MERAWAT HARTA KARUN

45
Ir. Soekarno (kedua dari kiri) dan Mgr. A. Soegijapranata, SJ (kedua dari kanan)
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – KETIKA menyeleksi tokoh-tokoh yang pernah saya tulis di Harian Kompas selama 40 tahun (St. Sularto, Sosoksosok Inspirasi Keteladanan, Penerbit Buku Kompas, Juli 2022)— semoga menginspirasi — melintas beberapa gagasan. Di antaranya, pertama, banyak bahan dan pengetahuan yang tersimpan dalam buku-buku bisa diaktualkan dan menjadi sarana belajar generasi kemudian. Kedua, dengan begitu banyaknya buku yang tersimpan di perpustakaan pribadi atau tersimpan di perpustakaan lembaga pendidikan, instansi swasta maupun negeri termasuk Perpustakaan Nasional, banyak tersimpan harta karun kakayaan intelektual.

Dari dua masalah itu, masalah kedua jauh lebih penting dan strategis, sedangkan yang pertama sudah merupakan keniscayaan. Sebuah pertanyaan, bagaimana merawat — dalam arti menyelamatkan dan memanfaatkan — kosa kata Jawa “ngrumat” lebih tepat — sumber kekayaan tertulis sebagai harta karun itu? Dalam buku tercetak warisan kekayaan intelektual yang pernah lahir dan berkembang, perjalanan kesejarahan suatu bangsa atau pribadi. Jasmerah, slogan yang pernah digelorakan Bung Karno berakar dan menemukan titik temu dengan warisan kekayaan tertulis itu.

Ada beberapa masalah bahkan kendala kalau  pengandaian ini serius ingin diwujudkan.

Pertama, dalam perkembangan dunia yang semakin nirkertas, ilmu pengetahuan, temuan dan informasi tidak lagi direkam dan dibukukan — dicetak dan tersebar luas di atas kertas berkat temuan mesin cetak Guttenberg di abad ke-16 —memang tetap tersimpan dalam data base. Data itu bisa diakses publik, tetapi perkembangan literasi dan kemajuan revolusi teknologi  mengakibatkan sisi lain semakin terjadinya kesenjangan dalam masyarakat/bangsa.

Kedua, seiring perkembangan serba disruptif, masyarakat dibiasakan tidak lagi membaca/mencari informasi dari gadget dan tidak lagi dari buku atau teks-teks yang tercetak di atas kertas. Kelebihan-kelebihan yang dihasilkan dari budaya nirkertas diagung-agungkan, sebaliknya kekurangan-kekurangan yang dimililiki budaya kertas dikesampingkan. Kecilnya peminat pembaca buku tercetak di atas kertas tergambar dari seretnya peredaran berdampak pada berkurangnya daya tarik menulis, pada gilirannya memperlambat perkembangan kekayaan intelektual.

Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) ensiklik Paus Fransiskus tahun 2015 yang bersinggungan dengan Ajaran Sosial Gereja, mangajak agar manusia bersahabat dengan alam semesta; kesadaran solidaritas Gereja yang berlandaskan pada perintah Tuhan “…mengusahakan dan memelihara taman itu” (Kejadian 2:15). Peringatan dan penegasan Bapa Suci mengentakkan keharusan manusia memelihara alam ciptaan termasuk lingkungan, seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, yang repotnya disederhanakan sebagai pembenaran simpel antara lain menulis di atas kertas harus semakin dianggap usang.

Padahal psikologi membaca buku cetak di atas kertas dan membaca di atas gadget berbeda. Roland Barthes (1915-1980), seorang filosof Perancis, mengatakan keasyikan membaca buku dibangkitkan dari kemampuan teks merangsang kreativitas pembacanya menciptakan teks-teks baru di kepala. Ada interaksi antara teks dan pembaca yang kurang diberi ruang oleh naskah dari teks-teks di atas gadget, mirip kebedaan psikologi menonton dan membaca. Mengutip pendapat filosof, tidak saya maksudkan memasuki wilayah perdebatan  filsafat, tetapi hanya mengingatkan keunggulan teks tertulis di atas kertas, dengan tetap menghormati penegasan Laudato Si’.

Hilangnya Interaksi

Keunggulan teks tertulis tanpa sengaja dinafikan yang berdampak pada keengganan melestarikan pemikiran ilmiah, ilmu pengetahuan dan temuan teknologi dalam rekaman tertulis. Banyak orang mengatakan kebiasaan membaca buku tetap berkembang hanya berbeda soal cara. Tetapi penjelasan itu tidak menjawab kesulitan hilangnya interaksi antara teks dan pembaca. Lebih jauh dan lebih berdampak menantang, ketika kita menyaksikan ribuan buku yang menyimpan harta karun itu terbengkalai di ruang-ruang perpustakaan; dan yang pelan-pelan habis dimakan rengat atau melapuk.

Barangkali kekhawatiran (kerisauan, kecemasan?) ini naif, ketertinggalan generasi masa lalu. Sebab sebenarnya harta karun kekayaan intelektual itu sudah berpindah dalam data base yang “kelak” diandaikan semua orang bisa mengakses. Kekhawatiran bisa dinetralisir dengan kenyataan tetap berkembangnya ilmu pengetahuan, teknologi dan pemikiran yang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya. Namun tidak dipungkiri, kebiasaan mengaksesnya lewat sarana kemajuan alat komunikasi digital yang revolutif, kalah cepat dari munculnya ilmu-ilmu baru. Padahal ide itu berkaki, sehingga ilmu selalu berakar dalam proses sementara yang disampaikan dalam dunia digital adalah hasil bukan proses.

Lagi-lagi saya tidak ingin memasuki wilayah psikologi dan kajian filosofis atas dampak kemajuan teknologi. Sebab kalau tidak ingin tergilas zaman, berupaya menghidupi budaya modern dengan disrupsi segala bidang merupakan keniscayaan. Tulisan ini adalah luapan kecemasan atas ribuan buku yang menyimpan kekayaan intelektual manusia, terserak kurang dimanfaatkan masyarakat,  bahkan melapuk sendiri.

Taruh contoh “nasib” koleksi almarhum Romo Adolf Heuken SJ, kamus belajar  sejarah kota Jakarta tempo doeloe. Menurut Romo Franz Magnis-Suseno SJ, di antara koleksi ribuan buku di rak-rak buku kantor Cipta Loka Caraka Jl. Mohamad Yamin itu, tersimpan buku tentang Kota Jakarta dalam bahasa Portugis, konon satu-satunya di Indonesia. Dokter Widya, putri satu-satunya ekonom besar Widjojo Nitisastro, pernah bertanya pada saya bagaimana caranya koleksi ribuan buku almarhum ayahnya bisa dirawat – dalam arti diselamatkan dan dimanfaatkan untuk masyarakat. Koleksi buku-buku Daoed Joesoef yang memenuhi sebagian besar rumahnya, pasti juga dicemaskan dengan pertanyaan bagaimana diselamatkan dan dimanfaatkan oleh publik.

Romo Franz Magnis Suseno, SJ

Ketiga contoh di atas (koleksi Adolf Heuken, Widjojo Nitisastro, Daoed Joesoef) bisa diandaikan dirasakan sebagai kecemasan umum. Belum lagi keengganan masyarakat umum, generasi muda yang enggan membolak-balik buku kalah cepat dengan kegesitan dan nafsu mengklik, padahal membaca lewat gadget lebih cepat lelah dibanding membaca teks di atas kertas.

Masalahnya, dengan berbagai kelebihan fungsi dan daya tarik buku di atas kertas, apakah kita biarkan harta karun — belum lagi berkat tuan Guttenberg harta karun kekayaan ilmiah sejak zaman dulu dinikmati generasi kini dan ke depan —generasi digital ini yang menyia-nyiakannya? Bentuk fisik buku memang mengalami evolusi dari zaman ke zaman — dari corat-coret di dinding gua, daun lontar, kulit binatang, di atas kertas dan sekarang memasuki revolusi digital. Akankah generasi ini akan mengubur pelan-pelan harta karun kekayaan intelektual, meskipun produk revolusi digital tidak menghilangkan kesaktian buku?

St. Sularto, Wartawan Senior /Konstributor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here