Kasih yang Tak Terpahami

160
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. (Kel 12:4)

Bacaan Kitab Suci di atas selalu diperdengarkan di gereja menjelang hari raya Paskah, ketika seluruh umat Tuhan secara khusus memperingati sengsara dan wafat Tuhan Yesus Kristus dalam Tri Hari Suci.

Saya sering terbawa dalam lamunan. Kasih Allah kepada manusia melalui kesengsaraan dan wafat-Nya di kayu salib itu begitu mencengangkan, sehingga manusia hampir-hampir tidak mampu memahaminya dengan nalar.

Saya berpikir mungkin kasih Allah yang begitu besar itu seperti domba Paskah yang tak akan habis oleh satu keluarga, sehingga umat Tuhan di Perjanjian Lama diminta mengajak tetangganya untuk menghabiskannya.

Saya berpikir itu juga sebabnya Gereja sering menamai peristiwa iman terbesar dalam sejarah umat manusia ini sebagai “Misteri Paskah Kristus”

Di sebuah penghujung hari, setelah selesai membereskan tugas terakhir hari itu, saya bersiap untuk masuk kamar dan beristirahat.

Suami saya sudah mendahului berbaring di tempat tidur, setelah seharian sibuk dengan pertemuan daring pekerjaan kantornya.

Saya memeluk suami saya, mengajaknya berdoa malam dan mengucapkan selamat tidur dengan penuh rasa kasih sayang.

Sekilas saya menanyakan makanan untuk besok yang tadi saya minta tolong padanya untuk dihangatkan.

Setengah tertidur suami saya menceritakan bahwa makanan itu tadi hampir hangus karena ia lupa mematikan api kompor.

Sontak mata saya yang sudah setengah menutup terbelalak lebar.

“Apaa??” suara saya meninggi.

Kata-kata sayang yang tadi saya bisikkan di telinga suami saya langsung berganti menjadi litani omelan, karena peristiwa semacam itu bukan yang pertama kali.

Suami saya tidak membela diri, mungkin karena ia sudah setengah tertidur. Tinggallah saya tercenung sendirian dalam gelap. Antara merasa malu dan menyesal. Ya ampun, pikir saya terheran-heran.

Betapa mudahnya rasa sayang saya berganti dengan kekesalan, dan kata-kata mesra berubah menjadi teguran bernada keras. Hanya karena saya menemukan kelalaian kecil suami saya yang tidak memenuhi standar saya.

Alangkah tingginya ego saya, dan alangkah sedikitnya kasih saya. Menemukan kerikil kecil saja sudah keok. Cinta manusia seringkali sedikit saja dan berpamrih. Kita mencintai sesama karena ini dan karena itu. Jika tidak ada alasan yang menguntungkan saya atau memuliakan ego saya, cinta kasih saya segera tumbang.

Apalagi jika pihak lain melakukan hal hal yang tidak menyenangkan atau melukai saya. Kasih saya yang sedikit dan bersyarat itu pun pudar.Bahkan seringkali hanya karena berbeda pendapat, berbeda keyakinan, bahkan sekadar berbeda asal usul, maka kasih itu seperti tidak eksis.

Ia digantikan oleh prasangka, kebencian, dendam, sampai keinginan untuk melukai, meski mungkin baru sebatas kata kata atau komentar. Seperti yang setiap hari bisa kita temukan di media sosial.

Perasaan sebagai sama-sama manusia dan sebagai sama sama citra Allah yang diciptakan-Nya dengan unik dan penuh cinta, tidak lagi masuk dalam ranah pertimbangan pikiran kita, apalagi hati.

Saya masih melamun. Kepedihan menggigit hati. Melamunkan cinta kasih Tuhan yang sedemikian mencengangkan, meskipun respon manusia yang menjadi sasaran cinta kasih yang tak bersyarat itu kadang terasa lebih mencengangkan.

“Tentu pedih dan sakit sekali bagiMu Tuhan, bahwa kasih sayang-Mu yang sedemikian tulus dan dalam, tidak mendapatkan tanggapan memadai dari umat manusia yang Kau sayangi,” bisik hati saya sendu.

Tuhan mencintai manusia bukan karena ini atau karena itu. Ia mencintai saya dan Anda tanpa alasan apa-apa. Sesungguhnya, apa pun yang telah kita lakukan, baik itu kegagalan, kejatuhan dalam dosa, kelalaian, sampai pengkhianatan, tidak mengubah cinta-Nya pada Anda dan saya.

Kegagalan Rasul Petrus untuk bertahan dalam kesetiaan ketika Yesus sedang diadili secara tidak seimbang, tidak membatalkan kepercayaan Tuhan Yesus padanya untuk mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus, si Batu Karang.

Pada-Nya selalu ada kesempatan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Kesabaran Tuhan pada manusia sulit dibayangkan batasnya.

Bahkan dalam lamunan saya, rasanya Yudas Iskariot masih diberi kesempatan untuk merenung dan memilih jalan yang benar, ketika beberapa kali Yesus memberitahu para murid bahwa seorang di antara mereka akan menyerahkan Yesus.

Namun Yudas tetap pada keputusan hatinya yang keras, untuk menyerahkan Gurunya dengan imbalan uang. Ya, uang dan harta benda, yang sering juga menjadi prioritasku sedemikian, sampai-sampai belas kasih menjadi tak berbunyi lagi.

Di bawah kaki salib Tuhan Yesus, hati dan egoku tertunduk.  Sulit kupahami cinta kasih-Mu Tuhan, sampai Engkau harus menderita seberat ini.

Sesungguhnya tak ada kasih di dunia ini yang seperti kasih-Mu.  Di mana pun dan dengan siapa pun tak akan pernah kutemukan.

Engkau telah memberiku yang terbaik dari Diri-Mu Tuhan, kasih yang terbesar, yang bahkan mungkin tak kan pernah mampu kupahami. Hidupku tak akan pernah sama lagi, dan tak pernah boleh sama lagi.

Caecilia Triastuti Djiwandono

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here