Elida Maria: Menebar Garam Kemanusiaan di Bidang Politik

36
Elida Maria/Dok. Pribadi
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Ia percaya bahwa politik adalah pekerjaan mulia karena memperhatikan nasib banyak orang. Tujuan utama politik adalah demi kesejahteraan bersama.

JIKALAU umat Katolik tidak ikut terlibat dalam kehidupan politik atau ikut terlibat tetapi tidak menyuarakan dan menegakan moralitas dan spiritualitas Katolik maka, Gereja harus merasa diri gagal menjalankan misinya.

Demikian Elida Maria menyatakan komitmennya sebagai orang Katolik tentang politik. Menurutnya, setiap orang Katolik harus sadar bahwa politik adalah pelayanan serta perwujudukan kasih Allah. Maka keterlibatan umat dalam kehidupan sosial-politik menjadi sebuah komitmen kolektif.

Gereja Katolik di Indonesia setelah Konsili Vatikan II tidak mundur dari komitmennya terhadap politik. Mengikuti amanat Yesus, Gereja terus berupaya melakukan penginjilan secara integral berdasarkan situasi, persoalan, dan kebutuhan lokal Indonesia. Tindakan politik terwujud dalam tindakan profetis, etis, dan praktis dalam membantun tata dunia Indonesia berdasarkan nilai-nilai Injili seperti cinta kasih, kedamaian, keadilan, pelayanan, dan bonum commune.

Preferential Option for the Poor

Ia mengatakan, “Politik disebut sebuah panggilan, karena dalam politik Gereja terus berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat Indonesia yang begitu plural dalam rangka merealisasikan konsep Indonesia sebagai satu rumah bersama yang adil dan sejahtera,” ujarnya.

Atas semangat ini, wanita yang kerap disapa Harietta ini memutuskan untuk terjun di “lumpur” politik. Harietta akan maju sebagai wakil DPRD Dapil 9 meliputi Kota Administrasi Jakarta Barat yaitu Kecamatan Cengkareng, Kecamatan Kalideres, dan Kecamatan Tambora.

Politik bukan tujuan utama bagi Harietta. Baginya politik adalah sarana untuk ambil bagian dalam tata kelola dunia. Dengan kemampuannya sebagai manusia yang terbatas, Harietta ingin meneruskan visi-misi Gereja yaitu keberpihakan pada orang-orang kecil dan miskin (preferential option for the poor).

Ia mengakui bahwa Pemilu 2024 nanti sudah pasti dibumbui persaingan dukungan yang sangat mencolok untuk setiap calon wakil rakyat. Hal ini tentu mengakibatkan riuh dalam kampanye dukungan paslon dari pusat hingga daerah. Para caleg tentu berlomba-lomba mencari dukungan dan berusaha dengan berbagai cara, dengan ide-ide kreatif menggaet massa, baik dengan cara benar maupun cara gampang dengan menawarkan iming-iming berupa materi bagi para pemilihnya.

Elida Maria/Dok. Pribadi

“Saya tidak punya iming-iming apapun. Ini adalah pertarungan tanpa kebutuhan apapun, tanpa terikat pada kepentingan apapun. Tidak ada strategi pasti selain percaya dan membangun relasi dengan masyarakat kecil dan berharap campur tangan Tuhan,” kisahnya.

Harietta setuju dengan pernyataan Ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia terkait pelaksanaan Pemilu 2019 lalu. Mgr. Vincentius Sensi Potokota dalam salah satu poin menegaskan untuk melihat kandidat yang beriman dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, berani menolak radikalisme dan intoleransi, kandidat yang dapat memperjuangan kepentingan umum dan tidak mempolitisasi agama dan suku.

“Selama di tengah-tengah masyarakat khususnya di Jakarta Barat yaitu Kecamatan Tambora kedekatan saya dengan lingkungan RT/RW, umat beragama lain, atau pihak Gereja Katolik cukup baik. Segala kegiatan sekecil apapun, saya berusaha terlibat,” ungkapnya sambil menambahkan, “Bukan tahun-tahun terakhir ini saja. Sudah sejak tahun 1990-an keterlibatannya di tengah-tengah masyarakat dan Gereja.”

Realitas Sosial

Politik bukanlah cita-cita awal wanita kelahiran Jakarta 26 Oktober 1982 ini. Sejak lulus kuliah, Harietta lebih banyak berkecimpung di dunia konsultan dan marketing. Sudah banyak pengalaman di dunia perkantoran yang ia temui dengan ragam dinamikanya. Memiliki banyak teman dengan ragam profesi, agama, suku, dan budaya. Dunia pekerjaan dengan ragam tantangan hampir tidak pernah menyulitkannya. Dengan kemampuannya, ia bisa mengatasi semuanya dengan baik. Bahkan beberapa kali diberi kepercayaan untuk duduk di posisi pengambil kebijakan.

Sayang, dalam kesibukan dunia pekerjaan itu, ia menemukan ada sesuatu yang hilang. Bak robot yang terus-menerus bekerja tanpa melihat arti terdalam dari arti, makna, dan tujuannya bekerja. Hingga sampai akhirnya, ia memastikan dengan bekerja sehari-hari, ia ingin berpartisipasi dalam usaha Tuhan Pencipta: turut menyempurnakan dunia dan ingin memuliakan Allah dengan memperhatikan mereka yang kecil dan miskin.

Ada kontradiksi realitas kantor dan di luar kantor. Salah satu realitas yang ia temukan adalah ada begitu banyak persoalan sosial di wilayahnya, Tambora. Ada realitas kemiskinan, pemukiman padat dan kumuh, sanitasi, air bersih, budaya bersih masyarakat, sampah, dan ragam persoalan lainnya. Satu lagi, berada di wilayah padat penduduk sehingga kemungkinan terjadi kebakaran. Termasuk wawasan cinta Tanah Air perlu diperkuat dengan sosialisasi terus-menerus untuk mencegah terorisme dan radikalisme di Tambora.

“Sampai pada suatu titik saya menyadari makna kerja itu tidak sekadar mengandung makna ekonomis, tetapi juga ada makna sosiologis dan antropologis. Kerja sebagai bagian memenuhi kebutuhan sendiri dan masyarakat sekaligus dengan bekerja saya bisa menjadi teman dengan sesama lewat akal budi, kehendak, tenaga, dan daya kreatif.”

Nilai Kemanusiaan

Bagi Harietta, ada banyak kerja yang memiliki makna sosiologis dan antropologis. Salah satunya adalah keterlibatan dalam politik. Partisipasi politik dalam pengambilan keputusan itu selalu menunjukkan siklus, baik implisit maupun eksplisit, berupa rangkaian input, persepsi, intuisi dan refleksi yang tepat atas suatu persoalan. “Nah politik adalah ladang subur untuk membawa segala macam persoalan sosial masyarakat untuk mendapat perhatian negara.”

Walaupun begitu, Harietta tidak setuju dengan pandangan umum bahwa politik itu berfokus pada kekuasaan. Betul, katanya, ada banyak indikator atau sumber kesalahan dalam pengambilan keputusan di bidang politik. Misalnya keengganan mengambil risiko; keterbatasan waktu; gagal dalam mendefenisikan kondisi, kriteria, dan tujuan atau tidak bisa melepaskan perasaan subyektifitas dan emosi.

Harietta percaya bahwa politik adalah pekerjaan mulia karena memperhatikan nasib banyak orang. Tujuan utama yang akan dicapai adalah kesejahteraan bersama. Bukan cara merampok dunia, menggulingkan kekuasaan untuk menikmati giliran kekuasaan. “Dengan refleksi ini, saya siap terhadap segala konsekuensi yang terjadi misal gagal dalam Pileg atau belum diberi kepercayaan mewakili rakyat, karena saya tidak ada kepentingan pribadi apapun dalam berpolitik. Saya hanya ingin menjadi garam untuk memberi rasa kemanusiaan di tengah politik yang kerap dianggap negatif,” demikian Harietta.

Yustinus Hendro Wuarmanuk

 

Elida Maria
Lahir              : Jakarta, 26 Oktober 1982
Paroki             : Damai Kristus, Kampung Duri, Jakarta
Pendidikan     : Akademi Pariwisata Universitas Trisakti­­ Bintaro, Jakarta Selatan
Pekerjaan:

  • Calon Anggota Legislatif Dapil 9 Jakarta Barat (2024)
  • Konsultas Proyek Properti dan Komersial (Maret 2015-sekarang)
  • Manajer Pengembangan Bisnis di Group Hotel Sederhana (2019-2020)
  • Penjualan dan Marcom Fraser Residence (Mei 2015-2015)
  • Sekretaris Eksekutif Discovery Hotel dan Convention Ancol Jakarta (2013-2014)
  • Sekretaris Eksekutif Hotel Grand Sahid Jakarta (2012-2013)
  • Asisten pribadi Pembantu Presdir PT. Mega Multi Cemerlang, Gedung BEI (2010-2012)
  • Sekretaris Eksekutif Pembantu Manajer Umum Konvensi Mercure Ancol (2007-2010)

Kursus dan Pelatihan:

  • Pelatihan 2006 “Selamat Datang di Accor” yang diselenggarakan oleh Hotel Mercure
  • Pelatihan “Welcoming The Guest” 2007 yang diselenggarakan oleh Accor
  • Pelatihan 2009 “Key To Communication” yang diselenggarakan oleh Accor 2015

 

Foto: Elida Maria

Dok. Pribadi

Elida Maria

 

Menebar Garam Kemanusiaan di Bidang Politik

Ia percaya bahwa politik adalah pekerjaan mulia karena memperhatikan nasib banyak orang. Tujuan utama politik adalah demi kesejahteraan bersama.

 

JIKALAU umat Katolik tidak ikut terlibat dalam kehidupan politik atau ikut terlibat tetapi tidak menyuarakan dan menegakan moralitas dan spiritualitas Katolik maka, Gereja harus merasa diri gagal menjalankan misinya.

Demikian Elida Maria menyatakan komitmennya sebagai orang Katolik tentang politik. Menurutnya, setiap orang Katolik harus sadar bahwa politik adalah pelayanan serta perwujudukan kasih Allah. Maka keterlibatan umat dalam kehidupan sosial-politik menjadi sebuah komitmen kolektif.

Gereja Katolik di Indonesia setelah Konsili Vatikan II tidak mundur dari komitmennya terhadap politik. Mengikuti amanat Yesus, Gereja terus berupaya melakukan penginjilan secara integral berdasarkan situasi, persoalan, dan kebutuhan lokal Indonesia. Tindakan politik terwujud dalam tindakan profetis, etis, dan praktis dalam membantun tata dunia Indonesia berdasarkan nilai-nilai Injili seperti cinta kasih, kedamaian, keadilan, pelayanan, dan bonum commune.

 

Preferential Option for the Poor

Ia mengatakan, “Politik disebut sebuah panggilan, karena dalam politik Gereja terus berdialog dengan semua golongan dan lapisan masyarakat Indonesia yang begitu plural dalam rangka merealisasikan konsep Indonesia sebagai satu rumah bersama yang adil dan sejahtera,” ujarnya.

Atas semangat ini, wanita yang kerap disapa Harietta ini memutuskan untuk terjun di “lumpur” politik. Harietta akan maju sebagai wakil DPRD Dapil 9 meliputi Kota Administrasi Jakarta Barat yaitu Kecamatan Cengkareng, Kecamatan Kalideres, dan Kecamatan Tambora.

Politik bukan tujuan utama bagi Harietta. Baginya politik adalah sarana untuk ambil bagian dalam tata kelola dunia. Dengan kemampuannya sebagai manusia yang terbatas, Harietta ingin meneruskan visi-misi Gereja yaitu keberpihakan pada orang-orang kecil dan miskin (preferential option for the poor).

Ia mengakui bahwa Pemilu 2024 nanti sudah pasti dibumbui persaingan dukungan yang sangat mencolok untuk setiap calon wakil rakyat. Hal ini tentu mengakibatkan riuh dalam kampanye dukungan paslon dari pusat hingga daerah. Para caleg tentu berlomba-lomba mencari dukungan dan berusaha dengan berbagai cara, dengan ide-ide kreatif menggaet massa, baik dengan cara benar maupun cara gampang dengan menawarkan iming-iming berupa materi bagi para pemilihnya.

“Saya tidak punya iming-iming apapun. Ini adalah pertarungan tanpa kebutuhan apapun, tanpa terikat pada kepentingan apapun. Tidak ada strategi pasti selain percaya dan membangun relasi dengan masyarakat kecil dan berharap campur tangan Tuhan,” kisahnya.

Harietta setuju dengan pernyataan Ketua Komisi Kerasulan Awam Konferensi

Waligereja Indonesia terkait pelaksanaan Pemilu 2019 lalu. Mgr. Vincentius Sensi Potokota dalam salah satu poin menegaskan untuk melihat kandidat yang beriman dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, berani menolak radikalisme dan intoleransi, kandidat yang dapat memperjuangan kepentingan umum dan tidak mempolitisasi agama dan suku.

“Selama di tengah-tengah masyarakat khususnya di Jakarta Barat yaitu Kecamatan Tambora kedekatan saya dengan lingkungan RT/RW, umat beragama lain, atau pihak Gereja Katolik cukup baik. Segala kegiatan sekecil apapun, saya berusaha terlibat,” ungkapnya sambil menambahkan, “Bukan tahun-tahun terakhir ini saja. Sudah sejak tahun 1990-an keterlibatannya di tengah-tengah masyarakat dan Gereja.”

 

Realitas Sosial

Politik bukanlah cita-cita awal wanita kelahiran Jakarta 26 Oktober 1982 ini. Sejak lulus kuliah, Harietta lebih banyak berkecimpung di dunia konsultan dan marketing. Sudah banyak pengalaman di dunia perkantoran yang ia temui dengan ragam dinamikanya. Memiliki banyak teman dengan ragam profesi, agama, suku, dan budaya. Dunia pekerjaan dengan ragam tantangan hampir tidak pernah menyulitkannya. Dengan kemampuannya, ia bisa mengatasi semuanya dengan baik. Bahkan beberapa kali diberi kepercayaan untuk duduk di posisi pengambil kebijakan.

Sayang, dalam kesibukan dunia pekerjaan itu, ia menemukan ada sesuatu yang hilang. Bak robot yang terus-menerus bekerja tanpa melihat arti terdalam dari arti, makna, dan tujuannya bekerja. Hingga sampai akhirnya, ia memastikan dengan bekerja sehari-hari, ia ingin berpartisipasi dalam usaha Tuhan Pencipta: turut menyempurnakan dunia dan ingin memuliakan Allah dengan memperhatikan mereka yang kecil dan miskin.

Ada kontradiksi realitas kantor dan di luar kantor. Salah satu realitas yang ia temukan adalah ada begitu banyak persoalan sosial di wilayahnya, Tambora. Ada realitas kemiskinan, pemukiman padat dan kumuh, sanitasi, air bersih, budaya bersih masyarakat, sampah, dan ragam persoalan lainnya. Satu lagi, berada di wilayah padat penduduk sehingga kemungkinan terjadi kebakaran. Termasuk wawasan cinta Tanah Air perlu diperkuat dengan sosialisasi terus-menerus untuk mencegah terorisme dan radikalisme di Tambora.

“Sampai pada suatu titik saya menyadari makna kerja itu tidak sekadar mengandung makna ekonomis, tetapi juga ada makna sosiologis dan antropologis. Kerja sebagai bagian memenuhi kebutuhan sendiri dan masyarakat sekaligus dengan bekerja saya bisa menjadi teman dengan sesama lewat akal budi, kehendak, tenaga, dan daya kreatif.”

 

Nilai Kemanusiaan

Bagi Harietta, ada banyak kerja yang memiliki makna sosiologis dan antropologis. Salah satunya adalah keterlibatan dalam politik. Partisipasi politik dalam pengambilan keputusan itu selalu menunjukkan siklus, baik implisit maupun eksplisit, berupa rangkaian input, persepsi, intuisi dan refleksi yang tepat atas suatu persoalan. “Nah politik adalah ladang subur untuk membawa segala macam persoalan sosial masyarakat untuk mendapat perhatian negara.”

Walaupun begitu, Harietta tidak setuju dengan pandangan umum bahwa politik itu berfokus pada kekuasaan. Betul, katanya, ada banyak indikator atau sumber kesalahan dalam pengambilan keputusan di bidang politik. Misalnya keengganan mengambil risiko; keterbatasan waktu; gagal dalam mendefenisikan kondisi, kriteria, dan tujuan atau tidak bisa melepaskan perasaan subyektifitas dan emosi.

Harietta percaya bahwa politik adalah pekerjaan mulia karena memperhatikan nasib banyak orang. Tujuan utama yang akan dicapai adalah kesejahteraan bersama. Bukan cara merampok dunia, menggulingkan kekuasaan untuk menikmati giliran kekuasaan. “Dengan refleksi ini, saya siap terhadap segala konsekuensi yang terjadi misal gagal dalam Pileg atau belum diberi kepercayaan mewakili rakyat, karena saya tidak ada kepentingan pribadi apapun dalam berpolitik. Saya hanya ingin menjadi garam untuk memberi rasa kemanusiaan di tengah politik yang kerap dianggap negatif,” demikian Harietta.

 

Yusti H. Wuarmanuk

 

 

<<<Box>>>

 

Elida Maria

Lahir              : Jakarta, 26 Oktober 1982

Paroki             : Damai Kristus, Kampung Duri, Jakarta

Pendidikan     : Akademi Pariwisata Universitas Trisakti­­ Bintaro, Jakarta Selatan

Pekerjaan:

  • Calon Anggota Legislatif Dapil 9 Jakarta Barat (2024)
  • Konsultas Proyek Properti dan Komersial (Maret 2015-sekarang)
  • Manajer Pengembangan Bisnis di Group Hotel Sederhana (2019-2020)
  • Penjualan dan Marcom Fraser Residence (Mei 2015-2015)
  • Sekretaris Eksekutif Discovery Hotel dan Convention Ancol Jakarta (2013-2014)
  • Sekretaris Eksekutif Hotel Grand Sahid Jakarta (2012-2013)
  • Asisten pribadi Pembantu Presdir PT. Mega Multi Cemerlang, Gedung BEI (2010-2012)
  • Sekretaris Eksekutif Pembantu Manajer Umum Konvensi Mercure Ancol (2007-2010)

Kursus dan Pelatihan:

  • Pelatihan 2006 “Selamat Datang di Accor” yang diselenggarakan oleh Hotel Mercure
  • Pelatihan “Welcoming The Guest” 2007 yang diselenggarakan oleh Accor
  • Pelatihan 2009 “Key To Communication” yang diselenggarakan oleh Accor 2015

 

Foto: Elida Maria

Dok. Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here