Kenapa Tuhan Menciptakan Aku?

60
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Ketika aku melihat dan mempelajari kembali sistem pencernaan yang ada dalam tubuhku, aku menyadari satu hal baru. Aku sudah mempelajari hal ini ketika SMP.  Waktu itu aku belum tahu apa itu refleksi dan filsafat sehingga aku hanya menerima begitu saja.

Saat itu aku hanya mengejar nilai agar mendapat peringkat yang baik sehingga mendapat hadiah dari orangtuaku. Sekarang, pikiranku sudah mulai terbuka untuk mengetahui banyak hal. Aku semakin merefleksikan banyak hal.

Sistem pencernaan manusia dimulai ketika makanan masuk ke dalam mulut dan berakhir ketika feces dikeluarkan. Namun, perjalanan makanan itu tidaklah mudah. Banyak proses yang harus dilewati. Salah satu organ yang sulit untuk dilewati adalah esofagus, yang sering disebut kerongkongan.

Ketika makanan sampai pada organ ini, ada salah satu gerakan, yaitu gerakan peristaltik yang membantu makanan agar bisa lewat dengan baik karena rongga dalam kerongkongan sangat sempit. Tidak sesuai dengan ukuran makanan yang dicerna.

Setelah berhasil melewati kerongkongan, barulah makanan dibawa menuju lambung. Namun, makanan tidak berhenti disana melainkan harus melewati beberapa proses yang masih panjang dan membutuhkan perjuangan melawan bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh.

Sebagai seorang Katolik, aku diajarkan untuk percaya bahwa semua itu diciptakan oleh Tuhan. Sistem pencernaan dan seluruh sistem yang ada dalam tubuhku sudah diatur oleh Tuhan dengan baik.

Kemudian, muncul pertanyaan dari dalam diriku. Mengapa Tuhan menciptakan sistem seindah dan sistematis seperti itu? apa yang Dia inginkan dengan menciptakan manusia sekompleks itu? Apakah pujian, persembahan, atau hal lain.

Jika memang Dia menginginkan semua itu, kenapa Dia justru memberi kebebasan? Dengan memberikan kebebasan manusia bisa memilih untuk tidak menyembah Dia. Lalu apa yang Dia inginkan?

Sampai saat ini saya masih berusaha mencari dan masih belum bisa menemukan. Aku belum menemukannya bukan karena aku tidak berpikir atau bermalas-malasan, tetapi kapasitasku untuk berpikir sudah tidak sanggup. Dengan demikian, aku tidak tahu alasan Tuhan menciptakanku. Aku tidak bisa menyelami pikiran Tuhan. Pikiranku sangat terbatas.

Willy Silalahi
Mahasiswa STF Driyarkara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here