang yang gerah, kau dan dua sobatmu menyelam sembari menyaksikan hiu dan pari menari-nari di bawah laut. Pemandangan laut yang begitu indah itu sungguh memanjakan mata dan membuatmu terperangah berulang kali.

“Kita mesti ikut pesta terang bulan di sini. Keren banget.  Itu momen yang paling ditunggu-tunggu turis,” lanjut Nancy, gadis berekor kuda dan berkaca mata.

“Kapan ya bulan purnama?” tanyamu antusias dengan bola mata membesar.

“Sekitar tiga hari lagi,” jawab Nancy.

Lia tak kalah penasaran. Mereka sepakat mengulur waktu untuk tinggal di Ko Tao hingga purnama tiba. Toh mereka belum diburu waktu untuk target tertentu. Hidup di Ko Tao terasa mudah. Suasana yang relaks membuat kalian melupakan rutinitas keseharian yang jenuh. Kau yang sesungguhnya tengah menanggung luka hati pun seakan tak sempat memikirkan persoalan. Inilah hidup. Nikmatilah!

***

Malam itu, purnama sempurna. Bola berwarna keemasan itu bertengger anggun di hamparan cakrawala nan menghitam, memunculkan perpaduan warna yang kontras. Sementara semilir angin pantai mengusung suasana sedemikian nyaman. Inilah waktu yang dinantikan oleh para turis yang tak pernah lengang di Ko Tao. Lupakan pandemi. Meski pengunjung susut, toh suasana tak pernah senyap.

Kau pun terbenam dalam suasana. Sejak petang datang, kau telah mencangkung di teras sebuah kafe. Segelas coffee latte dan sepotong rainbow cake langsung mengganjal perutmu. Sementara percakapan antara dirimu bersama Nancy dan Lia terus bergulir. Ada saja yang kalian bincangkan, tak pernah kehabisan topik.

Di pojok teras ada sepasang mata yang menguntitmu. Sesekali kau bersirobok pandang dengan lelaki berkulit kuning langsat berparas rupawan itu. Selang beberapa waktu, pemuda yang juga berasal dari Indonesia itu bersama dua temannya dari Filipina sudah bergabung meja dengan kalian. Kalian mudah akrab, menyatu dalam keceriaan. Seakan tiada jeda, tawa dan canda bersusulan. Sukacita tumpah-ruah,

Selanjutnya, kalian menikmati dinner di Chopper’s Bar n Grill. Hidangan ala Thai dari hasil laut itu sungguh menggoyang lidah. Selera makanmu menanjak tak terkendali. Tak seperti biasa, porsi makanmu malam itu membuncit. Sejurus berselang, musik rock bergaung keras, memanggil para turis untuk bergoyang di pinggir pantai. Kilau lampu warna-warni yang saling berkejaran dan sorak-sorai turis yang menguar di udara menambah meriah suasana.

Malam itu, pemuda bernama Andy itu mengajakmu menyusuri pantai. Kau sepakat. Entah mengapa kau seakan terusik oleh kebisingan yang memekakkan telinga. Setelah menghabiskan segelas red wine, kepalamu mulai pening. “Badanku seperti goyang nih,” keluhmu kepada Nancy. Untuk memudarkan kadar alkohol di dalam aliran darahmu, kau sengaja menenggak sebotol air mineral berukuran seperempat liter hingga ludes. Selanjutnya, kau pamit kepada Nancy dan Lia untuk berjalan-jalan bersama Andy.

“Sebentar doangEntar  gue langsung balik ke hotel,” katamu diiringi seulas senyum.

Nyaris sepekan di Ko Tao, kau senantiasa ceria. Hidup bagai tak mengenal persoalan. Tak sekalipun Nancy dan Lia memergoki parasmu muram. Malam itu, keceriaanmu berpendar. Terlebih, setelah kau berkenalan dengan Andy. Ternyata, hingga hari berganti, sosokmu tak kunjung muncul. Langkahmu bersama Andy tak sempat mencapai hotel.

Nancy dan Lia sontak dilabrak panik. Begitu pula dua rekan Andy.

“Kita mesti lapor kepada polisi,” usul Lia, langsung disepakati oleh rekan-rekannya. Tak lama berselang, Ko Tao gempar. Dua turis asal Indonesia dinyatakan hilang. Ko Tao pun dikepung oleh gerombolan polisi. Sayangnya, keberadaanmu dan teman barumu itu tak kunjung terlacak, tak jelas rimbanya.

Hingga aku menyongsong kedatangan Nancy dan Lia dari Thailand. Mereka menyerahkan barang-barang yang kau bawa selama berlibur. Dengan duka nyaris tak terbendung, aku menerimanya. Tak banyak kisah yang terluncur dari mulut mereka. Lidahku kelu, enggan mengulik duka yang selama sepekan ini menghantam keluargaku. Kepedihan terlanjur mengakar.

Sesungguhnya, hidup adalah perjalanan menuju kematian. Apakah Ko Tao adalah pengujung perjalananmu? Tiba-tiba, manik mataku terpaku dan telapak tanganku bergetar mendapati selembar teks doa di dalam ranselmu.  Doa kepada Santo Yusuf yang bertajuk “Mohon Kematian yang Bahagia”…

Oleh Maria Etty

HIDUP, Edisi No. 11, Tahun ke-76, Minggu, 13 Maret 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here