“Anak Ajaib” yang Keras Kepala

146
Mgr. Seno Inno Ngutra
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Beberapa kesaksian di masa kecilnya menunjukkan Uskup Inno seorang yang usil, bandel, suka bertengkar, dan keras kepala. Tapi Tuhan memilihnya sebagai gembala di Keuskupan Amboina.

“USKUP Seno Inno Ngutra waktu kecil nakal sekali,” begitu Sr. Adriana Ngutra, PBHK mengingat masa kecil sepupunya. Kalau mau minta makan, pasti berlari keluar rumah, lalu berdiri di tengah jalan sambil berteriak menggunakan bahasa Kei, Maluku Tenggara, ya blafar oh (saya lapar). Kalau sang ibu tak kunjung memberinya makan, ia tidak akan berhenti berteriak. Teriakannya itu membuat tetangga keluar rumah dan beberapa menawarkan makan kepadanya. “Kadang-kadang orang tuanya malu karena dianggap menelantarkan anak,” sambung Sr. Adriana.

Sr. Adriana Ngutra, PBHK

Kenakalannya ini juga terbawa dalam pertemanan. Seno, sapaan masa kecilnya, suka berkelahi. Kalau ada yang mengejeknya, pasti berantem. Dia sangat berani. Saat berkelahi dengan teman, dia suka mencaci-maki sembarangan.“Mamanya itu sangat marah kalau anaknya menggunakan kata-kata kotor. Seno sering dikejar dengan sapu atau bambu. Walau percuma merotaninya, karena tak pernah menangis,” kata Sr. Adriana.

Mgr. Seno Inno Ngutra bersama sang ibu

 

Saat masuk Seminari Menengah St. Yudas Thadeus Langgur, Kei Kecil, keluarga begitu senang. Harapannya agar Seno bisa berubah. Perubahan itu berjalan lambat dan butuh waktu lama. Suatu malam di Seminari, Seno mengajak teman-temannya untuk kabur dari asrama untuk menonton pertandingan bola final champion di rumah warga. Akhirnya dia dapat sanksi dikeluarkan satu minggu. Setelah menjalani hukumannya, Rektor Seminari Pastor John Lengkong, MSC (alm.) memanggilnya lagi. Pertimbangan utama karena kemampuan akademiknya.

Bagi Sr. Adriana, bila saat ini Seno menjadi imam lantas dipilih Paus Fransiskus jadi uskup, keluarga yakin itu semata karya Roh Kudus. Bukan kekuatan Seno. Ia memiliki banyak keterbatasan. Tapi di tengah keterbatasannya sebagai manusia, Tuhan memakainya.

Gegara Drum Band

Waur, sebuah desa kecil di Pulau Kei Besar. Tidak ada yang istimewa dari desa ini, selain kesederhanaan warganya. Kehidupan masyarakat yang berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur terus hidup di kampung ini. Dengan mayoritas masyarakat beragama Katolik, Desa Waur hampir tak pernah “puasa” mempersembahkan imam. Dari kampung ini sudah ada 11 imam diosesan maupun tarekat – belum terhitung frater dan susternya. Satu di antara putra terbaik desa ini adalah Mgr. Inno.

Mgr. Inno menceritakan ketertarikan awalnya menjadi pastor. “Saya ingin menjadi imam karena mau makan enak,” ujarnya.

Di masa kecilnya Paroki Hati Kudus Yesus, Waur dilayani Pastor Anton Gilen, MSC atau Pastor Titus Rahail, MSC (Sr). Setiap kali Pastor Anton masuk kampung Waur, lonceng gereja pasti dibunyikan. Jika pastor berkunjung, yang paling sibuk para ibu. Aneka macam lauk disiapkan untuk gembala. “Saya biasa ikut Mama ke pastoran. Setelah pastor selesai makan, saya pasti menghabiskan makanan sisa pastor. Sejak itu saya berpikir harus jadi pastor supaya makan enak,” cerita kelahiran Waur, 7 November 1970 ini.

Setelah duduk di SMP Savio Katlarat, Kei Besar, motivasi makan enak ini berubah dengan peristiwa penahbisan imam pertama Waur. Panitia mengundang drum band Seminari Langgur. Anak-anak Seminari menghebohkan Desa Waur dengan dentuman bunyi drum band. Anak-anak kecil berlarian mengikuti para seminaris, termasuk orang tua juga bernyanyi bersama para seminaris. Motivasi makan enak berubah menjadi ingin main drum band.

Seorang sepupunya, Pia Ngutra bercerita, sejak kehadiran drum band, Inno begitu bersemangat masuk seminari. Setiap hari dalam perjalanan ke sekolah SMP Savio Katlarat – desa tetangga, sekitar 5 kilometer dari Waur, Inno selalu bercerita soal keinginannya masuk Seminari. Keinginan itu ditunjukkannya dengan prestasi yang gemilang di SMP.

Kendati harus berjalan kaki pulang-pergi 10 kilometer setiap hari, Inno tak pernah lalai. Dalam perjalanan ke sekolah itu, ada saja cerita-cerita lucu. Pernah melempar buah mangga milik orang lain, atau juga Inno sering disuruh manjat pohon kelapa. Tidak sedikit warga yang menegurnya, tidak sedikit pula yang mengejarnya karena tidak meminta izin.

Anton Ngutra

Prestasinya yang cemerlang di sekolah membawanya masuk Seminari. Kegemilangan di bidang akademik ini juga terbukti di Seminari Langgur. Ia selalu mendapat juara pertama, dan lulus dari SMA Seminari sebagai juara umum. “Di Seminari Langgur, kelihatan orangnya bandel. Dia terlihat agak santai dalam belajar. Tetapi di akhir semester selalu mendapat juara. Pribadi ini buat kami keluarga merasa dia ini ‘anak ajaib’- anak luar biasa,” cerita Tony Ngutra, kakak Mgr. Inno.

Keras Kepala

Tony menambahkan, usai dari Seminari Langgur, Uskup Inno memutuskan menjadi imam diosesan. Keputusan ini juga bertentangan dengan harapan orangtuanya Christiforus Ngutra dan Teresia Baranyanan. Sang ayah cukup lama bekerja di RS Misi Katlarat yang dikelola para Suster PBHK. Sementara Teresia, ibu rumah tangga yang setia dan tekun dalam doa. Kedekatan dengan Tarekat PBHK dan MSC, membuat orang tua ingin Inno menjadi MSC. “Tetapi itu tidak terjadi karena saya berpikir harus menghidupi ‘dapur’ di keuskupan sendiri yang masih kekurangan imam.”

Katanya lagi, walaupun pilihan ini tidak sesuai harapan mereka, dirinya yakin orang tua selalu mendukung dalam doa dan diam. Hal itu terjadi ketika dirinya ditinggalkan sang ayah untuk selamanya tahun 1994. Berita kematiannya baru diketahui dua bulan oleh Mgr. Inno. Hal ini karena keluarga tidak berani menjelaskannya kepada Mgr. Inno yang sedang bergumul dengan panggilannya di Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng, Manado.

“Sebagai orang tua, saya sudah yakin Inno pasti keluar frater. Saya tahu bagaimana cintanya Inno kepada sang ayah. Tetapi saya selalu mengatakan mau menjadi imam itu pilihan sendiri dan tidak ada yang melarang. Jadi kalau ada suka dan duka, harus dijalani dengan ikhlas,” ungkap sang ibu.

Mgr. Seno Inno Ngutra (kanan) bersama dua sepupunya Pastor Norbertus Ngutra, MSC (kiri-alm) dan Pastor Edoardus Ngutra, MSC (tengah)

Dalam perjuangan dan pergumulannya, Mgr. Inno ditahbiskan menjadi diakon dan ditugaskan di Paroki St. Yohanes Vianey, Halong, Kota Ambon.Waktu tugas sebagai diakon, terjadi kerusuhan horizontal tahun 1999. Hampir tidak ada aktivitas peribadatan dan orang tidak sembarang berkeluyuran, apalagi melewati daerah yang bukan mayoritas agamanya.

“Tapi Mgr. Inno keras kepala. Dari Halong ke Ambon, dia menggunakan pakaian Brimob lengkap dengan topi lalu membawa mobil Ambulans. Ketika lewat di Galunggung yang mayoritas umat Muslim, dia menyalahkan sirene Ambulans sehingga mobilnya berhasil lewat,” cerita Pia.

Sr. Adriana, Pia, dan Anton percaya bahwa dalam keras kepalanya, Tuhan memilihnya untuk ditahbiskan menjadi imam pada 6 Oktober 2001 di Tual, Kei Kecil. Kini Uskup Inno telah menjalani 21 tahun imamat, dan dalam perjuangan itu ia percaya akan perintah Tuhan “… tetapi karena Engkau menyuruhnya” (Luk. 5:5). Ia yakin perjalanan panggilan dengan segala lika-liku ini bisa terjadi dan sampai hari ini karena Tuhan yang menyuruhnya.

“Saya punya banyak kelemahan sebagai manusia, tetapi karena Dia yang menyuruh maka saya harus taat,” ucapnya di Gereja Maria Bintang Latu, Ambon ketika hari pertama dipilih Paus Fransiskus menjadi Uskup Amboina.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 14, Tahun ke-76, Minggu, 3 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here